Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur
6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.
Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fakta tak terduga
Julian membuka pintu mobilnya dengan cepat.
"Masuk," ujarnya singkat.
Dira tidak banyak bicara. Ia duduk di samping kursi sopir, tangannya menggenggam tas erat sekali. Mesin mobil menyala, lalu meluncur keluar dari area rumah sakit dengan kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya, namun tetap aman.
Sepanjang perjalanan, Dira terus mencoba menghubungi mbak Ella. Panggilan pertama tidak terangkat. Panggilan kedua baru tersambung.
"Mbak, gimana sekarang?"
"Masih panas, Dir. Badannya hangat sekali. Dia terus nangis manggil kamu."
Dada Dira terasa seperti diremas. Dia ingin menangis, tapi ada dokter Julian di sebelahnya. Tidak boleh.
"Kasih kompres dulu, ya mbak. Aku sudah di jalan."
Julian melirik sekilas ke arahnya. Pria itu bingung. Seingatnya Zora bilang Dira itu hanya dua bersaudara. Ia dan Raka. Orangtua mereka sudah tidak ada. Tapi, siapa yang menelpon dan siapa yang sakit? Kenapa wanita itu panik sekali?
"Lurus, lalu belok kanan dok." kata Dira tak sabaran.
Julian mengangguk.
"Di depan sana."
Mobilnya pun berhenti di depan gedung apartemen sederhana yang sudah sepi. Baru saja Dira turun dari mobil, ada seorang anak yang berlari keluar dari gedung apartemen itu sambil berteriak ...
"MAMAA!"
Bukan hanya Dira yang terkejut karena putranya berlari keluar dari gedung, tapi Julian juga. Dokter tampan itu kaget mengetahui fakta wanita itu punya seorang anak.
Dira berlari cepat ke Arel. Takut bocah itu terjatuh. Mbak Ella berlari mengejar di belakangnya.
"Mamaa... Hikss ..." Arel memeluk kaki mamanya dan menangis sekencang mungkin. Hati Dira rasanya sakit sekali melihat putra kesayangannya menangis seperti itu. Ia berlutut dan memeluk Arel yang terus menangis.
"Maaf Dir, aku gak bisa nahan Arel keluar. Dia terus berteriak mau cari kamu di luar." kata mbak Ella dengan wajah bersalah. Dira menggeleng kepala.
"Mama di sini sayang, ssstt ... Jangan nangis lagi. Mama udah pulang ..."
Tapi Arel terus menangis.
"Arel mimpi... Mama... Mama ninggalin Arel kayak papa ... Hikss... Mamaa ..."
Ucapan itu membuat napas Dira tercekat. Ia memeluk Arel lebih erat, seolah ingin memastikan pada bahwa ia tidak akan pergi ke mana pun.
"Mama nggak akan ninggalin Arel. Nggak pernah. Itu cuma mimpi, sayang… cuma mimpi."
Tubuh kecil itu masih gemetar. Panasnya terasa jelas di pipi Dira. Sakit sekali jadi Dira.
Julian berdiri beberapa langkah dari mereka, menyaksikan pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Entahlah, fakta Dira adalah seorang ibu membuatnya bingung sekaligus linglung.
Tiba-tiba Arel pingsan. Nafas Dira hampir berhenti karena kaget.
"Arel! Arel! Sayang, jangan nakutin mama! Arel!"
Air mata Dira jatuh. Ia menepuk-nepuk pelan pipi putranya yang kecil. Julian langsung sigap maju, mengambil alih bocah itu. Ia dokter, tentu dia tahu apa yang harus dia lakukan.
"Arel, dengar suara om, ya…" suara Julian berubah tegas dan fokus. Dira terus menyebut nama itu, tentu saja dia langsung hafal.
Pria itu merebahkan tubuh kecil Arel di lantai lobi apartemen yang cukup bersih, menopang kepala Arel dengan lengannya. Tangannya cepat memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan mungil itu.
"Masih ada nadi. Tenang," katanya cepat saat melihat Dira yang hampir limbung.
"Tapi dia nggak sadar, dok… dia nggak sadar …" suara Dira pecah.
"Demam tinggi bisa bikin anak kejang ringan atau sinkop sebentar karena syok emosional," jelas Julian sambil membuka kelopak mata Arel untuk mengecek respons pupil. Pandangannya terangkat menatap Ella.
