"Manut yo, nek gak manut koe mau jadi anak durhaka!?"
"Perempuan iku musti ayu! musti lues! musti biso sekabehane! Koe ndak perlu berpendidikan tinggi, cukup jadi perempuan yang cantik, semua materi datang padamu, nduk."
Lahir dari keluarga miskin, tinggal di rumah gubuk, tapi memiliki orang tua yang berambisi tinggi untuk menjadi kaya. Rukmini, di tempa menjadi anak yang serba bisa. Dia anak satu - satunya tapi tercekik oleh ke egoisan orang tuanya, sehingga tumbuh dendam dan kebencian pada orang tua nya.
Dia melawan aturan, melawan takdir bahkan melawan Tuhan nya, dengan membuat ikatan perjanjian darah dengan yang gelap hanya agar dia bebas dari orang tua nya, tidak peduli apa konsekunsinya..
"WANI TEKO WANI MATI!"
[Novel RUKMINI ini adalah kisah lengkap tentang Rukmini, Sosok ibu yang ada di novel SUARA]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS. 2. Saya ingin di dengar. [RUKMINI]
Esa dan Lea dalam perjalanan menuju ke rumah Dara dan Amar sekarang, untung nya rumah mereka dekat. Tapi sepanjang jalan itu juga banyak yang mengikuti mereka karena Lea sedang hamil, wangi ibu hamil sangat menarik bagi sosok - sosok pemakan.
"Ya Allah, sayang. Alhamdulillah kalian nggak kenapa - kenapa." Dara memeluk Lea yang kini sudah masuk di rumah Dara dan sudah duduk di sofa.
"Pa, perempuan itu datangi Lea lagi. Kita udah kelar waktu itu, harus nya dia nggak bisa ganggu Lea lagi, kan?" Ucap Esa, dia khawatir.
"Kita memang sudah berhasil waktu itu, mama kamu mencoba memisahkan dia dari yang di sembah nya itu tapi nggak bisa, nak. Perempuan itu terjerumus terlalu jauh, dia sudah jadi budak iblis." Ucap Amar, dia juga terkejut saat mendengar bahwa Rukmini kembali mengganggu Lea.
"Nak, sudah sejak kapan dia mulai ganggu kamu?" Tanya Amar ke Lea sejenak berpikir..
"Kalo suara nya, baru hari ini pa. Tapi aku selalu merasa ada yang aneh karena aku nggak pernah bisa tidur, sejak awal 7 bulan hamil.. Aku selalu keluar kamar." Ucap Lea, Dara tertegun.. Esa lebih tertegun.
"Sayang, kamu kok nggak bilang abang? Ya Allah, artinya kamu udah di ganggu berhari - hari." Ucap Esa, dia duduk merangkul Lea.
"Tiap malem, sejak memasuki 7 bulan hamil.. Aku nggak bisa tidur bang, terus mbok juga liat aku di ruang tengah juga.. jalan - jalan doang muterin sofa." Ucap Lea.
"Itu pasti naluri siaga kamu sayang, tanpa kamu sadar badan kamu tau ada yang mendekat. Waktu malam emang waktu yang rawan." Ucap Dara, Dara mengusap perut Lea.
"Nggak apa - apa, kamu di sini saja sama mama. Mama akan coba bicara sama Rukmini." Ucap Dara, Lea mengangguk.
"Saya cuma mau di dengar."
Tiba - tiba Lea mendengar suara Rukmini, Lea meremas pelan tangan Esa dan Amar..
"Mama dia di sini." Ucap Lea, Dara mengangguk.
'Kamu mau apa?' Tanya Lea dari batin nya.
"Dengar saya, saya tidak akan menjadi begini kalau mereka memanusiakan saya." Ucap Rukmini.. Lea terdiam.
"Oke, kalo dengan kamu bercerita bisa membuatmu tenang dan nggak ganggu aku sama keluargaku, aku dengarkan.." Ucap Lea, Esa menggeleng.
"Sayang, ini terlalu beresiko." Ucap Esa, dia khawatir Rukmini menipu Lea.
"Dia hanya ingin cerita, mungkin dia masih memiliki ganjalan di hatinya sampe dia begini, kita mungkin akan dapat pesan juga." Ucap Lea, Dara yang mendengar itu mengangguk setuju.
"Okay, kita dengarkan dia.. Mama yang jaga kamu. Kalo dia berniat sedikit saja nyakitin kamu, mama akan tarik paksa dia." Ucap Dara, Lea mengangguk..
"Silahkan kamu bercerita, tapi ingat.. Jangan pernah macam - macam." Ucap Lea..
Rukmini kemudian memulai cerita versi nya, dimana Lea, Esa, Dara dan Amar bisa melihat visual nya secara langsung. Seolah mereka di bawa ke jaman dahulu, jaman saat belum ada kemajuan. Tahun.. Saat Rukmini kecil.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
...CERITA RUKMINI DARI MASA KE MASA...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Masa itu, tahun itu adalah tahun yang paling berat bagi seorang gadis cilik berusia 12 tahun yang sedang menggendong keranjang anyaman bambu dengan isi sisiran pisang di punggung nya, ia baru saja memanen pisang di ladang nya yang tak jauh dari rumah.
