NovelToon NovelToon
Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas dendam pengganti / Dunia Lain
Popularitas:607
Nilai: 5
Nama Author: indri sanafila

Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.

Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".

Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.

Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Antara Tombol dan Nyawa

Angin di puncak Malabar mendadak berhenti berembus, bikin suasana jadi makin mencekam. Adrian ngerasa napasnya makin sesak, bukan cuma karena udara gunung yang tipis, tapi karena todongan senjata yang ada di depan matanya. Wanita dengan bekas luka di leher itu yang auranya jauh lebih nakutin daripada Baskara masih nunggu jawaban sambil senyum tipis yang bikin bulu kuduk berdiri.

"Ayo, Adrian. Waktu lu nggak banyak. Lu nggak mau kan denger suara ledakan dari arah desa cuma karena lu kelamaan mikir?" ucap wanita itu. Suaranya tenang banget, tapi tiap katanya kayak sembilu yang nusuk-nusuk nyali.

Sekar nyenggol lengan Adrian pelan. "Adrian, jangan dikasih. Kalau itu jatuh ke tangan mereka, semua pengorbanan kita dari tadi sia-sia," bisiknya parau. Tangannya yang megang lengan Adrian gemetar hebat, tapi matanya tetep nunjukin keberanian yang bikin Adrian ngerasa malu kalau dia nyerah sekarang.

Adrian ngelirik ponselnya lagi. Pesan singkat itu masih ada di sana: Tekan tombol di bawah tabung. Sekarang. Pikiran Adrian muter cepet banget, lebih cepet daripada saat dia lagi nanganin krisis saham di Jakarta.

Dia inget semua omongan bokapnya, semua catatan rahasia yang dia temuin, dan fakta bahwa laboratorium di belakangnya sekarang diisi sama sosok yang mirip bokapnya tapi ternyata cuma mesin. Semuanya terasa kayak puzzle yang belum lengkap.

Kenapa pesan ini muncul sekarang? Siapa yang ngirim? batinnya.

Dia ngelihat ke bawah tabung perak itu. Benar, ada tonjolan kecil banget, nyaris nggak kelihatan kalau nggak diperhatiin bener-bener. Kalau dia neken tombol itu, kemungkinannya cuma dua: entah ini protokol penyelamatan, atau ini cara buat ngeledakin semuanya supaya nggak jatuh ke tangan musuh.

"Oke, oke! Turunin senjata kalian dulu!" teriak Adrian sambil ngangkat kotak besinya tinggi-tinggi. "Gua bakal kasih, tapi biarin Sekar pergi. Dia nggak tahu apa-apa soal bisnis keluarga gua. Dia cuma agronomis yang kebetulan ada di sini."

Wanita itu ketawa, suara tawanya kering banget. "Lu emang tipe pahlawan yang ada di novel-novel ya? Tapi sayang, di dunia nyata, saksi mata itu nggak boleh dibiarin hidup. Kasih tabungnya, baru kita bicarakan soal... masa depan kalian."

Adrian tahu itu bohong. Dia bisa ngelihat dari cara anak buah wanita itu nahan pelatuk mereka nggak punya niat buat ngelepasin siapa pun malam ini. Dengan tangan yang gemeteran, Adrian pura-pura mau ngebuka kotak itu lebih lebar.

Posisinya sekarang ngebelakangin cahaya merah yang makin terang dari puncak lab. Dia ngelirik Sekar, ngasih kode lewat mata supaya Sekar siap-siap buat tiarap atau loncat ke balik batu gede di samping mereka. Gua harap ini bukan tombol bunuh diri, doa Adrian dalam hati.

KLIK.

Adrian neken tombol kecil itu kuat-kuat pakai jempolnya. Seketika, tabung perak di dalem kotak itu bereaksi. Cairan di dalemnya yang tadi bergejolak mendadak berhenti total, terus berubah warna dari perak jadi biru elektrik yang menyilaukan mata. Getaran di bawah tanah yang tadinya berdenyut pelan, tiba-tiba berubah jadi guncangan hebat kayak ada gempa bumi skala besar.

