bekerja di sebuah perusahaan besar tentunya sebuah keinginan setiap orang. bekerja dengan nyaman, lingkungan kerja yang baik dan mempunyai atasan yang baik juga.
tapi siapa sangka, salah satu sorangan karyawan malah jadi incaran Atasannya sendiri.
apakah karyawan tersebut akan menghindar dari atasan nya tersebut atau malah merasa senang karena di dekati dan disukai oleh Atasannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman Tiga Puluh Tiga
***
Safa dan Dea menyempatkan waktunya lagi untuk berkunjung ke rumah Laudya, karena mereka mendapat kabar lagi kalau laudya kembali sakit.
“Gue mau ngasih kabar sama kalian.” Ucap Safa.
Dea dan Laudya saling tatap. “Kabar bahagiakan?” Tanya Dea.
“Entah lah, Dua Minggu lagi Gue mau Nikah sama Laki-laki Pilihan Orang tua Gue.” jawab Safa sambil menghela nafasnya.
Laudya dan Dea melebarkan Matanya, mereka tentu terkejut mendengar kabar tersebut.
“Lo gak lagi bercanda kan?” Tanya Laudya.
Safa menghela nafasnya kembali, “Mana mungkin Gue nge-bercandain soal Pernikahan, Serius Gue mau Nikah.” jawab Safa.
“Kerja Apa calon Lo itu?” Tanya Dea.
“Dosen, sama punya usaha Restoran.”
Laudya terdiam, kenapa bisa sama dengan Teman dekatnya Maxim. Ia jadi agak sedikit curiga.
“Bentar deh, Gue juga dua Minggu lagi diajak kondangan ke teman dekatnya Mas Maxim. terus katanya mereka menikah gara-gara perjodohan.” Ucap Laudya.
Ketiganya kembali saling tatap. “Jangan bilang?.....,
“Tunggu dulu, Namanya siapa?” Tanya Safa. Ia agak sedikit was-was, takut kalau ternyata Calon suaminya itu Teman dekat Bos nya.
“Ya Gue gak tahu, coba bentar Gue telepon dulu.” Jawab Laudya.
Laudya menghubungi Maxim, ia sengaja meng loudspeaker, agar kedua temannya bisa dengar.
Maxim : “Hallo.”
Laudya : “Mas lagi sibuk gak?”
Maxim : “Enggak, kebetulan ini lagi ngumpul sama teman Mas di Apartemen. Ada Apa?”
“Nah pas banget waktunya.” Bisik Dea. Sementara Safa, ia malah merasakan Deg-degan.
Laudya : “Mas ada yang mau aku tanya, Kebetulan teman Mas juga ada disana. Mau tanya nama teman mas yang mau Nikah, siapa namanya?”
Maxim : “Kenapa tanya soal teman Mas?”
Laudya : “Untuk Memastikan aja, soalnya teman aku barusan bilang mau Nikah Dua Minggu lagi.”
Maxim : “Namanya, Sendreas Agung Dirga, panggilan nya Sensen. gimana sama gak?”
Laudya dan Dea menatap Safa untuk meminta kepastian, Safa menganggukan kepalanya. Dengan perasaan nya yang masih terkejut.
Laudya : “Sama katanya.”
Maxim : “Bentar, Mas mau alihkan ke panggilan Video dulu.”
“Jangan.” Bisik Safa.
“Udah gak papa, kan kita juga penasaran.” Ucap Dea.
Dan kini sudah berganti ke panggilan Video. Laudya dan kedua temannya sekarang bisa melihat secara langsung Maxim dan kedua temannya juga.
Safa langsung mengalihkan Pandangannya saat tak sengaja bertatapan dengan calon Suaminya.
Ya, Memang Calon suami Safa teman dekatnya Maxim.
David : “Wah jadi benar nih, Salah satu diantara kalian ada calon nya Sensen? pasti yang rambutnya di ikat kan?”
Dea : “Seprtinya iya Pak, soalnya ini teman saja malah natap ke arah lain.”
David : “Enak aja manggil Pak, panggil Abang aja.”
Dea : “Hehe, Maaf ya Bang.”
David : “Terus yang calon nya Maxim yang mana?”
Dea menunjuk ke arah Laudya, sehingga membuat David dan Sensen ber'oh'ria.
Laudya : “Jadi ini benarkan calon istri nya?”
Laudya menarik tubuh Safa agar terlihat oleh ketiga Pria yang ada disana. Dan yang bernama Sensen, hanya menganggukkan kepalanya saja sehingga membuat yang lainnya heboh. Eits, tapi tidak dengan Maxim ya.
