Bian, seorang pria berusia 30-an yang pernah terpuruk karena PHK dan kesulitan hidup, bangkit dari keterpurukan dengan menjadi konten kreator kuliner. kerja kerasnya berbuah kesuksesan dan jadi terkenal. namun, bian kehilangan orang-orang yang di cintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.harris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbagi
Di usia barunya, Bian merasakan panggilan untuk lebih banyak berbagi kepada sesama. Ia merenungkan perjalanan hidupnya yang penuh liku dan merasa bersyukur atas segala yang dimilikinya sekarang.
Suatu pagi, ia mengumpulkan keluarganya di ruang makan. “Aku punya ide untuk merayakan ulang tahunku dengan cara berbeda,” kata Bian sambil menatap Rissa dan Sabda.
“Apa itu, pah?” tanya Sabda, matanya berbinar.
“Kita akan berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang membutuhkan. papa ingin membagikan sembako untuk panti asuhan, orang-orang miskin, dan teman-teman ojol. Mereka adalah bagian dari hidupku dulu, dan papa ingin Sabda belajar pentingnya berbagi,” jawab Bian dengan senyum hangat.
Rissa tersenyum bangga. “Ide yang luar biasa, Mas. Aku akan bantu menyiapkan semuanya.”
Hari yang dinanti pun tiba. Bian bersama Rissa dan Sabda berangkat lebih awal ke panti asuhan terdekat. Mereka membawa sembako berupa beras, minyak goreng, gula, dan kebutuhan lainnya. Anak-anak panti menyambut mereka dengan senyum ceria.
“Papa, kenapa kita kasih mereka sembako?” tanya Sabda sambil membantu membawa tas besar.
“Karena berbagi itu penting, Nak. Kita harus ingat bahwa kebahagiaan sejati datang ketika kita bisa membantu orang lain,” jawab Bian sambil mengelus kepala Sabda.
Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke beberapa titik di sekitar kota, membagikan sembako kepada orang-orang yang membutuhkan. Bian merasa tersentuh ketika melihat senyum tulus dari para penerima bantuan.
Puncaknya adalah ketika mereka mendatangi sebuah pangkalan ojol. Bian mengenang masa-masa sulitnya dulu ketika menjadi pengemudi ojol. Ia mendatangi setiap pengemudi dengan sembako di tangan.
“Terima kasih banyak, Pak. Ini sangat berarti buat kami,” ujar salah satu pengemudi dengan mata berkaca-kaca.
“Saya juga pernah di posisi kalian. Tetap semangat, ya. Kerja keras tidak akan mengkhianati hasil,” kata Bian dengan penuh semangat.
Sepanjang hari, Bian merasa hatinya penuh dengan rasa syukur. Ia juga senang melihat Sabda mulai memahami pentingnya berbagi.
Di perjalanan pulang, Sabda berkata, “Pa, kalau aku besar nanti, aku juga mau bantu orang-orang seperti papa.”
Bian tersenyum bahagia. “Itu cita-cita yang mulia, Nak. papa bangga sama kamu."
Malam itu, mereka sekeluarga duduk di ruang tamu sambil menikmati teh hangat. Rissa memandang Bian dengan penuh kasih. “Mas, aku bangga sekali sama kamu. Di tengah semua pencapaianmu, kamu tetap rendah hati.”
Bian menggenggam tangan Rissa. “Kamu dan anak-anaklah yang jadi pengingatku untuk selalu bersyukur. Aku ingin Sabda dan Anjani tumbuh dengan hati yang baik dan rendah hati.”
Malam itu ditutup dengan doa bersama, mengucap syukur atas perjalanan hidup mereka yang penuh berkah.
......................
Suatu pagi, saat menikmati secangkir kopi di kedainya, Bian memperhatikan beberapa pengunjung yang sedang asyik berbincang tentang produk lokal Bali yang mereka temukan di pasar tradisional. Ide pun muncul di benaknya.
Bian memanggil Rissa yang sedang membantu di bagian toko kue. "Sayang, aku kepikiran sesuatu," kata Bian sambil mendekat.
"Apa itu, Mas?" tanya Rissa penasaran.
"Aku ingin kedai kita jadi tempat promosi produk UMKM lokal. Banyak pengrajin dan pembuat produk di Bali yang kualitasnya bagus, tapi mereka kesulitan memasarkan barangnya. Kita bisa bantu mereka lewat media sosial dan juga di sini, di kedai kita," jelas Bian dengan antusias.
Rissa tersenyum mendengar ide itu. "Itu ide yang bagus, Mas. Kita bisa menyediakan rak khusus untuk produk mereka. Bisa jadi souvenir juga buat pengunjung kedai kita."
“Betul. Aku mau mulai dengan produk makanan ringan khas Bali, seperti kacang disco atau pie susu, dan mungkin barang-barang kerajinan seperti tas anyaman atau patung kecil,” tambah Bian.
Rissa langsung tergerak untuk membantu. “Kalau begitu, aku bisa hubungi beberapa kenalan di komunitas UMKM. Kita bisa mulai dengan mereka dulu.”
Tak butuh waktu lama, Bian mulai mendesain rak khusus untuk produk lokal di sudut kedai. Ia juga menyiapkan strategi promosi, termasuk sesi live di media sosial untuk memperkenalkan setiap produk yang akan dijual.
Ketika rak itu selesai dipasang, beberapa produk mulai terpajang: aneka camilan, kopi bubuk lokal, kerajinan tangan, dan bahkan minyak aromaterapi. Di setiap produk, Bian memastikan ada cerita singkat tentang pembuatnya, sehingga pelanggan tidak hanya membeli barang tetapi juga mengenal proses dan kisah di baliknya.
Rissa pun membantu dengan memotret produk dan membuat konten menarik untuk media sosial. "Kita harus bikin video pendek tentang para pengrajin. Cerita mereka pasti menarik dan bisa menginspirasi banyak orang," kata Rissa sambil menunjukkan konsepnya kepada Bian.
Hari pertama promosi dimulai dengan video yang menampilkan seorang pengrajin anyaman yang sudah 30 tahun menjalankan usahanya. Video itu langsung menarik perhatian banyak orang, bahkan sampai viral di media sosial.
Beberapa hari kemudian, Bian menerima pesan dari salah satu pengrajin. "Terima kasih, Pak Bian. Berkat bantuan promosi di kedai Bapak, pesanan saya jadi naik. Saya tidak pernah menyangka bisa dikenal banyak orang," kata pengrajin itu dengan penuh haru.
Bian merasa bangga dan bahagia mendengar kabar itu. "Ini baru awal, Sayang," katanya kepada Rissa. "Aku yakin, kalau kita konsisten, kita bisa membantu lebih banyak orang."
Sabda yang mendengar percakapan itu langsung menimpali, "Pa, aku juga mau bantu promosi. Biar teman-temanku di sekolah tahu kalau produk lokal itu keren!"
Bian dan Rissa tertawa mendengar semangat Sabda. Mereka merasa proyek ini bukan hanya langkah untuk mendukung UMKM, tetapi juga cara untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada anak-anak mereka.