Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.
Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.
"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Klausa 99
"Apartemen mewah saya sudah lunas bulan lalu, Pak."
Suara Harper memotong pidato sombong Dominic dengan ketajaman pisau bedah. Dia tidak berteriak, tidak menangis, dan jelas tidak memohon. Dia hanya menatap bosnya dengan tatapan bosan yang legendaris itu.
Dominic terdiam, mulutnya sedikit terbuka. Kalimat berikutnya yang sudah dia siapkan—tentang bagaimana Harper akan mengemis di jalanan tanpa gajinya—tertelan kembali ke tenggorokan.
"Mobil saya? Lunas," lanjut Harper sambil menghitung dengan jari-jarinya yang lentik. "Asuransi kesehatan? Saya bayar premi pribadi tahunan di muka. Investasi saham? Portofolio saya hijau semua, terima kasih atas tips curian yang saya dengar saat Bapak rapat dengan pialang. Jadi, simpan ancaman kemiskinan itu untuk sekretaris magang yang Bapak pecat minggu lalu."
Dominic mengerjapkan mata. Dia merasa seperti petinju yang baru saja dipukul KO di ronde pertama oleh lawan yang bahkan tidak memakai sarung tinju.
"Kau... kau menabung?" tanya Dominic bodoh.
"Saya bekerja untuk Dominic Vance. Saya menabung untuk biaya terapi mental atau biaya kabur. Ternyata saya pakai untuk opsi kedua," jawab Harper santai. Dia melirik jam tangan mahalnya. "Jika tidak ada lagi yang ingin Bapak pamerkan, saya permisi. Kotak barang saya sudah siap di meja."
Harper berbalik badan. Gerakannya tegas, tanpa keraguan. Dia sudah memegang gagang pintu, siap menghirup udara kebebasan.
"Berhenti!"
Dominic tidak berteriak kali ini. Suaranya rendah, tapi mengandung kepuasan licik yang membuat bulu kuduk Harper berdiri. Itu bukan suara orang kalah. Itu suara orang yang baru saja menemukan kartu As di lengan bajunya.
"Satu langkah lagi kau keluar dari pintu itu, aku pastikan rekeningmu membeku dan kau punya utang satu miliar rupiah padaku besok pagi."
Harper berhenti. Tangannya masih di gagang pintu. Dia tidak menoleh, tapi bahunya menegang.
"Mengancam mantan karyawan dengan tuntutan palsu itu ilegal, Pak. Saya bisa lapor polisi."
"Siapa bilang palsu?" Dominic berjalan santai kembali ke mejanya. Terdengar bunyi laci dibuka, lalu bunyi gedebuk benda tebal yang dilempar ke atas meja. "Kembali ke sini, Harper. Baca ini. Atau kau mau kujelaskan lewat pengacara?"
Harper menarik napas panjang, memutar tumitnya, dan berjalan kembali ke meja kebesaran itu. Di sana, tergeletak sebuah map kulit hitam tebal. Kontrak kerjanya. Kontrak yang dia tanda tangani lima tahun lalu saat dia masih muda, polos, dan butuh uang cepat.
"Halaman dua belas," perintah Dominic sambil menyandarkan punggung ke kursi, kakinya kembali naik ke atas meja. Dia tampak menikmati ini. "Paragraf terakhir. Huruf kecil di bagian bawah. Yang biasanya orang malas baca."
Harper membuka map itu dengan kasar. Dia membalik halaman demi halaman sampai menemukan halaman dua belas. Matanya menyusuri baris demi baris kalimat hukum yang membosankan, sampai dia menemukan satu paragraf yang ditandai dengan stabilo kuning menyala.
Klausa 99: Protokol Transisi.
Pihak Kedua (Karyawan) dilarang mengakhiri kontrak secara sepihak sebelum mendapatkan pengganti yang kompeten. Pihak Kedua wajib melatih pengganti tersebut hingga mendapatkan PERSETUJUAN TERTULIS dan KEPUASAN 100% dari Pihak Pertama (CEO).
Pelanggaran terhadap klausa ini akan dikenakan denda penalti sebesar Rp 1.000.000.000 (Satu Miliar Rupiah) yang wajib dibayarkan secara tunai dalam waktu 2x24 jam.
