🩸 HEI YING TUN TIAN(Bayangan Hitam Yang Menelan Langit)⚠️ Han Xuan Sang Penelan Takdir Itu Sendiri
Sinopsis:
Di kehidupan sebelumnya, ia adalah monster yang ditakuti dunia dan Dao itu sendiri.
Ia mencapai Law Devouring Realm, melahap Dao para genius, menghancurkan sekte besar, dan hampir menantang Langit itu sendiri.
Namun Langit tidak membunuhnya.
Langit menghukumnya.
Jiwanya dipecah dan dilempar kembali ke masa lalu, terlahir sebagai anak klan kecil dengan meridian retak dan akar spiritual cacat. Di mata dunia, ia hanyalah sampah kultivasi yang tak akan pernah melangkah jauh.
Mereka salah.
Tubuh barunya menyimpan Void Devouring Constitution, konstitusi terkutuk yang hanya bangkit setelah kehancuran total. Dengan ingatan penuh dari kehidupan sebelumnya, ia memilih jalan yang lebih sunyi dan lebih kejam.
Ia tidak lagi membantai secara terang terangan.
Ia membangun bayangan nya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Umpan dan Kegelapan
...Bab 4: Umpan dan Kegelapan...
Han Feng merangkak di tanah dengan wajah yang dipenuhi debu dan darah. Kesombongannya telah hancur bersamaan dengan gelombang energi yang melontarkannya.
Di depannya celah bumi itu menganga lebar memuntahkan aura kematian yang semakin pekat. Instruktur Qin dan para penatua masih terkunci dalam pertarungan sengit melawan mayat hidup leluhur beberapa puluh meter dari sana.
Han Xuan berjalan mendekat dengan langkah yang sangat ringan. Suara teriakan dan dentuman senjata menutupi kebisingan langkah kakinya. Ia berdiri tepat di belakang Han Feng yang masih terbatuk darah.
"Tuan Muda Han Feng" panggil Han Xuan pelan.
Han Feng menoleh dengan susah payah. Matanya membelalak melihat Han Xuan berdiri di sana dengan ekspresi yang sangat datar seolah-olah kekacauan di sekitar mereka tidak ada artinya. "Xuan... kau... bantu aku berdiri!"
Han Xuan berjongkok di samping sepupunya itu. Bukannya membantu ia justru mencengkeram kerah baju Han Feng dan menyeretnya lebih dekat ke tepi celah.
"Apa yang kau lakukan!" teriak Han Feng dengan suara serak. "Lepaskan aku! Dasar sampah!"
"Kau tahu Feng" ucap Han Xuan sambil menatap jauh ke dalam kegelapan di bawah sana. "Dunia ini sangat adil. Mereka yang tidak berguna harus menjadi pijakan bagi mereka yang ingin naik. Hari ini kau memiliki kegunaan yang sangat besar bagiku."
Han Xuan bisa merasakan ketakutan yang murni memancar dari tubuh Han Feng. Ia menghisap sedikit dari emosi negatif itu melalui pori-porinya merasakan sensasi dingin yang menyegarkan.
Tanpa ragu sedikit pun Han Xuan melepaskan cengkeramannya dan memberikan satu dorongan kuat pada punggung Han Feng.
"Aaaaaagh!"
Teriakan Han Feng tenggelam saat tubuhnya jatuh ke dalam kegelapan lubang makam kuno tersebut. Han Xuan segera menyusul dengan melompat turun secara terkendali menggunakan sisa Qi untuk menempel pada dinding retakan yang kasar.
Ia tidak melompat untuk bunuh diri. Ia tahu bahwa energi yang keluar dari bawah sana akan melindungi siapa pun yang memiliki Void Devouring Constitution atau mereka yang memiliki darah klan Han yang murni. Han Feng adalah umpan sekaligus perisai dagingnya.
Di bawah sana udara terasa sangat berat dan dingin. Han Xuan mendarat di atas tumpukan tulang belulang yang sudah rapuh.
Beberapa meter di depannya Han Feng tergeletak pingsan dengan kaki yang patah. Namun perhatian Han Xuan teralihkan pada sebuah altar kecil yang memancarkan cahaya ungu redup di tengah ruangan bawah tanah itu.
Di atas altar itu terdapat sebuah fragmen tulang jari yang dikelilingi oleh rantai emas yang telah berkarat.
Fragmen Law Devouring batin Han Xuan dengan jantung yang berdegup kencang.
