NovelToon NovelToon
Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:292.1k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.

Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan Dimulai

Naga hijau itu akhirnya bergerak. Kepalanya yang besar turun perlahan hingga sejajar dengan pandangan manusia. Sisik-sisiknya bergesekan pelan, menghasilkan suara seperti logam tua yang saling menyentuh. Mata hijau gelapnya menatap lurus ke arah dua sosok manusia di hadapannya.

Kemudian sesuatu yang membuat seluruh medan terasa semakin sunyi terjadi. Naga hijau itu membuka mulutnya. Namun yang keluar bukanlah raungan. Suara manusia terdengar. Dalam, berat, namun jelas.

“Manusia.”

Satu kata itu menggema pelan, tetapi terasa seperti getaran yang menjalar ke seluruh hutan. Ribuan siluman tetap diam. Tidak ada yang terkejut. Seolah fakta bahwa binatang suci itu mampu berbicara dengan bahasa manusia adalah sesuatu yang sudah lama mereka ketahui.

“Pergilah dari tempat ini.”

Nada suaranya tidak tinggi. Tidak marah. Namun mengandung otoritas mutlak seorang penguasa wilayah.

“Wilayah ini bukan tempat kalian berjalan sesuka hati.”

Keheningan kembali turun. Sha Nuo menatap naga itu beberapa detik… lalu bahunya bergetar. Ia tertawa. Tawa ringan, santai, hampir seperti seseorang yang baru mendengar lelucon.

“Bagaimana jika aku tidak mau?”

Ucapannya tenang. Bahkan sedikit malas. Seolah ribuan siluman dan dua binatang suci di depannya hanyalah gangguan kecil dalam perjalanan.

Udara di sekitar Sha Nuo perlahan menggelap. Kabut hitam yang berputar di tubuhnya kini lebih jelas. Tipis, namun padat. Setiap helai kabut itu membawa aura kematian yang membuat siluman tingkat rendah tanpa sadar mundur satu langkah lagi.

Naga hijau tidak marah. Tidak menyerang. Matanya tetap menatap Sha Nuo, dalam dan tajam seperti jurang tua.

“Aku tahu kau kuat. Bahkan sangat kuat.”

Nada suaranya tetap datar.

“Aura kematianmu… sangat pekat. Bahkan sebelum kau memasuki wilayah ini, seluruh hutan telah merasakannya.”

Ribuan siluman bergeming. Raja siluman harimau menunduk sedikit. Raja siluman kalajengking menghentikan gerakan ekornya. Bahkan naga merah muda di samping naga hijau menatap Sha Nuo dengan kewaspadaan yang jelas.

Naga hijau melanjutkan.

“Namun saat ini…”

Kepalanya bergerak perlahan, menyapu seluruh medan.

“Di sini ada ribuan siluman.”

Tekanan aura di udara seakan menebal, menegaskan setiap kata yang diucapkannya.

“Empat raja siluman.”

Raja siluman badak menginjak tanah sedikit lebih keras.

“Dan dua binatang suci.”

Kabut kehijauan keluar dari hidungnya, mengalir seperti napas hutan itu sendiri.

“Kau mungkin mampu melindungi dirimu sendiri.”

Kalimat itu berhenti sejenak. Kemudian mata naga hijau bergerak. Tatapannya jatuh pada sosok yang sejak tadi berdiri tenang di samping Sha Nuo, Boqin Changing.

Pandangan naga itu tidak mengandung amarah. Hanya pengamatan dan analisis.

“Namun mungkin tidak dengan pemuda di sampingmu.”

Beberapa siluman mulai menoleh. Raja siluman kera menyipitkan mata. Raja siluman harimau mengendus udara. Semua perhatian kini tertuju pada Boqin Changing.

Naga hijau menatap Boqin Changing beberapa detik lebih lama. Tatapan itu bukan tatapan permusuhan… melainkan penilaian. Seperti seorang penguasa tua yang terbiasa mengukur makhluk lain hanya dari satu pandangan.

Tidak ada fluktuasi energi. Tidak ada tekanan aura. Tidak ada tanda seorang kultivator kuat. Yang berdiri di sana hanyalah seorang pemuda dengan pakaian sederhana, napas stabil, dan tatapan tenang.

Bahkan bagi naga hijau yang telah hidup lama, membaca makhluk hidup adalah kemampuan naluriah. Ia mampu membedakan siluman liar, pendekar tersembunyi, hingga monster tua yang menyamarkan diri. Namun pada pemuda ini… ia tidak melihat apa pun.

Kosong. Bukan kosong seperti orang mati. Melainkan kosong seperti kolam yang permukaannya terlalu tenang untuk menunjukkan kedalaman.

Mata naga hijau sedikit menyempit.

“Manusia itu…” Suaranya bergema pelan, cukup untuk didengar seluruh medan. “…tidak memiliki aura.”

Beberapa siluman tingkat tinggi langsung menyadari maksudnya. Raja siluman kera memiringkan kepala. Raja siluman harimau mengendus udara sekali lagi, lebih dalam. Raja siluman badak bahkan menggeram pelan, seolah tidak percaya.

