Esmeralda Aramoa memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh subjek bernama AL. Namun, fasilitas penelitian itu hancur dan AL menghilang. Suatu ketika Di tengah hutan sunyi, predator itu kembali—lebih besar, lebih buas, dan siap merobek leher Esme.Saat kuku tajam mulai menggores nadinya, dalam keputusasaan maut, Esme meneriakkan kebohongan gila: "Berhenti! Aku adalah istrimu!"
Apakah predator haus darah itu akan percaya begitu saja?
Siapa sebenarnya sosok AL sebelum ingatannya terhapus paksa?
Apakah kebohongan ini akan menjadi pelindung atau justru jebakan mematikan saat insting liar AL mulai menuntut haknya sebagai seorang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Mentor Sesat
Esme sudah berusaha memberikan perintah tegas agar AL tidak terlalu sering nongkrong di pangkalan kayu bersama Bang Togar dan kawan-kawannya. Namun, apa daya, AL adalah sosok yang sangat haus akan ilmu pengetahuan—terutama ilmu tentang bagaimana menjadi laki-laki sejati yang diakui dunia. Baginya, Bang Togar dan para pria desa itu adalah ensiklopedia berjalan yang jauh lebih menarik daripada instruksi mencuci baju milik Esme.
Sore itu, AL kembali ke pondok dengan langkah yang lebih mantap dari biasanya. Tatapan matanya tidak lagi hanya polos, tapi ada kilatan determinasi yang aneh. Di tangannya, ia membawa sebungkus martabak manis yang katanya "senjata ampuh untuk melunakkan hati wanita" menurut saran dari mentor sesatnya di desa.
Begitu masuk ke rumah, AL mendapati Esme sedang duduk di lantai, dikelilingi oleh tumpukan buku botani dan botol sampel. Esme terlihat sangat serius, kacamata bertengger di hidungnya, dan beberapa helai rambut keluar dari ikatan pita merahnya.
AL tidak langsung memanggil. Dia mengingat pelajaran dari Bang Togar siang tadi: "Aleks, wanita itu suka kejutan. Jangan cuma menyapa, kau harus menunjukkan dominasi tapi tetap lembut. Tunjukkan kalau kau adalah penguasa di rumah ini!"
AL meletakkan martabaknya di meja, lalu berjalan mendekati Esme. Tanpa aba-aba, AL menarik kursi kayu di dekat Esme, duduk di sana, lalu menarik tubuh Esme hingga wanita itu terduduk di antara kedua kaki panjang AL yang terbuka lebar.
"E-eh! Aleksander! Apa-apaan ini?!" Esme kaget bukan main. Tubuhnya kini terkunci di antara lutut AL yang kokoh.
AL tidak menjawab. Dia menunduk, menumpukan dagunya di bahu Esme, membuat napas hangatnya menerpa leher sensitif Esme. "Moa, Bang Togar bilang, seorang suami tidak boleh membiarkan istrinya mengabaikannya hanya demi botol-botol air berwarna ini. Dia bilang, aku harus menunjukkan rasa dominan agar kau tahu siapa yang menjagamu."
Esme menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa ingin melompat keluar. "A-apa? Dominan? Apa maksudmu, Aleksander? Lepaskan dulu, ini sangat memalukan!"
"Tidak boleh," ucap AL dengan suara baritonnya yang menggetarkan punggung Esme. "Mentor-mentorku di bawah bilang, insting pria itu harus menguasai. Kalau aku terlalu nurut padamu, nanti kau bosan padaku. Apakah kau bosan padaku, Moa?"
AL kemudian memutar tubuh Esme agar menghadapnya. Kini Esme duduk di lantai sementara AL duduk di kursi, namun AL mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. AL menatap bibir Esme dengan tatapan penuh selidik yang jujur.
"Mereka juga mengajariku sesuatu tentang... pancingan," gumam AL.
"Pancingan apa lagi?!" Esme ngebatin dengan histeris, "Ya Tuhan, Bang Togar benar-benar harus dimusnahkan dari muka bumi ini!"
"Paman Silas bilang, kalau wanita sedang bicara banyak atau sedang marah, cara paling cepat untuk membuatnya tenang adalah dengan menutup mulutnya pakai mulutku," ucap AL dengan wajah tanpa dosa yang sangat kontras dengan kalimat vulgarnya. "Dia bilang itu namanya 'adu lidah' atau apa tadi... aku lupa istilah teknisnya. Apakah kita harus melakukannya sekarang agar kau tidak marah-marah lagi soal aku yang telat pulang?"
Wajah Esme meledak dalam warna merah yang lebih gelap dari sebelumnya. Dia merasa pusing mendadak. "ALEKSANDER! Itu... itu namanya ciuman panas! Dan itu tidak boleh dilakukan di depan botol kimia! Dan itu hanya boleh dilakukan jika... jika..."
