NovelToon NovelToon
Istriku Dosen Killer 30+

Istriku Dosen Killer 30+

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Dosen / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:196.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.

Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.

Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit. Shelina masih mencoba mencerna kalimat terakhir yang keluar dari bibir Amira.

"Kinara sudah menghubungi saya siang tadi."

Amira menyandarkan tubuhnya, menatap Kaisar dengan sorot mata yang tidak lagi sepenuhnya formal.

“Sepertinya sudah waktunya kamu tahu semuanya, Miss Shelina,” ucapnya pelan namun tegas.

Shelina menegakkan duduknya.

“Apa maksud Ibu?”

Amira terdiam sesaat, tangannya terlipat di atas meja, ekspresinya tenang dan namun ada jejak masa lalu yang tidak sederhana di matanya.

“Saya adalah ibu kandung Aksa.”

Nama itu membuat Shelina tertegun.

Aksa adalah sahabat sekaligus orang yang selama ini dekat dengan Kaisar. Dia kakaknya Kaisar. Amira melanjutkan dengan suara datar namun jujur.

“Saya juga … istri pertama Arman. Daddy, Kaisar ... Kamu tidak tahu tapi papa kamu tahu,”

Shelina merasa napasnya tertahan. Mereka terikat oleh sejarah keluarga yang rumit.

Amira menatap lurus ke depan.

“Setelah saya bercerai dengan Arman, hak asuh Aksa jatuh kepada Arman. Tapi keadaan saat itu tidak memungkinkan Arman membesarkannya sendiri lalu dia menikah lagi dengan Kinara, Mommy Kaisar dan juga si kembar.”

Tatapannya sedikit melembut.

“Kinara yang membesarkan Aksa.” Lanjutnya.

“Kami pernah berada di titik konflik yang tidak mudah,” lanjut Amira. “Namun, waktu membuat kami belajar. Kami berdamai, kami tidak lagi saling mengganggu.”

Shelina perlahan memahami potongan-potongan yang selama ini tidak pernah ia ketahui.

Amira menoleh pada Kaisar.

“Kita jarang bertemu, Kaisar. Hanya sesekali … biasanya ketika aku bertemu Aksa.”

Nada suaranya kini jauh lebih personal. Bukan lagi ketua yayasan kepada mahasiswa.

Kaisar mengangguk pelan.

“Iya, Bu.”

Shelina akhirnya menemukan suaranya.

“Jadi … Bu Amira adalah…”

“Ibu kandung Aksa,” jawab Amira lembut. “Dan mantan istri Daddy Kaisar.”

Amira kembali menyatukan jemarinya.

“Hubungan kita memang tidak lagi serumit dulu. Tapi kita tetap menjaga jarak. Demi ketenangan masing-masing.”

Tatapannya kini beralih pada Shelina.

“Karena itu … masalah yang terjadi hari ini tidak bisa hanya dilihat sebagai pelanggaran aturan kampus.”

Shelina menegang.

“Ini juga menyangkut nama keluarga.” Kalimat itu tidak diucapkan dengan ancaman. Tapi dengan kesadaran, Kaisar akhirnya angkat bicara.

“Saya tidak berniat membawa urusan pribadi ke kampus, Bu. Pernikahan kami terjadi setelah Miss Shelina resmi menjadi dosen, benar. Tapi kami tidak pernah menyalahgunakan posisi.”

Amira menatapnya dalam.

“Aku tahu.”

Jawaban itu membuat Kaisar terdiam sejenak. Amira berdiri dari kursinya, berjalan perlahan ke arah jendela.

“Masalahnya bukan pada perasaan kalian,” katanya pelan.

“Masalahnya adalah persepsi publik.”

Shelina menunduk. Hubungan dosen dan mahasiswa, meskipun sah secara hukum pernikahan, tetap melanggar etika institusi.

Amira berbalik.

“Tapi sebelum saya memutuskan sesuatu…” Tatapannya lembut berbeda dari sebelumnya.

“Ada satu pertanyaan yang harus saya tanyakan.”

Ia menatap Shelina lurus.

“Jika konsekuensinya adalah salah satu dari kalian harus keluar dari Kampus Pratama … siapa yang akan memilih pergi?”

Jantung Shelina berdetak keras, dia sudah memikirkan jawabannya. Ia menarik napas.

“Saya, Bu.”

Kaisar langsung menoleh. Namun, Shelina melanjutkan dengan suara mantap.

“Kaisar sebentar lagi lulus. Saya tidak ingin masa depannya terganggu.”

Ruangan itu kembali hening, Amira memandangnya lama. Ada sesuatu di matanya bukan sekadar penilaian sebagai pimpinan. Tapi sebagai seorang ibu sebagai seseorang yang pernah berada di posisi sulit antara cinta dan tanggung jawab.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

“Menarik,” ucapnya pelan.

“Kalau kamu mau … saya bisa bantu,” ucap Amira lembut. “Apa lagi kita keluarga.”

Kata keluarga terasa asing namun hangat di saat bersamaan. Namun, sebelum Kaisar sempat menanggapi, Shelina lebih dulu berbicara.

“Saya memilih untuk istirahat dulu dari tugas dosen sampai Kaisar lulus, Bu.”

Kaisar langsung menoleh cepat. “Shel—”

Shelina menggeleng pelan, tetap menatap Amira dengan tenang.

“Tidak masalah. Saya bisa di rumah dulu.”

Nada suaranya mantap, dan terlihat tidak ragu. Amira menatapnya lebih dalam.

“Kamu yakin?”

Shelina mengangguk.

