Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menanam ....
Udara di desa masih terasa lembap oleh sisa embun semalam. Cahaya matahari yang menyeruak di balik dahan-dahan pohon jati tampak seperti pilar-pilar emas yang menembus kabut tipis. Di ujung desa, di halaman mushola tua yang selama ini terlupakan, Budi sudah menyingsingkan lengan baju nya yang berwarna putih gading. Di tangannya terdapat sebuah cangkul kecil dan beberapa bibit tanaman yang ia beli dari pasar kecamatan kemarin sore.
Budi memiliki keyakinan bahwa tempat ibadah tidak hanya harus bersih secara fisik, tetapi juga harus indah dipandang mata agar hati siapa pun yang datang merasa tenang. Ia mulai mencangkul tanah di sisi kanan jalan setapak menuju pintu mushola. Dengan telaten, ia menanam beberapa rumpun bunga tapak dara berwarna merah muda dan putih. Baginya, merawat mushola adalah bentuk pengabdian tertingginya setelah kehilangan kedua orang tuanya. Ia ingin setiap tetap keringatnya menjadi saksi bahwa ia mencintai rumah Tuhan ini.
"Paman," ucap Budi saat Pak Lurah datang berkunjung pagi itu untuk melihat perkembangan keponakannya. "Budi punya rencana kecil. Di pojok sana, di bawah pohon kamboja itu, Budi ingin membuat kolam kecil. Tidak perlu mewah, cukup kolam semen sederhana dengan pancuran air dari bambu. Nanti suaranya akan gemericik, membuat suasana mengaji jadi rindang dan sejuk. Di sekelilingnya kita tanami pandan wangi dan melati."
Pak Lurah mengangguk-angguk, mengisap rokoknya perlahan sambil menatap bangunan kayu yang kini tampak jauh lebih hidup itu. "Ide bagus, Budi. Paman setuju. Apa pun yang kamu butuhkan untuk kolam itu, bilang saja pada Paman. Nanti Paman suruh Pak Minto membelikan semen dan pasirnya."
Meskipun Pak Lurah sangat mendukung dan bangga pada bakat keponakannya, hatinya sendiri masih terasa berat. Ada semacam dinding tak kasat mata yang menghalanginya untuk ikut bersujud di dalam sana. Ia merasa terlalu kotor, atau mungkin terlalu sibuk dengan urusan administrasi desa yang kian rumit sejak Mirasih menjadi donatur utama. Ia memberikan dukungan materi, namun raganya masih enggan melangkahkan kaki untuk sholat berjamaah. Ia masih menjadi penonton dari perubahan yang dibawa Budi.
" Paman ke balai desa sebentar,Bud.Kamu lanjutlah dengan kesibukanmu itu,kalau sudah pulang makan lagi."
" Baik Paman," jawabnya sopan.
Budi melanjutkan pekerjaannya. Ia berjongkok, jemarinya yang bersih kini belepotan tanah hitam saat ia merapikan akar-akar bunga tapak dara. Ia bersenandung pelan, melantunkan sholawat Nabi yang nadanya menari-nari ditiup angin pagi.
Tiba-tiba, suara derit rantai sepeda yang agak kendur terdengar mendekat. Krieeek... krieeek... kring!
Siti, adik Aditya, sedang mengayuh sepedanya menuju sekolah. Seperti biasa, ia mengambil jalan pintas melewati mushola tua itu. Namun, pagi ini langkah kakinya terhenti secara spontan. Matanya menangkap sosok pemuda yang belum pernah ia lihat sebelumnya di desa ini.
Pemuda itu tidak seperti Agus anak juragan material yang selalu pamer motor, atau Herman yang bermulut manis. Pemuda ini tampak sangat bersahaja. Kulitnya kuning langsat, wajahnya bersih dengan raut yang tenang, dan ada pancaran ketulusan saat ia menatap tanaman di depannya. Siti merasa ada sesuatu yang berdesir di dadanya—sebuah perasaan asing yang membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Ia turun dari sepedanya dan menuntunnya pelan mendekati halaman mushola.
"Permisi, Mas..." puji Siti dengan suara yang sedikit malu-malu.
Budi mendongak, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang tidak terkena tanah. Ia tersenyum ramah, sebuah senyuman yang sangat sopan dan menjaga pandangan. "Iya, Dik. Ada yang bisa saya bantu?"
Siti tertegun sejenak. Suara pemuda itu lembut dan tertata. "Anu... Mas ini siapa ya? Sepertinya saya baru lihat di desa ini. Dan... sedang apa Mas di sini?"
