NovelToon NovelToon
Kupinjam Waktu Untuk Membalasmu

Kupinjam Waktu Untuk Membalasmu

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Berondong / Ketos / Reinkarnasi / Obsesi / Pembaca Pikiran / Tamat
Popularitas:458
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah Terakhir dari London

Meskipun Hediva sudah menyatakan akan mundur, rasa kemanusiaannya—dan cintanya pada Odelyn—membuatnya tidak bisa tinggal diam melihat Odelyn hancur melihat kondisi Gavin.

Tanpa sepengetahuan Odelyn, Hediva memerintahkan tim forensik dan intelijennya untuk memeriksa sisa-sisa barang bawaan Gavin dan rekaman medis di London.

​Malam itu, Hediva mendatangi kamar rumah sakit tempat Odelyn sedang tertidur di samping ranjang Gavin.

​"Odelyn, bangun," bisik Hediva pelan.

​Odelyn terbangun dengan mata sembab.

"Ada apa, Hediva? Gavin... dia nggak bangun-bangun."

​Hediva memberikan sebuah berkas laboratorium.

"Baron sangat licik, Lyn. Dia tahu dia mungkin gagal menangkap Gavin hidup-hidup, jadi dia menyiapkan rencana cadangan. Tim forensik saya menemukan jejak Neuro-Toxin langka di kancing jaket dan koper Gavin."

​Odelyn membelalakkan mata. "Maksud kamu?"

​"Zat ini disemprotkan oleh tim Baron saat mereka merangsek masuk ke kamar hotel Gavin dulu. Zat ini tidak langsung membunuh, tapi meresap melalui kulit dan menggerogoti sistem saraf secara perlahan. Baron ingin Gavin mati pelan-pelan di depan mata kamu sebagai bentuk balas dendam terakhirnya."

Odelyn meremas berkas itu, menatap Gavin yang terbaring lemah dengan berbagai selang di tubuhnya. Amarahnya kembali membara, namun kali ini bercampur dengan rasa putus asa.

​"Ada penawarnya?" tanya Odelyn dengan suara bergetar.

​Hediva menarik napas panjang.

"Zat ini diproduksi secara ilegal oleh laboratorium farmasi milik Baron di Swiss. Penawarnya hanya ada di tangan Baron. Dia sengaja melakukan ini supaya kamu berlutut dan memohon kepadanya."

​Odelyn berdiri, ia mengusap perutnya yang mulai sering terasa kram karena stres.

"Gue nggak akan berlutut. Gue akan ambil penawar itu, dengan atau tanpa izin Baron."

​Hediva menatap Odelyn dengan tatapan penuh simpati.

"Dalam kondisi hamil seperti ini, kamu nggak bisa berangkat ke Swiss, Odelyn. Biarkan saya yang urus. Tapi sebagai gantinya, kamu harus tetap kuat di sini. Gavin butuh alasan buat tetap bertahan hidup sampai penawar itu datang.

"​Malam di rumah sakit itu terasa begitu hening, hanya suara detak jantung dari monitor yang menemani mereka. Gavin tersadar sejenak dari komanya, matanya yang sayu menatap Odelyn yang sedang menggenggam tangannya erat.

​"Lyn..." suara Gavin sangat tipis, hampir seperti bisikan angin.

​Odelyn mendekatkan telinganya, air matanya jatuh mengenai tangan Gavin yang pucat. "Gue di sini, Vin. Jangan banyak gerak, ya?"

​Gavin tersenyum, sebuah senyuman yang sangat tulus, seolah dia sudah berdamai dengan takdirnya. "Dulu... lo pengen liat gue hancur, kan? Liat gue sekarang, Lyn. Gue udah hancur sesempurna yang lo mau. Anggap aja ini pelunasan utang nyawa anak kita yang dulu."

​Gavin menarik napas berat, dadanya terasa sesak. "Gue harap di kehidupan kedua lo ini, lo bisa bahagia. Lo udah sukses, lo udah punya segalanya. Meskipun nanti... gue nggak bisa lagi liat lo dari deket. Maafin gue karena baru bisa jadi laki-laki yang bener pas waktu gue udah nggak banyak.

"Mendengar itu, pertahanan Odelyn runtuh total. Ia terisak hebat, bahunya berguncang. Ia mencium tangan Gavin berkali-kali, membasahinya dengan air mata penyesalan.

​"Enggak, Vin! Enggak!" tangis Odelyn pecah. "Gue yang salah. Gue egois. Gue terlalu dibutakan dendam sampai gue nggak sadar kalau gue juga menghancurkan diri gue sendiri dengan nyiksa lo kayak gini. Maafin gue, Gavin... Maafin gue karena udah ngirim lo ke neraka itu."

​Odelyn menempelkan tangan Gavin ke perutnya yang masih rata. "Anak kita di sini, Vin. Dia butuh ayahnya. Gue butuh lo. Gue nggak butuh kemenangan bisnis ini kalau akhirnya gue harus kehilangan lo lagi. Jangan tinggalin gue, gue mohon..."

​Gavin hanya bisa membelai rambut Odelyn dengan sisa tenaganya sebelum matanya kembali terpejam perlahan, masuk kembali ke dalam ketidaksadaran yang dalam.

Melihat kondisi Gavin yang kritis, Odelyn menghapus air matanya. Kesedihan itu ia ubah menjadi bahan bakar kemarahan yang dingin. Ia segera menghubungi Hediva yang sudah berada di perbatasan Swiss.

​"Hediva, lakuun sekarang," perintah Odelyn melalui jalur satelit. "Bawa sampel zat murni dan penawarnya. Saya tidak butuh izin, saya butuh hasil."

​Di Swiss, tim elit Hediva melakukan The Swiss Heist. Mereka merangsek masuk ke laboratorium farmasi Baron di tengah badai salju, melakukan sabotase sistem keamanan tingkat tinggi. Namun, Baron menyadari serangan itu dan mulai menghancurkan data-data formula penawarnya.

​"Odelyn! Data formulanya mulai dihapus otomatis oleh sistem mereka!" teriak Hediva dari seberang telepon di tengah suara desingan peluru.

​"Kirim sisa data yang berhasil diselamatkan ke server saya sekarang!" balas Odelyn.

​Meskipun dalam kondisi mual karena kehamilan dan lemah secara fisik, Odelyn duduk di depan laptopnya di samping ranjang Gavin. Ia mulai melakukan The Secret Formula—rekayasa balik secara digital. Dengan bantuan tim medis terbaik Singapura dan sisa data yang dikirim Hediva, Odelyn mencoba menyambungkan teka-teki kimia yang terputus.

​Jari-jarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan luar biasa.

Ia sedang bertaruh dengan waktu. Setiap detak jantung Gavin yang melemah di monitor adalah pengingat bahwa satu kesalahan kecil dalam rumus ini berarti kematian.Setelah berjam-jam berkutat dengan kode dan molekul, Odelyn menemukan mata rantai yang hilang.

"Dapet!" serunya lirih.

​Ia segera mengirimkan formula hasil rekayasanya ke tim laboratorium rumah sakit untuk segera disintesis menjadi serum. Sementara itu, di Swiss, Hediva berhasil meloloskan diri dengan membawa sampel zat murni meskipun bahunya tertembak.

​"Gavin... bertahan sedikit lagi," bisik Odelyn sambil menatap layar monitor.

"Penawarnya lagi dibuat. Jangan menyerah sekarang, karena gue nggak akan pernah lepasin lo lagi."

1
Anonymous
Keren banyak banget plot twisnya😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!