Alisa Putri adalah seorang guru TK yang lembut dan penuh kasih, sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk keceriaan anak-anak.
Namun, dunianya yang berwarna mendadak bersinggungan dengan dunia dr. Niko Arkana, seorang dokter spesialis bedah yang dingin, kaku, dan perfeksionis.
Niko merupakan cucu dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja dan memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga reputasi keluarganya.
Pertemuan mereka bermula lewat Arka, keponakan Niko yang bersekolah di tempat Alisa mengajar.
Niko yang semula menganggap keramahan Alisa sebagai hal yang "tidak logis", perlahan mulai tertarik pada ketulusan sang guru.
Sebaliknya, Alisa menemukan bahwa di balik dinding es dan jubah putih Niko, tersimpan luka masa lalu dan tanggung jawab berat yang membuatnya lupa cara untuk bahagia.
Bagaimana kelanjutan???
Yukk baca cerita selengkapnya!!!
Follow IG: @Lala_Syalala13
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Observasi Objektif Atau Cemburu?
"Dia ingin aku bertemu dengan putri dari pemilik farmasi besar minggu depan, sebuah jamuan makan malam bisnis." tutur Niko d Ngan serius.
Alisa merasa dadanya sedikit sesak, namun ia mencoba tetap tenang.
"Lalu, apa jawabanmu?" tanya Alisa penasaran.
Niko menoleh dan menatap Alisa tepat di matanya, ia merogoh saku jas putihnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil.
Bukan cincin melainkan sebuah gantungan kunci berbentuk kuncup bunga yang sederhana sepertinya hasil kerajinan tangan dari panti asuhan Baim.
"Aku bilang padanya bahwa aku sudah punya janji medis permanen yang tidak bisa diganggu gugat." ucap Niko, ia menyerahkan gantungan kunci itu pada Alisa.
"Aku menolaknya Alisa, dan aku akan terus menolaknya." terusnya.
Alisa menerima benda itu dengan tangan gemetar.
"Niko itu akan memicu konflik besar dengan kakekmu." seru Alisa.
"Biarkan saja." sahut Niko mantap.
"Aku lebih suka menghadapi kemarahan Kakek daripada harus kehilangan kehangatan yang baru saja kutemukan kembali dalam diriku, kamu adalah rumahku Alisa dan aku tidak akan menukar rumahku dengan apa pun." sahut Niko.
Di bawah langit malam yang bertabur bintang, di sela-sela kesibukan rumah sakit yang tak pernah tidur, Alisa menyadari bahwa bab ini memang akan segera berakhir untuk menuju bagian yang lebih menantang.
Tapi ia tidak takut lagi marena kini ia tahu di balik jas putih yang kaku itu ada seorang pria yang akan bertarung demi dirinya, satu detak jantung pada satu waktu.
...****************...
Senin pagi di TK Pelangi Bangsa biasanya dimulai dengan keriuhan anak-anak yang menceritakan akhir pekan mereka.
Namun bagi Alisa Senin kali ini terasa berbeda sejak ia menginjakkan kaki di lobi.
Ada sebuah ketegangan baru yang tidak berasal dari tumpukan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), melainkan dari kehadiran dua pria yang memiliki energi bertolak belakang di satu ruangan yang sama.
Niko seperti biasa baru saja mengantar Arka, ia berdiri tegak di dekat loker sepatu, masih mengenakan kemeja biru muda yang disetrika sangat rapi dan memberikan kesan profesional yang kontras dengan dinding sekolah yang penuh tempelan gambar matahari dan awan.
Sementara itu di ujung koridor Pak Satria yaitu guru olahraga yang baru saja kembali dari pelatihan daerah tengah berdiri dengan peluit menggantung di leher dan kaos polo ketat yang menonjolkan otot lengannya.
"Selamat pagi Bu Alisa! Cerah sekali ya hari ini seperti senyummu." seru Satria dengan volume suara yang cukup keras hingga membuat beberapa guru di ruang sebelah menoleh.
Alisa tersenyum canggung.
"Selamat pagi Pak Satria, bagaimana pelatihannya?" tanya Alisa dengan basa-basi.
"Luar biasa! Tapi saya merasa ada yang kurang kalau tidak melihat pemandangan indah di sekolah ini setiap pagi." balas Satria sembari melangkah mendekat, sengaja mengabaikan sosok Niko yang berdiri hanya beberapa meter dari mereka.
Alisa bisa merasakan hawa dingin mulai merambat dari arah belakangnya.
