Carla, seorang gadis yang memiliki sosok kekasih yang mencintainya dengan abnormal. Rasa cinta yang dimiliki oleh kekasihnya untuk dirinya, seakan merantai hidupnya. Kekangan yang mengerikan menjeratnya pada sebuah lingkaran, tak berujung dan terus berputar. Hatinya milik laki - laki itu, jiwanya, raganya, termasuk nyawanya.
Dirinya akan bertahan, itu pasti. Karna hatinya telah terenggut begitu saja, dan masuk ke dalam hidup kelam lelaki itu. Namun jika jiwanya terus terkikis, maka satu hal yang akan ia lakukan.
Pergi.
"Aku nyerah, mari kita akhiri sampai disini Steve."
Percaya atau tidak, bibirnya sungguh kelu untuk mengatakan itu. Tubuhnya gemetar, karena cinta yang ia impikan selama ini ternyata semenyakitkan itu.
"Ahkk.." teriak Carla kala tangan kokoh itu menekan luka di dahinya sambil tersenyum smirk.
Carla tersenyum kecut.
"Mati atau tetap bersamaku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku siapamu?
"Apa mereka akan datang?"
"Benar tuan.."
"Hm, bagus."
Sumringah lelaki paruh baya itu sambil menyesap wine yang ada ditangannya. Akhirnya, yang ia tunggu selama ini akan tiba juga. Namun ini tidak lah gratis, semuanya harus ia bayar dengan cerita masa lalu yang berusaha ia lupakan. Jika dibayar dengan uang, mau sebanyak apapun itu tidak lah masalah. Tapi ini, sudahlah. Lelaki paruh baya itu menaruh gelasnya dan mulai menyalakan sebatang rokok.
"Kenapa lama sekali?"
"Mereka akan datang tuan."
"We are coming dad...."
Iris mata hijau lelaki paruh bayah itu menatap dua orang remaja yang datang tersebut dengan berbinar. Ia pun membuang puntung rokoknya, dan segera berdiri untuk merangkul erat kedua remaja tersebut.
"How are you?"
"We are good dad.."
Robert melepas rangkulannya dan tersenyum pada Agnessia, lalu berkata "Aku bertanya padamu ness.."
Agnessia tertawa lalu kembali memeluk Robert, Ayahnya ini adalah ayah terbaik di dunia. "I'm always good.."
"Kau menanyakan kabar semua orang, lalu bagaimana kabarmu sendiri?" tanya Agnessia sembari mengajak Robert untuk duduk. Sedangkan Steve, jangan tanyakan keberadaan lelaki itu. Setelah lelaki paruh baya itu mengatakan bahwa ia hanya menanyakan kabar gadis berambut pirang sebahu itu. Lelaki itu sudah pergi entah kemana. Singkat, namun mampu membuat hatinya patah.
"Tidak semua orang sayang, hanya kau. Bagaimana mungkin seorang ayah lupa menanyakan kabar putinya.."
Agnessia tertawa dan kembali memeluk lelaki paruh baya itu, hampir 15 tahun mereka tidak bertemu. "Dad bagaimana jika dia menolak?"
"Tidak akan." Jawab Robert pasti, dan Agnessia tersenyum sumringah.
***
Disebuah kamar tua nan usang, terduduklah seorang lelaki dipojokan sembari menatap sebuah lukisan. Sebuah lukisan dimana hiduplah keluarga kecil yang bahagia, lengkap, dan sejahtera. Bayangan asap yang terlihat mengepul menandakan lelaki itu tengah menyalakan sebatang nikotin. Karena pencahayaan yang minim, ruangan itu terlihat seperti malam hari meski sang surya masih menampakkan sinarnya di luar sana. Steve membuang puntung rokoknya lalu mulai mendekati lukisan itu. Tangan kokoh yang biasanya memegang pisau serta mencabut nyawa, kini mulai menyentuh lukisan itu dengan lembut. Tidak ada emosi, wajahnya tetap datar seperti biasa, namun hatinya siapapun tau bahwa tidak ada kata baik-baik saja.
"I miss you.."
Mata tajam dengan iris hitam pekat itu tidak berhenti menyusuri lukisan tersebut, terutama wanita itu. Cinta pertamanya yang mengajarkannya kasih sayang dan cinta untuk pertama kalinya. Namun sekarang tidak lagi, segalanya berubah. Bahkan dirinya tidak bisa membedakan cinta atau hanya obsesi semata. Namun yang pasti, dirinya takut ditinggalkan.
Steve mengepal erat sembari menatap tajam lukisan tersebut, matanya menyala merah menahan air mata yang hendak keluar. Lelaki itulah yang telah memisahkannya dari cinta pertamanya secara tragis.
Bughh
Andai saja yang ia tinju adalah lelaki itu, namun sayangnya hanya sebuah lukisan usang yang menyimpan banyak kenangan. Memang tidak ada yang abadi selain kenangan, bahkan rasanya tidak mungkin untuk mati. Karena kenangan akan selalu hidup dalam hati.