"Tiarap, Kar!" teriak Adrian sambil narik Sekar jatuh ke tanah. WUUUUUUSSSHHH! Bukan ledakan api yang keluar, tapi semacam gelombang energi elektromagnetik yang kenceng banget.

Gelombang itu nyapu dari arah kotak besi di tangan Adrian, ngerembet ke seluruh area puncak. Semua lampu senter anak buah wanita itu langsung mati total. Senjata-senjata otomatis mereka yang ternyata punya sistem elektronik canggih tiba-tiba ngeluarin percikan api dan macet.

"Apa-apaan ini?! Sinyal kita mati! Semua alat mati!" teriak salah satu anak buah wanita itu dalam kegelapan. Adrian ngerasa badannya kayak kesetrum ringan, bulu kuduknya berdiri semua karena listrik statis yang memenuhi udara.

Dia ngelihat ke arah bawah, ke arah perkebunan teh yang tadinya nyala redup. Sekarang, ribuan pohon teh itu bener-bener bersinar terang benderang! Cahayanya bukan lagi perak, tapi biru muda yang cantik banget, seolah-olah seluruh lembah Malabar itu jadi lautan bintang di atas tanah.

Energi itu nggak cuma diem. Cahaya dari pohon-pohon teh itu kayak ditarik menuju ke arah laboratorium di puncak gunung. Kayak ada kabel-kabel nggak kelihatan yang nyalurin tenaga dari tiap helai daun teh langsung ke jantung gunung.

"Adrian! Liat itu!" Sekar nunjuk ke arah gerbang lab. Sosok "Bokap Palsu" yang tadi beku kena nitrogen cair, tiba-tiba keluar dari lab. Tapi kali ini dia nggak kaku lagi. Matanya nyala biru terang, dan luka-luka di badannya karena nitrogen tadi nutup sendiri dengan cepet banget. Dia jalan ngelewatin Baskara yang lagi ketakutan, terus berdiri di depan wanita bermasker itu.

Wanita itu mundur ketakutan, nyoba nembak pakai pistol manualnya, tapi pelurunya kayak mental kena dinding transparan di depan si sosok robot itu. "Proyek Malabar Tahap Dua... Aktif," suara si sosok itu bukan lagi suara bokap Adrian, tapi suara gabungan dari ribuan frekuensi yang bikin pusing siapa pun yang denger.

Sosok itu ngangkat tangannya ke arah langit. Cahaya biru dari puncak gunung yang tadi vertikal, sekarang pecah jadi ribuan helai cahaya yang nyebar ke seluruh penjuru mata angin. Adrian ngerasa ponselnya di saku jas mendadak panas banget. Dia ngeluarin ponsel itu dan ngelihat layarnya.

Isinya bukan lagi pesan teks, tapi sebuah peta dunia yang penuh dengan titik-titik biru yang mulai menyala satu per satu. Singapura, Tokyo, Dubai, London, New York... semua kota besar di dunia muncul di sana. "Adrian, apa yang lu lakuin?" Sekar nanya dengan suara lemes, matanya nggak lepas dari pemandangan gila di depan mereka.

"Gua... gua rasa gua baru aja nyalain saklar buat sesuatu yang nggak cuma ada di Malabar," gumam Adrian. Dia ngerasa ngeri. Tombol yang dia tekan ternyata bukan cuma protokol keamanan lokal, tapi perintah buat ngaktifin jaringan energi global yang udah ditanam bokapnya (atau siapa pun di balik ini) di seluruh dunia lewat komoditas teh yang diekspor Dirgantara Group selama puluhan tahun.

Tiba-tiba, wanita bermasker itu teriak kenceng. "Lu nggak tahu apa yang lu lakuin, bocah sombong! Lu baru aja ngasih akses ke 'mereka' buat ngendaliin seluruh jaringan listrik dunia!"

Wanita itu nyoba nerjang Adrian buat ngerebut kotak besinya, tapi tiba-tiba tanah di bawah kaki mereka retak. Sebuah lubang gede terbuka di tengah-tengah puncak gunung, dan dari dalemnya keluar sebuah menara logam kecil yang bentuknya mirip pucuk teh, tapi terbuat dari kristal dan baja. Menara itu muter-muter, ngisap semua cahaya biru di sekitar situ.

