NovelToon NovelToon
BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Darah di Atas Putihnya Kesetiaan

BAB 29: Darah di Atas Putihnya Kesetiaan

Suara baling-baling helikopter yang membelah udara malam terasa seperti detak jantung Rangga yang tidak beraturan. Di dalam kabin yang sempit itu, Rangga duduk terpaku dengan mata tertuju pada ponselnya yang terus menunjukkan koordinat ambulans yang membawa Arini menuju Jakarta. Pikirannya kalut. Berita tentang pingsannya Arini dan pendarahan dari telinganya adalah hantaman yang lebih keras daripada semua makian pengacara Ibunya.

"Cepat lagi!" teriak Rangga pada pilot, meski ia tahu mesin itu sudah bekerja maksimal.

Rangga mengepalkan tangannya. Ia merasa sangat berdosa karena meninggalkan Arini hanya demi mengurus orang-orang rakus di ruang rapat tadi. Seharusnya ia tahu bahwa ketenangan yang ia miliki hanyalah semu. Musuh-musuhnya tidak akan berhenti hanya karena ancaman hukum; mereka mengincar nyawa yang menjadi pusat dunia Rangga.

Begitu helikopter mendarat di atap Rumah Sakit Pusat Adiguna—rumah sakit miliknya sendiri yang kini terasa seperti labirin kematian—Rangga langsung berlari menuju ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Di sana, ia melihat Dokter Bram berdiri di depan pintu besi yang tertutup rapat, wajahnya pucat dan tangannya gemetar saat memegang hasil pemindaian otak terbaru.

"Katakan padaku dia baik-baik saja, Bram!" Rangga mencengkeram kerah baju dokter itu, emosinya meledak seketika.

"Rangga, tenanglah! Kita sedang berusaha!" Dokter Bram mencoba melepaskan cengkeraman Rangga. "Kondisinya kritis. Pendarahan itu bukan berasal dari luka luar, tapi dari tekanan massa tumor yang mendadak membesar di area batang otak. Ini... ini tidak masuk akal secara medis."

Rangga tertegun. "Tidak masuk akal? Apa maksudmu?"

"Berdasarkan hasil lab dua hari lalu, sel kankernya sudah mulai mengecil karena obat impor itu. Tapi tiba-tiba malam ini, sel-sel itu seperti dipicu untuk berkembang biak sepuluh kali lebih cepat. Seperti ada zat asing yang masuk ke tubuhnya dan membatalkan fungsi obat target kita," jelas Dokter Bram dengan nada penuh kecurigaan.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Rangga. Zat asing? Sabotase medis? Di dalam villanya sendiri yang dijaga ketat?

"Siapa yang masuk ke kamarnya hari ini selain kamu dan Ibunya?" tanya Rangga, suaranya kini merendah menjadi bisikan yang sangat mematikan.

"Hanya... hanya perawat baru yang dikirim dari agen penyedia tenaga medis pusat. Dia membawa dosis tambahan vitamin yang katanya adalah instruksi dari Maya atas perintahmu," jawab Bram ragu-ragu.

Rangga langsung berbalik menatap Maya yang berdiri beberapa meter di belakangnya. Maya tampak bingung dan ketakutan.

"Aku tidak pernah memerintahkan itu, Pak! Sumpah demi Tuhan!" tangis Maya pecah. "Aku memang menghubungi agen tenaga medis, tapi itu hanya untuk mencari asisten rumah tangga tambahan, bukan perawat medis!"

Rangga menyadari sesuatu yang mengerikan. Ibunya, Sarah, meskipun berada di balik jeruji besi, masih memiliki tangan-tangan panjang yang bisa menyusup ke tempat paling aman sekalipun. Sabotase ini adalah "hadiah perpisahan" dari ibunya karena Rangga telah membongkar semua rahasianya.

"Lakukan operasi sekarang juga, Bram. Angkat tekanan itu!" perintah Rangga.

