NovelToon NovelToon
SIRIUS : Revenge Of Pain

SIRIUS : Revenge Of Pain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dark Romance
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Lucient Night

Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Permulaan Dari Karma

Setelah keluar dari ruang kepala sekolah, Lunaris dan Sirius berjalan menyusuri koridor menuju kelas Lunaris.

Suasana SMA Sevit pagi itu mendadak gempar. Kedatangan Nattzu White Valois bukan sekadar angin lalu; itu adalah sebuah badai berskala nasional di kalangan elit.

Siapa yang tidak kenal Nattzu? Ia adalah kepala keluarga termuda dari dinasti terhormat yang kekayaannya nyaris tidak masuk akal. Sosoknya sangat sulit ditemui, misterius, dan jarang muncul ke publik, kecuali jika menyangkut pencapaian perusahaannya yang selalu mendominasi tajuk berita ekonomi.

Di tengah kehebohan itu, Lunaris dan Sirius tanpa sadar menjadi pusat perhatian baru. Berjalan bersisian dengan pemuda asing luar biasa tampan —yang memancarkan aura bangsawan pekat— membuat Lunaris kembali menjadi bahan gunjingan murid-murid yang berkerumun di loker dan tikungan koridor.

"Eh, liat deh. Itu si Lunaris, kan?"

"Gila, muka tembok banget masih berani sekolah. Mana sekarang bawa cowok baru."

"Sekali murahan ya tetep murahan, tapi cepet banget dapet target baru setelah Aaron mungkin udah ogah deket-deket sama dia. Cowok itu siapa sih? Kelihatan tajir banget."

Bisik-bisik kasar itu terdengar jelas di telinga Lunaris. Gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan poni menutupi sebagian wajahnya. Walaupun rasa kesal dan amarah benar-benar meluap di dadanya, Lunaris tetap merasa tidak berdaya. Hujatan itu terlalu banyak. Ia terbiasa menjadi pihak yang mengalah dan menelan semuanya sendirian.

Melihat tingkah gadis di sebelahnya, Sirius mendengus jengah.

"Pantas saja kau sangat mudah ditindas," Ucap Sirius dingin, memecah lamunan kelam Lunaris. "Kau sendiri yang membiarkan mereka menginjak-injak kepalamu karena kau terus diam dan menunduk layaknya budak." Lanjut pemuda itu dengan wajah tanpa ekspresi dan pandangan lurus ke depan.

Tapi sorot mata perak Sirius tidak terlihat sedang menatap koridor yang masih riuh oleh suara gunjingan manusia seperti gonggongan anjing. Sorot mata pemuda itu seakan melayang jauh ke waktu lampau.

Lunaris melirik sinis tanpa mengangkat kepalanya sepenuhnya. "Terus gue harus apa? Teriak-teriak di tengah koridor?"

Sirius menoleh sekilas, "Setidaknya jangan menunduk, Gadis Bodoh," balas Sirius tajam. "Kau sekarang memiliki senjata mematikan di sampingmu. Aku bisa membungkam mulut kotor mereka semua dalam hitungan detik. Gunakanlah otakmu." Ucap pemuda itu diakhiri dengan senyum tengilnya. Seperti biasa menyombongkan diri adalah hobi Sirius.

Lunaris mendengus pelan, meremehkan. "Senjata apanya? Emangnya lo bisa apa buat bikin orang sebanyak ini diem? Nggak usah ngaco."

Merasa diragukan oleh manusia fana, sebelah alis Sirius terangkat. Mata peraknya berkilat berbahaya. Tanpa menghentikan langkahnya, pemuda iblis itu hanya menjentikkan jarinya dengan gerakan yang sangat pelan dan elegan. Sedikit percikan sihir tak kasat mata menyebar di udara, menyapu seluruh koridor.

Sepersekian detik kemudian, kekacauan terjadi.

"...dasar cewek nggak tau ma—HAACHIIIM!"

"Eh, cowok itu beneran—HATCHI! Uhuk! HAACHIIIM!"

Tiba-tiba saja, puluhan siswa yang sedari tadi bergosip serentak bersin-bersin dengan hebat. Mata mereka berair, hidung mereka memerah, dan beberapa dari mereka bahkan sampai tersungkur karena rentetan bersin yang tidak mau berhenti. Suara gunjingan yang menyakitkan itu seketika tergantikan oleh paduan suara bersin massal yang sangat komikal.

"Idung gue kenapa tiba-tiba gatel gini sih an—HAAAACIM!!"

Anggap saja Sirius sedang berbaik hati hari ini. Ia hanya membuat mereka bersin tanpa henti, padahal jika ia mau, ia bisa saja membuat seluruh oksigen di koridor ini beracun dan menghancurkan seisi sekolah.

Lunaris dibuat melongo. Langkahnya terhenti sejenak, menatap murid-murid yang kini sibuk mencari tisu dengan wajah menderita. Oke, sekali lagi Lunaris harus meyakinkan dirinya sendiri: kekuatan iblis ini memang benar-benar nyata.

