NovelToon NovelToon
Apex Of The Red Tower

Apex Of The Red Tower

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri
Popularitas:712
Nilai: 5
Nama Author: Cicilia_.

Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30# Makhluk Besar

Langkah kaki mereka terasa berat saat menginjakkan kaki di pelataran luas di depan Gerbang Utama Menara Merah. Lantainya terbuat dari logam dingin yang bergetar karena aktivitas mesin di bawah tanah. Cahaya merah yang berpendar dari puncak Menara kini menyinari wajah mereka yang penuh luka, debu, dan keringat. Di depan mereka, gerbang raksasa setinggi dua puluh meter berdiri angkuh, tampak mustahil untuk ditembus.

Namun, sebelum mereka sempat memikirkan cara membukanya, sebuah getaran dahsyat mengguncang seluruh dataran. Getaran itu bukan berasal dari mesin, melainkan langkah kaki sesuatu yang sangat besar.

BUM... BUM... BUM...

Dari balik bayang-bayang pilar raksasa di samping gerbang, muncul sesosok makhluk yang membuat napas mereka tercekat. Tingginya hampir tujuh meter, dengan kulit tebal berwarna hijau lumut yang tampak seperti batu. Otot-ototnya menonjol seperti akar pohon purba, dan di tangannya ia menyeret sebuah gada kayu raksasa yang dilapisi duri-duri perak tajam. Wajahnya hanya memiliki satu mata besar di tengah dahi yang menatap mereka dengan kemarahan murni.

Harry mundur selangkah, wajahnya yang selama sembilan tahun ini selalu tampak tangguh kini pucat pasi. "Sembilan tahun... aku pikir aku sudah melihat semuanya. Tapi makhluk ini... dia tidak pernah keluar dari bayang-bayang Menara sebelumnya."

Dokter Luz melangkah maju dengan gemetar, matanya menatap monster itu dengan ngeri. "Itu adalah Troll Alpha. Dia bukan sekadar predator, dia adalah penjaga gerbang yang diciptakan untuk memusnahkan siapa pun yang mencoba menyentuh sistem pusat. Dia adalah King Monster dari ekosistem ini."

"Aku tidak peduli dia raja atau dewa, dia menghalangi jalan kita!" raung Arlo sambil menghunus pedangnya yang kini sudah mulai retak.

Troll Alpha itu mengeluarkan raungan yang membuat telinga mereka berdenging. Ia mengayunkan gada raksasanya secara horizontal. WUSH!

"SEMUANYA MERUNDUK!" teriak Tom.

Serangan itu menghancurkan pilar batu di dekat mereka menjadi serpihan kecil. Pertempuran paling berdarah dalam hidup mereka pun pecah. Adrenalin mengalir seperti arus listrik yang membakar saraf. Rick dan Tom mencoba menyerang kaki monster itu, namun kulit Troll Alpha terlalu tebal, tombak listrik Rick hanya memercikkan api tanpa memberikan luka berarti.

Zephyr dan Finn mencoba memanjat punggung monster itu, namun Troll Alpha mengibaskan tubuhnya dengan sangat kuat, melempar Finn hingga menghantam dinding gerbang. Lira menjerit melihat Finn terkapar, namun ia harus tetap fokus menahan serangan Silvan Striker kecil yang mulai bermunculan dari sela-sela kaki sang Troll.

"Dia terlalu kuat! Kita kehabisan energi!" teriak Naya sambil mencoba melemparkan sisa peledaknya, namun Troll itu menepis ledakan tersebut dengan tangan kosongnya yang besar.

Mereka semua mulai kewalahan. Darah mengucur dari dahi Arlo, bahu Selene memar hebat, dan Lily tampak hampir pingsan karena kelelahan, sementara Cicilia terus melawan. Rayden yang biasanya konyol pun kini hanya bisa terengah-engah, memegang pundaknya yang kembali berdarah sambil mencoba melindungi Naya.

"Kita tidak akan menang dengan cara ini," bisik Rony. Matanya yang tajam menatap ke arah mekanisme kunci di atas gerbang yang hanya bisa diaktifkan secara manual dari sebuah panel di dekat kaki Troll tersebut.

