NovelToon NovelToon
Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pelakor jahat / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Duda / Berbaikan
Popularitas:89.8k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.

​Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:

​"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."


​Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Target Paling Lemah

​​"Bajingan! Hanggara benar-benar sudah gila!"

​Kalandra membanting ponselnya ke sofa, lalu menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menonjol seperti mau pecah. Napasnya memburu, seolah oksigen di penthouse mewah itu mendadak habis.

​Zoya yang masih duduk di kursi dapur segera bangkit. Dia menyambar ponsel Kalandra sebelum benda mahal itu meluncur jatuh ke lantai.

​"Tenang dulu, Mas. Panik nggak akan nyelesein masalah," ucap Zoya tegas, meski tangannya sendiri mencengkram erat tepi meja marmer. "Papa bilang apa lagi tadi? Di mana kejadiannya?"

​"Di depan Salon Martha. Salon langganan Mama," jawab Kalandra dengan suara bergetar menahan amarah. "Mama baru selesai creambath. Sopirnya nunggu di lobi, tapi pas Mama keluar, ada van putih nyegat. Sopirnya dipukul pakai linggis. Mama diseret masuk kayak karung beras."

​Kalandra meninju tembok di sampingnya. Bugh!

​"Dia tahu aku jaga ketat kamu di sini. Dia tahu dia udah nggak bisa nembus sistem keamanan penthouse ini," desis Kalandra. "Makanya dia cari target empuk. Dia incar Mama karena Mama nggak pernah mau dikawal. Mama merasa aman karena dia istri Jenderal."

​Zoya menggigit bibir bawahnya. Rasa bersalah kembali merayap di dadanya. Ibu mertuanya—wanita sosialita yang cerewet, hobi pamer tas, dan selalu menyuruh Zoya cepat hamil—kini dalam bahaya karena dirinya. Karena Hanggara menginginkan Zoya.

​"Kita harus ke kantor polisi sekarang. Kita lacak plat nomor van itu," ajak Zoya, menarik lengan Kalandra.

​Belum sempat Kalandra menjawab, ponsel di tangan Zoya berdering nyaring.

​Bukan panggilan suara biasa. Itu permintaan panggilan video.

​Nomornya tidak dikenal. Kode area luar negeri.

​Zoya dan Kalandra saling pandang. Hening sejenak yang mencekam menyelimuti ruangan.

​"Itu dia," bisik Zoya.

​Kalandra menyambar ponsel itu dari tangan Zoya. Jarinya gemetar saat menekan tombol hijau.

​Wajah Hanggara tidak muncul di layar.

​Yang muncul adalah pemandangan sebuah ruangan suram dengan dinding beton yang lembap dan berlumut. Cahaya hanya berasal dari lampu gantung tunggal yang berayun pelan, menciptakan bayangan mengerikan.

​Di tengah ruangan itu, ada sebuah kursi roda tua yang berkarat.

​Dan di atas kursi roda itu, duduk seorang wanita paruh baya dengan gaun sutra mahal yang kini kusut dan kotor. Rambutnya yang biasa disasak tinggi ala nyonya pejabat kini acak-acakan.

​"Mama!" teriak Kalandra.

​Wanita itu—Nyonya Dirgantara—terikat kuat di kursi roda. Tangan dan kakinya dililit lakban hitam. Mulutnya disumpal kain dan direkatkan lakban tebal. Matanya terbelalak lebar, penuh air mata dan ketakutan yang luar biasa. Dia mencoba berteriak saat mendengar suara anaknya, tapi hanya suara mmmphhh! tertahan yang keluar.

​"Ma! Mama denger Kalan?!" Kalandra mendekatkan wajahnya ke layar, seolah ingin menembus kaca ponsel itu.

​Kamera bergeser sedikit. Sebuah wajah muncul dari kegelapan di belakang kursi roda.

​Hanggara.

​Pria itu tersenyum lebar, senyum psikopat yang membuat darah siapa pun membeku. Dia memakai jas dokter putih yang bersih, kontras dengan lingkungan kumuh di sekitarnya. Di tangannya, dia memegang sebuah jarum suntik besar berisi cairan berwarna hijau keruh.

​"Halo, Komandan Kalandra. Halo, Dokter Zoya," sapa Hanggara santai, seolah sedang menyapa tetangga. "Maaf ya, aku pinjam ibumu sebentar. Habisnya, istri cantikmu susah sekali diajak main. Dikurung terus di menara gading."

​"Hanggara, dengar gue baik-baik!" bentak Kalandra, suaranya menggelegar. "Kalau lo sentuh sehelai rambut pun dari nyokap gue, gue pastikan lo mati pelan-pelan! Gue bakal potong tangan lo inci demi inci!"

​Hanggara tertawa renyah. Dia menepuk pelan bahu Mama Kalandra, membuat wanita itu tersentak ketakutan.

​"Ancaman kosong, Komandan. Kamu tidak dalam posisi untuk menawar," ejek Hanggara. Dia mengetuk-ngetuk tabung suntikan itu dengan jari telunjuknya. "Lihat ini? Ini bukan vitamin C. Ini racun neurotoksin racikanku sendiri. Campuran bisa ular dan sedikit potassium chloride. Sekali suntik, jantung nyonya besar ini akan berhenti berdetak dalam sepuluh detik. Tanpa rasa sakit... yah, mungkin sedikit kejang."

​"Jangan!" Zoya yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. Dia merebut posisi di depan kamera. "Hanggara, urusanmu sama aku. Jangan bawa orang lain. Ibunya Kalandra nggak tahu apa-apa!"

​Mata Hanggara berbinar melihat wajah Zoya. "Ah, akhirnya sang primadona bicara. Kamu terlihat segar, Zoya. Tidur nyenyak semalam?"

