Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.
Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.
Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.
Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.
Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Satu
Pagi di pesantren selalu dimulai dengan suasana yang tenang.
Udara masih terasa sejuk ketika matahari mulai naik perlahan di balik pepohonan tinggi yang mengelilingi kompleks pesantren. Suara burung bersahutan dari kejauhan, berpadu dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dari beberapa santri yang sudah duduk melingkar di serambi masjid.
Jam di dinding ruang belajar menunjukkan pukul sembilan tepat.
Seperti biasanya, sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang pesantren. Kehadirannya sudah sangat familiar bagi para santri di sana.
Arsenio turun dari mobil dengan langkah yang sedikit lebih pelan dari biasanya.
Jika biasanya ia datang dengan wajah tenang dan sikap santai, pagi ini ada sesuatu yang berbeda. Tangannya sempat merapikan kerah kemeja beberapa kali, seolah memastikan penampilannya sudah rapi.
Padahal sebenarnya bukan itu yang membuatnya gelisah. Pikirannya masih dipenuhi percakapan semalam dengan papa dan mamanya. Dan tentu saja tentang Hanin.
Arsenio menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam pesantren.
Beberapa santri kecil yang sedang menyapu halaman langsung menyapanya dengan ramah. “Assalamu’alaikum, Kak Arsen!”
“Wa’alaikumussalam,” jawab Arsenio sambil tersenyum.
Namun senyum itu terlihat sedikit kaku. Ia berjalan menuju ruang belajar kecil di samping masjid, tempat biasanya ia belajar mengaji setiap pagi.
Begitu sampai di sana, ia langsung melihat dua sosok yang sudah duduk di dalam. Hanin dan Aisyah.
Aisyah duduk santai sambil membuka mushaf, sementara Hanin duduk di sebelahnya dengan sikap yang jauh lebih tenang.
Ketika Arsenio muncul di pintu, Aisyah langsung menoleh. Senyum lebar muncul di wajah gadis itu.
“Wah,” katanya dengan nada menggoda. “Tamu tetap kita sudah datang.”
Arsenio tersenyum kecil lalu masuk ke dalam ruangan. “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab mereka berdua hampir bersamaan.
Namun jika diperhatikan dengan lebih teliti, Hanin hanya menjawab pelan sambil menunduk sedikit.
Arsenio juga sempat menatapnya sekilas sebelum akhirnya duduk di tempat biasanya. Beberapa detik ruangan itu terasa agak canggung.
Hal yang sebenarnya jarang terjadi. Biasanya Aisyah adalah orang pertama yang membuat suasana menjadi ramai dengan candaan-candaan ringannya.
Dan hari ini pun tidak berbeda. Ia memperhatikan Arsenio dari ujung kepala sampai kaki, lalu menyipitkan mata.
“Hari ini kok kelihatannya Mas beda ya.”
Arsenio mengangkat alis sedikit. “Beda bagaimana?”
Aisyah bersandar santai. “Kelihatannya… gugup.”
Arsenio langsung tersedak napas kecil. “Hah? Gugup?”
Aisyah mengangguk mantap. “Iya.”
Ia menunjuk tangan Arsenio yang sejak tadi memegang mushaf dengan posisi agak kaku.
“Itu tangan kamu dari tadi kayak orang yang mau ujian skripsi.”
Arsenio langsung menghela napas pelan. “Aisyah, kamu terlalu banyak berimajinasi.”
Aisyah tertawa kecil. “Benarkah?”
Ia lalu melirik ke arah Hanin yang sejak tadi tampak lebih banyak diam. “Kalau begitu … kenapa yang satu ini juga aneh?”
Arsenio refleks menoleh ke arah Hanin. Perempuan itu langsung menunduk lebih dalam.
Aisyah mengangkat kedua alisnya. “Nah, kan.”
Ia menunjuk mereka berdua secara bergantian. “Kalian berdua kenapa sih?”
Hanin tetap menunduk. “Kenapa?”
Aisyah menghela napas dramatis. “Biasanya kalian lumayan banyak bicara. Tapi hari ini dua-duanya jadi pendiam.”
Ia menyipitkan mata curiga. “Jangan-jangan ada sesuatu yang kalian sembunyikan?”
Arsenio langsung menjawab cepat. “Tidak ada.”
Hanin hampir bersamaan berkata, “Tidak ada apa-apa.”
Jawaban yang terlalu kompak itu justru membuat Aisyah semakin curiga.
Beberapa detik ia menatap mereka berdua bergantian. Lalu akhirnya ia tersenyum lebar. “Hmm.”
Arsenio mengerutkan kening. “Kenapa?”
Aisyah menggeleng santai. “Tidak apa-apa.”
Namun senyum nakalnya tidak hilang. “Cuma menarik saja.”
Arsenio memilih tidak menanggapi lagi. Ia membuka mushaf di tangannya lalu berkata, “Kita mulai saja belajarnya.”
Aisyah terkekeh kecil. “Baiklah, Mas Arsen.”
Pelajaran mengaji pun dimulai seperti biasa. Namun, bagi Arsenio, pagi itu terasa jauh lebih sulit untuk berkonsentrasi.
Beberapa kali ia salah membaca harakat yang sebenarnya sangat sederhana. Setiap kali itu terjadi, Aisyah hanya tersenyum kecil.
“Hari ini benar-benar gugup,” gumamnya pelan.