Troll Alpha mengangkat gadanya tinggi-tinggi, bersiap untuk memberikan hantaman terakhir yang akan meratakan mereka semua. Di saat energi mereka sudah di titik nol dan keputusasaan mulai menyelimuti, Rony mengambil keputusan yang paling berat.

Rony menoleh ke arah Dasha dan memberikan senyum kecil yang sangat tulus. "Dasha... jaga mereka semua."

"Rony? Apa yang kau lakukan?!" teriak Dasha.

Tanpa jawaban, Rony melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa. Ia tidak menggunakan busurnya lagi, ia justru berlari lurus ke arah kaki Troll Alpha. Dengan sisa tenaganya, ia memanjat tubuh monster hijau itu dan menghujamkan belati beracunnya ke mata tunggal sang Troll.

"AAARRGGHHH!!!" Troll Alpha meraung kesakitan, tangannya melepaskan gada dan mencoba mencengkeram Rony di punggungnya.

Rony berhasil menekan tombol manual di panel gerbang saat ia sedang bergelantungan di tubuh monster itu. Suara mesin berderit kencang, dan Gerbang Utama Menara perlahan mulai terbuka.

"SEKARANG! MASUK KE DALAM!" teriak Rony dengan suara yang menggelegar di tengah raungan monster. "CEPATT! JANGAN BIARKAN AKU MATI DENGAN SIA-SIA!"

Troll Alpha berhasil mencengkeram tubuh Rony dan membantingnya ke lantai logam dengan kekuatan yang menghancurkan tulang. Dasha yang melihat itu menjerit histeris, "RONYYYY! TIDAAAK!"

Dasha mencoba berlari kembali untuk menolong Rony, namun Arlo dengan sigap menangkap lengan Dasha. Wajah Arlo tampak mengeras karena duka, namun ia tahu pengorbanan Rony adalah satu-satunya kesempatan mereka.

"Lepaskan aku, Arlo! Kita harus menolongnya!" jerit Dasha sambil meronta-ronta.

"Tidak, Dasha! Gerbangnya mulai menutup kembali! Kita harus masuk!" Arlo menarik Dasha dengan paksa, menyeretnya menuju celah gerbang yang terbuka.

"PERGIIII!" teriak Rony terakhir kalinya sebelum Troll Alpha kembali mengangkat tinju raksasanya di atas tubuh Rony yang sudah tak berdaya.

Dengan hati yang hancur, mereka semua berlari masuk melewati ambang gerbang. Zephyr menarik Naya, Finn memapah Rayden, dan Harry mendorong Dokter Luz agar cepat masuk, Cicilia, Lily, dan Tom mereka berlari laju. Begitu mereka semua melangkah masuk ke dalam aula Menara yang dingin, gerbang baja raksasa itu tertutup dengan dentuman yang sangat keras. BAM!

Suara raungan Troll di luar sana mendadak lenyap, berganti dengan kesunyian yang mencekam di dalam lobi Menara. Dasha jatuh berlutut di depan pintu gerbang yang tertutup, memukul-mukul logam dingin itu sambil menangis sejadi-jadinya. Lily dan Cicilia memeluknya, air mata mereka juga mengalir deras.

Arlo berdiri diam, menatap pintu yang kini memisahkan mereka dengan sahabat yang baru saja mengorbankan nyawanya. Ia mengepalkan tangannya hingga bergetar. Rony telah pergi, menyusul Becca dan Leo.

"Kita sudah di dalam," ucap Harry dengan suara yang serak dan penuh duka. "Kita tidak boleh berhenti sekarang. Demi Rony... kita harus selesaikan ini."

Mereka menatap ke depan, ke arah lorong panjang yang dipenuhi cahaya laser merah dan kabel-kabel yang berdenyut seperti pembuluh darah. Mereka berada di jantung musuh, di tempat di mana segalanya bermula, dan di mana segalanya akan berakhir.

1
Pembaca handal
ih suka banget ceritanya kak kerennnn😋💓
Pembaca handal
Bagus nihh cerita, masukin list ah😋
Btw semangat terusss min!!
Cicilia.ofc: Terimakasih yaa💕
total 1 replies
only siskaa
cmngtt KK jngn lupa mmpir di karya aku yaa
Cicilia.ofc: Okk deh💕
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!