NovelToon NovelToon
GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cintamanis
Popularitas:210.9k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.

Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.

Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.

Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.

"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"

Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam yang begitu panjang

​Aula utama Fakultas Seni Rupa malam itu disulap menjadi ruang pameran yang megah. Lampu-lampu sorot kekuningan diarahkan presisi ke deretan kanvas yang berjajar, menciptakan bayangan artistik di atas lantai kayu yang dipoles mengilap. Udara dipenuhi aroma wine, parfum mahal, dan gumaman rendah dari para kolektor seni, kritikus, serta keluarga mahasiswa yang hadir.

​Gia berdiri di samping karyanya yang paling besar, lukisan kolaborasi dengan Satria yang akhirnya selesai. Namun, perhatiannya terus teralih pada sudut ruangan yang lebih privat, tempat lukisan rahasianya yang berjudul “The Guardian” dipajang atas izin khusus Profesor Handoko. Lukisan itu tidak dijual, hanya untuk dipamerkan.

​Gia mengenakan gaun off shoulder berwarna biru dongker yang elegan, hadiah dari Ares. Rambutnya disanggul modern, memperlihatkan leher jenjangnya yang dihiasi kalung berlian pemberian mertuanya. Ia tampak seperti bintang malam itu, bukan lagi sekadar mahasiswa baru yang pemalu.

​“Gia, kau benar-benar melakukannya” Bisik Satria yang berdiri di sampingnya, mengenakan kemeja rapi yang membuatnya tampak lebih dewasa.

“Lihat orang-orang itu. Mereka tidak berhenti membicarakan teknik pisau paletmu di lukisan perak itu"

“Terima kasih, Satria. Tapi aku sedang menunggu seseorang” Gia tersenyum tipis atas pujian itu.

​“Suamimu?” Satria mendengus pelan, ada nada cemburu yang gagal ia sembunyikan.

“Dia pria yang sibuk, Gia. Jangan kecewa jika pria seperti Aresta Ardiansyah lebih memilih rapat dewan direksi daripada pameran mahasiswa”

​Tepat saat kalimat itu selesai diucapkan, pintu aula terbuka lebar. Seluruh ruangan mendadak hening. Langkah kaki yang mantap dan berwibawa menggema. Ares masuk dengan setelan jas hitam custom made yang membalut tubuh tegapnya sempurna. Di belakangnya, dua asisten pribadi mengikuti dengan jarak yang dijaga. Kehadiran sang CEO Ardiansyah Group seolah menyedot oksigen di ruangan itu semua mata tertuju padanya.

​Ares tidak menoleh ke kiri atau ke kanan. Tujuannya hanya satu. Begitu matanya menemukan Gia, garis wajahnya yang kaku melunak. Ia berjalan mendekat, mengabaikan beberapa kolektor yang mencoba menyapanya, dan berhenti tepat di depan istrinya.

​“Mas datang tepat waktu" Bisik Gia, matanya berbinar haru.

​Ares meraih tangan Gia, mengecup punggung tangannya di depan semua orang, termasuk Satria yang kini hanya bisa mematung.

“Mas tidak akan melewatkan momen di mana dunia akhirnya melihat apa yang Mas lihat setiap hari, Gia”

​Ares kemudian beralih menatap lukisan “The Guardian”. Ia berdiri diam selama beberapa menit, menyerap setiap goresan perak dan biru tua yang merepresentasikan dirinya. Keheningan Ares membuat Gia cemas, namun kemudian Ares berbisik pelan, hanya untuk telinga Gia.

“Mas tidak pernah merasa semengerti ini oleh siapapun, sampai Mas melihat lukisan ini”

​Malam pameran itu adalah malam paling membahagiakan bagi Gia. Berada di pameran itu dan bukan hanya sebagai tamu undangan melainkan menjadi salah satu seniman yang berpartisipasi di sana, adalah hal paling besar dalam hidup Gia.

Tapi kalau bukan karena Ares, bukan karena dia berdiri di sisi Ares sebagai mempelai pengganti waktu itu, Gia tidak akan pernah menjadi dirinya yang sekarang.

🌹🌹🌹

​Suasana mansion terasa begitu hening dan intim, kontras dengan keriuhan pameran tadi. Setelah malam yang melelahkan namun membahagiakan, Ares dan Gia melangkah masuk ke dalam kamar utama mereka. Pintu kamar tertutup, mengunci dunia luar dan menyisakan hanya mereka berdua dalam ruangan yang remang oleh lampu meja.

​Ares melepaskan jasnya, melemparkannya ke kursi panjang di sudut ruangan, diikuti dengan dasinya. Ia berjalan mendekati Gia yang masih berdiri terpaku di dekat tempat tidur, keanggunan gaun biru dongkernya membuat Ares terpesona.

Ares menatap istrinya dengan tatapan yang dalam, intens, dan penuh dengan rasa ingin memiliki yang sudah tak terbendung lagi.

​"Lukisan itu..." Suara Ares serak, terdengar berat di keheningan malam.

"saat kamu menunjukkan itu pada Mas, Mas sadar kalau Mas tidak bisa lagi menahan diri"

​Gia menahan napasnya, merasakan jantungnya berdebar kencang saat Ares melangkah mendekat. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh suaminya meski belum bersentuhan. Ares mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Gia dengan punggung jarinya, menelusuri garis rahangnya dengan lembut.

Ia kemudian menyelipkan anak rambut Gia ke belakang telinga, memberikan kecupan ringan di pelipisnya. Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik lembut yang membuat lutut Gia lemas.