"Jika apa? Aku sudah siap," AL malah semakin memajukan wajahnya. Tangannya yang besar kini memegang kedua sisi kepala Esme, mengurung wanita itu dalam dunianya. "Aku sudah belajar insting pria dari mereka. Katanya, aku harus mencium lehermu juga kalau ingin kau mengeluarkan suara yang lucu. Kenapa kau harus mengeluarkan suara lucu, Moa? Apakah kau akan berubah jadi burung?"
"TIDAAAAKKK!" Esme menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Berhenti bertanya hal-hal ajaib seperti itu! Suara lucu itu... itu bukan suara burung! Itu... ah! Sudahlah! Kau tidak boleh mempraktekkan semua yang dikatakan pria-pria mesum itu!"
AL mengerutkan kening, terlihat sedikit kecewa karena eksperimen "ilmu barunya" ditolak mentah-mentah. "Tapi mereka bilang itu ilmu dasar. Kalau aku tidak bisa membuatmu mengeluarkan suara lucu atau melakukan ritual itu, artinya aku cuma suami pajangan. Aku tidak mau jadi pajangan, Moa. Aku mau jadi suami yang dominan seperti kata Bang Togar."
Tiba-tiba, AL melakukan gerakan yang sangat tidak terduga. Dia mengangkat Esme dari lantai seolah wanita itu hanya seberat kapas, lalu mendudukkannya di atas meja kerja, tepat di antara botol-botol kimia. AL berdiri di antara kedua kaki Esme, menatapnya dengan pandangan yang sangat intens dan mendalam.
"Moa," bisik AL, kali ini suaranya tidak lagi terdengar seperti anak kecil, melainkan seperti pria dewasa yang sedang jatuh cinta. "Aku mungkin tidak ingat masa lalu kita. Aku mungkin tidak tahu banyak hal tentang dunia ini. Tapi setiap kali aku melihatmu, jantungku di sini..." AL mengarahkan tangan Esme ke dadanya yang bidang, "...berdetak sangat cepat. Rasanya seperti aku ingin memakanmu tapi juga ingin melindungimu selamanya. Apakah itu yang disebut insting dominan?"
Esme terdiam. Sentuhan tangan AL di dadanya yang bergemuruh membuat seluruh kemarahan Esme luruh. Dia melihat kejujuran yang begitu murni di mata kuning AL. Meskipun AL belajar dari mentor-mentor sesat, namun perasaan yang dia sampaikan adalah nyata.
"Itu... itu namanya kasih sayang, Aleksander," bisik Esme, suaranya kini melunak. "Kau tidak perlu belajar jadi dominan atau melakukan hal-hal vulgar untuk membuktikan kau suamiku. Cukup dengan ada di sini, itu sudah cukup."
AL terdiam sejenak, lalu dia tersenyum—senyum yang sangat tampan hingga membuat perut Esme terasa seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu yang berterbangan. "Jadi, aku tidak perlu membuatmu bersuara seperti burung?"
"TIDAK PERLU!" Esme tertawa kecil sambil memukul pelan bahu AL.
"Baiklah. Tapi Bang Togar bilang, setidaknya aku harus sering memelukmu dari belakang saat kau sedang memasak agar kau merasa 'dimiliki'. Boleh aku lakukan itu nanti?" tanya AL lagi dengan wajah polosnya yang kembali muncul.
Esme menghela napas pasrah. "Boleh, Aleksander. Boleh."
Ocan yang melihat adegan baper itu dari atas lemari hanya mendengus kesal. Dia mengeong keras, seolah memprotes wilayah mejanya yang kini dipakai untuk adegan drama romantis manusia.
"Diam kau, Kucing Oranye," gumam AL tanpa menoleh. "Aku sedang belajar menjadi pria dominan. Jangan mengganggu urusan laki-laki."
Malam itu, pondok di bukit kembali penuh dengan suasana yang canggung namun manis. Esme menyadari bahwa AL bukan lagi sekadar subjek eksperimen yang pasif. Dia adalah seorang pria yang sedang tumbuh, yang sedang mencari jati dirinya sebagai manusia—meskipun lewat cara yang sangat kocak dan bikin serangan jantung.
Esme menatap AL yang kini sedang asyik memakan martabak manisnya dengan lahap. "Yah, setidaknya dia tidak bertanya soal proses pembuahan malam ini," batin Esme sambil tersenyum kecil.
Namun, ia salah. Karena sebelum tidur, AL tiba-tiba berteriak dari ruang tengah. "Moa! Aku baru ingat! Bang Togar bilang kalau kita sering berpelukan, nanti bayinya bisa muncul sendiri lewat pusar! Apakah itu benar?!"
"ALEKSANDERRRR! TIDUR SEKARANG ATAU AKU AKAN MENYUNTIKMU DENGAN OBAT TIDUR GAJAH!"
Esme membanting pintu kamarnya, sementara AL hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung kenapa "ilmu suaminya" selalu berakhir dengan teriakan Moa.
Kira-kira, apakah AL akan menyerah belajar ilmu dari Bang Togar, atau dia justru akan membawa "praktik" yang lebih ekstrem lagi di bab selanjutnya?