Tidak ada yang bisa memilih untuk dilahirkan dari rahim yang bagaimana.
Tugas utama seorang anak adalah berbakti pada orang tuanya.
Sekalipun orang tua itu seakan tak pernah mau menerima kita sebagai anaknya.
Dan itulah yang Aruna alami.
Karena seingatnya, ibunya tak pernah memanjakannya. Melihatnya seperti seorang musuh bahkan sejak kecil.
Hidup lelah karena selalu pindah kontrakan dan berakhir di satu keadaan yang membuatnya semakin merasa bahwa memang tak seharusnya dia dilahirkan.
Tapi semesta selalu punya cara untuk mempertemukan keluarga meski sudah lama terpisah.
Haruskah Aruna selalu mengalah dan mengorbankan perasaannya?
Atau satu kali ini saja dalam hidupnya dia akan berjuang demi rasa cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bund FF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pelakor
Mina sedang membolos sekolah hari ini. Dia sedang berjalan-jalan bersama dua temannya karena menagih hadiah ulangtahun yang sudah dijanjikan oleh temannya itu.
"Kalian yakin ngajak ke tempat wisata itu?" tanya Mina kembali menegaskan kedua temannya yang mengajak ke taman wisata yang baru saja buka.
"Tentu dong. Disini tuh tempatnya asik banget, Mina. Banyak spot foto yang latar belakangnya seperti di luar negri. Kalau nggak lagi holiday enak suasananya sepi. Gampang kalau ingin foto, terus juga makanannya enak-enak" ujar Nilam, salah satu teman gengnya.
"Darimana Lo tahu?" tanya Mina.
"Weekend kemarin gue kesini sama pacar gue. Ramai parah, kalau nggak liburan kan enak, sepi" ujar Nilam.
Dan memang benar, suasananya sangat menyenangkan di tempat ini. Bangunannya berbeda-beda dalam satu kawasan. Sesuai tema tempat wisata ini yaitu keajaiban dunia. Jadi ada tujuh negara dengan porsi mini untuk dipamerkan.
"Uwah, memang sebagus itu sih" kata Mina berbinar. Mereka bertiga nampak asyik sendiri.
"Jangan tinggalin gue dong" ujar Diana, teman lain dalam geng Mina.
Ketiganya nampak asyik bercengkerama. Suasana yang cukup sepi membuat mereka betah. Saat rasa lapar mulai menyerang, mereka memilih negara dengan Maccu Picchu sebagai keajaiban dunia untuk disinggahi.
Ada tempat makan dengan makanan sesuai negaranya. Dan Mina nampak penasaran dengan Peru kali ini.
"Mau pesan apa kak?" tanya waiters dengan pakaian yang mencerminkan Peru yang ceria.
"Uwah sate daging marmut. Apa itu marmut, kak?" tanya Mina penuh minat.
"Marmut itu sejenis kelinci, kak. Namun bulunya beraneka warna seperti kucing. Tapi dagingnya lembut dan sangat enak" jawab waiters itu dengan baik.
"Boleh deh sate marmut ya kak. Minumnya orange juice saja biar segar" ujar Mina lantas mempersilahkan kedua temannya memesan sesuai keinginan.
Lama menunggu, Mina ijin ke toilet.
"Mau gue anterin?" tanya Nilam.
"Nggak deh. Gue sendiri saja" tolak Mina karena memang toiletnya cukup dekat dari keberadaan dua temannya ini.
Berjalan sendiri ke toilet itu, lantas Mina segera menunaikan hajatnya. Tak berapa lama gadis itu keluar untuk memperbaiki penampilan. Setelah dirasa masih cantik, Mina segera keluar.
Berjalan sambil bersenandung kecil, Mina mendapati sosok yang sangat familiar sedang berjalan di negara seberang. Tak jauh dari tempat Mina berada.
"Gue nggak salah lihat, kan?" gumamnya yang membuat langkah kaki mengikuti isyarat hati untuk segera pergi ke negri seberang.
"Mau kemana, Mina?" tanya Diana saat melihat Mina melintas begitu saja.
"Sebentar ya. Habis ini gue balik kesini kok" ujar Mina berpamitan pada temannya.
"Mau kemana sih?" tanya Nilam.
"Ada kerabat gue di sana, gue samperin sebentar saja" bohong Mina.
"Oke deh" ujar kedua temannya tak mau menahan.
Mina melangkah pergi dengan tergesa, takut kalau yang dia lihat tadi akan hilang begitu saja.
Tapi ternyata tidak, dua manusia yang tadi dia lihat ternyata sedang berada di salah satu spot foto.
Keduanya nampak asyik bercengkerama bagai anak muda. Raut bahagia sangat terpancar dari dua wajah itu.
"Papa?" gumam Mina dengan hati bergemuruh. Tapi dia harus bisa santai agar papanya tak bisa berbohong lebih jauh.
"Menggelikan" ujar Mina saat Kim dan seorang perempuan sebayanya bergandengan tangan.
Sesekali saat suasana sedang mendukung, nampak Kim bahkan tak segan untuk mencuri ciuman singkat di bibir wanitanya.
Hal yang tak pernah Mina lihat selama papanya sedang berdua dengan mamanya. Pasti Kim akan jual mahal sementara mamanya selalu berusaha mendekati.
"Memuakkan" dalam hati Mina masih berusaha menekan emosi.
Mengambil ponsel lantas mengabadikan kemesraan Kim dan selingkuhannya. Tanpa mau berbuat onar. Dia masih ingat jika ada kedua temannya yang tidak boleh tahu akan kelakuan bejat dari papa yang selalu Mina sanjung setinggi langit.