​Ares menundukkan kepalanya, menyatukan kening mereka. Napasnya yang hangat menerpa wajah Gia, membuat aroma vanila tubuh istrinya bercampur dengan wangi maskulin dirinya.

"Malam ini, Gia" Bisik Ares, suaranya kini terdengar seperti janji sekaligus tuntutan.

"Mas ingin kamu benar-benar menjadi milik Mas. Sepenuhnya. Tanpa ada lagi keraguan"

​Gia mendongak, matanya berkilat dengan gairah dan kasih sayang yang sama besarnya. Ia mengangguk pelan, memberikan izin tanpa suara.

​Ares perlahan mendekatkan wajahnya, bibir mereka bertemu dalam ciuman yang lambat namun penuh tuntutan. Itu bukan ciuman yang tergesa-gesa.

Ares menikmatinya, menuntut lebih banyak, mengeksplorasi setiap sudut bibir Gia seolah itu adalah harta karun yang baru ia temukan. Gia membalasnya dengan intensitas yang sama, tangannya meremas kemeja bagian bahu Ares, menariknya lebih dekat.

​Ciuman itu turun ke leher Gia, membuat gadis itu mendesah pelan. Tangan Ares bergerak ke resleting belakang gaun Gia, menurunkannya perlahan. Gaun itu meluncur jatuh ke lantai, menyisakan pakaian dalam sutra yang membuat napas Ares tertahan. Ia mengangkat tubuh Gia ke dalam pelukannya, gaya bridal style, dan membawanya ke tempat tidur.

Ares menurunkan Gia dengan begitu pelan, seolah takut menyakiti istrinya itu. Tapi tatapannya tak lepas dari mata Gia. Dia terus mengunci mata coklat itu hingga Gia berbaring sempurna di atas ranjang dengan tubuhnya yang mengungkung Gia dibawahnya

Ares benar-bener memuja Gia, dia meneliti setiap inci wajah cantik Gia, mengusapnya dan menciumnya dengan begitu lembut.

Gia hanya bisa memejamkan mata menikmati sentuhan sensasional dari suaminya untuk pertama kali.

Ada rasa takut di dalam hatinya karena ini pertama kali untuknya. Tapi dia percaya pada Ares, Ares tidak akan mungkin menyakitinya. Pria itu adalah pelindung baginya. Pria itu selalu memperlakukannya dengan begitu lembut.

"Emmhhh.." Lenguh Gia saat lehernya dihisap oleh Ares. Tidak sakit sama sekali karena Ares melakukannya dengan pelan, namun itu adalah titik sensitifnya, ditambah Ares sengaja menggunakan lidahnya di sana.

Ares merasa seperti ingin meledak. Napasnya semakin berat ketika menyusuri tubuh Gia lebih dalam lagi. Tubuh kecil itu benar-benar masih begitu ranum mengingat usia Gia yang masih dua puluh tahun.

Sebenarnya Ares merasa bersalah karena harus melakukannya dengan Gia mengingat umurnya yang terpaut begitu jauh. Tapi dia tak tahan lagi, dia ingin memiliki Gia seutuhnya.

Gia hanya pasrah saat tak ada lagi kain yang menutupi tubuhnya. Mereka sudah benar-benar polos. Milik Ares juga sudah sangat siap untuk masuk ke dalam sana, memiliki Gia seutuhnya, hanya untuknya.

"Akkhhhh!" Gia memeluk kesakitan saat milik Ares menerobos dengan paksa sebuah pintu yang sangat sempit.

"Maafkan Mas sayang, ini tidak akan sakit lagi setelah ini!" Ares mengusap air mata bercampur peluh di wajah Gia.

Malam ini benar-benar menjadi malam yang panjang bagi mereka berdua. Mereka sudah menjadi suami istri yang sesungguhnya mulai malam ini. Tak ada lagi jarak, mereka benar-benar menyatu dalam peluh dan kenikmatan surga dunia.

1
Herman Lim
akhir nya sweet happy ending
Esther
lho....sudah tamat saja.
semoga ada bonchap nya.

selamat Gia dan Ares
nesha
dah tamat ea thor 🤭 akhir yang bahagia ares n gia
MamDeyh
Wiiiih udah tamat aja gk kerasa..
MamDeyh: Gasssskeuuun kak /Determined/
total 2 replies
olyv
bonchap donk thor
Hanima
Rasa nya di padat kan ya.. tau2 dah habis saja padahal masih di tunggu 🤭🙏🙏
santi.santi: iya soalnya lebaran otor pasti sibuk banget, ganti yang baru duku yaaaa🙏
total 1 replies
vitrienoor99
ya kok tamat sie kak, ditunggu ektra chapter nya
aisyah
lah kok ntek😌
Sry C'cipit Tea
nunggu ekstra part nya kak
Ceu Markonah: ok kk
total 3 replies
I Love you,
🥰🥰🥰🥰🥰🙏orang yang baik dan tidak tau dendam🙏🙏🙏🥰🥰
Nar Sih
pertemuan yg bikin haru ,antara ayah dan ank,maaf kan segala slh ayah mu gia ,biar hti tenang walau msih ada rsa sakit hati
nesha
👍🏻👍🏻
Cahaya
lanjut
Maharani Rani
lanjuttt😭😭😭
imel
songong 🤣🤣
imel
harga siapa otooor🤣🤣🤣
Hanima
Lanjut Aresss
Nar Sih
papa mu sdh menyesal gia dgn apa yg terjdi temui papa mu bljar memaaf kan biar hti mu tenang
Cahaya
lanjut
Cahaya
manja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!