Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Seperti Sepah Yang Dibuang Setelah Rasa Manisnya Hilang
Waktu berjalan seperti air yang tenang namun menghanyutkan. Di rumah besar itu, Saliha bertahan di tengah badai kebencian yang tidak pernah surut.
Setiap hari ia menelan harga dirinya bulat-bulat. Ia kembali keluar masuk kamar Daviko hanya untuk satu tujuan, yaitu memastikan Kaffara mendapatkan haknya. Ia mengurus bayi itu dengan seluruh jiwanya, seolah setiap tetes ASI yang ia berikan adalah jembatan cinta yang tidak boleh putus.
Tari dan Bu Ratna tidak pernah berhenti melancarkan serangan untuknya. Seakan ingin mengacaukan mental Saliha supaya tidak waras.
Pernah suatu sore, Tari membujuk Daviko dengan sangat agresif untuk pergi ke swalayan mewah, membeli perlengkapan bayi yang sebenarnya sudah lengkap.
Tari ingin memamerkan kemesraan, ingin menunjukkan pada Saliha bahwa dialah yang pantas berdiri di samping sang Kapten.
Saliha hanya bisa menatap dari balik jendela dapur saat mobil Daviko menderu keluar gerbang.
Ada rasa cemburu yang menyelinap pelan, menusuk dadanya seperti jarum halus. Namun, ia segera menepisnya. Ia sadar, ia hanya "alat". Alat tidak boleh memiliki perasaan.
Tidak terasa, hari yang paling ditakuti Saliha tiba. Enam bulan sudah ia genap bekerja, menjadi ibu susu bagi Kaffara.
Malam itu, suasana rumah terasa lebih dingin dari biasanya. Daviko duduk di ruang tengah, sementara Bu Ratna dan Tari berdiri di belakangnya seperti algojo yang siap mengeksekusi.
Mereka telah memberikan ultimatum terakhir, jika Saliha tidak pergi malam ini, mereka akan membawa masalah hak asuh Kaffara ke meja hijau, menggunakan pengaruh keluarga Amara untuk merebut bayi itu dari tangan Daviko.
Daviko menghela napas panjang. Ia memanggil Saliha ke ruang tengah.
"Saliha." Suara Daviko terdengar datar, nyaris tanpa emosi. "Hari ini tepat enam bulan. Kontrak kerja kamu sudah selesai."
Saliha terpaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Meski ia tahu hari ini akan datang, akan tetapi mendengarnya langsung dari mulut Daviko terasa seperti vonis mati.
"Saya sudah mentransfer gaji terakhirmu, ditambah bonus yang sudah saya janjikan di awal," lanjut Daviko sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat kecil yang berisi sisa uang tunai dan surat tanda selesai kontrak. "Besok pagi, kamu sudah harus meninggalkan rumah ini. Barang-barangmu bisa kamu bawa semua. Aku tidak ingin ada satu pun jejakmu tertinggal di sini."
Saliha meremas ujung bajunya. Matanya mulai berkaca-kaca. "Baik, Pak... saya paham. Tapi... bolehkah saya melihat Kaffara untuk terakhir kalinya besok pagi?" tanya Saliha berharap permintaannya dikabulkan.
"Tidak perlu," potong Bu Ratna dengan cepat dan sinis. "Kaffara sudah mulai makan MPASI dan dia tidak butuh kamu lagi. Jangan buat anak itu bingung dengan kehadiranmu yang tidak jelas asal-usulnya ini."
Tari tersenyum penuh kemenangan. "Sudahlah, kamu sudah dengar, kan apa yang Mas Daviko katakan barusan? Besok pagi-pagi sekali kamu harus sudah pergi. Jangan sampai kami yang menyeretmu keluar."
Daviko tidak membela. Ia hanya diam, menatap ke arah lain seolah Saliha adalah debu yang tidak sengaja singgah di sepatunya. Sikap dinginnya adalah tamparan yang paling keras bagi Saliha.