Di saat yang sama, sosok "Bokap Palsu" itu noleh ke arah Adrian. Dia nggak nyerang. Dia cuma diem, terus ngasih hormat formal, persis kayak cara bokap Adrian kalau lagi bangga sama hasil kerja keras anaknya. "Identitas dikonfirmasi. Administrator: Adrian Dirgantara. Perintah selanjutnya?" ucap sosok itu.

Adrian bengong. Sekarang dia pegang kendali atas teknologi paling berbahaya di muka bumi. Tapi di depannya, wanita misterius itu malah ketawa histeris sambil megang lehernya yang ada bekas luka.

"Lu pikir lu menang? Liat ke belakang lu, Adrian! Liat apa yang keluar dari hutan!"

Adrian noleh ke belakang. Dari balik pepohonan pinus yang gelap, muncul ratusan warga desa Malabar. Tapi mereka nggak dateng buat bantu. Mereka jalan dengan langkah gontai, mata mereka kosong, dan di dahi mereka ada urat-urat biru yang nyala terang persis kayak warna cahaya dari pohon teh.

"Mereka semua... mereka udah minum teh hasil panen bulan lalu," bisik wanita itu dengan nada puas. "Teh yang udah lu kasih 'nutrisi' perak itu. Sekarang, mereka bukan lagi manusia biasa. Mereka adalah bagian dari jaringan ini. Dan kalau lu mati, atau kalau lu nyoba matiin sistem ini, mereka semua bakal... shutdown."

Adrian ngelihat ke arah Sekar. Sekar megang lehernya sendiri, mukanya pucat banget. "Adrian... kepala gua... sakit banget..." Urat biru mulai muncul di pelipis Sekar.

Adrian ngerasa dunianya runtuh lagi. Ternyata, "Grade A" yang selama ini dikejar bokapnya bukan cuma soal kualitas rasa, tapi soal integrasi biologi manusia ke dalam sistem energi ini. Dan sekarang, nyawa seluruh warga desa termasuk satu-satunya orang yang dia peduli, Sekar terikat langsung sama kotak besi yang dia pegang.

"Pilih, Adrian!" Teriak wanita itu. "Jadi Tuhan atas budak-budak biru ini, atau mati bareng mereka semua!" Tiba-tiba, menara kristal di tengah mereka ngeluarin suara dengungan yang makin tinggi frekuensinya, dan ponsel Adrian nerima panggilan masuk dari nomor yang sama dengan pengirim pesan tadi.

Pas Adrian angkat, suara di seberang sana bukan suara manusia, tapi suara rekaman yang sangat familiar. Suara ibunya yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu.

"Adrian, maafkan kami. Jangan pilih keduanya. Ada opsi ketiga di bawah akar pohon teh induk... yang asli."

Adrian sadar, pohon teh induk tempat dia nemuin kotak ini tadi ternyata cuma umpan. Ada sesuatu yang lebih dalam di bawah sana. Tapi gimana cara dia ke sana sementara warga desa yang hilang kesadaran mulai ngepung mereka berdua?

Dengan warga desa yang mulai mendekat dalam kondisi terkontrol dan Sekar yang mulai menunjukkan gejala terinfeksi jaringan biru, Adrian harus membuat keputusan mustahil.

Apakah dia akan menggunakan otoritas barunya sebagai "Administrator" untuk memerintah warga, atau dia harus nekat menembus kepungan demi mencari "opsi ketiga" yang disebutkan ibunya? Dan yang paling penting, siapa sebenarnya yang menelponnya menggunakan suara ibunya yang sudah lama tiada?

1
Arifa
menarik ceritanya bisa di bilang mind blowing.
semangat update terus tor..
indri sanafila: terima kasih semangatnya dan sudah setia mengikuti perjalanan Adrian🙏
total 1 replies
~($@&)~%
bang,ga di kontrak kah ,novel nya
indri sanafila: lagi proses pengajuan kontrak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!