Arsenio hanya bisa menghela napas. Sementara itu, Hanin juga tampak tidak jauh berbeda.
Biasanya ia cukup aktif membenarkan bacaan Arsenio dengan suara lembut. Tapi pagi ini ia hanya berbicara seperlunya saja.
Tatapannya lebih sering tertuju pada mushaf di tangannya. Aisyah yang memperhatikan semua itu akhirnya semakin yakin, ada sesuatu yang terjadi di antara mereka.
Namun ia memilih tidak menanyakan lagi. Setidaknya untuk saat ini.
Waktu berjalan cukup cepat. Tanpa terasa hampir satu jam berlalu.
Ketika pelajaran mengaji selesai, Arsenio menutup mushafnya dengan pelan. Ia sempat menghela napas kecil.
Entah kenapa dadanya terasa lebih tegang dari biasanya. Baru saja ia hendak berdiri, seorang santri kecil muncul di depan pintu.
“Kak Hanin.”
Hanin menoleh.
“Ustaz Hamid memanggil Kak Hanin dan Kak Arsenio.”
Arsenio langsung menoleh cepat. “Sekarang?”
Santri kecil itu mengangguk. “Iya.”
Aisyah langsung bersandar dengan ekspresi penuh arti. “Wah.”
Ia menatap mereka berdua dengan senyum lebar. “Dipanggil berdua.”
Arsenio hanya menatapnya sekilas. “Jangan mulai lagi.”
Aisyah tertawa pelan. “Ya sudah, ya sudah.”
Hanin berdiri dengan tenang. “Baik. Terima kasih.”
Santri kecil itu langsung pergi lagi. Beberapa detik kemudian, Hanin dan Arsenio berjalan menuju ruang kerja Ustaz Hamid. Langkah mereka pelan.
Dan entah kenapa suasana di antara mereka kembali menjadi sedikit canggung. Arsenio sempat melirik Hanin sekali.
Perempuan itu berjalan dengan tenang seperti biasa. Namun, dari cara ia menggenggam ujung kerudungnya, terlihat bahwa ia juga sedikit gugup.
Akhirnya mereka sampai di depan pintu. Hanin mengetuk pelan.
“Silakan masuk.” Suara Ustaz Hamid terdengar dari dalam.
Mereka berdua masuk. Ruangan itu sederhana, seperti biasanya. Rak buku memenuhi salah satu sisi dinding, sementara meja kayu besar berdiri di tengah.
Ustaz Hamid duduk di kursinya dengan wajah yang tenang. “Silakan duduk.”
Mereka berdua menurut. Beberapa detik tidak ada yang berbicara. Arsenio merasa detak jantungnya semakin cepat.
Ustaz Hamid akhirnya menatap Arsenio. “Kemarin kamu datang ke sini dengan satu niat.”
Arsenio mengangguk pelan. “Iya, Ustaz.”
Ustaz Hamid melanjutkan dengan suara tenang. “Saya sudah membicarakan hal itu dengan Hanin.”
Kalimat itu membuat Arsenio tanpa sadar menahan napas. Ia melirik sekilas ke arah Hanin. Perempuan itu tetap menunduk.
Ustaz Hamid berkata lagi, “Dan setelah kami mempertimbangkannya dengan baik .…”
Beliau berhenti sebentar. “Lamaranmu diterima.”
Beberapa detik Arsenio benar-benar tidak bergerak. Seolah otaknya butuh waktu untuk mencerna kalimat itu.
“Diterima …?”
Ustaz Hamid mengangguk pelan. “Iya.”
Ada sesuatu yang langsung terasa hangat memenuhi dada Arsenio. Ia menatap Hanin dengan sedikit tidak percaya.
Ustaz Hamid lalu menoleh pada gadis itu. “Hanin.”
Perempuan itu mengangkat wajahnya perlahan. “Benarkan kamu bersedia menerima lamaran Arsenio?”
Ruangan itu kembali hening. Hanin tidak langsung berbicara. Ia hanya menunduk sedikit lalu mengangguk pelan. “Iya, Ustaz.”
Jawaban itu sederhana. Namun, cukup membuat Arsenio merasa seperti beban besar tiba-tiba terangkat dari dadanya.
Senyum bahagia langsung muncul di wajahnya. Ia bahkan sempat tertawa kecil, seperti seseorang yang baru saja mendapatkan kabar terbaik dalam hidupnya.
“Terima kasih,” ucapnya tulus.
Ia lalu menatap Ustaz Hamid. “Kalau begitu … besok saya akan membawa kedua orang tua saya ke sini.”
Ustaz Hamid mengangguk. “Silakan.”
Arsenio menoleh lagi ke arah Hanin. “Aku akan datang bersama papa dan mama untuk melamarmu secara langsung.”
Hanin tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan. Namun kali ini, ada senyum kecil yang sempat muncul di wajahnya.
Percakapan di ruangan itu tidak berlangsung terlalu lama. Setelah beberapa hal dibicarakan, Ustaz Hamid akhirnya berkata dengan tenang,
“Kalau begitu, cukup untuk hari ini.”
Arsenio berdiri lebih dulu. “Terima kasih, Ustaz.”
Hanin juga berdiri. Mereka berdua lalu berpamitan.
semoga bahagia selalu..
masak orang hidup minta do'a sama yg udah almarhum, Pak Ustadz lihat author ini Pak Ustadz... 🤭
GK usah bikin huru hara...
lah.... ribet bgt....
up LG thor