Panggilan Video tiba-tiba Maxim matikan, sehingga mereka tidak ada waktu untuk berbicara lagi.
“Malah di matiin.” Ucap Dea.
“Yakan cuma mau memastikan doang, jadi gak perlu lama-lama.” Balas Laudya.
.
Di apartemen milik Sensen, mereka sengaja berkumpul di sana katanya Mumpung yang punya Apartemen sedang tidak sibuk.
“Benar-benar gila, ternyata Calon bini nya Sensen teman dekatnya pdkt-an nya Maxim.” David hanya bisa geleng-geleng kepala.
Maxim menatap Sensen dengan serius, “Lo udah benar belum ambil keputusan ini? jangan sampai nanti di tengah perjalanan Lo melah menyesal karena sudah Nerima perjodohan ini?” Tanya Maxim.
“Gue udah yakin, bahkan sampai datangi seorang Ustad yang biasa Gue temui kalau lagi Shalat Jum'at dekat kampus. Gue di Minta untuk Shalat Istikharah beberapa kali, dan ternyata hasilnya cukup Baik. makanya Gue terima.” Jawab Sensen.
“Terus soal perasaan gimana? Udah ada kemajuan belum?” Tanya David.
“Kalau itu ya pasti nya belum lah, kita aja ketemunya baru beberapa kali. belum terlalu Kenal dekat.”
“Tapi pernah jalan berdua?” Tanya David kembali.
“Pernah Dua kali, yang pertama ngajak Makan Malam, terus pas pas hari Minggu pergi nyari cincin Nikah.” Jawab Sensen.
“Gue pnasaran, sebenarnya rencana perjodohan ini itu udah lama atau baru?” Tanya Maxim.
“Udah ada sekitar setengah tahun, tapi Gue selalu ngehindar kalau ada pertemuan. dengan alasan pergi ke luar kota cek Restoran atau ada acara seminar.”
“Dan bisa-bisa nya Lo baru ngasih tahu kita sekarang-sekarang soal perjodohan itu, kenapa gak nanti aja pas undangan nya di bagikan.” Ucap David.
“Belum yakin Gue nya, yang penting kan sekarang Lo berdua sudah tahu.” Balas Sensen.
“Nanti bini Lo mau di bolehin kerja atau di suruh berhenti? Gue malas kalau harus nyuruh HRD nyari orang baru.” tanya Maxim.
“Waktu itu sih Gue bilangnya terserah dia aja, mau lanjut kerja ya silahkan atau mau berhenti juga boleh. selama belum punya anak.” Jawab Sensen.
“Lo udah mau nikah, Maxim udah ada kemajuan pasti bentar lagi ngelamar anak orang. lah nasib Gue gimana dong?” Tanya David.
“Kan ada Seina, kenapa malah mikirin nasib Lo?” Tanya balik Sensen.
David mengusap wajahnya dengan kasar, ia merebahkan tubuhnya diatas Sofa. Sementara kedua temannya duduk lesehan.
“Sebelum kesini Gue ketemu sama Seina, Gue ajak ngobrol bentar. terus Gue tanya dong, udah siap pacaran belum? Atau mau langsung Nikah?. Eh malah di jawab kalau Nikah harus nunggu sampai lulus kuliah dulu.” Jawab David.
“Benar sih kata sepupu Gue, biar fokus belajar sama pencari jati diri. Lagian Orang tuanya juga ngelarang untuk nikah muda.” Ucap Maxim.
“Kalau gitu pacaran dulu aja, Gak lama kok kuliah nya cuma tiga tahun setengah paling sebentar itu. Umur juga belum kepala tiga.” Ucap Sensen.
“Terus nanti pas udah lulus kuliah, pasti ada lagi alasan nya. Harus tinggal di Bandung ngurus perusahaan orang tuanya.” Ucap David.
“Kalau itu sudah pasti, Anak satu-satunya. Kalau mau Lo yang ngalah ikut ke Bandung.” Ucap Maxim.
“Mau kerja apa gue disana? Masa kerja di perusahaan calon mertua, terus perusahaan yang di sini gimana?” Tanya David.
“Gusur aja bawa ke Bandung.” ucap Sensen. Ia kandung pergi ke dapur saat melihat David yang akan melemparkan Toples Makanan ke arahnya.
“Nanti Lo ajak bicara lagi Seina nya, dia masih labil kalau bahas soal masalah pernikahan.” Saran Maxim menepuk-nepuk pundak David.