Lanjutan novel kultivator pengembara
Jian Feng berakhir mati dan di buang ke pusaran reinkarnasi dan masuk ke tubuh seorang pemuda sampah yang di anggap cacat karena memiliki Dantian yang tersumbat.
Dengan pengetahuannya Jian Feng akan kembali merangkak untuk balas dendam dan menjadi yang terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Kehilangan akal
Kedai "Rembulan Mabuk" mendadak menjadi pusat perhatian seluruh pasar malam.
Jian Feng, yang baru saja menguras harta si Tuan Muda Mo, melangkah masuk dengan gaya seorang kaisar yang baru memenangkan perang.
Ia membanting tiga kantong emas besar ke atas meja kasir hingga dentingnya terdengar ke seluruh ruangan.
"Pemilik kedai! Berikan arak terbaikmu untuk semua orang di sini! Malam ini, tidak ada gelas yang boleh kosong!" seru Jian Feng, suaranya sedikit serak namun penuh wibawa.
Seluruh pengunjung bersorak kegirangan. "Hidup kakek tampan!" teriak salah satu pemabuk, meski ia sendiri bingung kenapa memanggil pria memakai penutup wajah itu kakek.
Jian Feng duduk di meja tengah, dikelilingi oleh belasan botol arak Nektar Langit. Ia meminumnya seperti orang kesetanan—bukan untuk menikmati rasanya, tapi untuk membungkam kebisingan di kepalanya.
Karena gerah dan pengaruh alkohol yang mulai membakar kesadarannya, Jian Feng menarik tali tudungnya dan melepas cadar sutranya.
Sring!
Seolah-olah ada cahaya yang memancar, suasana kedai mendadak hening. Para wanita yang tadinya asyik mengobrol langsung terdiam, gelas-gelas di tangan mereka hampir jatuh.
Tanpa tudung dan cadar, wajah Jian Feng terlihat sepenuhnya. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna, dan ada semacam aura melankolis yang sangat dalam di matanya yang tajam.
Ia tampak seperti dewa perang yang baru saja turun dari lukisan kuno.
"Gila... dia sangat tampan." bisik seorang gadis bangsawan di meja sebelah, wajahnya memerah padam.
Tiga wanita cantik, yang tampaknya adalah kembang desa setempat, segera mendekat dan duduk di sekeliling Jian Feng. "Tuan... sepertinya Anda sangat kesepian. Bolehkah kami menemani Anda menuangkan arak?" ucap salah satu dari mereka dengan nada yang sangat manis, mencoba menyentuh lengan Jian Feng.
Jian Feng menoleh dengan tatapan sayu. Ia menepis tangan wanita itu dengan lembut, lalu meneguk arak langsung dari guci.
"Kau tahu..." Jian Feng mulai meracau, suaranya terdengar sedih namun lucu karena aksen mabuknya. "Istriku... Lin Xue... dia jauh lebih cantik darimu. Rambutnya baunya seperti bunga melati setelah hujan, bukan parfum murahan yang menyengat hidung ini."
Para wanita itu saling pandang, bingung. "Ah, istri Tuan pasti sangat beruntung—"
"Beruntung kepalamu!" potong Jian Feng sambil menunjuk langit-langit dengan jari telunjuk yang goyah. "Dia itu sangat cerewet! Kalau aku pulang telat sedikit saja, dia akan diam seribu bahasa tapi matanya melotot seperti laba-laba ini!"
Jian Feng menunjuk Petir Kecil yang sedang asyik menjilati tumpahan arak di meja. Petir Kecil mendongak dan protes lewat suara hatinya, "Tuan, jangan bawa-bawa aku ke dalam urusan rumah tanggamu yang tragis itu!"
Jian Feng tidak peduli. Ia terus bercerita. "Dia itu lemah... sakit-sakitan. Makan saja harus aku suapi. Tapi tahu tidak? Dia pernah mencoba memasak sup ikan untukku, dan rasanya... ugh, rasanya seperti meminum air selokan yang dicampur garam. Tapi aku menghabiskannya! Karena kalau tidak habis, dia akan menangis selama tiga hari tiga malam!"
Jian Feng tertawa kecil, namun sedetik kemudian setetes air mata jatuh ke dalam gelas araknya.
"Tuan, jangan menangis... kami bisa menghiburmu." ucap wanita lainnya, mencoba menyandarkan kepalanya ke bahu Jian Feng.
"Jangan dekat-dekat!" Jian Feng tiba-tiba berdiri tegak, hampir terjungkal ke belakang. "Lin Xue sangat pencemburu! Kalau dia melihatmu begini, dia akan mengejarku sampai ke ujung dunia dengan sapu! Dia itu kecil, tapi kalau marah... langit pun takut!"
Ia kemudian mengambil sebuah bakpao dingin dari piringnya dan menyodorkannya ke arah wanita-wanita cantik itu. "Kalian mau? Ini bukan manisan, tapi ini enak. Lin Xue dulu paling suka mencuri bakpao dariku. Dia bilang, Jian Feng, makananmu selalu terasa lebih enak. Dasar gadis pencuri hati..."
Petir Kecil menghela napas panjang melihat tuannya yang sudah kehilangan akal sehat. "Hoi, Tuan! Berhenti memalukan dirimu sendiri! Lihat itu, mereka semua cantik-cantik, setidaknya bersikaplah keren seperti tadi saat kau memeras si gubernur!"
"Diam kau, Kaki Delapan!" Jian Feng membentak mejanya sendiri. "Kau tidak tahu rasanya mencintai satu wanita selama ribuan tahun! Kau hanya tahu cara menyentrum orang!"
Para wanita cantik itu akhirnya mundur perlahan dengan wajah kecewa. Ternyata pria setampan ini hanyalah seorang duda yang gagal move on dan sedang mengalami krisis identitas.
Jian Feng kembali terduduk, menelungkupkan kepalanya di atas meja di antara botol-botol kosong. "Lin Xue... pergilah dengan baik... tapi kenapa aku masih merasa lapar akan omelanmu?" gumamnya pelan sebelum akhirnya jatuh tertidur dengan dengkur halus.
Petir Kecil merangkak naik ke kepala Jian Feng, menarik kembali tudung hitam tuannya agar wajah tampannya tertutup. Ia tidak ingin ada orang yang mencuri wajah tuannya saat sedang lemah begini.
"Dasar Tuan Bodoh... katanya mau membersihkan jiwa, malah mengisi perut dengan racun air ini. Tapi ya sudahlah... setidaknya malam ini kau tidak memimpikan monster tangan banyak itu."
Di tengah riuhnya kedai, Jian Feng tidur dengan senyum tipis di bibirnya. Dalam mimpinya, ia sedang duduk di bawah pohon Oak yang hijau, dan seorang gadis cerewet sedang sibuk menyuapinya sup ikan yang rasanya sangat buruk—namun baginya, itu adalah makanan terenak di seluruh alam semesta.
Malam semakin larut. Di saat Jian Feng tertidur lelap dalam pengaruh arak, sesuatu yang gelap mulai merayap dari bayang-bayang selokan kota. Apakah monster "Tangan Banyak" akan muncul saat pelindung kota ini sedang mabuk berat?
thor lu kaya Jiang Feng