"Bagaimana? Cukup untuk membungkam mereka?" tanya Sirius dengan seringai sombong yang terpatri di wajah tampannya.

Lunaris buru-buru menutupi rasa kagumnya dan kembali berjalan cepat menyejajari Sirius. Namun kali ini, rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Sirius, menurunkan suaranya menjadi bisikan super pelan agar tidak ada yang mendengar pembicaraan di luar nalar ini.

"Sirius," bisik Lunaris, melirik waspada ke sekeliling. "Gue penasaran, gimana caranya lo bisa pake identitas Keluarga Valois? Dan... gimana ceritanya Nattzu Valois, yang super kaya raya itu, adalah adik lo? Apa Nattzu itu juga... setengah vampir dan setengah lycan kayak lo? ATAU JANGAN-JANGAN LO NGEHIPNOTIS DIA PAKE SIHIR LO?!"

"Kenapa manusia selalu memiliki rasa ingin tau yang tinggi? Kau tau, terkadang terlalu banyak tau itu berbahaya."

"Ayolah, jawab aja. Lagian aneh, orang sesempurna Nattzu tiba-tiba jadi adek dari iblis yang dikurung di kuil tempat orang-orang bunuh diri."

Sirius tidak menoleh, pandangannya tetap lurus ke depan, namun ia menjawab dengan nada yang santai. "Aku menggunakan identitas Keluarga Valois karena aku memang bagian dari mereka sejak ratusan tahun yang lalu. Lebih tepatnya, aku adalah salah satu leluhur awal dari dinasti berdarah itu."

Lunaris menelan ludah. "Leluhur?"

"Ya. Dan Nattzu adalah adikku dari ayah yang sama," lanjut Sirius tenang. "Tapi dia bukan half-blood sepertiku. Nattzu adalah keturunan vampir murni kelas atas. Pemimpin klan yang sesungguhnya."

Sejarah Bayangan Keluarga Elit

Manusia modern mengenal nama "Valois" sebagai keluarga bangsawan yang sangat dihormati. Dalam buku-buku sejarah, nama Valois, bersama lima keluarga besar lainnya—Vlad, Salvatore, Thornblade, Blackwood, dan D'Rhys—tercatat sebagai pionir yang turut membangun fondasi peradaban Eropa hingga menyebar menjadi bentuk negara republik modern saat ini. Mereka adalah donatur perang, pendiri bank-bank pertama, dan penyokong ekonomi dunia.

Namun, sejarah manusia penuh dengan kebohongan yang manis. Buku-buku sejarah tidak pernah membahas bahwa para pendiri itu sama sekali tidak menua. Tidak ada satu pun teks sejarah yang berani menulis fakta bahwa keenam keluarga konglomerat terbesar di dunia itu adalah klan vampir murni yang mengendalikan umat manusia dari balik layar selama berabad-abad.

Kembali pada Lunaris, mendengar penjelasan singkat itu, otak Lunaris berputar keras.

"Tunggu dulu," potong gadis itu, menatap profil samping Sirius. "Kalau Nattzu itu keturunan vampir murni... terus kenapa lo malah jadi setengah lycan? Bukannya lycan itu manusia serigala, musuh alaminya vampir? Terus kenapa di sejarah sekolah nggak pernah ada yang bahas soal vampir?!"

Tanpa sadar Lunaris menjadi sangat antusias, berarti selama ini vampir bukan sekedar mitos belaka, selain dengan adanya Sirius yang sudah menjadi bukti kuat adanya vampir, bahkan ternyata vampir juga ada ikut andil dalam perkembangan dunia.

Tapi kemudian rasa antusias Lunaris reda saat dia menoleh pada Sirius.

Langkah Sirius sedikit melambat. Ia tidak langsung menjawab. Lunaris bisa melihat dengan jelas ada kilatan emosi yang sangat rumit dan gelap melintas di dalam sorot mata perak pemuda itu. Seperti sebuah rahasia masa lalu yang mungkin penuh dengan pengkhianatan dan darah.

Namun, sebelum Lunaris sempat menuntut penjelasan lebih jauh, pendengarannya menangkap suara tawa yang sangat ia benci.

Dari lorong loker sebelah kiri, terdengar suara melengking Bracia, diiringi tawa Emmeline dan Tessa. Dan yang membuat darah Lunaris mendidih... ada suara tawa laki-laki yang sangat familiar. Itu adalah lima siswa berandalan yang melecehkannya di toilet: Gavin, Arthur, Cedric, Liam, dan Troy.

Kepanikan dan amarah refleks membuat Lunaris menarik tangan Sirius, menyeret sang iblis kuno untuk ikut bersembunyi bersamanya di balik pintu ruang penyimpanan alat kebersihan yang sedikit terbuka.

Dari celah pintu, Lunaris bisa melihat dengan jelas gerombolan itu.