​"Apa maumu?" tanya Zoya dingin, memotong basa-basi busuk itu.

​"Kamu tahu apa mauku," jawab Hanggara. Wajahnya berubah serius, tatapannya tajam menusuk. "Aku mau kamu. Hidup-hidup. Utuh."

​Hanggara mendekatkan jarum suntik itu ke leher Mama Kalandra. Ujung jarum yang tajam sudah menyentuh kulit keriput wanita itu. Mama Kalandra memejamkan mata, air matanya mengalir deras membasahi lakban di mulutnya.

​"Satu jam," ucap Hanggara datar.

​"Apa?" Kalandra membelalak.

​"Aku beri kalian waktu satu jam. Bawa Zoya ke Pabrik Boneka lama di kawasan industri pinggiran kota. Gedung paling ujung yang atapnya runtuh. Kalian tahu tempatnya, kan? Dulu itu tempat favorit anak-anak jalanan sebelum terbakar."

​"Satu jam nggak cukup! Itu di ujung kota!" protes Kalandra panik.

​"Kalau begitu ngebutlah, Komandan. Pakai sirene polisi kebanggaanmu itu," cibir Hanggara. "Tapi ingat satu hal. Datang sendiri. Hanya kalian berdua. Kalau aku lihat ada mobil polisi lain, atau helikopter, atau bahkan tukang bakso yang bawa walkie-talkie..."

​Hanggara menekan ujung jarum itu sedikit, membuat setitik darah muncul di leher Mama Kalandra.

​"Mmmphhh!!" Mama Kalandra meronta histeris.

​"Maka Nyonya Besar ini akan jadi mayat. Paham?"

​"Hanggara, tunggu! Kita bisa bicara—"

​Klik.

​Sambungan video terputus. Layar ponsel menjadi gelap.

​Kalandra membeku. Dia menatap layar hitam itu dengan tatapan kosong selama sedetik, sebelum realita menghantamnya kembali. Ibunya ada di ujung jarum suntik.

​"Satu jam..." gumam Kalandra. Dia menoleh ke arah Zoya. Tatapannya penuh dilema yang menyakitkan. Dia mencintai ibunya, tapi dia juga sudah bersumpah melindungi istrinya. Dan sekarang, bajingan itu memintanya menukar satu nyawa dengan nyawa lain.

​"Kita berangkat, Mas," ucap Zoya tenang.

​Zoya sudah memakai sepatunya kembali. Dia mengambil jaket Kalandra dan melemparnya ke arah suaminya. Tidak ada keraguan di wajahnya.

​"Zoya... kamu denger dia kan? Dia mau kamu," suara Kalandra parau. "Kalau kita ke sana, dia bakal nahan kamu. Dia bakal..."

​"Aku tahu," potong Zoya cepat. Dia berjalan ke lemari senjata Kalandra, mengambil dua buah pistol cadangan dan menyelipkannya di pinggang celana jeans-nya.

​Zoya berbalik, menatap Kalandra tajam.

​"Ibumu ada di sana karena aku. Aku yang harus nyelesain ini. Jangan banyak mikir lagi, Mas. Kita nggak punya waktu buat drama."

​Zoya membuka pintu penthouse lebar-lebar.

​"Ayo. Kita jemput Mama."

1
awesome moment
perempuan cerdas dan cerdik. ngapain hrs puyeng mikir klo bisa tinggal terima. 👍👍👍
Sholikhah Sholikhah
kok kita sama Zoya, sama sama pecinta uang apalagi yg gak ada serinya 🤣🤣🤣🤣🤣
Savana Liora: sefrekuensi dg otor nih
total 1 replies
merry
seram bgtt ya nunguin di ats berjm jm trs tdr di tmpt tdr t zoya untg gk lg wik wik 🤭🤭🤭
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
mampussss, hahahaah selamat burhan kamu ketangkap 🤗😤😤😂
awesome moment
smg bukan papa revendra yg makin disandera. jd lbay tar posisinya.
Queenza
aku malah sebel ma lakinya sih katanya komandan tapi emosinya meledak² bikin gak mood sebenarnya mau nerusin tapi Zoya adalah idola aku. masak masalah kayak gini aja selalu pakai kekerasan dan emosi terus dia gak pernah pakai otak Tah sebel aku
Savana Liora: sabar. tak ada manusia yg sempurna. aku nulis ttg manusia bukan malaikat, jadi emang sengaja dibalik kesuksesannya aku lengkapi dg kekurangannya. dan di karakter kalandra, emang disitu kekurangannya. so, srmoga dimengerti
total 1 replies
Nisa Via
licik sih kamu mh Sin🤣🤣🤣
awesome moment
akhirnya...mrk makin solid. harta, tahta, wanita mmg membuat manusia lbh keji dri dajjal.
Naufal hanifah
ceritanya seru,mantap /Good//Good//Good/
Sholikhah Sholikhah
baru kali ini, pengungkapan cinta di jelaskan secara ilmiah 🤔🤔🤔
Ayesaalmira
kena karma langsung Sinta..
awesome moment
smg lancar cari bukti kejahatan tu dajjal bntuk manusia
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
Kalandra jadi malu sendiri tidak tahu bahwa istrinya sehebat itu😅😂
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
😅😅😅🤣🤣 sabar ndan kamu akan dapar kok apa yang kamu mau😭🤣
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
kan kan syok kan kamu Kalandra 😤😂
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
mampusss kalian malu kan pastiii
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
gilaaaa Zoya keren bangettttt😍😍🤗🤗
Alissia
/Joyful/
tutiana
yasalam kalandraa
🍃EllyA🍃
hahahah keren emang pak Kalan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!