Ini adalah alasan mengapa klan Han bisa bertahan selama ratusan tahun di wilayah terpencil ini. Mereka membangun klan di atas sisa-sisa fragmen hukum yang pernah jatuh dari langit.
Bagi orang lain ini adalah kutukan yang menyebabkan mereka menjadi mayat hidup namun bagi Han Xuan ini adalah sumber kekuatan yang tak ternilai.
Han Xuan mendekati altar itu. Namun saat ia hanya berjarak beberapa langkah sebuah suara dingin bergema di dalam kepalanya.
Siapa yang berani mengusik tidurku...
Bukan lagi bisikan jiwa-jiwa lemah yang ia telan melainkan sebuah kesadaran yang jauh lebih tua dan kuat. Sesosok bayangan transparan muncul dari fragmen tulang itu. Itu adalah sisa jiwa dari leluhur pertama klan Han.
"Seorang keturunan dengan konstitusi terlarang" bayangan itu menatap Han Xuan dengan mata yang kosong. "Kau ingin menelan hukum ini? Kau tahu harganya?"
Han Xuan tidak mundur. Ia menatap balik sisa jiwa itu dengan tatapan yang sama dinginnya. "Harga hanyalah angka bagi mereka yang sudah kehilangan segalanya. Berikan padaku atau aku akan memaksamu menghilang dari eksistensi ini."
Leluhur itu tertawa parau. "Berani sekali! Tapi tubuhmu terlalu lemah. Untuk menerima fragmen ini kau harus mengorbankan separuh dari sisa umurmu dan seluruh kemampuanmu untuk merasakan cinta selamanya. Kau akan menjadi mesin tanpa hati."
Han Xuan tersenyum tipis. Sebuah senyum yang akan membuat siapa pun yang melihatnya merasa ngeri. "Aku sudah tidak membutuhkannya sejak lama."
Ia melangkah maju dan menggenggam fragmen tulang itu dengan tangan telanjangnya.
Seketika itu juga rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya meledak di seluruh tubuhnya. Rambut hitam Han Xuan mulai memutih di beberapa bagian saat umurnya tersedot paksa. Di atas tanah seluruh kompleks klan Han bergetar hebat seolah-olah gempa bumi akan menelan seluruh gunung tersebut.
Di saat yang sama Han Feng yang tadi pingsan mulai membuka matanya. Ia melihat Han Xuan sedang bermandikan cahaya ungu yang mengerikan.
Namun ada sesuatu yang berbeda pada Han Feng. Matanya tidak lagi menunjukkan ketakutan melainkan kebencian yang begitu pekat hingga mulai mengubah aura di sekitarnya.
Tanpa disadari oleh Han Xuan fragmen hukum itu tidak hanya bereaksi padanya tetapi juga mulai merayap ke dalam tubuh Han Feng melalui luka-lukanya.
Langkah kaki dari para penatua yang mulai turun ke bawah terdengar semakin dekat dari atas sana.
Siapakah yang akan ditemukan oleh para penatua di dalam makam ini saat debu mulai mereda?
Rasa sakit itu bukan lagi sekadar fisik melainkan seperti ribuan jarum yang menjahit ulang setiap serat jiwanya. Han Xuan bisa merasakan denyut jantungnya melambat.
Setiap detik yang berlalu adalah satu bulan umur yang menguap dari tubuhnya. Di dalam batinnya ia melihat sebuah timbangan besar yang menimbang antara kekuasaan dan kemanusiaan.
Timbangan itu miring seketika.
Seluruh memori tentang wajah ibunya yang tersenyum atau kehangatan kecil dari masa kecilnya mendadak menjadi abu-abu dan hambar.
Ia tahu siapa wanita itu dalam ingatannya namun ia tidak lagi merasakan kasih sayang. Ruang di dalam hatinya yang tadinya berisi emosi manusiawi kini diisi oleh kekosongan yang dingin dan haus.
Ugh!
Han Xuan memuntahkan darah hitam yang kental. Fragmen tulang jari itu perlahan menyatu ke dalam telapak tangannya meninggalkan bekas tanda lahir berbentuk pusaran gelap di kulitnya.
[Realm: Mortal Tempering - Level 3 Puncak]
Ia hampir menyentuh ambang Qi Awakening namun ia sengaja menahannya. Jika ia menerobos sekarang ledakan energinya akan meruntuhkan seluruh makam ini dan menguburnya hidup-hidup bersama para penatua yang mulai turun.
Di sisi lain Han Feng mulai merangkak. Darah yang mengalir dari kakinya yang patah terserap ke dalam celah-celah altar. Sisa energi dari fragmen hukum yang tidak tertampung oleh tubuh Han Xuan secara tidak sengaja mengalir ke arah Han Feng.
