NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:33.7k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 - Hal-Hal yang Tidak Lagi Menunggunya

Ada hidup setelah pergi.

Itu hal pertama yang Nadira Savitri sadari.

Tidak langsung terasa ringan. Tidak juga bahagia. Tapi ada ruang bernapas yang sebelumnya tidak pernah dia miliki. Seperti tubuh yang akhirnya berhenti menahan luka terlalu lama.

Pagi itu, Nadira bangun tanpa rasa cemas.

Dia tidak mengecek ponsel. Tidak menghitung jam. Tidak memikirkan apakah ada pesan yang terlewat. Dia mandi dengan air dingin, mengenakan kemeja putih sederhana, lalu duduk di meja kecil kosannya untuk menyusun rencana hari itu.

To-do list-nya berubah.

Bukan lagi:

– Rapat BEM

– Menunggu Raka

– Mengatur ulang jadwal orang lain

Melainkan:

– Revisi proposal skripsi

– Konsultasi dosen

– Kirim lamaran magang riset

Salsa yang baru bangun memperhatikannya dari ambang pintu. "Kamu... kelihatan beda." Katanya pelan.

Nadira tersenyum kecil. "Aku tidur nyenyak."

Dan itu bukan bohong.

Di kampus, Nadira mulai menghilang dari tempat-tempat lama.

Dia tidak lagi melewati sekretariat BEM. Tidak duduk di bangku taman yang biasa. Tidak mampir ke kantin favorit Raka.

Dia memilih perpustakaan lantai tiga... sunyi, jarang dilalui. Di sanalah dia bertemu Dr. Arvin Pradipta untuk pertama kalinya sejak lama, bukan sebagai dosen penguji tamu, tapi sebagai pembimbing yang serius memperhatikan.

"Kamu kelihatan lebih fokus." Kata Arvin sambil meneliti draft proposal Nadira. "Tulisan kamu lebih tajam."

Nadira mengangguk. "Saya berhenti membagi energi ke terlalu banyak hal."

Arvin menatapnya sejenak... bukan menilai, melainkan memahami. "Itu keputusan yang dewasa."

Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada rasa ingin tahu berlebihan.

Dan Nadira menyukai itu.

Sementara itu, Raka Mahardika mulai merasakan kehilangan pertama... tanpa nama.

Rapat BEM hari itu kacau. Bukan berantakan. Tapi tidak mengalir.

Diskusi melompat-lompat. Keputusan ditunda. Sponsor kembali menelepon, kali ini dengan nada lebih dingin. Ada miskomunikasi kecil yang seharusnya bisa dicegah... kalau Nadira masih ada.

Raka menyadarinya saat dia membuka folder arsip lama.

Nama Nadira muncul di hampir semua dokumen penting. Catatan rapi. Tanggal jelas. Follow-up tercatat.

"Dia selama ini ngapain aja sih..." Gumamnya. Dan kalimat itu berhenti di tenggorokannya sendiri.

Dia yang bikin semuanya jalan.

Raka menyandarkan punggung ke kursi. Dadanya terasa berat, tapi bukan karena lelah kerja. Ada rasa asing... seperti rumah yang tiba-tiba kehilangan tiang penyangga.

Aluna mencoba mengambil alih. Dia datang lebih pagi, bicara lebih banyak, mengatur lebih keras. Terlalu keras.

"Kita putuskan sekarang." Katanya di rapat. "Nggak usah nunggu semua sepakat."

Beberapa orang saling pandang.

"Biasanya Nadira yang ngatur alurnya." Kata seseorang tanpa niat menyindir.

Aluna tersenyum kaku. "Kita nggak bisa terus bergantung sama orang yang sudah mundur."

Kalimat itu terdengar benar. Tapi nada di baliknya menyimpan kepanikan.

Raka menatap Aluna lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu yang bergeser, bukan marah, tapi... asing.

Nadira mulai menikmati kesendirian yang sehat.

