NovelToon NovelToon
Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Romantis / Cinta Terlarang / Romansa / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dasima

Atmosfer ruangan didalam itu semakin mencekam seiring dengan menguar nya energi Dasima yang telah lama tertidur.

Jin-jin lain di ruangan itu—mereka yang jumlahnya mungkin selusin, dengan berbagai bentuk dan usia—saling pandang. Ada yang berbentuk seperti asap, ada yang seperti bayangan, ada yang seperti manusia tapi transparan.

Mereka yang biasanya sibuk mencari 'tuan' baru dari pengunjung yang lemah energi, atau sekadar mengganggu untuk kesenangan dengan membuat suara bisikan atau meniupkan angin dingin, kini memilih mengkeret di sudut-sudut mereka.

Dasima adalah yang tertua dan terkuat di antara mereka. Selama ini, ia paling apatis—hanya duduk di sudut yang sama, menatap ke luar jendela, atau memandangi keris-keris tertentu dengan mata kosong.

Berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun bisa berlalu tanpa reaksi berarti darinya.

Tapi hari ini... energinya bergejolak. Aura-nya yang biasanya tenang seperti danau kini bergolak seperti lautan badai.

Dasima melayang mendekat, tanpa suara, tanpa gerakan yang bisa ditangkap mata manusia.

Ia melayang hingga hanya berjarak setengah meter dari Ferdy, menghirup aroma tubuhnya. Bukan wangi parfum mahal seperti yang sering dibawa pengunjung dari kalangan atas.

Ini aroma sabun mandi sederhana—mungkin merek Liveboy—dan keringat jujur dari perjalanan dengan motor.

Dan di balik itu... ia menciumnya. Darah yang sama. DNA yang sama. Getaran jiwa yang sama.

Dia. Pasti.

Dengan senyum tipis pertama dalam berabad-abad, Dasima mengeluarkan aroma khasnya: wangi bunga melati murni dicampur dengan sesuatu yang manis seperti madu dan sedikit kayu cendana—harum yang melekat padanya sejak masih manusia dulu, aroma yang bahkan membuat para dewa tersenyum. Aroma itu menguar dari pori-pori energinya, menyelinap seperti kabut tipis ke hidung Ferdy.

Ferdy tiba-tiba mengangkat kepala, hidungnya berkedut. Ia menoleh ke kanan-kiri.

"Dik, lo cium bunga gak?" tanyanya pada Andika yang sedang mengukur cahaya dengan light meter.

"Bunga? Di sini?" Andika mengernyit, menghirup udara. "Cuma bau debu sama kayu lapuk. Lo kebanyakan hirup debu sejarah kali."

Tapi Ferdy yakin. Wangi itu nyata—halus, manis, dan entah kenapa menimbulkan rasa tenang yang aneh. Seperti nostalgia akan sesuatu yang tak pernah ia alami. Ia menggeleng, kembali fokus pada pemotretan.

Untuk dua jam berikutnya, Ferdy, Andika, dan Roni (yang akhirnya datang dengan mengeluh macet) bekerja di ruangan itu.

Ferdy menangkap detail-detail: ukiran pada gagang keris, pola pada kain tenun tua yang sudah kusam, refleksi pada permukaan gong perunggu.

Tapi sepanjang waktu, ia merasa diawasi. Bukan dengan rasa mengancam—tapi dengan intensitas yang membuat bulu kuduknya sesekali berdiri.

Dasima tidak pernah bergerak jauh darinya. Ia mengikuti Ferdy dari belakang, dari samping, kadang bahkan mengintip dari balik bahunya ke viewfinder kamera. Matanya tak pernah lepas. Ada kerinduan sebesar lima abad dalam tatapannya

---

Pukul 18.45.

Mereka keluar dari museum saat matahari sudah terbenam. Udara Jakarta yang panas mulai mereda.

"Gue ada janji sama cewek gue," kata Roni sambil menaiki motornya.

"Hasil foto-nya nanti gue bikin montage buat YouTube ya. Judulnya: 'Mengunjungi Tempat Angker, Apa yang Kami Temukan?'"

"Jangan lebay," kata Andika sambil tertawa.

"Lo aja tadi setiap ada angin langsung lompat."

Mereka berpisah. Ferdy dan Andika pergi ke angkringan dekat kosan Ferdy di daerah Lenteng Agung—warung tenda dengan lampu neon kunang-kunang, beberapa kursi plastik, dan aroma sate ayam yang menggoda.

"Dua teh botol, Bang, sama sate ayam sepuluh, extra kecap," pesan Ferdy pada abang penjual.

Mereka duduk di kursi paling ujung. Andika mengeluarkan laptop kecil, mulai menunjukkan beberapa foto preview.

"Lihat ini, Fer," katanya, menunjuk foto keris yang diambil Ferdy. "Cahayanya perfect. Kayak bilahnya sendiri yang memancarkan aura."