Bisa rusak citra Keluarga Cemara yang selalu melekat pada keluarganya.
Meski dengan hati penuh emosi, Mina kembali ke tempat kedua temannya yang masih menunggu.
"Sudah ketemu kerabatnya?" tanya Diana.
"Sudah. Makanan gue mana?" tanya Mina yang sebenarnya sudah tak berselera.
Mereka bertiga kembali menghabiskan sisa hari sebelum pulang beberapa jam lagi.
...****************...
"Bagaimana caranya supaya aku bisa mendapatkan hati Aruna, sayang?" tanya Kim pada Selly yang sudah semakin jinak.
"Aku nggak tau" jawabnya jujur, bahkan sudah menggunakan bahasa baku untuk bersuara.
"Kemarin kami bertemu, dia sangat menghindar. Dan aku tentu kecewa. Bodoh sekali aku sebagai seorang bapak" ujarnya memelas.
Memikirkan kehidupan kedua anaknya yang berbanding terbalik tentu membuat Kim sangat merasa terpukul. Tak becus sebagai bapak.
"Bagaimana kalau kita beritahu dia di hari ulang tahunnya?" ide Selly sangat menarik kali ini.
"Kapan ulang tahun Aruna?" tanya Kim dengan mata berbinar.
"16 Mei" jawab Selly.
"Hanya berselang tiga bulan dari kelahiran Mina" sesal Kim lagi.
"Maafkan aku sayang" kembali Kim merasa menyesal. Menciumi Selly secara bertubi-tubi berharap bisa mengurangi sedikit rasa sesal di hati.
Tapi yang namanya orang dewasa, sedikit lecutan saja sudah membuat setan mengambil alih kewarasannya.
Tentu mereka berdua kembali menghabiskan sisa hari bersama meski katanya lelah setelah jalan-jalan di tempat yang sama dengan Mina.
Kembali mengulang dosa yang rasanya sudah menjadi biasa. Tak ada akal dan logika, hanya nafsu semata demi kehidupan yang katanya lebih nyaman.
"Apa tidak lebih baik kau nikahi aku daripada selalu kau kawini tanpa hubungan pasti seperti ini, Kim?" tanya Selly, berharap bisa merasakan perubahan status yang akan membuatnya derajatnya naik meski sedikit.
Tak perduli meski di cap pelakor, karena hal yang sebenarnya adalah Berta yang merusak hubungan cintanya dengan Kim di masa lalu. Dan kini, Selly hanya berusaha menggapai impiannya dulu agar bisa menjadi istri dari seorang Wiguna.
Keduanya bahkan hanya mengenakan selimut untuk menutupi kepolosan tubuhnya. Tidur berdua diatas ranjang rumah kontrakan Selly.
"Ide yang bagus. Secepatnya akan aku urus proses pernikahan kita meski hanya nikah siri dulu ya, Sayang. Aku belum siap untuk berterus terang kepada Berta" kata Kim.
"Jangan hanya janji. Kalau sampai kau ingkar lagi, bukan hanya kau yang akan kuhabisi, tapi semua keluarga tercintamu akan menjadi incaran ku" ancam Selly.
"Kau sungguh telah berubah, sayang" ujar Kim dengan belaian tangannya di rambut Selly.
"Dulu kau sangat pemalu dan penurut, manis sekali sikapmu sampai aku tertarik. Sekarang kau sangat garang, mulutmu juga pedas, tak ada kata takut, tapi satu hal yang masih selalu ada dalam dirimu" kata Kim menjeda kalimatnya.
"Kau tetap bisa memuaskan aku. Hanya kau yang bisa membuatku terkapar setelah bergulat kasar. Sungguh rasa cintaku padamu jadi bertambah besar" kata Kim sambil mendaratkan banyak ciuman.
"Bodoh! Kau memang selalu bodoh" ejek Selly tapi ikut juga mengimbangi permainan Kim yang brutal.
Sepuluh tahun lebih dengan banyak pengalaman dari berbagai karakter pria, tentu kini Selly adalah seorang yang ahli di bidangnya.
Kembali mereka bergulat. Tak mengindahkan suara dering telepon yang terdengar bising mengganggu.
Telepon dari Berta tentu hanya menjadi angin lalu bagi Kim yang sedang sibuk.
Mina merengek untuk bertemu papanya sepulang dari jalan-jalan dengan kedua temannya.
"Nggak diangkat ya ma?" tanya Mina.
"Mungkin papamu sedang sibuk, Mina" ujar Berta sedikit kesal.
"Nggak mungkin ma. Coba deh mama telepon Tante Lidya, masak sih papa lembur terus setiap hari. Mina mau kita makan malam di luar, ma" rengek Mina.
"Haduh, kamu ini seperti anak kecil saja sih, Mina. Malu mama kalau setiap hari harus telepon Lidya cuma tanya keberadaan papamu. Memangnya Lidya itu nenekmu apa?" kesal Berta yang kali ini tak menuruti keinginan Mina.
"Tapi ma" kesal Mina yang melihat mamanya beranjak.
"Sudah ya Mina, mama capek. Mau ke kamar saja. Nanti papamu juga pulang sendiri. Nggak usah dicari. Lagipula dia juga nggak akan macam-macam di luar sana. Kamu tenang saja" kata Berta lantas pergi.
Mina hanya bisa menahan emosi. Mengepalkan tangan agar emosinya tertahan.
"Mama belum tahu saja kelakuan papa di luar sana. Kalau nanti mama sampai kecewa, aku nggak akan perduli" kesal Mina yang tak akan lagi ikut campur urusan orang dewasa.