seorang istri yang bersabar selama dua tahun menunggu suaminya berubah tapi malah berulah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Afath ( arasimah ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Santi pun merasa kasihan di usia Surti yang seharusnya sudah harus istirahat saja dirumah. Namun masih harus mengurus rumah, sehingga sering merasa lelah.
Santi izin mau pergi ke tetangga depan komplek. Surti pun mengizinkan namun saat akan keluar rumah ada seorang tamu datang mengantarkan kursi roda untuk Parman. Surti mempersilahkan duduk tetangga yang mengantarkan kursi roda. Sedangkan Santi membuatkan teh Manis.
Setelah membuatkan teh manis Santi ikut nimbrung menemani bu Surti. Santi mempersilahkan tamunya untuk mencicipi air tehnya.
" Silahkan diminum mas. " tawar Santi.
" Terima kasih, tidak usah repot - repot. Tadi katanya pak Parman membutuhkan kursi roda karena kakinya tidak boleh digunakan untuk berjalan. Makanya saya kesini mau menghantarkan kursi roda bekas almarhum bapak saya dulu yang sempat struk. Karena dirumah tidak dipakai. Sekarang saya kasih ke pak Parman saja." jelas tetangga yang kerja di klinik berobat.
" Terima kasih sekali nak, kami memang membutuhkannya untuk bapak." jawab Surti.
" Iya bu." ucap tetangga depan.
" Tadinya mau saya ambil di rumah bapak, eh bapaknya sudah ke sini duluan mala mengantarkan kursi rodanya. Terima kasih sekali kami." ucap Santi.
" Iya, kalau begitu saya minum tehnya. " tawar tetangga depan.
" Tapi maaf saya tidak bisa lama - lama karena istri dan saya mau pergi keluar." Ucap tetangga depan.
Santi dan Surti menghantarkan tetangga depan yang pamit pulang karena mau pergi dengan istrinya. Surti dan Santi mengucapkan terima kasih sekali lagi.
Santi langsung membuka kursi Rodanya nya dan mengelap lagi untuk digunakan oleh pak Parman. Santi bersyukur karena masih ada orang baik yang mau menolongnya.
Santi juga bersyukur karena pak Parman bisa jalan - jalan keluar tanpa harus di rumah terus. Santi langsung menujuh kamar Santi dan Surti untuk membawa pak Parman keluar. Surti memimpin Santi menujuh kamarnya.
Pak Parman merasa senang karena sudah ada kursi roda untuknya bergerak keluar kamar. Namun pak Parman berkata," cepat sekali kamu mengambilnya ?."
" Bukan kang, tapi orangnya yang datang menghantarkan langsung tadi. " Ujat Surti.
" Iya pak, belum sempet keluar tadi saya." ucap Santi.
Karena setahu Parman Santi lah yang akan mengambil kursi roda tersebut. Namun sudah diantar duluan oleh si pemilik. Parman mengucapkan " Alhamdulilah" di dalam hatinya.
Surti dan Santi menawarkan Pak Parman untuk mencobanya terlebih dahulu. Pak Parman pun menyetujuinya.
Pak Parman di pindahkan ke kursi roda untuk mencobanya oleh Santi dan Surti. Surti mendorong kursi rodanya ke depan. Agar Parman bisa melihat keluar rumah.
Namun karena hari sudah mau magrib maka Surti membawa Pak Parman masuk ke dalam lagi. Pak Parman ingin sholat menggunakan kursi roda saja. Karena kalau rebahan Parman tidak terlalu nyaman.
Kini Santi sedang memanaskan sayur yang telah dimasak sebelumnya oleh Surti. Setelah sholat magrib Surti, Parman dan Santi makan malam bersama.
Saat Raka pulang habis azar tadi Raka tidak melihat keberadaan Santi di rumahnya. Niatnya Raka pulang cepat pulang untuk menyelesaikan ucapannya terhadap Santi. Sepertinya Santi menghindariku sejak tadi pagi fikir Raka.
Raka mempunyai fikiran seperti itu karena melihat gelagat Santi yang tidak biasanya sejak menolak lamarannya. Raka ingin membuktikan jika Raka akan selalu setia terhadap Santi.
Namun trauma Santi dan rasa mindernya lebih besar daripada harus mendengarkan penjelasan Raka. Bu Hamidah yang melihat Raka sejak pulang seperti mencari seseorang seperti banyak fikiran pun menegurnya.
" Nak, sedang memikirkan apa?." Tanya bu Hamidah.
" Eh, ibu tidak ada - apa kok bu." elak Raka.
" Ibu tahu saat anak ibu sedang banyak fikiran." ujar bu Hamidah.
Raka tahu tidak akan bisa membohongi ibunya. Akhirnya Raka menjelaskan jika Raka sudah melamar Santi tadi pagi. Tapi langsung ditolak oleh Santi.
Bu Hamidah akhirnya pun paham yang menjadi kegelisahan hati anaknya. Lalu berkata," Ibu kalau jadi Santi juga akan menolak kamu nak."
Raka terkejut dengan ucapan ibunya rasanya tak percaya. Akhirnya Raka bertanya," Kenapa ibu bilang begitu? ."
" Yang pertama kesalahan kamu adalah melamar langsung disaat Santi sedang bekerja. Yang ke dua melamar anak orang tanpa ke dua orang tua. Yang ke tiga kamu main lamar - lamar aja." jelas bu Hamidah memarahi putranya.
" Ya kan, Raka ingin memastikan jika Raka berbicara berdua dahulu bu." jawab Raka membela diri.
" Namanya melamar anak orang ya Raka tidak ada hanya berdua. Tapi harus ada walinya, di depan banyak orang. Mau diterima lamarannya mau ditolak lamarannya. Itu namanya adab dalam melamar anak orang." jelas bu hamidah panjang lebar soal lamaran tidak hanya sekedar dua orang saja.
Raka meminta maaf kepada ibunya kalau cara Raka salah. Maka bu Hamidah meminta Raka bersabar dan membiarkan Santi tenang lebih dahulu selama seminggu ini.
Bu hamidah juga mengatakan untuk membiarkan Santi berfikir dahulu bagaimana pendapatnya. Barulah minggu depan melamar resmi di depan pak Parman dan bu Surti selaku orang tua angkatnya.
Raka menyetujui usulan dari ibunya. Raka meminta maaf karena bersikap gegabah. Raka lalu memeluk ibunya dan berterima kasih karena mau menerima Santi sebagai menantunya.
Bu Hamidah tidak memandang orang dengan statusnya. Bu Hamidah juga tidak membedakan kasta dan bibit, bebet serta bobotnya seperti yang lainnya.