Ferdy tersenyum, tapi matanya sesekali melirik ke jalanan sepi di depan warung. Perasaan itu kembali—ada yang mengikuti. Bukan orang, karena jalanan kosong. Tapi... kehadiran.

Dan sesekali, di tengah asap arang sate dan aroma bawang goreng, ia masih menciumnya: wangi bunga melati yang samar.

"Lo lagi apa, Fer? Kok melamun?" tanya Andika sambil mencabut daging sate dari tusuknya.

"Gue... merasa aneh aja. Sejak tadi di museum," kata Ferdy, menatap teh botolnya.

"Kayak ada yang ngikutin gue."

Andika tertawa.

"Wah, jin cantik kali ya. Katanya di museum itu ada penunggu perempuan cantik. Legenda lokal."

"Jin cantik ngikutin gue buat apa? Miskin, banyak utang, masa depan suram, Kuntilanak kalik" goda Ferdy mencoba menertawakan dirinya sendiri.

Tapi dalam hatinya, perasaan itu tidak hilang. Dan ketika mereka membayar dan berpisah—Ferdy jalan kaki ke kosan yang hanya 500 meter—perasaan itu semakin kuat.

Sepanjang jalan yang sepi, hanya diterangi lampu jalan beberapa yang masih berfungsi, Ferdy berjalan cepat.

Dadanya berdebar tanpa alasan yang jelas. Di telinganya, seperti ada bisikan yang terlalu halus untuk ditangkap kata-katanya. Dan wangi bunga itu... kini lebih kuat. Seperti seseorang yang memakai parfum berjalan tepat di belakangnya.

Ia menoleh cepat. Tidak ada siapa-siapa.

"Gue jadi paranoid," gumamnya pada diri sendiri, mengambil kunci dari saku.

Saat membuka pintu kamar kosnya yang sempit, ia menyalakan lampu. Ruangan yang biasa terasa sumpek tiba-tiba terasa... berbeda.

Udara terasa lebih segar. Dan wangi bunga melati itu—sangat kuat di sini, seolah sumbernya ada di dalam kamarnya sendiri.

Ferdy mengunci pintu, meletakkan tas kameranya ke tempat tidur. Ia berdiri di tengah kamar, memandang sekeliling perlahan.

"Ada... ada siapa di sini?" tanyanya pelan, suaranya bergetar sedikit.

Tidak ada jawaban. Hanya suara kipas laptop yang masih berdengung, dan suara lalu lintas dari kejauhan.

Di sudut kamar, di atas lemari tempat ia menyimpan baju, Dasima duduk dengan kaki terjuntai. Senyum kecil bermain di bibirnya. Matanya yang seperti madu memandangi Ferdy dengan perasaan yang begitu kompleks—sukacita, kerinduan, kesedihan, harapan.

Akhirnya, pikirnya dalam hati. Lima ratus tahun menunggu. Dan kau kembali padaku.

Ia mengulurkan tangan, seolah ingin menyentuh rambut Ferdy yang pendek.

Jaraknya hanya beberapa centimeter. Energi dari tangannya yang tak kasatmata membuat rambut Ferdy bergerak sedikit, seperti ditiup angin sangat halus.

Ferdy merinding, tangannya meraba-raba lengan sendiri.

"Mungkin gue kecapean," bisiknya, lalu mulai beralih ke laptop untuk mengerjakan foto-foto hari itu.

Dasima tetap di tempatnya, mengamati setiap gerakan Ferdy. Cara ia menggerakkan mouse, cara ia mengedit foto dengan serius, cara ia sesekali menggaruk kepala ketika frustasi dengan hasil edit.

Dan untuk pertama kalinya dalam lima abad, Dasima merasa... lengkap. Seperti bagian dari jiwanya yang hilang akhirnya kembali.

Di luar, bulan purnama mulai naik, menerangi Jakarta dengan cahaya perak pucat. Malam pertama dari sebuah kisah yang tertunda lima ratus tahun akhirnya dimulai.

Di kamar kos sempit itu, dua dunia yang seharusnya tidak bertemu mulai beririsan. Dan tak satu pun dari mereka—baik Ferdy yang manusia, maupun Dasima yang jin—siap untuk apa yang akan terjadi selanjutnya.

1
Halwah 4g
Ooohhh Dasimaa..ada yg fisik juga modelan Kirana..beughhh..menang bnyak Ferdy yak harusnya 🤭..setiaaaa GK tuh ma Dasima y 😄
Bp. Juenk: wahaha masak setia Ama ghaib
total 1 replies
Marine
mantap sangat mendalami karya sebagai author yaa
Youarefractal
Wih bagus bgt, baru pertama loh aku baca sampai selesai 1 bab, aku suka setiap detail soal potografi-nya, seolah penulis memang potografer beneran
Bp. Juenk: thanks Kk support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!