Dia makan siang sendiri tanpa merasa canggung. Membaca jurnal di bangku taman. Pulang tanpa harus memberi kabar. Dunia tidak runtuh karena dia berhenti menjelaskan.

Suatu sore, dia menerima surel balasan dari program magang riset nasional.

[Kami tertarik dengan latar belakang dan fokus riset Anda. Mohon konfirmasi jadwal wawancara.]

Nadira membaca surel itu dua kali. Lalu tersenyum.

Salsa melompat kecil saat mendengarnya. "DIRA! Ini besar!"

Nadira mengangguk. "Iya."

Untuk pertama kalinya, pencapaiannya tidak dibayangi rasa bersalah karena meninggalkan seseorang.

Raka mulai kehilangan yang kedua... kepercayaan.

Sponsor meminta laporan langsung, bukan lewat Aluna.

Dosen pembimbing organisasi mulai memanggil Raka lebih sering.

Anggota BEM mulai mempertanyakan keputusan.

"Kita kok jadi sering salah paham, ya?"

"Dulu nggak pernah gini."

Raka mendengar semuanya. Dia tidak membantah. Tidak membela diri.

Malam itu, dia duduk di mobil, membuka chat Nadira. Jari-jarinya mengetik, lalu berhenti.

Apa yang harus dia katakan? Maaf terasa terlalu kecil. Balik terasa terlalu egois.

Dia menutup ponsel tanpa mengirim apa pun.

Aluna kehilangan kendali untuk kedua kalinya dan itu jauh lebih jelas.

Dia memarahi anggota tim di depan umum. Nada suaranya naik. Senyumnya hilang.

Raka menariknya ke samping. "Luna, tenang."

"Aku cuma capek." Jawab Aluna cepat. "Kenapa semua jadi ribet sejak dia pergi?"

Raka menatapnya. "Mungkin... karena dia yang bikin ribet itu kelihatan gampang."

Kalimat itu keluar tanpa sengaja.

Aluna terdiam.

Untuk pertama kalinya, Raka melihat ekspresi lain di wajah Aluna... bukan tenang, bukan manis. Tapi takut.

Di perpustakaan, Nadira bertemu Arvin lagi.

"Kamu mau daftar magang riset?" Tanya Arvin.

"Iya, Pak."

"Kalau lolos, kamu harus pindah kota sementara."

Nadira mengangguk tanpa ragu. "Saya siap."

Arvin tersenyum kecil. "Bagus."

Tidak ada kalimat sayang kalau ditinggal, tidak ada pikirkan lagi. Hanya pengakuan bahwa hidupnya adalah miliknya. Dan itu terasa seperti penyembuhan.

Raka kehilangan yang ketiga... rutinitas.

Dia terbiasa makan bersama Nadira tanpa sadar. Terbiasa ada yang menunggu. Terbiasa seseorang mengingatkan jadwalnya.

Kini, dia makan sendirian. Pulang ke kamar yang sunyi. Tidak ada pesan masuk yang bertanya udah sampai?

Hal kecil itu menggerogoti pelan.

Dia mulai memerhatikan hal-hal yang dulu dia abaikan, Nadira selalu duduk di sudut ruangan. Selalu mencatat. Selalu mendahulukan orang lain.

"Kenapa aku baru sadar sekarang?" Gumamnya.

Aluna mencoba mendekati Raka lebih sering. Mengajak makan. Menawarkan bantuan. Menyentuh lengannya lebih lama dari biasa.

Dulu, Raka akan nyaman. Sekarang, dia justru merasa tertekan.

"Luna." Katanya suatu malam. "kamu nggak harus selalu di sini."

Aluna tersenyum kaku. "Aku cuma peduli."

Raka mengangguk. Tapi matanya tidak lagi mencari.

Nadira menerima panggilan wawancara.

Dia berdiri di depan cermin, mengenakan blazer sederhana. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya tenang.