Enam bulan ia mengabdikan tubuh dan batinnya untuk menghidupi anak pria itu. Namun di akhir, ia tetap diperlakukan seperti barang habis pakai. Seperti habis manis sepah dibuang.
Malam itu, Saliha tidak bisa memejamkan mata. Ia duduk di lantai kamar bawahnya yang sempit, mengemasi pakaian-pakaian pemberian Bi Tita ke dalam tas kain usang.
Setiap helai baju itu mengingatkannya pada hari-hari ia menangis dalam diam.
Ia merayap keluar kamar menuju dapur, berharap bisa naik ke atas sebentar saja untuk mencium kening Kaffara. Namun, ia melihat Daviko berdiri di kaki tangga, seolah sedang berjaga agar ia tidak naik.
Saliha mundur kembali ke dapur. Ia menangis tanpa suara, membekap mulutnya agar isakannya tidak terdengar.
"Kaffara... anakku...." bisiknya pilu. Di hatinya, Kaffara bukan lagi sekadar bayi yang ia susui. Kaffara adalah separuh jiwanya.
Perpisahan ini jauh lebih sakit daripada saat ia meninggalkan Daviko empat tahun lalu.
Pukul empat pagi, saat azan Subuh baru saja berkumandang di kejauhan, Saliha sudah bersiap. Ia tidak membawa banyak barang. Ia hanya membawa luka yang lebih berat dari tas yang ia jinjing.
Ia berjalan ke arah dapur, mendapati Bi Tita sudah bangun dan sedang memasak air. Begitu melihat Saliha dengan tas di tangannya, Bi Tita langsung memeluknya erat. Keduanya menangis sesenggukan dalam kesunyian fajar.
"Mbak Saliha... maafkan Bibi tidak bisa berbuat apa-apa," bisik Bi Tita di sela tangisnya.
"Tidak apa-apa, Bi. Terima kasih sudah menjadi satu-satunya orang yang memanusiakan saya di rumah ini. Tolong... tolong jaga Kaffara. Jangan biarkan dia merasa haus, jangan biarkan dia kedinginan," pesan Saliha dengan suara bergetar.
Saliha tidak berpamitan pada Daviko. Ia tahu pria itu tidak mengharapkannya. Ia juga tidak ingin melihat wajah kemenangan Tari dan Bu Ratna yang pasti akan membuatnya semakin hancur.
Dengan langkah gontai, Saliha melangkah keluar melalui pintu belakang. Udara pagi yang menusuk tulang terasa sejalan dengan rasa dingin yang membeku di hatinya.
Ia berjalan menuju gerbang besar yang perlahan terbuka secara otomatis.
Sebelum benar-benar melangkah keluar menuju jalan raya, Saliha berbalik sebentar. Ia menatap ke arah balkon lantai atas, tempat kamar Kaffara berada.
"Selamat tinggal, Nak. Maafkan Ibu yang tidak bisa menemanimu tumbuh besar. Doa Ibu, semoga kamu sehat dan semakin pintar," bisiknya lirih.
Ia melihat bayangan seseorang berdiri di balik gorden balkon atas. Saliha tahu itu Daviko. Namun pria itu tidak membuka jendela, tidak memanggilnya, apalagi mencegahnya pergi.
Daviko hanya diam, membiarkan wanita yang telah menyelamatkan nyawa anaknya itu melangkah pergi menembus kabut pagi sendirian.
Saliha berbalik, melangkah menjauh tanpa menoleh lagi. Ia pergi seperti sampah yang baru saja dibuang setelah isinya habis dikuras. Hatinya nelangsa, jiwanya hancur berkeping-keping.
Di tengah jalanan yang masih sepi, Saliha berjalan kaki sambil memeluk tasnya, tidak tahu harus ke mana lagi setelah ini. Yang ia tahu, separuh nyawanya telah tertinggal di dalam rumah mewah yang bagi dirinya adalah neraka yang paling indah.
semangat ya😚