Mata Han Feng yang tadi penuh ketakutan kini berkilat merah. Aura kematian dari makam itu justru mulai membalut luka-lukanya seolah-olah ia sedang diubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia.
Sial... resonansi darah batin Han Xuan.
Han Feng memiliki darah langsung dari garis keturunan leluhur klan Han sementara Han Xuan hanyalah keturunan dari cabang yang dianggap lemah. Meskipun Han Xuan mendapatkan inti dari fragmen tersebut Han Feng justru mendapatkan "berkat" dari amarah sang leluhur.
"Xuan..." suara Han Feng terdengar seperti dua batu yang saling bergesekan. "Aku... akan... mencabikmu..."
Han Xuan menatap sepupunya itu dengan pandangan datar. Ia ingin mengakhiri nyawa Han Feng sekarang namun ia mendengar suara teriakan Instruktur Qin yang sudah berada di lorong atas.
"Di bawah sini! Cepat!"
Han Xuan segera mengatur napasnya. Ia merobek bajunya sendiri agar terlihat seperti korban selamat yang malang. Dengan gerakan cepat ia memukul dadanya sendiri hingga memar dan berlumuran darah. Ia kemudian berbaring beberapa meter dari Han Feng pura-pura pingsan di dekat tumpukan tulang.
Beberapa detik kemudian Instruktur Qin dan Penatua Ketiga mendarat di dasar makam. Obor di tangan mereka menerangi ruang bawah tanah yang suram itu.
"Ya Tuhan... tempat apa ini?" gumam Penatua Ketiga ngeri melihat ribuan kerangka.
Pandangan Qin langsung tertuju pada dua pemuda yang tergeletak. Ia berlari ke arah Han Feng yang tampak berubah drastis dengan aura merah di sekelilingnya.
"Feng! Anakku!" teriak Penatua Ketiga yang ternyata adalah ayah Han Feng.
Ia tidak mempedulikan Han Xuan. Baginya Han Xuan hanyalah sampah yang mungkin terjatuh secara tidak sengaja. Namun Qin tetap waspada. Ia mendekati Han Xuan dan memeriksa nadinya.
"Dia masih hidup" ucap Qin pelan. "Tapi nadinya sangat kacau. Sepertinya ia terkena dampak ledakan energi dari altar itu."
Qin menatap altar yang kini kosong. Ia menyipitkan mata penuh curiga. Ia tahu ada sesuatu yang hilang namun saat ia melihat kondisi Han Feng yang tampak "membangkitkan" kekuatan leluhur ia berasumsi bahwa Han Feng-lah yang menyerap pusaka tersebut secara alami karena garis darahnya.
"Luar biasa..." gumam Penatua Ketiga sambil menggendong anaknya. "Feng telah menerima warisan leluhur secara langsung! Lihat aura ini! Ini jauh lebih kuat dari sekadar Qi biasa!"
Han Xuan yang berpura-pura pingsan mendengarkan setiap kata itu. Ia telah berhasil. Ia membiarkan Han Feng menjadi target kecurigaan dan perhatian sementara ia memegang inti kekuatan yang sesungguhnya di dalam telapak tangannya.
Namun harga yang ia bayar tetaplah nyata. Han Xuan merasakan sebuah lubang besar di jiwanya. Ia tidak bisa lagi merasa senang bahkan ketika rencananya berhasil. Dunia baginya sekarang hanyalah papan catur yang kusam.
Saat mereka mulai diangkut kembali ke atas Han Xuan merasakan tatapan tajam dari Han Feng yang setengah sadar. Han Feng tahu. Han Feng melihat apa yang dilakukan Han Xuan.
Mulai hari ini klan Han tidak akan lagi menjadi tempat yang membosankan bagi Han Xuan. Ia telah menciptakan monster untuk menutupi monster yang sesungguhnya.
Keesokan harinya berita tentang "bangkitnya kekuatan leluhur" dalam diri Han Feng menyebar ke seluruh wilayah menyebabkan ketegangan dengan sekte-sekte tetangga yang mulai merasa terancam.
Di tengah perayaan itu Han Xuan duduk sendirian di paviliunnya yang gelap menatap pusaran hitam di tangannya.
Apakah Han Xuan akan membiarkan Han Feng tumbuh menjadi ancaman atau ia akan memanen energi sepupunya itu saat waktunya tepat?
<>Cerita Bersambung
<>Han Feng...