"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: SIMFONI KEGELAPAN
Kegelapan di ruang isolasi bawah tanah ini tidak seperti kegelapan malam biasa. Ini adalah kegelapan yang padat, yang seolah memiliki massa dan berat, menekan pori-pori kulit Arunika hingga ia merasa sulit untuk sekadar menarik napas. Tidak ada jendela, tidak ada celah cahaya, bahkan tidak ada jam yang berdetak. Waktu telah mati di sini.
Arunika meringkuk di atas kasur tipis yang terasa dingin. Satu-satunya sumber cahaya adalah titik merah kecil dari kamera CCTV di sudut langit-langit. Titik itu berkedip ritmis, seperti detak jantung monster yang sedang mengawasinya tidur.
Satu... dua... tiga...
Arunika menghitung kedipan itu untuk menjaga kewarasannya. Jika ia berhenti menghitung, ia takut ia akan hanyut dalam sunyi yang membunuh ini.
"Adrian... tolong..." bisiknya, namun suaranya hanya memantul di dinding kedap suara, kembali ke telinganya sebagai ejekan.
Tiba-tiba, suara desis halus terdengar. Lampu di ruangan itu menyala secara bertahap, namun tidak sampai terang benderang—hanya cahaya remang-remang berwarna biru pucat yang memberikan kesan dingin dan mual. Sebuah panel kecil di pintu baja terbuka, dan sebuah nampan berisi makanan mewah didorong masuk.
Steak wagyu yang dipotong sempurna, segelas anggur merah, dan setangkai mawar putih yang segar.
Lalu, suara Adrian menggema melalui speaker tersembunyi. Suaranya terdengar sangat jernih, seolah pria itu sedang berbisik tepat di samping telinganya.
"Selamat pagi, Sayang. Atau mungkin selamat malam? Di sini, waktu adalah milikku untuk ditentukan. Kau terlihat sangat pucat di layar monitorku. Makanlah, aku tidak ingin kecantikanmu memudar hanya karena rasa bersalahmu."
Arunika tidak menyentuh makanan itu. Ia menatap kamera dengan mata yang cekung dan penuh kebencian. "Kenapa kau tidak membunuhku saja, Adrian? Kenapa kau harus melakukan ini?"
"Membunuhmu?" Suara tawa Adrian terdengar rendah dan merdu. "Itu akan menjadi pemborosan yang luar biasa. Kau adalah karya seniku yang paling berharga, Arunika. Aku hanya sedang membersihkan debu-debu pengkhianatan dari jiwamu. Makanlah. Jika kau tidak makan, aku akan menganggap kau merindukan Rendra... dan kau tahu apa yang terjadi pada pria yang dirindukan oleh istriku."
Ancaman itu bekerja seketika. Dengan tangan gemetar, Arunika meraih garpu. Setiap suapan terasa seperti menelan duri, namun ia memaksanya masuk. Ia harus hidup. Ia harus bertahan jika ingin melihat Adrian hancur.
Hari-hari berikutnya—atau yang Arunika asumsikan sebagai hari—menjadi sebuah siksaan psikologis yang sistematis. Adrian tidak membiarkannya dalam kesunyian total. Ia memutar musik klasik melalui speaker—musik yang sama dengan kotak musik yang dihancurkan Adrian di Paviliun, namun kali ini versinya lebih lambat dan sedikit menyimpang suaranya (distorted).
Lalu, lampu akan tiba-tiba padam selama berjam-jam, meninggalkan Arunika dalam kegelapan mutlak, sebelum akhirnya menyala kembali dengan cahaya yang sangat menyilaukan.
Dalam kondisi kekurangan rangsangan sensorik seperti itu, otak Arunika mulai bermain-main dengannya. Ia mulai melihat bayangan di sudut ruangan yang gelap. Bayangan seorang wanita dengan gaun biru pucat yang robek-robek.
"Elena?" bisik Arunika suatu malam—atau siang.
Bayangan itu tidak menjawab, namun Arunika bisa merasakan tatapan kosong yang sama dengan yang ia lihat di "mimpi" Sektor 7 tempo hari.
