Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 - Hal-Hal yang Tidak Lagi Menunggunya
Ada hidup setelah pergi.
Itu hal pertama yang Nadira Savitri sadari.
Tidak langsung terasa ringan. Tidak juga bahagia. Tapi ada ruang bernapas yang sebelumnya tidak pernah dia miliki. Seperti tubuh yang akhirnya berhenti menahan luka terlalu lama.
Pagi itu, Nadira bangun tanpa rasa cemas.
Dia tidak mengecek ponsel. Tidak menghitung jam. Tidak memikirkan apakah ada pesan yang terlewat. Dia mandi dengan air dingin, mengenakan kemeja putih sederhana, lalu duduk di meja kecil kosannya untuk menyusun rencana hari itu.
To-do list-nya berubah.
Bukan lagi:
– Rapat BEM
– Menunggu Raka
– Mengatur ulang jadwal orang lain
Melainkan:
– Revisi proposal skripsi
– Konsultasi dosen
– Kirim lamaran magang riset
Salsa yang baru bangun memperhatikannya dari ambang pintu. "Kamu... kelihatan beda." Katanya pelan.
Nadira tersenyum kecil. "Aku tidur nyenyak."
Dan itu bukan bohong.
Di kampus, Nadira mulai menghilang dari tempat-tempat lama.
Dia tidak lagi melewati sekretariat BEM. Tidak duduk di bangku taman yang biasa. Tidak mampir ke kantin favorit Raka.
Dia memilih perpustakaan lantai tiga... sunyi, jarang dilalui. Di sanalah dia bertemu Dr. Arvin Pradipta untuk pertama kalinya sejak lama, bukan sebagai dosen penguji tamu, tapi sebagai pembimbing yang serius memperhatikan.
"Kamu kelihatan lebih fokus." Kata Arvin sambil meneliti draft proposal Nadira. "Tulisan kamu lebih tajam."
Nadira mengangguk. "Saya berhenti membagi energi ke terlalu banyak hal."
Arvin menatapnya sejenak... bukan menilai, melainkan memahami. "Itu keputusan yang dewasa."
Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada rasa ingin tahu berlebihan.
Dan Nadira menyukai itu.
Sementara itu, Raka Mahardika mulai merasakan kehilangan pertama... tanpa nama.
Rapat BEM hari itu kacau. Bukan berantakan. Tapi tidak mengalir.
Diskusi melompat-lompat. Keputusan ditunda. Sponsor kembali menelepon, kali ini dengan nada lebih dingin. Ada miskomunikasi kecil yang seharusnya bisa dicegah... kalau Nadira masih ada.
Raka menyadarinya saat dia membuka folder arsip lama.
Nama Nadira muncul di hampir semua dokumen penting. Catatan rapi. Tanggal jelas. Follow-up tercatat.
"Dia selama ini ngapain aja sih..." Gumamnya. Dan kalimat itu berhenti di tenggorokannya sendiri.
Dia yang bikin semuanya jalan.
Raka menyandarkan punggung ke kursi. Dadanya terasa berat, tapi bukan karena lelah kerja. Ada rasa asing... seperti rumah yang tiba-tiba kehilangan tiang penyangga.
Aluna mencoba mengambil alih. Dia datang lebih pagi, bicara lebih banyak, mengatur lebih keras. Terlalu keras.
"Kita putuskan sekarang." Katanya di rapat. "Nggak usah nunggu semua sepakat."
Beberapa orang saling pandang.
"Biasanya Nadira yang ngatur alurnya." Kata seseorang tanpa niat menyindir.
Aluna tersenyum kaku. "Kita nggak bisa terus bergantung sama orang yang sudah mundur."
Kalimat itu terdengar benar. Tapi nada di baliknya menyimpan kepanikan.
Raka menatap Aluna lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu yang bergeser, bukan marah, tapi... asing.
Nadira mulai menikmati kesendirian yang sehat.
Dia makan siang sendiri tanpa merasa canggung. Membaca jurnal di bangku taman. Pulang tanpa harus memberi kabar. Dunia tidak runtuh karena dia berhenti menjelaskan.
Suatu sore, dia menerima surel balasan dari program magang riset nasional.
[Kami tertarik dengan latar belakang dan fokus riset Anda. Mohon konfirmasi jadwal wawancara.]
Nadira membaca surel itu dua kali. Lalu tersenyum.
Salsa melompat kecil saat mendengarnya. "DIRA! Ini besar!"
Nadira mengangguk. "Iya."
Untuk pertama kalinya, pencapaiannya tidak dibayangi rasa bersalah karena meninggalkan seseorang.
Raka mulai kehilangan yang kedua... kepercayaan.
Sponsor meminta laporan langsung, bukan lewat Aluna.
Dosen pembimbing organisasi mulai memanggil Raka lebih sering.
Anggota BEM mulai mempertanyakan keputusan.
"Kita kok jadi sering salah paham, ya?"
"Dulu nggak pernah gini."
Raka mendengar semuanya. Dia tidak membantah. Tidak membela diri.
