Untuk mengungkap penyebab adiknya bunuh diri, Vera menyamar menjadi siswi SMA. Dia mendekati pacar adiknya yang seorang bad boy tapi ternyata ada bad boy lain yang juga mengincar adiknya. Siapakah pelakunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Sagara duduk di kursinya, menatap layar laptop dengan serius. Di hadapannya, sebuah artikel yang baru saja terbit mengungkap dugaan penggelapan dana di sekolah yayasan yang didirikan oleh perusahaan keluarganya sepuluh tahun lalu.
Sekolah itu seharusnya menjadi tempat pendidikan gratis bagi anak-anak kurang mampu. Namun, sekarang, laporan menunjukkan bahwa dana bantuan yang masuk tidak tersalurkan dengan benar. Sekolah tampak tak terawat, jumlah murid lebih sedikit dari laporan resmi, dan fasilitasnya jauh dari kata layak.
Sagara mengepalkan tangannya. Dia membaca nama penulis artikel. "Dwiki? Aku baru satu tahun memegang perusahaan ini, dia sudah menyerang saja. Jiwa bersaing kita memang tidak pernah luntur, ck."
"Sudah baca? Saatnya kamu memberantasnya," kata Shaka sambil berjalan mendekati putranya.
Sagara melipat tangannya dan menatap papanya. "Ini kesalahan Papa. Kalau memang berniat mendirikan yayasan, harusnya diawasi. Ini Papa malah lepas tangan dan percaya begitu saja sama orang lain. Sudah sepuluh tahun, sudah sangat lama."
Shaka menghela napas berat. "Iya, Papa salah. Papa terlalu sibuk dengan bisnis inti perusahaan, jadi mempercayakan ini ke orang lain. Papa pikir mereka akan menjalankan tugasnya dengan benar. Tapi sekarang, kita harus segera menyelesaikan ini sebelum Dwiki mendapat info akurat. Jangan sampai mereka memutar balikkan fakta hingga menyeret kita."
Mendengar nama Dwiki disebut, Sagara semakin kesal. Dwiki, rivalnya sejak lama, adalah seorang jurnalis investigasi yang selalu mencari kebenaran, terutama jika berhubungan dengan perusahaan milik keluarganya. Jika Dwiki sampai menemukan bukti kuat lebih dulu, maka skandal ini bisa meledak besar dan merusak reputasi perusahaan.
Sagara menghela napas panjang, lalu bersandar di kursinya. "Siapa yang bertanggung jawab atas sekolah itu?"
Shaka mengambil dokumen di mejanya dan menyerahkannya kepada Sagara. "Kepala sekolahnya masih Pak Darmawan. Kepala administrasi keuangannya Bu Rina. Dan ada beberapa orang lainnya yang mengurus operasionalnya."
Sagara membaca sekilas laporan itu. "Dana masuk ratusan juta setiap tahun, tapi kondisi sekolah seperti itu?"
"Itulah masalahnya. Kita harus menemukan ke mana uang itu mengalir."
Sagara mengetukkan jarinya ke meja. "Aku akan turun langsung. Aku ingin melihat sendiri bagaimana kondisi sekolah itu sekarang. Besok aku akan ke sana setelah rapat."
Shaka mengangguk. "Bagus. Tapi ingat, lakukan dengan hati-hati. Jika masalah ini mencuat sebelum kita menyelesaikannya, dampaknya bisa buruk bagu perusahaan."
Sagara tidak menjawab. Dia sudah memikirkan langkah selanjutnya.
...***...
Dwiki menatap layar laptopnya dengan penuh kepuasan. Artikel yang baru saja dia unggah tentang dugaan penggelapan dana di sekolah yayasan milik ATKPro langsung menjadi trending. Komentar dari para pembaca membanjiri kolom diskusi, sebagian besar berisi kecaman terhadap pengelola yayasan dan pihak perusahaan yang dianggap lalai.
Namun, baginya, ini belum cukup. Dia butuh bukti konkret yang bisa mengguncang publik dan menekan pihak terkait agar bertanggung jawab. Jika berhasil mengungkap skandal ini dengan data yang kuat, dia bukan hanya akan mendapatkan penghargaan sebagai jurnalis investigasi terbaik, tapi juga bonus besar dari kantornya.
Dwiki menyandarkan punggung ke kursi dan menghela napas. “Sepertinya aku harus masuk sendiri ke sekolah itu. Siapa tahu, aku mendapatkan bukti."
