Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.
Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.
Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tantangan Baru dan Perubahan
🕊
Alea tiba di restoran lebih awal dari biasanya. Udara Jakarta yang hangat sudah mulai terasa, tetapi semangatnya jauh lebih hangat. Ia menarik napas panjang, menatap restoran yang mulai sibuk dengan persiapan untuk jam makan siang. Hari ini bukan hari biasa—ada tantangan baru menunggunya.
Pak Doni mendekati Alea sambil membawa daftar shift. “Lea, hari ini ada pelanggan VIP yang datang. Lo yang handle. Pelayanan harus sempurna. Kita nggak boleh bikin kesalahan, ngerti?” Alea mengangguk. “Siap, Pak. Gue akan pastikan semuanya berjalan lancar.”
Rita dan Sasa berdiri di sampingnya, wajah mereka bercampur antara antusias dan cemas. “Gue deg-degan banget, Lea. Pelanggan VIP tuh biasanya cerewet, ya kan?” ucap Sasa. Alea tersenyum menenangkan. “Tenang aja, Sa. Kita sudah latihan. Fokus aja, jangan panik. Kita jalan bareng.”
Pagi berjalan cepat. Pelanggan datang bergantian, restoran mulai ramai, suara piring dan pengumuman drive-thru bersahutan. Alea merasakan detak jantungnya meningkat, tetapi ia mencoba mengatur napas dan tetap fokus.
Tiba-tiba, bu Tika memanggil Alea ke meja kasir. “Lea, ada kabar dari pusat. Mulai minggu depan, beberapa staf akan dipindahkan ke outlet lain. Lo, Rita, dan Sasa termasuk daftar pertukaran itu.”
Alea menatap bu Tika dengan mata melebar. “Maksudnya… kita akan dipisahkan?”
“Ya. Perputaran ini untuk mengembangkan skill kalian di outlet berbeda, dan menjaga semua staf tetap fresh. Gue ngerti ini mungkin bikin lo cemas, tapi kita percaya kalian bisa adaptasi,” jelas bu Tika.
Di luar restoran, pelanggan VIP itu sudah datang. Alea menegakkan punggungnya, menarik napas dalam, dan memberi instruksi kepada tim kecilnya. “Oke, Rit, lo handle sambutan dan ambil pesanan. Sa, lo bantu persiapan di dapur. Gue akan handle front counter dan memastikan semua berjalan lancar.”
Saat pesanan pertama VIP itu datang, Alea bergerak dengan cekatan. Senyumnya ramah, suaranya jelas, namun tetap hangat. Setiap detail diperiksa, dari tata letak piring hingga suhu makanan. Rita menatap Alea kagum. “Lea, lo tenang banget. Pelanggan VIP nggak kelihatan bikin lo panik sama sekali.”
Alea menggeleng pelan. “Ini soal fokus, Rit. Panik nggak akan bantu siapa pun.”
Shift berjalan dengan cepat. Setiap kali ada kendala kecil—pesanan tertukar atau pelanggan berubah permintaan—Alea langsung memberi solusi. Ia belajar menyeimbangkan multitasking sambil tetap menjaga kualitas pelayanan.
Di sela-sela kesibukan, Alea menatap Sasa. “Sa, lo siap ya kalau minggu depan kita dipisah? Kita bakal ditempatkan di outlet berbeda.” Sasa mengangguk pelan, wajahnya sedikit cemas. “Iya… gue takut nggak bisa kerja secepat di sini.”
Alea tersenyum menenangkan. “Tenang aja, Sa. Lo udah terlatih. Kita cuma harus adaptasi di tempat baru. Dan kita tetap bisa komunikasi. Gue yakin kita semua bakal baik-baik saja.”
Hari itu berakhir dengan rasa lega. Pelanggan VIP puas, tim bekerja sama dengan baik, dan Alea merasa ia berhasil melewati ujian pertamanya sebagai pemimpin shift. Ia duduk sejenak, menatap restoran yang kini mulai sepi.
“Lea, lo hebat hari ini,” kata Pak Doni sambil menepuk punggungnya. “Lo benar-benar mulai dipercaya penuh di sini. Dan nggak cuma itu, lo bikin suasana kerja jadi lebih enak buat semua orang.”
Alea tersenyum tipis, hatinya hangat. Ia tahu perubahan yang menunggu di outlet lain bisa jadi tantangan baru, tapi ia merasa siap. Ia menulis catatan kecil di buku hariannya, merencanakan strategi dan target di outlet baru.
Di malam hari, ketika Alea pulang, ia melanjutkan ritualnya: sholat, doa, dan sedikit refleksi tentang hari itu. Hatinya tenang, pikirannya jernih. Meski cemas akan perubahan yang akan datang, ia tahu satu hal: ia sudah tumbuh lebih kuat, lebih dewasa, dan siap menghadapi apa pun yang menantinya.