"Tolong ambilkan handuk dan air hangat. Cepat."
Mbak Ella berlari masuk tanpa menunggu perintah kedua.
Julian mengangkat Arel dengan hati-hati.
"Kita masuk ke dalam. Jangan di sini."
Dira mengangguk cepat, meski air matanya tak berhenti mengalir. Ia membuka jalan menuju lift, jari-jarinya gemetar saat menekan tombol. Di dalam lift, suasana terasa mencekam. Tubuh Arel terkulai di pelukan Julian, wajahnya merah karena panas. Dira berdiri di samping, memegang tangan kecil putranya.
"Sayang… mama di sini… bangun ya…" bisiknya putus asa.
Begitu pintu apartemen terbuka, Julian langsung membawa Arel ke kamar. Ia membaringkannya di tempat tidur dan segera membuka kancing baju anak itu agar panas tubuhnya tidak terperangkap.
"Dira, Dira!"
Dira menatap Julian setelah sempat linglung karena Ares.
"Fokus ke aku," ujar Julian tegas saat melihat Dira hampir panik lagi.
"Ambil termometer. Kita cek ulang suhunya."
Dira menurut, tangannya masih gemetar. Termometer menunjukkan angka 39,7.
Julian menarik napas dalam.
"Kita harus turunkan suhunya sekarang."
Mbak Ella datang membawa baskom air hangat dan handuk kecil. Julian mengarahkan dengan cepat, mengompres di lipatan ketiak dan paha, bukan di dahi saja. Beberapa menit yang terasa lama sekali bagi Dira.
"Arel … sayang …" Dira menggenggam tangan putranya.
Tiba-tiba jari kecil itu bergerak pelan.
"Mama…" lirihnya hampir tak terdengar.
Dira langsung terisak lega.
"Iya sayang, mama di sini…"
Kelopak mata Arel bergetar sebelum akhirnya terbuka sedikit. Ia tampak bingung dan lemah, tapi sadar. Julian menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan.
"Oke. Dia hanya drop sebentar karena demam dan emosional. Tapi suhunya tetap tinggi. Kita beri obat sekarang."
Dira mengangguk cepat. Mbak Ella sudah menyiapkan sirup penurun panas. Julian membantu memastikan dosisnya tepat sesuai berat badan. Setelah obat diminum dan kompres terus dilakukan, wajah Arel mulai sedikit lebih tenang. Tangisnya berhenti, hanya sesekali terisak kecil dalam pelukan ibunya.
Ruangan perlahan menjadi lebih sunyi.
Julian berdiri di dekat jendela, memperhatikan Dira yang duduk di sisi ranjang, wajahnya basah oleh air mata, rambutnya berantakan, tapi tangannya tak berhenti mengusap kepala anaknya dengan lembut. Ia baru saja melihat sisi Dira yang tak pernah ia tahu. Seorang ibu yang begitu ketakutan kehilangan anaknya.
"Dia akan baik-baik saja," kata Julian akhirnya, suaranya lebih lembut.
Dira menoleh, matanya merah.
"Terima kasih, dok… kalau tadi dokter nggak ada…"
"Aku tidak menyangka kau punya anak."
Kalimat itu membuat Dira terdiam. Julian berjalan mendekat, menurunkan suaranya agar tidak membangunkan Arel lagi.
"Zora tidak tahu?"
Dira menunduk.
"Perusahaan itu tidak akan memperkerjakan karyawan yang punya anak. A-aku butuh pekerjaan itu jadi ..."
"Perusahaan macam apa itu. Lalu kenapa kau harus bekerja bukan suami ..."
Melihat wajah tertunduk Dira, Julian langsung mengerti. Dia jadi merasa serba salah. Dia tahu tidak boleh terlalu mencampuri urusan wanita itu. Mereka tidak dekat.
"Besok pagi aku akan datang lagi untuk cek. Jangan biarkan dia sendirian malam ini." katanya kemudian.
"Jangan khawatir, aku tidak akan mengatakan pada Zora tentang anakmu."
Dira mengangguk. Lalu, tanpa bisa menahan diri lagi, bahunya bergetar pelan. Semua tekanan, biaya Raka, dan ketakutan hampir kehilangan Arel, akhirnya runtuh bersamaan.
Julian melihat kerapuhan wanita itu. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak hanya merasa iba.
Ia merasa ingin melindungi.