Mata Harper membelalak. Dia membaca kalimat itu dua kali. Tiga kali.
"Ini gila," desis Harper. Dia mendongak menatap Dominic yang kini tersenyum lebar, senyum iblis yang sangat Harper benci. "Klausa macam apa ini? Ini perbudakan modern! Kontrak ini tidak sah!"
"Sah di mata hukum. Tanda tanganmu ada di sana, di atas materai. Kau ingat? Kau menandatanganinya sambil menangis bahagia karena aku memberimu gaji pertama di muka," sindir Dominic.
Harper meremas kertas tebal itu. Dia ingat. Lima tahun lalu, dia memang menandatangani apa saja asal bisa membayar biaya rumah sakit adiknya. Dia tidak teliti. Dia bodoh. Dan sekarang kebodohan masa lalu itu datang menggigit lehernya.
"Satu miliar, Harper," kata Dominic pelan, menikmati setiap detik kepanikan yang akhirnya muncul di wajah tenang sekretarisnya. "Kau bilang tabunganmu banyak? Cukup untuk bayar denda ini? Silakan transfer sekarang, dan kau boleh pergi."
Harper menghitung cepat dalam kepalanya. Tabungannya ada, tapi tidak sampai satu miliar. Kalau dia bayar, dia akan bangkrut total dan jadi gelandangan elit.
"Bapak menjebak saya," tuduh Harper.
"Aku mengamankan asetku. Dan kau aset terbaikku," balas Dominic tanpa rasa bersalah. Dia berdiri, merapikan jasnya yang sedikit kusut. "Jadi, pilihannya sederhana. Bayar satu miliar dan jatuh miskin, atau..."
Dominic berjalan memutari meja, mendekati Harper, lalu mengambil map itu dari tangan wanita itu. Dia menutupnya pelan.
"...atau kau tetap di sini. Lakukan tugasmu. Cari penggantimu."
"Saya akan cari," tantang Harper cepat. Matanya menyala-nyala. "Saya akan cari orang paling kompeten di dunia ini. Saya akan latih dia dalam seminggu. Lalu saya akan pergi dari sini dan tidak akan pernah melihat wajah sombong Bapak lagi."
Dominic tertawa pelan. Dia mencondongkan tubuhnya, membisikkan sesuatu tepat di telinga Harper.
"Silakan dicoba, Sayang. Tapi ingat kata kuncinya: Kepuasan 100% dari CEO."
Dominic menarik wajahnya kembali, lalu menyeringai penuh kemenangan. Matanya berkilat licik.
"Cari penggantimu, Harper. Bawa ribuan orang ke hadapanku. Tapi kalau dia tidak sempurna—kalau napasnya terlalu keras, kalau parfumnya terlalu menyengat, atau kalau dia tidak tahu cara mengikat dasi dengan kemiringan nol derajat—aku tidak akan menandatangani persetujuan itu."
Wajah Harper memucat. Dia sadar sekarang. Klausa itu bukan tentang uang. Itu adalah rantai. Dominic adalah hakim, juri, dan eksekutornya. Selama Dominic tidak bilang "puas", Harper tidak akan pernah bisa pergi.
"Kau terjebak di sini bersamaku, Harper. Selamanya."
Dominic menepuk pipi Harper pelan, dua kali, seperti menepuk pipi hewan peliharaan yang nakal.
"Sekarang, ambilkan tabletku. Kita punya perusahaan untuk dijalankan."
Harper menatap punggung Dominic yang berjalan menjauh. Tangannya mengepal begitu erat hingga kukunya melukai kulit telapak tangannya.
Oke, Tuan Vance. Kau mau main kotor? Kita lihat seberapa tahan kau dengan kotoran.
Kalo emnk km tertarik dg Harper tggal ngomong baik2 gx perlu ngrendahin org lain ,,
Dominic kasih liburan dlu deh ,,
biar fresh jiwa dn raga ny ,,
gx usah jauh2 ,,
kirim k Amazon aj laa ,,
bikin rusuh trus soalny🤭🤭🤣🤣🤣