Ia menoleh dan mendapati Niko sedang menatap Satria dengan ekspresi yang sering ia gunakan saat memeriksa hasil rontgen pasien yang tidak disiplin yaitu tajam, analitis, dan sangat tidak senang.
"Arka tasmu tertinggal satu botol vitamin." ucap Niko tiba-tiba.
Suaranya rendah dan berat memotong percakapan Satria dengan presisi seorang dokter bedah.
"Eh? Mana Om?" Arka memeriksa tasnya yang sebenarnya sudah lengkap.
Niko tidak melihat ke arah Arka tapi matanya tetap terpaku pada Satria.
Ia berjalan mendekat secara fisik menempatkan dirinya di antara Alisa dan guru olahraga itu.
"Ini, pastikan kau meminumnya tepat jam sepuluh dan Bu Alisa... aku perlu bicara sebentar mengenai perkembangan kesehatan Arka." sahut Niko.
Satria mendengus, mencoba tertawa santai.
"Wah Dokter ini protektif sekali ya, padahal Arka kan kelihatannya sehat-sehat saja, mungkin dokternya yang butuh asupan vitamin sosialisasi?" seru pak Satria yang semakin berani saja.
Niko hanya melirik Satria sekilas yaitu jenis lirikan yang membuat orang merasa seperti kuman di bawah mikroskop.
"Beberapa orang dibayar untuk melatih otot Pak Satria, saya dibayar untuk memastikan jantung orang tetap berdetak dan saya rasa kita tahu profesi mana yang membutuhkan konsentrasi lebih tinggi tanpa gangguan kebisingan." sahut Niko santai.
Alisa segera menarik lengan baju Niko sebelum situasi memanas.
"Pak Satria maaf kami harus mendiskusikan jadwal Arka dulu, mari Niko." pamit Alisa.
Setelah Satria pergi dengan wajah masam menuju lapangan dan Alisa membawa Niko ke sudut taman yang lebih sepi.
"Niko, kamu tidak perlu seperti itu pada Pak Satria." bisik Alisa.
Niko menyandarkan tubuhnya di pilar sekolah dan melipat tangan di dada.
"Seperti apa? Aku hanya memberikan observasi objektif." ucapnya santai.
"Observasi objektif atau cemburu?" goda Alisa dengan senyum tipis.
Niko berdeham, sedikit membenarkan letak jam tangannya.
"Cemburu adalah reaksi emosional yang tidak efisien, aku hanya merasa guru olahragamu itu memiliki volume suara yang tidak proporsional dengan kepentingannya." sahutnya.
Namun, perilaku Niko sepanjang minggu itu membuktikan sebaliknya, Alisa mulai menyadari bahwa dokter Niko Arkana memiliki caranya sendiri yang "dingin" namun menggemaskan untuk menunjukkan dominasi.
...****************...
Biasanya setelah mengantar Arka, Niko akan langsung memacu mobilnya menuju Rumah Sakit Medika Utama.
Namun hari Selasa mobil sedan hitamnya tetap terparkir di depan gerbang sekolah selama tiga puluh menit setelah jam masuk dimulai.
Alisa yang sedang mengawasi anak-anak berbaris di halaman melihat Niko masih duduk di dalam mobil, pura-pura membaca tablet medisnya namun matanya terus memantau setiap kali Pak Satria mencoba mendekati Alisa untuk sekadar menawarkan bantuan membawa peralatan mengajar.
Puncaknya terjadi pada hari Rabu saat jam istirahat siang telah tiba.
Kantin guru TK Pelangi Bangsa biasanya hanya berisi guru-guru wanita yang makan bekal sambil bergosip.
Pak Satria adalah satu-satunya pria yang sering bergabung untuk menarik perhatian Alisa.
Namun hari itu, pintu kantin terbuka dan sesosok pria dengan jas putih dokter yang disampirkan di bahu masuk dengan langkah mantap.
"Niko? Kamu sedang tidak ada jadwal operasi?" Alisa terbelalak terkejut saat Niko menarik kursi tepat di hadapannya.
"Ada pasien yang membatalkan janji temu dan aku kebetulan lewat dan aku ingat lambungmu bisa bermasalah kalau tidak makan tepat waktu jadi sekalian saja." bohong Niko dengan wajah yang sangat datar seperti memang begitu cerita aslinya.
Ia meletakkan sebuah paper bag berisi sushi dari restoran ternama di atas meja kantin yang biasanya hanya berisi gorengan dan nasi uduk.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...
ayo lanjut lagi