–
Pagi itu, Alea berdiri di depan pintu restoran outlet barunya. Tempat ini berbeda dari outlet lamanya; bangunannya lebih kecil, dekorasinya lebih minimalis, dan aroma roti panggang beserta saus pizza langsung menyambut begitu ia masuk. Tanpa Sasa atau Rita di sisinya, Alea merasa sedikit sunyi, tapi ia menarik napas dalam-dalam, meneguhkan diri.
“Ini awal baru, Lea,” gumamnya sambil meluruskan blazer hitamnya dan menyelipkan notes di saku. Ia tahu catatan harian kecil itu akan membantunya tetap fokus.
Seorang manajer baru menyapanya begitu Alea melangkah ke dapur. “Selamat datang, Alea. Gue Rian, manajer outlet ini. Hari ini lo akan belajar lokasi, sistem kerja, dan tim yang akan lo pimpin. Semoga lo betah di sini.” Alea tersenyum sopan. “Terima kasih, Pak Rian. Gue siap belajar dan menyesuaikan diri.”
Tidak lama, Alea diperkenalkan pada beberapa staf baru. Ada Niko yang menangani dapur, Farah sebagai kasir, dan Dito yang melayani drive-thru. Semua menatapnya dengan rasa ingin tahu—beberapa terlihat skeptis, beberapa tersenyum ramah. Alea menyadari ini tantangan pertamanya: membangun hubungan baru sambil tetap menjaga profesionalitas.
“Oke Lea,” kata Pak Rian sambil menunjuk daftar shift, “hari ini lo ditempatkan di drive-thru dulu. Tapi lo juga harus koordinasi dengan dapur kalau ada pesanan besar atau VIP.” Alea mengangguk. “Siap, Pak. Gue akan pastikan semua berjalan lancar.”
Shift dimulai. Alea menyesuaikan diri dengan sistem baru. Setiap pelanggan yang datang, ia sambut dengan senyum hangat, meski masih meraba-raba kebiasaan dan karakter tim barunya. Niko sesekali menatapnya sinis saat Alea memeriksa pesanan, tapi ia tetap tenang. Alih-alih tersinggung, Alea menggunakan catatan hariannya untuk mencatat sistem dapur dan prosedur outlet baru.
Farah, kasir baru yang agak pemalu, terlihat bingung ketika ada pesanan kompleks dari pelanggan VIP pertama mereka. Alea langsung mendekat, menenangkan Farah. “Tenang, kita jalani satu per satu. Lo tinggal catat pesanan, gue pastikan semuanya lengkap sebelum dikirim.”
Seiring berjalannya hari, Alea mulai merasakan dinamika baru. Ada beberapa staf yang menaruh rasa senioritas karena lebih lama bekerja di outlet ini, tetapi Alea tetap profesional. Ia menempatkan dirinya bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai rekan kerja yang ingin bekerja sama. Senyum ramahnya dan sikap tenang mulai melunakkan hati sebagian staf.
Saat jeda istirahat, Alea duduk di sudut ruangan, membuka notes, menulis jurnal harian. Ia juga meluangkan waktu untuk sholat, menyadari pentingnya menjaga keseimbangan batin. Setiap tarikan nafas dan doa memberikan ketenangan di tengah lingkungan baru yang belum sepenuhnya familiar.
Sore hari, Alea kembali menghadapi situasi sibuk: pelanggan drive-thru membludak, pesanan VIP datang bersamaan, dan beberapa staf baru terlihat panik. Alea memimpin tim kecilnya dengan penuh ketenangan. Ia memberi arahan satu per satu, menenangkan panik kecil staf, dan memastikan pelanggan mendapat pelayanan terbaik.
“Lea, gue agak kewalahan dengan tumpukan pesanan,” kata Dito, rekan barunya, sedikit cemas. Alea tersenyum. “Gue juga awalnya merasa panik. Fokus aja, Dito. Kita bagi tugas, jangan buru-buru. Kita selesaikan satu per satu.”
Di akhir shift, outlet mulai sepi. Alea menatap timnya yang bekerja sama membersihkan area kerja. Suasana terasa hangat meski lelah. Ia tersenyum, melihat wajah-wajah yang mulai mempercayainya, menghargai ketenangannya, dan mengakui kemampuannya.
“Good job hari ini semua,” ucap Alea sambil menepuk pundak Dito dan Farah. “Besok kita bakal lebih lancar lagi. Tetap profesional, tetap ramah, dan jangan lupa senyum.”
Malam itu, Alea pulang menggunakan kereta, menatap lampu kota yang berkilauan. Ia merasa lega dan puas. Meski tantangan outlet baru lebih besar, ia tahu dirinya telah berkembang: lebih sabar, lebih dewasa, dan lebih percaya diri menghadapi dunia kerja. Di rumah, suasana tenang menyambutnya. Alea menutup mata, berdoa, dan tersenyum. Hari pertama di outlet baru telah memberinya pelajaran berharga: tantangan baru selalu bisa dihadapi jika hati tenang dan kepala dingin.
☀️☀️