"Risikonya 99 persen kematian, Rangga. Batang otaknya terlalu sensitif. Satu sayatan salah, dia akan berhenti bernapas selamanya," Bram menggelengkan kepala.

"Dan kalau kita diam saja?"

"Dia akan meninggal dalam dua jam karena gagal napas."

Rangga bersandar di dinding koridor, menatap langit-langit yang putih dan dingin. Pilihan yang ada di depannya adalah antara kematian yang pasti atau kematian yang mungkin bisa ditunda dengan keajaiban yang mustahil.

Ia berjalan masuk ke dalam ruang isolasi sebelum operasi dilakukan. Arini terbaring di sana, di kelilingi mesin-mesin yang bising. Wajahnya yang cantik kini tertutup masker oksigen yang buram oleh embun napasnya yang pendek. Darah yang sempat keluar dari telinganya sudah dibersihkan, meninggalkan bekas kemerahan yang pucat.

Rangga berlutut di samping ranjang. Ia meraih tangan Arini yang kini terasa sangat dingin, hampir tak berdenyut.

"Rin... ini aku," bisik Rangga. "Maafkan aku... aku meninggalkanmu sendirian."

Ajaibnya, meskipun dalam kondisi koma dalam, jari manis Arini sedikit bergerak. Sebuah respon bawah sadar yang seolah mengatakan bahwa ia tahu suaminya telah kembali.

"Aku akan membawamu kembali, Rin. Aku tidak peduli jika aku harus menukar seluruh hartaku, namaku, atau nyawaku sendiri kepada Tuhan. Kamu harus bangun," Rangga mencium kening Arini, membiarkan air matanya jatuh dan membasahi pipi istrinya.

Operasi dimulai tepat pukul dua pagi. Rangga duduk di ruang tunggu yang sunyi, ditemani oleh Ibu Sarahwati yang terus-menerus merapal doa dengan tasbih di tangannya. Keheningan itu hanya dipecah oleh suara langkah kaki pengawal Rangga yang berjaga di setiap sudut koridor.

Tiba-tiba, ponsel Rangga berdering. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal.

"Bagaimana rasanya melihat dunia yang kamu bangun runtuh sepotong demi sepotong, Rangga? Kamu memilih wanita itu, maka kamu harus siap menguburnya. Dan ingat, ini baru permulaan."

Rangga meremas ponselnya hingga layarnya retak. Ia tahu ini pesan dari orang suruhan ibunya. Amarah yang membara di dadanya kini berubah menjadi tekad yang dingin. Ia berdiri dan memanggil kepala keamanannya.

"Cari perawat yang masuk ke villa tadi siang. Jangan serahkan ke polisi. Bawa dia ke gudang bawah tanah kantorku. Aku ingin tahu siapa yang memberinya perintah dan zat apa yang dia masukkan ke tubuh istriku," perintah Rangga dengan mata yang berkilat seperti serigala.

Empat jam berlalu. Lampu ruang operasi masih berwarna merah. Rangga merasa setiap detik yang terlewat adalah tahun-tahun yang hilang dari hidupnya. Ia mulai berhalusinasi, mendengar suara tawa Arini saat mereka makan bakso di pinggir jalan Bogor dulu—saat hidup masih sederhana dan kebahagiaan hanya seharga sepuluh ribu rupiah.

Tepat pukul enam pagi, Dokter Bram keluar. Bajunya basah oleh keringat dan masker bedahnya tergantung lemas di leher.

"Bagaimana?" tanya Rangga, suaranya hampir tidak keluar.

Dokter Bram menatap Rangga dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kami berhasil mengangkat massa itu. Tekanannya sudah turun. Tapi..."

"Tapi apa?!"

"Ada kerusakan permanen pada pusat kendali motoriknya. Arini selamat, Rangga. Dia hidup. Tapi... dia tidak akan bisa menggerakkan seluruh tubuhnya dari leher ke bawah. Dia lumpuh total, Rangga. Ditambah dengan kebutaannya, dia sekarang benar-benar terkunci di dalam tubuhnya sendiri."