Malam itu, dia duduk di mobil, membuka chat Nadira. Jari-jarinya mengetik, lalu berhenti.
Apa yang harus dia katakan? Maaf terasa terlalu kecil. Balik terasa terlalu egois.
Dia menutup ponsel tanpa mengirim apa pun.
Aluna kehilangan kendali untuk kedua kalinya dan itu jauh lebih jelas.
Dia memarahi anggota tim di depan umum. Nada suaranya naik. Senyumnya hilang.
Raka menariknya ke samping. "Luna, tenang."
"Aku cuma capek." Jawab Aluna cepat. "Kenapa semua jadi ribet sejak dia pergi?"
Raka menatapnya. "Mungkin... karena dia yang bikin ribet itu kelihatan gampang."
Kalimat itu keluar tanpa sengaja.
Aluna terdiam.
Untuk pertama kalinya, Raka melihat ekspresi lain di wajah Aluna... bukan tenang, bukan manis. Tapi takut.
Di perpustakaan, Nadira bertemu Arvin lagi.
"Kamu mau daftar magang riset?" Tanya Arvin.
"Iya, Pak."
"Kalau lolos, kamu harus pindah kota sementara."
Nadira mengangguk tanpa ragu. "Saya siap."
Arvin tersenyum kecil. "Bagus."
Tidak ada kalimat sayang kalau ditinggal, tidak ada pikirkan lagi. Hanya pengakuan bahwa hidupnya adalah miliknya. Dan itu terasa seperti penyembuhan.
Raka kehilangan yang ketiga... rutinitas.
Dia terbiasa makan bersama Nadira tanpa sadar. Terbiasa ada yang menunggu. Terbiasa seseorang mengingatkan jadwalnya.
Kini, dia makan sendirian. Pulang ke kamar yang sunyi. Tidak ada pesan masuk yang bertanya udah sampai?
Hal kecil itu menggerogoti pelan.
Dia mulai memerhatikan hal-hal yang dulu dia abaikan, Nadira selalu duduk di sudut ruangan. Selalu mencatat. Selalu mendahulukan orang lain.
"Kenapa aku baru sadar sekarang?" Gumamnya.
Aluna mencoba mendekati Raka lebih sering. Mengajak makan. Menawarkan bantuan. Menyentuh lengannya lebih lama dari biasa.
Dulu, Raka akan nyaman. Sekarang, dia justru merasa tertekan.
"Luna." Katanya suatu malam. "kamu nggak harus selalu di sini."
Aluna tersenyum kaku. "Aku cuma peduli."
Raka mengangguk. Tapi matanya tidak lagi mencari.
Nadira menerima panggilan wawancara.
Dia berdiri di depan cermin, mengenakan blazer sederhana. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya tenang.
Salsa menatapnya kagum. "Kamu kelihatan… utuh."
Nadira tersenyum. "Aku lagi belajar."
Belajar hidup tanpa mengorbankan diri.
Hari itu, Raka mendengar kabar yang membuat dadanya kosong.
"Nadira daftar magang luar kota." Kata seseorang di sekretariat. "Kayaknya lolos."
Raka terdiam.
Luar kota.
Artinya... benar-benar pergi.
Dia keluar gedung tanpa tujuan, langkahnya cepat tapi pikirannya tertinggal.
Di taman kampus, dia melihat Nadira duduk di bangku, membaca. Sinar sore jatuh lembut di wajahnya.
Dia berdiri cukup jauh. Tidak mendekat.
Dan untuk pertama kalinya, Raka menyadari kebenaran paling pahit... Nadira tidak menunggunya. Dan dunia tidak berhenti berputar karenanya.
Nadira menutup bukunya. Dia merasakan tatapan itu... bukan karena firasat, tapi karena dia sudah terlalu sering merasakannya dulu.
Dia tidak menoleh. Bukan karena benci. Bukan karena ingin menyakiti. Dia hanya... tidak perlu lagi.
Dan di momen itulah, tanpa dialog, tanpa air mata, Nadira Savitri benar-benar memilih hidupnya sendiri.
Sementara Raka Mahardika berdiri di kejauhan, kehilangan segalanya pelan-pelan. Tepat seperti yang selama ini dia lakukan pada perempuan yang kini tidak lagi menunggunya.
Perlu aku cium dulu supaya sadar kayanya.
maaf kak author, aku geregetan sama Nadira 🤭🙏🙏
lebih memain kan isi hati... memberikan sudut pandang berbeda d tiap perasaan pemeran nya...
kamu hanya menemukan sedikit dialog tapi dengan detail perasaan yg lengkap.... hingga.... kamu bahkan bisa merasakan bagaimana isi hati tokoh meski hnya diam... good job Thor.... 🤗
jd gimana nih Nadira yg pernah mati dn pertunangannya sm Raka,,juga si Aluna yg ngeselin🤣
Hanya berserah pada sang penciptalah yg membuat saya tetap waras 💪
Semangat Thor mohon dilanjut🙏👍