Ini bukan tentang harga diri lagi, ini hanya tentang mencintai tanpa dicintai.
Aruna nekat menjebak calon Kakak iparnya di malam sebelum hari pernikahan mereka. Semuanya dia lakukan hanya karena cinta, namun selain itu ada hal yang dia perjuangkan.
Semuanya berhasil, dia bisa menikah dengan pria yang dia inginkan. Namun, sepertinya dia lupa jika Johan sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Yang dia cintai adalah Kakaknya, bukan Aruna. Hal itu yang harus dia ingat, hingga dia hanya mengalami sebuah kehidupan pernikahan yang penuh luka dan siksaan. Dendam yang Johan punya atas pernikahannya yang gagal bersama wanita yang dia cintai, membuat dia melampiaskan semuanya pada Aruna. Perempuan yang menjadi istrinya sekarang.
"Kau hanya masuk dalam pernikahan semu yang akan semakin menyiksamu" -Johan-
"Jika perlu terluka untuk mencintaimu, aku rela" -Aruna-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertahan Untuk Bahagia Bersamaku
Mencintainya bagaikan berjalan di atas pecahan kaca. Banyak luka yang harus dilalui, tapi aku bisa melewatinya dan bertahan sampai saat ini.
**
Aruna terlelap setelah meminum obat, Johan hanya menatap wanitanya yang tertidur dengan tenang itu. Mengenggam tangan mungil yang kurus itu, mengecup punggung tangannya dengan lembut.
"Sayang, kamu harus bertahan. Karena aku akan gila jika kamu benar-benar pergi meninggalkan aku" Johan menatap ke arah perut buncit istrinya, mengelusnya dengan lembut. "Maaf karena tidak bisa membiarkanmu lahir dan melihat dunia ini. Maafkan Ayahmu ini"
Johan menahan isak tangisnya yang terasa semakin menyesakkan dada. Harus memilih diantara dua nyawa yang berharga dalam hidupnya. Tentu saja Johan juga tidak mungkin memilih keduanya, karena Dokter sudah menjelaskan bagaimana resiko yang akan dialami. Bahkan jika mengorbankan salah satunya pun, Aruna tetap harus menjalani pengobatan lanjutan. Untuk mencegah sel kanker menyebar ke seluruh anggota tubuh.
"Eugh.." Lenguhan itu membuat Johan segera menghapus sisa air matanya. Dia melihat Aruna yang sudah terbangun dari tidurnya. "Sayang, kenapa kebangun?"
Aruna tidak menjawab, dia langsung bangun dan turun dari ranjang pasien dengan segera. Berlari cepat ke arah kamar mandi. Hal itu tentu saja membuat Johan terkejut, dia segera menyusulnya dengan panik.
"Sayang, kenapa?"
Aruna muntah di wastafel di kamar mandi, Johan membantu memijat tengkuk lehernya. Dia panik melihat keadaan Aruna yang seperti ini.
"Sayang, aku panggil Dokter"
Aruna membasuh wajahnya, lalu dia menahan tangan Johan yang sudah ingin pergi dari sana. "Jangan Kak, aku tidak papa. Ini sudah terbiasa, mungkin efek kehamilan"
Johan terdiam, dia sudah benar-benar panik dengan keadaan Aruna yang seperti ini. Tapi, rasa lega yang hanya dirasakan sejenak, ketika dia melihat darah segar yang mengalir dari hidung Aruna.
"Tidak papa bagaimana? Kamu mimisan lagi"
Johan langsung menggendong tubuh Aruna dan membawanya keluar dari kamar mandi. Menidurkan Aruan dengan perlahan di atas ranjang pasien. Lalu dia menekan tombol darurat disamping ranjang.
"Mana yang sakit? Kepala kamu sakit? Atau apa yang sakit? Aruna, bicara padaku, apa yang kamu rasakan. Jangan memendamnya sendiri. Kamu bisa membuatku gila"
Aruna terdiam, dia tersenyum tipis saat melihat jelas kekhawatiran di wajah Johan. Dia mengambil tisu di atas nakas dan membersihkan darah Aruna di sekitar lubang hidungnya.
"Ini sakit? Sayang, jawab aku mana yang sakit?"
Aruna memegang tangan Johan yang membersihkan hidungnya. "Kak, tidak sakit kok. Kalau sakit, aku juga akan bilang sama kamu. Tapi ini tidak terasa sakit, aku baik-"
"Diam! Jangan terus bilang kau baik-baik saja. Aruna, sudah jelas jika keadaanmu tidak baik-baik saja. Kamu jangan menganggap enteng kondisi kamu ini"
Aruna menghembuskan nafas pelan, dia tahu tentang keadaannya sendiri. Tapi, hanya ingin tidak memikirkan apa yang akan terjadi padanya setelah berjuang dengan penyakit ganas ini.