"Lo pada santai aja," ucap Bracia angkuh, menyilangkan tangannya di dada sambil menatap Gavin, sang pemimpin berandalan. "Gue udah pastiin video itu bersih. Nggak bakal ada yang bisa ngelacak. Kalaupun si miskin Lunaris itu nekat lapor polisi, pengacara bokap gue bakal tutup mulut mereka sebelum surat panggilannya keluar."

Gavin tertawa meremehkan. "Gue sih nggak takut sama cewek cengeng kayak dia. Dia itu sampah. Nggak bakal ada yang percaya sama omongannya. Kita berlima aman."

Mendengar percakapan itu, Lunaris mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Napasnya memburu. Rasa sakit hati, jijik, dan dendam kembali menguasai relung jiwanya. Sirius, yang berdiri merapat di belakang Lunaris di ruangan sempit itu, jelas menyadari perubahan drastis ini. Aura dendam Lunaris terasa sangat lezat di indra penciumannya, membesar dan memekat.

Sirius menundukkan kepalanya, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Lunaris dari samping. Ia membisikkan kata-kata tepat di dekat telinga gadis itu, suaranya mengalun seperti bisa ular yang menghipnotis.

"Mereka mungkin merasa aman karena jaminan uang dan kekuasaan Bracia," bisik Sirius pelan, hawa dingin dari napasnya membuat Lunaris merinding. "Hukum manusia memang buta dan mudah dibeli. Tapi... tidak ada satu pun makhluk bernapas yang bisa lolos dari hukum karma, Lunaris. Aku menunggumu. Berikan perintahmu."

Mata Lunaris menatap tajam ke arah Gavin yang sedang tertawa lebar di luar sana. Rasa ragu di hatinya sudah menguap sepenuhnya.

Bukan lagi rasa takut, tidak berdaya, dan putus asa. Kini yang tersisa dalam diri Lunaris tinggallah rasa dendam yang meluap bagai racun mematikan.

"Lakukan, Sirius," desis Lunaris tanpa mengalihkan pandangannya dari celah pintu.

Seringai mematikan terbentuk di bibir Sirius. "Siapa yang akan menjadi hidangan pembuka kita?"

"Gavin," jawab Lunaris tegas. "Cowok brengsek yang paling banyak ngomong barusan. Buat dia ngerasain hidup dalam neraka."

Sirius menegakkan tubuhnya di dalam kegelapan ruang penyimpanan itu. Matanya menyala perak terang, menembus celah pintu dan mengunci targetnya. Jentikan sihir hitam yang jauh lebih pekat dari sekadar mantra bersin mulai merayap keluar dari ujung jari sang iblis, bersiap menyusup ke dalam pikiran Gavin untuk memulai permainan gila ini.

"Permintaan diterima," bisik sang pangeran kegelapan. "Kita mulai permainan takdir ini."

1
Yani Sri
lanjut sebanyak-banyaknya kakak
Lucient Night: okayyy
total 1 replies
Draggnel
perasaan prolognya udah saya baca dan komen. kok hilang? apa error ya nt? btw ayo kita saling support. mampir juga di novel saya kalau berkenan 🤝
Draggnel: oh saya kira hilang atau error. sip, sama2. nanti saya baca lagi
total 2 replies
Draggnel
pas baca episode ini langsung berasa banget feelnya, beda sama prolognya.

lunaris ini tipe keras, bagus lah cewek2 begini untuk karakter fantasy. saya kasiab sama ibunya lunaris yg mungkin terlalu lembut. aaron itu kayak gimana ya? penasaran juga
Yani Sri
yg like sangat sedikit kak, padahal cerita sebagus ini

berharap, sekali update itu langsung 3 atau 4 bab gt lho
Lucient Night: hehe iya nih, makasih udah mampir 🤗
total 1 replies
Yani Sri
5 bunga bermekaran untukmu, kak
Yani Sri
😍💪💪💪
Yani Sri
bab ini terasa lebih panjang dari sebelum2nya....

walau sebagian tentang kilas balik...

segera lanjut kakak, kalau perlu langsung 5 bab🤭🤭🤭
Yani Sri
lanjut kakak,,,
Yani Sri
wow
Yani Sri
lanjut kak, aq kasih kopi untuk semangat
Yani Sri
boom like ya kak
Lucient Night: makasih 🥹🥹
total 1 replies
Yani Sri
setelah sekian lama tidak buka novel Toon, alhamdulillah nemu cerita sebagus ini, segera lanjut, ya Kak... bagus ceritanya...
Yani Sri
kapan lanjut?
Lucient Night: aku lanjut hari ini kok
total 1 replies
Yani Sri
cerita sebagus ini, kenapa like sedikit sih?
Jerryaw
mampir ketempat aku juga kk
Lucient Night: okayy, makasih udh mampir kak
total 1 replies
falea sezi
ada apa dengan aroon
falea sezi
lanjut
falea sezi
sumpah tolol diem aja lawan bego bawa pisah lipAt bunuh
tamara is here
keren bgt narasinya
tamara is here
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!