Setelah memikirkan berbagai cara, dia akhirnya mengambil keputusan. Dia tidak bisa hanya mengandalkan informasi dari luar. Dia harus menyelinap ke dalam sekolah itu, mencari dokumen-dokumen yang bisa menjadi bukti, atau bahkan mendapatkan kesaksian langsung dari orang-orang yang bekerja di sana.
Dwiki melihat jam dinding, siang sudah berlalu pasti para murid sudah pulang. Dwiki memakai jaket hitam dan topi. Dia segera berangkat menuju sekolah itu.
Dwiki tiba di depan sekolah yayasan dengan mengenakan jaket hitam dan topi. Dari luar, kondisi sekolah itu memang terlihat sangat tidak terawat. Cat dinding terkelupas, halaman sekolah kotor, dan beberapa jendela bahkan tampak retak.
Dia mengedarkan pandangan, mencari cara untuk masuk tanpa menimbulkan kecurigaan. Diam-diam dia menerobos masuk lewat pintu belakang yang tak terkunci. Dia berjalan mengendap menuju ruang administrasi.
Saat itulah matanya menangkap seorang cleaning service.
Dwiki mengernyit. Cara wanita itu bekerja tidak seperti cleaning service biasa. Gerakannya tegas, cekatan, dan sesekali matanya mengawasi sekeliling seperti sedang mengamati sesuatu.
"Aneh," pikirnya.
Dwiki mencoba mendekat perlahan, berpura-pura berjalan santai di sekitar area sekolah. Saat jaraknya semakin dekat, wanita itu berbalik dan Dwiki mengenali sorot mata itu.
"Vera?"
Jantungnya berdetak lebih cepat. Sudah enam tahun dia tidak bertemu dengan Vera bahkan nomornya juga diblokir. Vera benar-benar tidak bisa dia hubungi tapi setelah bertahun-tahun itu, tentu saja dia masih mengingat wajah Vera.
Dwiki tidak langsung bertanya. Dia tetap menjaga jarak dan berpura-pura sibuk dengan ponselnya sambil terus mengawasi Vera dari sudut matanya.
Vera, tampak mengangkat ember air dan berjalan menuju lorong sekolah. Dwiki merasa harus memastikan kebenarannya. Dengan langkah hati-hati, dia mengikutinya.
Dwiki berjalan menyusuri lorong yang sepi. Langkahnya ringan, memastikan tidak ada suara yang mencurigakan. Dari ujung lorong, dia melihat Vera berhenti di depan sebuah ruangan dengan tulisan Administrasi Keuangan di pintunya.
"Apa yang dia lakukan?"
Vera menatap ke kanan dan kiri, lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya—sebuah alat kecil yang tampak seperti kunci duplikat. Dalam hitungan detik, dia berhasil membuka kunci pintu dan masuk ke dalam ruangan.
Dwiki membulatkan matanya.
"Vera menyelidiki sesuatu? Apa dia punya tujuan yang sama denganku?" gumam Dwiki. Dia terus mendekat tapi ada seseorang yang menghentikan langkahnya.
“Kamu siapa? Apa yang kamu lakukan di sini?”
Dwiki menoleh cepat dan melihat seorang pria berbadan tegap dengan seragam satpam sekolah berdiri di belakangnya.
Sial.
“Aku sedang mencari kepala sekolah. Aku seorang jurnalis dan ingin mewawancarainya soal kondisi sekolah ini,” jawab Dwiki. Dia harus berhasil mengalihkan satpam itu.
Satpam itu menatapnya curiga. “Jurnalis? Mana ID pers-mu?”
Dwiki mengambil ID pers-nya dan dia tunjukkan pada satpam itu.
"Pak Darma tidak pulang. Kalau ke sini, buat janji dulu karena Pak Darma tidak ingin menerima wawancara dari siapapun."
Dwiki merangkul satpam itu dan mengajaknya berjalan agar pergi dari tempat itu. "Bapak sudah berapa lama bekerja di sini? Boleh aku tanya-tanya sebentar."
Satpam itu mengikuti Dwiki sambil menjawab pertanyaannya. "Sudah lama, sejak sekolah ini berdiri."
Mendengar suara orang berbicara, Vera mengintip dari balik pintu. "Sepertinya aku kenal suara itu?"
Ayooo semangat Dwiki cari dalangnya😥