Salsa menatapnya kagum. "Kamu kelihatan… utuh."

Nadira tersenyum. "Aku lagi belajar."

Belajar hidup tanpa mengorbankan diri.

Hari itu, Raka mendengar kabar yang membuat dadanya kosong.

"Nadira daftar magang luar kota." Kata seseorang di sekretariat. "Kayaknya lolos."

Raka terdiam.

Luar kota.

Artinya... benar-benar pergi.

Dia keluar gedung tanpa tujuan, langkahnya cepat tapi pikirannya tertinggal.

Di taman kampus, dia melihat Nadira duduk di bangku, membaca. Sinar sore jatuh lembut di wajahnya.

Dia berdiri cukup jauh. Tidak mendekat.

Dan untuk pertama kalinya, Raka menyadari kebenaran paling pahit... Nadira tidak menunggunya. Dan dunia tidak berhenti berputar karenanya.

Nadira menutup bukunya. Dia merasakan tatapan itu... bukan karena firasat, tapi karena dia sudah terlalu sering merasakannya dulu.

Dia tidak menoleh. Bukan karena benci. Bukan karena ingin menyakiti. Dia hanya... tidak perlu lagi.

Dan di momen itulah, tanpa dialog, tanpa air mata, Nadira Savitri benar-benar memilih hidupnya sendiri.

Sementara Raka Mahardika berdiri di kejauhan, kehilangan segalanya pelan-pelan. Tepat seperti yang selama ini dia lakukan pada perempuan yang kini tidak lagi menunggunya.

1
sukensri hardiati
nadira.....jangan keras kepala...semua orang sayang kamu...tp kamu nggak sayang dirimu sendiri
mimief
jujur itu mahal..
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
mimief
walaupun terkesan kaku bahasa nya.
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
mimief
hmmm...
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
mimief
dan berhenti keras kepala untuk sesuatu yg dikira akan memberikan bahagia.ternyata hanya fatamorgana
💞DARRA💞💖
aq baca bab 1-2 udah sesek karna hampir sama dengan yg kujalani
Mamah Kaila
tahu ah dialognya terlalu membosankan, jadi hambar
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐝𝐢𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐨𝐛𝐬𝐞𝐬𝐢 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐤𝐲𝐤 𝐩𝐠𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠𝟐 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐩𝐝𝐡𝐥 𝐩𝐫𝐜𝐦....


𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚

𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐦𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐤𝐞𝐩𝐮𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐨𝐧𝐬𝐞𝐤𝐰𝐞𝐧𝐬𝐢....

𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁

𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐛𝐫𝐬 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐩𝐮𝐢𝐬𝐢 𝐤𝐫𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐜𝐚𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐨 𝐭𝐡𝐞 𝐩𝐨𝐢𝐧𝐭 𝐭𝐧𝐩 𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝟐 𝐭𝐧𝐩 𝐛𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐬𝐢 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮😁😁😁 𝐨𝐯𝐞𝐫 𝐚𝐥𝐥 𝐛𝐠𝐬 𝐬𝐢𝐡 😘😘😘
Hari Saktiawan
cerita tak masuk akal
bakpao
/Good/
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐣𝐡𝐭 𝐩𝐝 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡, 𝐜𝐩𝐭 / 𝐥𝐦𝐛𝐭 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 😤😤😤
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭, 𝐭𝐩 𝐲𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐩𝐞𝐧𝐨𝐤𝐨𝐡𝐚𝐧 𝐚𝐦𝐛𝐮𝐫𝐚𝐝𝐮𝐥 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐧𝐲𝐤 🤪🤪🤪😤😤😤
Muhammad Azri
certanya bertele tele muter2 d situ2 aja , gk jelas....
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐤 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐞𝐩𝐢𝐧 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐡𝐬 𝐈𝐧𝐠𝐠𝐫𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 " 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐥𝐞𝐛𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 " 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫😊
Asyatun 1
keren thoor
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!