Kemarau panjang membuat warga di sana kesulitan hidup, selain tidak bisa menanam padi dan yang lain nya, warga juga kesulitan mendapat air untuk hidup sehari - hari.
"Cepet!! Taro bakulnya terus pergi cari air, gentong nya kosong ndak bisa minum!" Bentak seorang perempuan paruh baya yang memakai kebaya berwarna coklat muda.
"Mak, aku rehat sek yo? aku lemes.." Ucap gadis cilik itu, setelah meletakkan bakulnya.
Perempuan galak tadi adalah ibu dari si gadis cilik itu, dia bukan ibu tiri.. Tapi ibu kandung. Tapi meski kandung, sifat nya.. sangat tidak bisa di panggil saebagai seorang ibu.
"Rehat - rehat! Koe rehat makanmu juga rehat." Ucap ibunya, lalu pergi.
Gadis cilik itu meneteskan air matanya, dia sudah kelaparan, kehausan dan kelelahan. Dia belum makan, bahkan dia tidak berani memotek satu pisang pun dari hasil panen nya, karena jika ibunya tau, dia akan kena hajar. Tapi kali ini, tubuh nya sudah gemetar hebat.. lambung nya sudah sangat perih, melihat pisang yang sudah menguning ia menelan ludah nya..
"Cepat cari air! Pokok nya nek ndak dapet air, koe ndak boleh makan ndak boleh minum!" Teriak ibunya lagi, gadis cilik itu menelan ludah nya.
Gadis cilik itu bangun, dia berjalan dengan langkah gontai menuju ke belakang rumah nya di mana di sana ada jamban atau kamar mandi orang jaman dulu yang berada di luar rumah. Gadis cilik itu mengambil ember lalu kembali lagi ke depan, dia berhenti sejenak menatap pisang di bakul tadi..
Dia mendekat dan makin menelan ludah nya, setelah dia menoleh kesan kemari memastikan tidak ada ibunya, ia pun memotek satu yang sudah kuning, dan lari.. tapi ketahuan..
"RUKMINI!!!!"
Teriak ibunya, gadis cilik yang di panggil Rukmini itu terus lari dengan wajah panik, pias dan ketakutan. Ia lari sekencang - kencang nya dan sembunyi di balik pohon..
"Hh.. Hh.. Hh.." Dia ngos ngosan.
"BERANI KOE NYURI PISANG IKI! IKI MAU DI JUAL NANTI NDAK LAKU!!" Teriak ibunya lagi.
"RUKMINI!! NANTI PULANG, HABIS KOE SAMA BAPAKMU!" Teriak ibunya lagi.
Dia masih bisa mendengar teriakan ibunya, tapi tidak keluar dari persembunyian nya. Dia mengupas pisang yang di ambil nya tadi lalu dia makan dengan rakus.. Karena dia sangat kelaparan. Sudah sejak kemarin sore dia tidak makan dia hanya bisa curi - curi minum air saja karena dia tidak kebagian jatah makan.
Pagi nya dia masih harus bekerja membantu kedua orang tua nya, dia pikir mungkin akan dapat makan, tapi.. sebiji singkong rebus pun tidak dia dapat. tenggorokan nya kering, lambung nya perih.. gadis cilik yang di panggil Rukmini itu akhir nya mencuri satu pisang milik ibunya.
"Koe kenapa makan pisang buru - buru, nduk?"
"Hh!!"
Rukmini terkejut melihat seorang pria berumur sekitar 30 tahunan berdiri menatap nya. Pria itu membawa cangkul di pundak nya dan memakai pakaian juga caping sawah. Tapi ternyata dia kenal, itu adalah salah satu teman bapak nya yang sering datang ke rumah sambil membawa ayam jago.
"Laper wa, aku belum makan." Ucap Rukmini kecil.
"Melaske, ayo wa kasih makanan. Wa masak sego (nasi) jagung." Ucap pria itu, mendengar kata itu Rukmini menelan ludah nya, tergiur..
"Mau ndak?" Tanya pria itu, Rukmini mengangguk.
"Koe bawa ember buat apa?" Tanya pria itu lagi.
"Ngangsu (nimba air), wa. Sumur di belakang rumah air nya hitam." Ucap Rukmini kecil.
"Gampang, sumur di rumah uwa banyak air nya. Yuk, melaske (kasihan) tenan koe iki.." Ucap pria itu dia membawa ember Rukmini kecil.
Rukmini akhir nya mengangguk, mereka berjalan pergi. Kampung tempat tinggal Rukmini masih sangat sepi, jarak dari rumah satu ke rumah lain nya cukup jauh. Dan kebanyakan masih ada kebun - kebun milik warga atau tanah kosong yang belum di bangun rumah.
Tak lama mereka pun sampai di rumah pria tadi yang ternyata begitu sepi. Rukmini kecil ingat pria itu sudah memiliki istri dan anak nya seumuran juga dengan nya, tapi mereka tidak ada di rumah.
"Sini masuk ae nduk, ndak usah takut uwa ndak galak koyo ibumu." Ucap pria itu tersenyum penuh arti, Rukmini mengangguk.
...BERSAMBUNG!...
menarik dan makin penasaran...🤔🤔