Budi berdiri, membersihkan tangannya dengan kain lap yang tergantung di pinggangnya. "Saya Budi, keponakannya Pak Lurah. Baru beberapa hari ini tinggal di sini. Ini, saya sedang menanam bunga supaya musholanya tidak terlihat gersang. Biar nanti kalau ada yang datang ibadah, hatinya jadi senang."
Siti mengangguk-angguk, matanya tak lepas dari wajah Budi. Di usia pubernya, Siti yang biasanya cuek mendadak merasa sangat sadar akan penampilannya sendiri. Ia merapikan kerudung putih sekolahnya yang sedikit miring.
"Oh, jadi Mas Budi yang membersihkan mushola ini sendirian?" tanya Siti dengan nada kagum yang tak tertutup-tahu.
"Bantu-bantu saja, Dik. Oh iya, kalau Dik siapa namanya?" tanya Budi balik.
"Saya Siti, Mas. Rumah saya di ujung sana, dekat persawahan," jawab Siti, pipinya mulai merona merah.
Budi mengangguk paham. "Siti... nama yang bagus. Dik Siti, kalau sore tidak ada kegiatan, mampirlah ke sini. Saya rencananya mau buka kelas mengaji untuk remaja dan anak-anak. Tapi..." Budi menjeda kalimatnya, menatap Siti dengan bijak. "Kalau nanti mau datang, ajak Ibu atau Bapak ya? Atau teman-teman yang banyak. Supaya tidak jadi fitnah kalau kita belajar di sini, apalagi tempatnya agak sepi."
Siti merasakan hatinya seperti terbang ke awan. Perkataan Budi yang sangat menjaga sopan santun itu justru membuatnya semakin jatuh hati. Di matanya, Budi bukan sekadar pemuda tampan, tapi laki-laki yang punya prinsip dan sangat menghormati wanita.
"I-iya, Mas Budi. Kebetulan Ibu juga sering bilang kalau kangen suara orang mengaji. Nanti Siti sampaikan ke Ibu, Siti mau ajak Ibu ke sini sore-sore," jawab Siti dengan semangat yang meluap-luap.
"Alhamdulillah. Saya tunggu ya, Dik Siti. Hati-hati berangkat sekolahnya, nanti terlambat," ucap Budi sambil kembali berjongkok untuk melanjutkan menanam.
"Nggih, Mas Budi! Pamit dulu ya!" seru Siti.
Ia segera menaiki sepedanya kembali. Kali ini, kayuhannya terasa sangat ringan seolah-olah sepedanya punya sayap. Di sepanjang jalan menuju sekolah, Siti tidak bisa berhenti tersenyum. Bayangan wajah Budi dan ajakannya untuk mengaji terus berputar-putar di kepalanya. Ia merasa hari ini adalah hari paling indah dalam hidupnya.
Siti benar-benar sedang dilanda virus merah jambu masa puber. Baginya, Budi adalah sosok yang sempurna—kontras dengan keadaan di desanya. Kehadiran Budi seolah menjadi pelangi baru dalam hidupnya yang sederhana.
Sementara itu, Budi terus menanam dengan hati yang lapang. Ia tidak menyadari bahwa percakapan spontan nya dengan Siti telah menanamkan benih lain di hati gadis itu. Budi hanya berharap, melalui Siti, satu keluarga lagi akan kembali ke jalan mushola.
Ia menatap bibit bunga tapak dara yang baru ia tanam. "Semoga kau tumbuh subur, seperti iman yang ingin aku tanam di desa ini," bisiknya pelan.
Siti sampai di sekolah dengan hati yang berbunga-bunga, mengabaikan segala gosip tentang Doni yang biasanya menjadi topik utama di kelas. Baginya, satu senyuman dari Budi jauh lebih berharga daripada seluruh kegantengan dan pujian yang melulu dia dengar tentang Doni. Ia sudah tidak sabar untuk pulang dan merayu Mak Inah agar mau menemaninya ke mushola sore nanti.
membawa Ningsih ke desa adalah
kehancuran mu
sampai kapan kau biarkan keadaan bgini
bahkan kau pun tak kan bisa membawa Mirasih kembali menemukan jiwa nya yg tergadai iblis
menarik kembali Mirasih yg dlu Aditya
selama kemewahan dari iblis dinikmati Mirasih yg dgn sukarela menggadaikan nyawa nya
semua kepalsuan itu di tanganmu sendiri Mirasih ...
mata hati mu tertipu iblis yg dulu kau benci
jodoh ngga ya sama mas Budi
kabut ghoib genderuwo tak akan membiarkan Mirasih lepas darinya
mungkin kah Budi penawar luka Mirasih setelah kehilangan Aditya