Benar. Mereka juga tidak merasakan apa pun. Naga hijau melanjutkan, suaranya tetap berat dan tenang.

“Di wilayah seperti ini… manusia tanpa kekuatan hanya akan mendapat masalah.”

Tidak ada nada mengejek. Hanya pernyataan fakta. Namun justru karena itulah, kata-kata itu terasa seperti vonis.

Beberapa siluman mulai menunjukkan ekspresi meremehkan. Siluman tingkat rendah berbisik-bisik. Bahkan salah satu raja siluman tersenyum tipis.

Bagi mereka, keberadaan Boqin Changing tidak lebih dari beban bagi Sha Nuo. Di sisi lain, Sha Nuo hanya melirik sekilas ke arah Boqin Changing. Kemudian ia sedikit mencondongkan kepala, bibirnya bergerak pelan.

“Sepertinya…” bisiknya santai, “…mereka semua meremehkanmu.”

Nada suaranya mengandung hiburan yang jelas. Bagi Sha Nuo, situasi seperti ini jauh lebih menarik daripada pertempuran langsung.

Boqin Changing tidak langsung menjawab. Angin hutan berhembus pelan, menggerakkan ujung rambut hitamnya. Tatapannya tetap tenang, menyapu ribuan siluman, empat raja siluman, dua naga, lalu kembali ke depan.

Senyum tipis muncul di wajahnya. Bukan senyum tertekan. Bukan senyum canggung. Melainkan senyum seseorang yang melihat segala sesuatu berjalan sesuai rencana.

“Memang begitu dari awal.”

Jawabannya pelan. Tenang. Hampir seperti gumaman. Sha Nuo menoleh sedikit. Boqin Changing melanjutkan dengan nada santai, seolah membicarakan hal sepele.

“Aku benar-benar menekan auraku.”

Matanya menatap naga hijau tanpa sedikit pun ketegangan.

“Agar mereka lengah.”

Kata-kata itu jatuh begitu saja di antara mereka berdua.

Namun entah mengapa… udara di sekitar Sha Nuo justru terasa sedikit lebih dingin. Karena ia tahu jika Boqin Changing berkata demikian… berarti pemuda itu sejak awal sudah memperlakukan seluruh medan ini sebagai papan permainannya. Ribuan siluman di depan mereka… hanya bidak yang belum menyadarinya.

Naga hijau itu tetap menatap lurus ke arah Sha Nuo. Tidak ada perubahan emosi di wajahnya. Namun udara di sekelilingnya mulai bergetar halus, seperti daun yang tersentuh angin badai yang belum tiba.

“Ini peringatan terakhir.”

Suaranya rendah, tetapi terasa berat menekan ruang.

“Pergilah dari wilayah ini. Jika tidak… pertarungan besar akan terjadi. Kedua belah pihak akan menanggung kerugian masing-masing.”

Tidak ada ancaman kosong dalam kata-kata itu. Yang berbicara adalah penguasa hutan, makhluk yang telah melihat ribuan pertempuran, mengetahui harga dari setiap darah yang tumpah di wilayahnya.

Sha Nuo tidak bergerak. Kabut hitam di tubuhnya berputar perlahan, seperti napas makhluk dari dunia lain. Ia menatap naga hijau beberapa detik, lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

“Aku tidak akan pergi dari hutan ini sebelum mendapatkan apa yang kucari.”

Nada suaranya santai. Namun kalimat itu jatuh seperti batu ke permukaan danau yang tenang.

Ribuan siluman yang sebelumnya diam mulai gelisah. Beberapa menggeram pelan. Raja siluman harimau menggores tanah dengan cakarnya. Raja siluman kalajengking mengangkat ekornya tinggi. Raja siluman badak menghembuskan napas berat.

Naga hijau itu menutup matanya sejenak. Seolah menerima sesuatu yang sudah ia duga sejak awal.

“Baiklah.”

Matanya terbuka kembali. Hijau tua yang dalam, seperti hutan tanpa dasar.

“Jika memang tidak ada titik temu…”

Tekanan aura hutan tiba-tiba melonjak.

“…mau tidak mau kita harus bertarung.”

Seketika kepalanya terangkat. Suaranya menggema seperti guntur yang dipantulkan oleh hutan.

“Semuanya!!!”

Getaran energi menyapu medan.

“Serbu!”

Ledakan gerakan terjadi hampir bersamaan. Tubuh naga hijau menghilang dari tempatnya seperti bayangan yang ditarik oleh angin. Tanah retak memanjang saat ia melesat ke arah Sha Nuo, cakarnya membawa tekanan yang mampu meremukkan batu gunung.

Di saat yang sama, Naga merah muda di sampingnya juga bergerak. Tubuh panjangnya meluncur seperti kilat merah pucat, sisiknya memantulkan cahaya hutan. Dua tekanan binatang suci jatuh bersamaan ke satu titik. Sha Nuo.

Udara di sekitar Sha Nuo langsung berubah gelap. Kabut kematian melonjak seperti badai hitam yang bangkit dari dasar neraka.