"Steve.."
Lelaki itu menghentikan tinjuannya pada lukisan itu, kala sebuah tangan memeluknya dari belakang dan jari jemari lentik itu mengusap punggungnya perlahan, seolah berusaha memadamkan api dalam dirinya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya gadis itu lembut, namun Steve hanya diam tapi seketika ia berbalik dan merengkuh erat Agnessia dalam pelukannya. "Don't leave me.." Bisiknya pelan ditelinga gadis itu dan semakin mengeratkan pelukannya. "Will never. I'm here for you, only for you.." Jawab Agnessia sambil mengusap punggung Steve lembut.
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, sampai tidak menyadari akan kehadiran seorang lelaki yang memperhatikan mereka berdua sedari tadi. Melihat itu, sepertinya jalannya akan berjalan mulus tanpa ada rintangan apapun, bibir lelaki paruh baya yang dipenuhi dengan kepulan asap nikotin itu melengkung indah. Karena apa yang ia impikan, sepertinya akan segera terwujud.
***
Detik demi detik terus berlalu dengan sangat cepat, tidak terasa sudah 3 jam ia sendirian di ruangan yang sunyi ini
dengan sebuah buku ditangannya. Carla berjalan perlahan menuju jendela, kemudian membukanya. Seketika semilir angin menerpa wajahnya, gadis itu tersenyum sambil memejamkan matanya dan membayangkan jika dirinya adalah seorang merpati putih yang bebas terbang kemanapun yang ia inginkan.
Tanpa ikatan, dan kekangan dari siapapun.
Carla menghembuskan nafasnya perlahan, itu hanyalah khayalan semata yang tidak mungkin menjadi nyata. Gadis itu kembali melirik jam dinding yang ada di ruangan itu, terhitung sudah puluhan kali ia melihat jam. Entah kemana lelaki itu pergi selama ini, lelaki kejam yang berstatus kekasihnya. Terima atau tidak tapi itulah kenyataannya. Jika dipikir lagi, tidak biasanya Steve meninggalkan dirinya sendirian selama ini, lalu apa yang membuatnya begitu lama, apa pekerjaan? Carla menggeleng, jika pekerjaan tidak akan selama ini karna ada Troy yang akan menghandlenya.
"Memikirkanku hm?"
Carla tersentak kaget, namun nada bariton itu ia mengenali suaranya. "Dari mana?" tanya gadis itu sambil memegang tangan kekasihnya yang tengah memeluknya dari belakang.
Steve tidak menjawab apapun, namun semakin erat memeluk Carla sambil mencium pucuk kepala gadisnya. "Sudah makan?"
"Dari mana?" tanya Carla sekali lagi, entah kenapa ia merasa bahwa Steve sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Itu urusanku!" jawab Steve dingin.
Carla tersenyum kecut, kemudian melepas pelukan lelaki itu dengan kasar yang membuat Steve tersentak. Ia kaget, ternyata gadisnya semakin berani.
Nafas gadis itu tidak beraturan, setelah ia melepaskan pelukan Steve. Dua kalimat yang keluar dari mulut lelaki itu sungguh menyayat hatinya, apa dirinya tidak berhak tau?
"Aku siapamu?"
Mendengar lontaran pertanyaan itu membuat Steve menatap datar gadis itu. Melihat hal tersebut semakin membuat perasaan Carla berkecamuk. Tanpa ia sadari tetesan bening telah meluncur dari matanya.
"Aku siapamu Steve? Apa aku tidak berhak tau kau pergi kemana dan dengan siapa?" teriak gadis itu marah, setelah sekian lama baru kali ini nada bicara Carla naik satu oktaf. Carla tersenyum miris, menatap kekasihnya yang seperti orang linglung. Menatapnya tanpa mengatakan apapun. "Baiklah, tidak apa-apa. Terserah kau saja. Tapi ingat, ketika aku pergi kau tidak berhak menanyakanku pergi kemana dan dengan siapa. Karna itu urusanku!" Ujar gadis itu tenang dengan tatapan datarnya. Namun setelahnya ia tersungkur di lantai dengan pipi yang terasa panas.
Carla memegangi pipinya dan menatap Steve tajam. "Watch your mouth!" desis Steve tajam sambil menekan dahi Carla.
"Bastard!"
"I know, and you're this bastard's lover." balas Steve tersenyum, lalu mengecup dahi gadis itu. "Aku rasa pertanyaanmu tadi sudah terjawab." ujar Steve lagi, sambil mengusap dengan lembut bekas tamparannya pada pipi gadisnya namun dengan kasar Carla menepis tangan itu yang membuat Steve tertawa pelan. Menurutnya kekasihnya terlihat semakin menggemaskan, dengan pipi lebam dan mata yang sembab. Serta jangan lupakan tatapan Carla, yang begitu menunjukkan amarah semakin membuat Steve ingin tertawa.
Crazy.
Ya satu hal yang pasti, lelaki itu sudah kehilangan akalnya.