Rangga terhuyung. Lumpuh total dan buta.

Dua vonis yang seolah lebih kejam daripada kematian itu sendiri. Bagaimana mungkin wanita seceria Arini, yang sangat suka menari di bawah hujan dan berlari di kebun teh, kini harus terjebak dalam tubuh yang tidak bisa digerakkan?

"Tapi dia bisa mendengar? Dia bisa bicara?" tanya Rangga dengan harapan yang tersisa.

"Dia bisa mendengar. Soal bicara, kita harus menunggu dia sadar sepenuhnya. Saraf bicaranya mungkin masih berfungsi, tapi sangat lemah."

Rangga melangkah masuk ke ruang pemulihan. Ia melihat Arini yang kini tampak seperti boneka porselen yang pecah dan dilem kembali dengan kasar. Ia duduk di sampingnya, memegang tangan yang kini tak bisa lagi membalas genggamannya.

"Rin... kamu dengar aku?" bisik Rangga.

Tidak ada jawaban. Hanya bunyi mesin ventilator yang kini menjadi paru-paru bagi Arini.

Rangga menempelkan wajahnya ke tangan Arini. "Nggak apa-apa, Rin. Nggak apa-apa kalau kamu nggak bisa jalan. Nggak apa-apa kalau kamu nggak bisa lihat. Aku akan tetap di sini. Aku akan menjadi kakimu, aku akan menjadi tanganmu, dan aku akan tetap menjadi matamu."

"Aku tidak akan membiarkanmu merasa sendirian dalam kegelapan dan kesunyian ini. Kita akan melawan mereka semua, Rin. Ibuku, Paman Hendrawan, dan takdir kejam ini... kita akan lawan sampai akhir."

Di saat yang sama, di penjara Jakarta, Ibu Sarah sedang duduk di kantin penjara sambil menyesap teh hangat. Ia mendengar berita melalui televisi yang dipasang di sudut ruangan tentang kondisi kritis menantu "rahasiaya". Sebuah senyum kemenangan tersungging di bibirnya.

"Kamu pikir kamu menang karena menikahinya, Rangga?" gumam Sarah. "Sekarang kamu akan tahu rasanya hidup dengan mayat yang bernapas. Kamu akan membusuk bersamanya dalam rasa bersalahmu sendiri."

Namun, Sarah tidak tahu satu hal. Rangga yang sekarang bukan lagi pria yang bisa ia hancurkan dengan duka. Rangga yang sekarang adalah pria yang sudah kehilangan ketakutannya.

Rangga telah memerintahkan Maya untuk menjual sebagian besar saham pribadinya untuk mendirikan yayasan medis independen yang paling canggih di dunia hanya untuk satu pasien: Arini Adiguna. Ia juga sudah menyiapkan tuntutan hukum yang akan membuat Ibu Sarah dan semua anteknya membusuk di penjara selamanya tanpa kemungkinan remisi.

Malam itu, di kamar rumah sakit yang sunyi, Rangga mulai membacakan sebuah puisi untuk Arini.

"Dunia mungkin mengambil warnanya darimu, Rin. Dunia mungkin mengambil gerakmu. Tapi dunia tidak akan pernah bisa mengambil suaraku yang akan selalu berbisik bahwa aku sangat mencintaimu... lebih dari nyawaku sendiri."

Air mata menetes dari sudut mata Arini yang tertutup. Meskipun ia lumpuh, meskipun ia buta, jiwanya masih di sana, mendengar setiap janji setia suaminya di tengah badai pengkhianatan yang belum juga berakhir.

1
falea sezi
ya uda end aja
falea sezi
lanjut
falea sezi
berasa baca trailer
falea sezi
astaga/Sob//Sob//Scowl//Scowl/ Thor g da apa keajaiban misal arini pindah jiwa ke tubuh lain
falea sezi
nyesek baca kisah ini beri keajaiban donk thor/Sob//Sob//Sob//Sob/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!