NovelToon NovelToon
From Turis To Will You Marry Me

From Turis To Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ws. Glo

David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Episode 23) Pengganti malam pertama

"Tentu saja menghabiskan malam pertama yang sempat tertunda, dengan istriku tercinta."

Perkataan tersebut seketika membuat Laila merinding sebadan-badan. Terlebih dikala David menunjukkan senyum genit, dengan kimono tidur yang memperlihatkan dada bidangnya itu. Ia bak serigala yang hendak menerkam mangsa.

Laila segera menutup bagian tubuhnya yang sensual dengan kedua tangan yang berpencar. Ia mengatakan, "Malam pertama apaan? Kita kan cuman pasangan kontrak. Jangan berpikir macam-macam."

Pipi Laila memerah menahan malu, karena penampilannya yang lebih vulgar dari David.

David melebarkan seringainya. Bahkan tangannya mengangkat dagu Laila. Menatap intens bibir indah itu sembari berkata, "ini juga termasuk bagian dari kontrak kita, Laila."

Deggg.

Laila menelan kasar ludahnya. "Entah benar begitu ataupun tidak, aku tetap tak mau berbagi ranjang denganmu," ucapnya dengan ekspresi teguh.

David memang sudah memprediksi jikalau Laila akan berkata demikian. Namun tak tahu kenapa, melihat Laila mengatakan hal tersebut dengan raut wajah seperti itu membuat ia sedikit kesal, dan mendadak hasratnya menghilang begitu saja.

"Apa kau membenciku?" lirih David menelusuri makna dibalik mimik wajah Laila.

Laila tidak menjawab. Ia mengalihkan matanya dari tatapan David. Karena sebenarnya, ia masih bingung terhadap perasaannya dengan David.

Ya, pria itu kadang menjengkelkan. Tetapi seringkali dia bersikap hangat, layaknya seseorang yang penuh kasih sayang.

Itulah sebabnya, Laila lebih memilih untuk tidak memberikan jawaban atas pertanyaan David.

"Haaah," David menghela nafasnya panjang. Ia lantas melepas cengkramannya dari dagu Laila.

"Menjinakkannya memang masih butuh waktu yang lama," batin David yang tidak lama kemudian tersenyum samar.

"Mari kita lihat, sejauh mana imannya akan bertahan." David pun duduk disebelah Laila

"Baiklah.. Baiklah. Maafkan aku. Tadi itu aku cuman bercanda."

Laila tersentak. "Cih," decihnya kesal. Ia melipat tangannya di dada.

"Bercanda apanya? Aku merasa, dia kaya mau mengigit bibirku," batin Laila menggerutu.

"Aku sebenarnya mau memberimu ini," ujar David mengulurkan sebuah kotak berukuran sedang yang sedari tadi berada dalam genggamannya.

Laila menatap kotak itu. "Apa ini?"

"Lebih baik cari tahu sendiri," balas David meletakkan kotak itu ke telapak tangan Laila.

Perlahan-lahan, Laila membuka kotak yang langsung memancarkan sinar itu. Matanya membulat lebar, "kartu ATM?"

"Tapi kenapa warnanya emas?" tanya Laila memiringkan kepala.

Tawa David menggema. Laila semakin jengkel dibuatnya.

"Ini bukan kartu ATM, sayang." Lirih David menjelaskan lalu mengambil kartu tersebut dan mengutarakan, "this is golden card. Sebuah kartu dengan limit yang tak terbatas."

"Kau bisa membeli apa saja yang ada di Sao Paulo dengan kartu ini, tanpa takut isinya akan habis." Nada bicara David melembut. Begitupun dengan tatapan dan aura yang dipancarkannya.

Laila ternganga. Cepat-cepat ia menghentakkan dirinya dari rasa kagum, "kenapa anda memberiku kartu sehebat ini?"

"Karena," wajah David berubah serius. "Limit tak terbatas dari golden card ini, sama seperti rasa cintaku padamu yang takkan pernah luntur ataupun lekang oleh waktu."

"Uhuk...uhuk," mendengar ucapan David dengan wajah setulus itu, membuat Laila tersedak. Ia tiada menduga kalau kalimat yang bagaikan gombalan tersebut, terlontar dari mulut pria mematikan di Sao Paulo, David Mendoza.

"Dari mana dia dapat kata-kata begitu? Apa dia sering menonton drama Korea?" batinnya, terbengong dalam hati.

"Kau kenapa?" tanya David mengerutkan kening.

Laila menggeleng, "ti--tidak apa-apa. Tadi aku mau batuk. Tapi tidak jadi."

David mengangguk. "Ohh," ia sontak beranjak dari ranjang.

"Kau harus menggunakan kartu itu. Anggap saja sebagai hadiah resepsi pernikahan kita. Bila kau tidak memakainya dengan sebaik mungkin, maka siap-siap saja untuk aku cium dari kepala sampai ujung kaki." Titah David penuh penekanan seolah tidak dapat diganggu-gugat. Sehingga bulu kuduk Laila pun kian meremang.

"Lagi-lagi dia mengucapkan kalimat yang sesarkas itu," batin Laila memeluk dirinya sendiri.

"Kalau begitu, aku mau kembali ke kamarku. Istirahatlah. Di luar hujan. Suasananya agak dingin. Lebih baik matikan saja ACnya. Karena besok, ada pertemuan yang harus kita datangi berdua. Kau jangan sampai sakit." Pinta David dengan nada bicara dan wajahnya yang berubah datar.

Ia lantas berbalik pergi. Namun belum beberapa langkah kakinya mengalun, suara sambaran petir menggema dengan sangat keras disertai kilatan yang amat menyeramkan.