"Aku tahu keadaanku bagaimana, Kak. Tapi apa harus terus memikirkan tentang keadaan aku yang sudah jelas tidak akan bisa membaik. Aku hanya ingin menikmati sisa hidupku, tanpa harus memikirkan tentang keadaanku yang jelas tidak baik-baik saja"
Johan menghembuskan nafas kasar, dia mengusap wajahnya dengan frustasi. Lalu menarik tubuh Aruna ke dalam pelukannya. Pikirannya yang terlalu kacau, memikirkan jika Aruna mungkin akan pergi meninggalkannya untuk selamanya. Dan Johan tidak siap untuk itu.
"Aku hanya takut kehilanganmu, aku belum sempat menebus semua kesalahan yang pernah aku perbuat padamu. Dan kau harus bertahan untuk bahagia bersamaku"
Aruna hanya terdiam dalam pelukan Johan, dia menepuk pelan punggung pria yang memeluknya ini. "Jika aku bisa, aku akan bertahan"
*
Ini mimpi atau nyata? Tapi Aruna hanya menatap ke arah orang yang datang bersama Johan pagi ini. Matanya berkedip tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kak Faas"
Faas tersenyum pada Aruna meski dengan sorot mata penuh kesedihan yang tidak bisa dia sembunyikan. Faas berjalan mendekat pada ranjang pasien, tidak bisa menahan diri dan dia langsung memeluk Aruna.
"Run, kenapa tidak pernah bilang tentang keadaan kamu yang sebenarnya? Kamu anggap aku ini apa?"
"Kak, aku hanya tidak ingin merepotkan banyak orang dan aku hanya tidak ingin Kak Faas khawatir. Aku hanya berharap kalian bisa menjalani kehidupan seperti biasanya tanpa meluangkan waktu kalian yang sibuk itu hanya untuk memperhatikanku dan memikirkan tentang keadaanku"
Faas melerai pelukannya, mata hitamnya menatap Aruna dengan lekat.Tangannya menangkup wajah tirus Aruna. "Jadi ini alasan kamu menghilang dan seolah ingin pergi dari kehidupan ini?"
"Iya Kak, kalau aku pergi untuk selamanya, maka-"
"Aruna!" Suara penuh tekanan dari Johan membuat Aruna menoleh dan menatap ke arah suaminya itu. "Kau tidak akan pergi kemana pun. Kau akan selalu bersamaku!"
Aruna hanya tersenyum saja, melihat Johan yang menunjukan tatapan takut kehilangan akan dirinya, membuat hati Aruna menghangat. Bisa dengan mudah Tuhan memutar balikan hati manusia. Yang awalnya sangat membenci Aruna, sekarang malah begitu takut kehilangan Aruna.
Faas juga menatap Johan, dan dia mulai percaya jika pria itu sudah berubah dan tidak akan menyakiti Aruna lagi. Karena saat dia datang dan mengatakan dia sudah menemukan keberadaan Aruna dan ingin kembali bersama dengan Aruna, Faas tidak langsung percaya. Tapi sekarang, dia mulai mempercayainya jika hatinya sudah berubah.
"Kamu pasti sembuh Aruna, percaya padaku. Orang tuaku akan datang sebentar lagi. Mereka juga mencarimu dan mengkhawatirkanmu" ucap Faas.
*
Ayah menunduk diam saat adik mendiang istri keduanya datang bersama suaminya. Kilatan kemarahan terlihat jelas dari sorot matanya.
"Kau bahkan tidak mencari tahu bagaimana keadaan anakmu, dan bagaimana kondisinya sekarang. Yang kau pikirkan hanya anak pertamamu dan istrimu itu. Memang kau Ayah tidak berguna!" tekan Paman Frans.
Ayah hanya menunduk diam, sepertinya memang benar apa yang diucapkan oleh Frans barusan. Dia memang Ayah yang tidak berguna dan tidak punya hati. Hanya terus memikirkan penyesalan tanpa mau bertindak apapun untuk mengetahui keadaan anak kandungnya yang sebenarnya.
"Dia sakit, dan sekarang berada di rumah sakit. Bahkan kau tidak tahu apa yang dia lewati selama ini, dalam pernikahannya? Dia mengalami siksaan, dan dia tidak hidup tenang dan bahagia dalam pernikahannya!"
Ayah tertunduk diam, tangannya saling bertaut erat. Air mata mulai menggenang. "Bawa aku menemuinya, Frans"
Bersambung
~~ kenapa Superman poni keritingnya cuma satu...??
jawabannya.. kalau banyak namanya supermie..iya kaaaaan????