"Kau juga di sini, kan? Kau tidak pernah benar-benar pergi," igau Arunika. Ia mulai berbicara pada dinding, menceritakan rahasia-rahasia kecilnya, karena itu adalah satu-satunya cara agar ia tidak lupa bagaimana cara bersuara.
Tiba-tiba, pintu baja itu terbuka.
Adrian masuk. Kali ini ia tidak memakai jas. Ia hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung, tampak santai seolah ia sedang mengunjungi taman bunga, bukan sel bawah tanah. Ia membawa sebuah baskom perak berisi air hangat dan sehelai handuk lembut.
Ia duduk di tepi ranjang, menarik tubuh Arunika yang lemas ke dalam pelukannya. Arunika terlalu lemah untuk meronta. Ia hanya bersandar pada dada Adrian, menghirup aroma sandalwood yang kini terasa seperti aroma kematian baginya.
"Kau sudah belajar, Sayang?" tanya Adrian lembut sembari mulai membasuh wajah Arunika dengan handuk hangat. Gerakannya begitu telaten, begitu penuh perhatian, hingga membuat Arunika merasa ngeri. "Kau lihat betapa sunyinya dunia tanpaku? Di luar sana, tidak ada yang mencarimu. Ayahmu tidak berdaya, Rendra adalah pecundang yang sedang bersembunyi untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Hanya aku yang ada di sini untukmu."
"Kau gila..." lirih Arunika.
Adrian berhenti membasuh pipinya. Ia menatap Arunika dengan mata yang berkaca-kaca—sebuah akting yang sangat sempurna. "Aku gila karena mencintaimu, Arunika. Ibuku selalu bilang, keindahan yang tidak dijaga akan dicuri oleh pencuri. Aku hanya menjagamu agar kau tidak dicuri."
Adrian mengambil sebuah botol kecil dari sakunya. Ia menuangkan beberapa tetes cairan ke dalam gelas air Arunika. "Ini vitamin agar kau tidak bermimpi buruk lagi. Minumlah, lalu tidurlah di pelukanku."
Arunika menatap gelas itu. Ia tahu itu bukan vitamin. Itu adalah cara Adrian untuk menghapus perlawanannya, untuk membuat pikirannya menjadi kanvas kosong yang bisa Adrian lukis sesuka hati. Namun, saat ia melihat mata Adrian yang penuh obsesi itu, ia menyadari satu hal.
Ia tidak bisa melawan monster ini dengan kemarahan. Ia harus melawan dengan cara yang sama seperti yang Adrian lakukan: Manipulasi.
Arunika mengambil gelas itu, namun sebelum meminumnya, ia menatap Adrian dengan pandangan yang tampak rapuh dan hancur. "Jika aku meminum ini... maukah kau berjanji satu hal?"
"Apa pun, Sayang."
"Jangan sakiti Ayah. Aku akan melakukan apa pun yang kau mau. Aku akan menjadi istri yang kau impikan. Tapi tolong... biarkan Ayah tetap hidup."
Adrian tersenyum lebar—senyum kemenangan seorang predator yang berhasil memojokkan mangsanya hingga titik nadir. "Selama kau menjadi milikku sepenuhnya—jiwa dan ragamu—Ayahmu akan mendapatkan perawatan terbaik di dunia."
Arunika meminum cairan itu hingga habis. Rasa pahit yang familiar menjalar di lidahnya. Sesaat kemudian, kepalanya mulai terasa ringan. Kegelapan yang tenang mulai menyelimutinya.
Saat ia mulai kehilangan kesadaran, ia merasakan Adrian merebahkannya di kasur dan mengecup keningnya.
"Selamat tidur, Malaikatku. Besok, kau akan bangun sebagai wanita yang baru. Wanita yang tidak mengenal nama Rendra atau Elena. Hanya namaku yang akan ada di kepalamu."
Di balik kelopak matanya yang menutup, Arunika membatin satu hal terakhir sebelum obat itu menguasainya.
Kau salah, Adrian. Aku akan mengingat semuanya. Aku akan menyimpan setiap inci kebencian ini di balik senyumanku. Dan saat kau paling merasa aman... saat itulah aku akan meruntuhkan duniamu.