Jederrrrrr.

"Kyaaaa!" Laila tersentak kaget. Tanpa tersadar, ia berlari ke arah David dan dengan spontan merengkuh pinggang pria itu dari belakang.

Deggg.

David terpaku. Ia merasakan pelukan Laila yang hangat namun gemetar, melilit tubuh kekarnya. "Kau..."

Belum sempat perkataan itu terucap, Laila menyelanya. "Jangan pergi!

Rengkuhan tersebut semakin erat. Laila menutup ratap kedua matanya. Sedangkan David? Tentu saja, senyum tengil merekah di ujung bibirnya.

David berdehem. "Tadi katanya, tidak mau berbagi ranjang. Sekarang, kau malah bilang jangan pergi? Apa maksudnya? Pake meluk-meluk segala lagi."

Laila tidak peduli. Sebab rasa takut lebih mendominasinya daripada harga diri. Karenanya, David semakin menjadi-jadi.

Ia berpura-pura hendak melepas tangan Laila, "aku akan memanggil Mia."

"Jangan!" Seru Laila dengan mata yang belum sama sekali terbuka. Ia tidak membiarkan David menepis lilitan tangan mungilnya.

"Mia sedang tidak disini. Dia pulang kampung kemarin. Ibunya sakit. Mia baru kembali, lusa nanti..." lanjutnya dengan suara lirih.

"Ya aku tinggal panggil pelayan lain," timpa David memajukan langkah, berlagak sok tidak mau dan jual mahal. Padahal hatinya menginginkan sebaliknya.

Laila mencegahnya lalu menyampaikan, "pelayan lain kan tidur di paviliun belakang. Dan jaraknya sangat jauh dari sini. Kalau anda kesana..."

Suaranya kian menyendu. "Aku akan sendirian untuk jangka waktu yang lumayan lama."

"Aku benar-benar takut terhadap kilat petir. Jadi kumohon..." Laila berusaha menahan gengsinya, daripada dia tidur dibawah hambaran halilintar yang menakutkan ditengah kegelapan malam. "...untuk malam ini saja. Anda tetaplah disini."

"Anda bisa pergi setelah petirnya tidak lagi berbunyi," keluh Laila memasrahkan diri. Terserah David mau menganggap pendiriannya yang plin-plan itu bagaimana.

Yang jelas, Laila bersungguh-sungguh atas pernyataan bahwa petir adalah ketakutan terbesarnya. Jika dulu saat bersama Dio, pasti pria itu langsung mendekapnya erat dalam pelukannya. Mengatakan hal-hal baik, seraya mengelus manja punggung Laila.

Situasi sekarang berbeda. David bukan suaminya yang sesungguhnya. Dia hanya pria yang mengikat dirinya dengan kontrak pernikahan, karena pinjaman lima ratus juta rupiah.

Yang Laila tahu, tidak ada cinta diantara mereka meski telah banyak waktu yang dilalui bersama.

Sesaat, David tersenyum puas akan penuturan Laila. Ia baru tahu, kalau wanita itu punya ketakutan yang unik. Secepat kilat, David merubah raut wajahnya.

"Huh, yasudah." Ucap David pada akhirnya.

Malam semakin berkuasa. Rintikan hujan deras pun menghantam kediaman Mendoza, bersama dengan semburan petir yang menyambar bagaikan terompet perang.

Di dalam kamar luas itu, Laila dan David merebah di atas kasur dengan guling ditengahnya, bagaikan garis mutlak yang membatasi wilayah kekuasaan mereka.

"Ukkhh," Disela-sela derasnya hujan, Laila tampak bergolak-golek ke kiri dan kanan. Ia berkali-kali melenguh kasar. Wajahnya suram dan keningnya mengerucut, pertanda ada ketidaknyamanan dalam dirinya. Suara petir yang bergemuruh mengganggu lelapnya. Padahal dia sudah sangat mengantuk.

"Tidak bisa tidur?" bisik David membalikkan badannya, menghadap Laila.

Laila menatapnya dalam diam, sejenak. Lalu dengan wajah yang murung, ia mengangguk pelan.

Walau tanpa berkata apapun, David mengerti keresahan wanita itu.

Jedarrrr.

Lagi-lagi suara petir menyeruak.

"Akkkk!" Laila reflek berteriak. Tubuhnya ikut bergetar karena efek dari keterkejutannya.

Tetapi sentuhan tangan hangat milik David, membalut kedua telinganya.

Seakan melangkahi batas yang telah diberikan, tangan kekar itu mengalun lembut menapaki telinga Laila.

Laila terperangah. Namun kemudian, perkataan David melengahkan dia.

"Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Ada aku disini," lirih David dengan tangannya yang menangkup telinga Laila, bagaikan perisai pelindung dikala mengahadapi perang.

"Kau tinggal tutup mata, sambil memikirkan hal-hal yang baik. Setelah itu kau pasti akan tertidur nyenyak. Percayalah padaku."

Seperti obat tidur, Laila yang semula kaku kembali memejamkan kedua mata. Mengikuti arahan David dengan memikirkan hal-hal baik. Sehingga tiada terasa, ia yang awalnya cuman melamun dalam pikiran tiba-tiba tenggelam dalam tidur lelap.

"Selamat tidur Laila," David tersenyum lega. Tanpa permisi, satu kecupan manis mendarat di kening Laila dengan sempurna dan penuh cinta.

Chuuup.

Begitulah mereka melalui malam pertama, setelah melewati satu hari yang membosankan dan amat melelahkan. Bagaimana kelanjutan hubungan mereka?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!