“Saya tidak ingin Kaisar berada dalam tekanan. Jika saya tetap mengajar, kami akan berbeda fakultas, berbeda jadwal … jarang bertemu. Isu akan terus muncul.”

Ia menelan napas.

“Saya tidak ingin itu memperburuk keadaan. Saya ingin dia lulus tanpa hambatan apa pun.”

Kaisar mengepalkan tangannya.

“Aku tidak butuh kamu mengorbankan mimpimu,” suaranya terdengar tertahan. “Mengajar itu impianmu, Shel.”

Shelina menoleh padanya, tatapannya lembut.

“Kamu juga impianku.” Jawaban itu membuat Kaisar terdiam.

Amira mengamati keduanya dengan sorot mata seorang ibu yang memahami lebih dari yang diucapkan.

“Kaisar,” ujarnya tenang. “Terkadang yang paling kuat bukan yang mempertahankan ego, tapi yang tahu kapan memberi ruang.”

Ia kembali duduk.

“Shelina tidak menyerah pada mimpinya. Ia hanya menundanya.”

Ruangan itu terasa lebih hangat, meski keputusan yang diambil tidak ringan.

“Kampus akan mencatat ini sebagai cuti pribadi,” lanjut Amira profesional. “Bukan pelanggaran, tidak ada catatan buruk.”

Kaisar masih terlihat tidak sepenuhnya setuju. Namun, perlahan ia menghembuskan napas panjang.

“Baik,” katanya akhirnya.

Bukan karena ia sepenuhnya rela. Tapi karena ia tahu Shelina membuat keputusan itu bukan karena terpaksa

Amira tersenyum tipis.

“Saya menghargai keputusanmu, Shelina.”

Suasana mulai mencair.

Pintu diketuk pelan dari luar. Ketiganya menoleh bersamaan.

“Masuk,” ucap Amira.

Pintu terbuka perlahan.

1
Aji Priatun
suka
Raisha
maaf Thor,aku kok agak bingung sama kalimatnya ya, yg nyetir kan kaisar tp kok kalimatnya aneh gitu?🤔..."tangan kiri tetap memegang stir tp tangan kanan tak pernah benar² melepaskan jemari selina",gitu kan ya? emang bisa tangan kanan pegang tangan orang yg duduk di sebelah kirinya,apa gak susah nyetirnya? kalo setir mobilnya sebelah kiri,lha itu baru bisa & masuk akal...Maaf ya,kalo aku salah
Raisha: terimakasih kak author🙏😃
total 2 replies
Nani Te'ne
suka
Nanik Arifin
sampai end Arman g keluar kata maaf tuk Kaisar & menjelaskan semuanya ?
hanya merima takdir gitu aj ? itu mah merendah, nunduk ke sesama aj g. baru bisa nunduk Tuhan dia
Eka
tjor lel.aska lanjit tjor ku tunggu jangan lama2
Aisyah Alfatih: udah tamat ya kak 🙏 Aksa nikah di novel sebelah di eps terakhir 🙏
total 1 replies
nuraeinieni
happy ending,,,,trimakasih thor,karyanya bagus,,,di tunggu karya barunya.
nuraeinieni
syukurlah ibu dan bayinya selamat,,,selamat kai,shel sekarang sdh jadi orang tua
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
cepat banget tamatnya, sist? aksa aja belum nikah.
Aisyah Alfatih: nikah di sebelah kak, 🤭🙏 udah aku bagi info...
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
Alhamdulillah bahagia semuanya
Naufal Affiq
semua karya kakak tamat
Aisyah Alfatih: tgl 3 rilis karya baru ya kak 🙏
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
Alhamdulillah selamat
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
tidak sepenuhnya tamat kan, sist?
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
alhamdulillah... semua selamat
SLina
thor bonchap dong 😊
Aisyah Alfatih: nanti di pikirkan ya kak, ini masih bingung 😁
total 1 replies
Teh Euis Tea
alhamdulilah semuanya sudah berdamai dan bahagia, makasih thor sudah melanjutkan cerita ini sampe tamat, sehat selalu untuk othornya di tunggu novel selanjutnya
Fenty: g chapter ni Thor?
aksa kan belum nikah
total 3 replies
Teh Euis Tea
duh sampe deg degan aku bacanya takut shelina ga ada umur, syukurlah selamat 22nya
Nanik Arifin
klo Aksa yg salah besar aj bisa minta maaf, apa kau masih dg egomu, Arman ?
kata"mu kemarin yg bilang, "Aksa anakku" itu sangat menusuk. seolah Kirana tak pernah jd ibu Aksa pdhl justru Aksa lah yg dekat lbh dlu drpd kamu. Kirana tak pernah membedakan Aksa dg darah daging sendiri, tapi kamu ??
Kinara menanggung ini puluhan tahun, seusia Kaisar ttnya. sekarang capek, wajar. yg g wajar itu kamu, Man. membenci darah daging sendiri & membawa anakmu yg bukan keturunan Kinara menjadi alatmu tuk menghancurkan Kaisar. anak laki" satu" nya Kinara
Nanik Arifin
emang murni itu Ken ego kamu, Man. Aksa hanya berusaha membuat Kaisar bertindak terkendali & dewasa. atau... itu titipan pesanmu, Man... kebencian yg dibungkus kearifan & kepatuhan Aksa membuatnya berpikir itu usahamu merendahkan Kaisar darah dagingmu. Krn bungkusmu tll rapi, Aksa pikir itu logis. Ayah yg ingin mendidik anaknya mjd lebih baik
SLina
lanjutannya mana thor?
Aisyah Alfatih: udah update ya kak, udah tamat di bab 56🙏
total 1 replies
SLina
ipar y sgt keren.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!