Sementara itu, di sisi lain medan. Ribuan siluman bergerak seperti ombak. Namun arah mereka bukan Sha Nuo. Semua pandangan jatuh pada satu sosok, Boqin Changing.

Instruksi penguasa mereka jelas. Pemuda itu harus ditangkap hidup-hidup. Dijadikan sandera.

Puluhan siluman tingkat tinggi mulai mengepung. Raja siluman kera memberi isyarat tangan. Lingkaran pengepungan terbentuk rapi.

Namun sebelum mereka sempat mendekat, Bayangan gelap muncul. Tidak ada suara langkah. Tidak ada fluktuasi aura. Hanya ruang yang tiba-tiba terasa kehilangan cahaya.

Seorang siluman yang terbiasa hidup dalam kegelapan muncul tepat di belakang Boqin Changing. Tubuhnya kurus, memanjang, seperti asap yang dipaksa memiliki bentuk. Tangannya sudah terulur, jari-jarinya berubah menjadi cakar bayangan yang siap menutup titik vital pemuda itu.

Serangan penyergapan sempurna. Jika lawannya manusia biasa, semuanya sudah berakhir. Namun Boqin Changing hanya berdiri di sana. Tenang. Seolah sejak awal sudah mengetahui kehadiran siluman itu.

Tangannya bergerak santai ke pinggang. Suara gesekan logam terdengar. Pedang keluar dari sarungnya. Tidak cepat. Tidak lambat. Gerakan sederhana yang bahkan tidak tampak seperti teknik bela diri.

Namun, kilatan tipis melintas di udara. Hening satu detik. Tubuh siluman bayangan itu berhenti tepat di belakang Boqin Changing. Tangannya masih terulur. Cakarnya hampir menyentuh bahu pemuda itu. Kemudian garis tipis muncul di tubuhnya. Dari bahu hingga pinggang.

Mata siluman itu melebar. Tidak ada rasa sakit. Hanya kesadaran yang datang terlambat.

Tubuhnya terbelah. Bayangan hitam itu terpecah menjadi dua sebelum sempat mengeluarkan suara. Kabut gelapnya hancur seperti asap yang tertiup angin.

Pedang Boqin Changing sudah kembali turun. Ekspresinya tidak berubah. Tatapannya bahkan tidak menoleh ke belakang.

Di sekelilingnya, ribuan siluman yang bergerak maju tiba-tiba berhenti. Untuk pertama kalinya sejak pengepungan dimulai… keraguan muncul.

...********...

Mohon maaf update terlambat hari ini. 2 hari ini aku benar benar sakit. Kemarin demam dan hari ini kepalaku pusing kembali...

Aku akan menulis lebih banyak saat kesehatanku membaik. Terima kasih untuk pengertiannya...

1
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Frannco
amazing story
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
Minal aidin walfaizin thor
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ......,...
Arull My one
bagus Thor,...KLW TDK ad lanjutnya malah malas baca,ditambah cerita yg terhenti,...semangat dan cepat sembuh,...
Lekat Wahyudi
top
y@y@
💥👍🏼⭐👍🏼💥
Nunu Hana Rumaini
kereeenn...
angin kelana
wah paman nuo jdi pendongeng...
Dina Maulida
selamat hari raya Thor,btw dlu ibuku jg pernah stroke,rebus air kasih sejumput garam,dan serai, truss basuh ke area yg stroke sambil dibetulin dlm kondisi hangat agar peredaran darahnya lancar,dan saraff nya membaik
Ipung Umam
lanjutkan
☠️⃝🖌️M⃤eko
pasti paman Nuo menceritakan petualangan seru🤣🤣
Zainal Arifin
joooooooosssss 🤣🤣🤣
Keong Racun
halo thor, saya ingin menanya soal kekuatan, nah saya pertanyaan saya itu saya pernah baca kalo kaisar Xin Da itu adalah musuh terkuat atau rival terkuat boqin di masa puncak jayanya, saya lupa itu novel yg sblm nya atau chapter brpa, intinya saya pernah baca itu thor, nah di chapter ini saya bingung kuatan kaisar Xin da atau zhi sen, waktu di masa puncak nya thor? soalnya author sendiri blg waktu latih tanding zhi sen hanya bertahan saja, dan boqin sendiri tidak tau batas kemampuan zhi sen,mhn dijawab thor kuatan Xin da atau zhi sen dalam waktu jaya jayanya thor🙏
Perdi Nopriansyah: Mau meluruskan kan ya bg, dinovel pertama itu disebutkan bahwa kaisar xin da adalah teman sekaligus pengikut yang paling kuat di alam ini, untuk pengikut-pengikutnya yang lain tidak dihitung karena dipanggil oleh bola pemanggilan dari alam yang berbeda. Pengikut-pengikut lainnya banyak kok yang lebih kuat daripada boqin sendiri

Untuk chapter ini kan dialam berbeda jadi musuh-musuh nya juga bakalan berbeda, karna babang boqin belum pernah datang ke alam ini jadi bakalan banyak misteri, nantikan aja kelanjutan novelnya
total 2 replies
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Ramalan bintang🔥🌽
Andi Heryadi
Sha Nuo....gak ada elo gak rame🤣🤣🤣
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!