"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: IGAUAN YANG MEMANCING IBLIS
Malam itu, Villa di tengah hutan itu terasa seperti oven yang membara bagi Ghea. Tubuhnya meringkuk di bawah selimut, namun ia tidak berhenti menggigil. Peluh dingin membasahi seluruh permukaan kulitnya, membuat rambut panjangnya menempel lepek di dahi. Demam tinggi yang menyerang tiba-tiba itu bukan sekadar reaksi fisik, melainkan bentuk protes dari otaknya yang sudah terlalu lelah dihantam manipulasi visual Adrian.
Kesadaran Ghea berada di ambang batas antara kenyataan dan delusi. Di dalam kepalanya, potongan rekaman CCTV tadi sore berputar seperti kaset rusak.
"Bram... jangan..." igau Ghea pelan. Suaranya serak, nyaris tak terdengar.
Di samping tempat tidur, Adrian duduk dengan setia. Ia baru saja mengganti kompres di dahi Ghea dengan tangan yang gemetar karena rasa sayang yang meluap. Namun, saat nama itu keluar dari bibir Ghea, gerakan Adrian terhenti seketika.
"Bram... kenapa kau... di sana?" Ghea meracau lagi. Napasnya pendek-pendek. "Minggir, Bram... mobilnya... remnya blong..."
Rahang Adrian mengeras. Matanya yang biasanya menatap Ghea dengan pemujaan, kini mulai memancarkan kilat amarah yang gelap. Nama pria itu. Nama rekan polisi yang menurut versinya adalah pengkhianat, justru menjadi nama yang disebut Ghea di saat ia paling rapuh.
"Berhenti menyebut namanya, Ghea," desis Adrian pelan, suaranya terdengar seperti peringatan dari dasar jurang.
Namun, Ghea tidak mendengar. Di dalam mimpinya, ia sedang berada di dalam mobil yang meluncur ke jurang. Ia melihat wajah Bram yang nampak khawatir, bukan wajah Bram yang dingin seperti di video Adrian. "Bram... tolong aku... panggil... ambulans..."
BRAK!
Adrian berdiri dengan sentakan kasar hingga kursi kayu yang didudukinya terjungkal ke belakang. Cemburu yang buta dan rasa posesif yang gila meledak di dalam dadanya seperti bom waktu. Ia telah memberikan segalanya—rumah, keselamatan, bahkan nyawa orang lain—hanya untuk Ghea. Tapi di dalam alam bawah sadarnya, Ghea masih mencari pria lain.
"KAU MASIH MENCARINYA?!" teriak Adrian. Suaranya menggelegar di dalam kamar yang sunyi itu.
Ghea tersentak dalam tidurnya, matanya terbuka sedikit, namun hanya menyisakan pandangan kosong yang kabur karena demam. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Adrian seolah kehilangan kewarasannya. Ia menyambar vas bunga porselen di atas meja samping tempat tidur dan membantingnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Prang! "Aku yang menyelamatkanmu! Aku yang ada di sini!" Adrian berteriak sambil menyapu semua barang di atas meja rias Ghea. Botol-botol parfum mahal dan alat rias berterbangan, pecah menabrak dinding.
Ghea meringkuk ketakutan, refleks melindungi kepalanya dengan tangan meski kesadarannya belum penuh. "Adrian... berhenti... sakit..."
"Sakit? Kau tidak tahu apa yang lebih sakit, Ghea!" Adrian mendekati ranjang, kedua tangannya mencengkeram tiang ranjang dengan urat-urat yang menonjol. Wajahnya yang tampan kini berubah menjadi topeng iblis yang mengerikan. "Aku sudah menghapus dunia itu untukmu! Aku sudah mematikan namamu! Tapi kenapa kau masih menyimpan sampah itu di dalam kepalamu?!"
Adrian menarik paksa bantal di samping Ghea—bantal yang tidak digunakan Ghea—dan merobeknya dengan tangan kosong hingga bulu-bulu angsa berhamburan di udara seperti salju yang kotor.
Ghea menangis dalam igauannya, rasa takutnya kini nyata. "Maaf... maaf..."
Adrian terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Ia melihat Ghea yang gemetar hebat di atas kasur. Melihat kerapuhan itu, amarahnya tiba-tiba berubah menjadi obsesi yang lebih gelap. Ia merangkak ke atas kasur, mengurung tubuh Ghea yang panas dengan kedua lengannya.
"Dengarkan aku, Ghea Zanna," bisik Adrian tepat di depan wajah Ghea. Suaranya kini sangat rendah dan mengancam. "Kau tidak punya masa lalu. Kau tidak punya rekan. Kau tidak punya siapa-siapa selain aku. Jika aku mendengar nama pria itu keluar dari mulutmu sekali lagi... aku akan mencari makamnya dan memastikan tidak ada satu pun debu yang tersisa darinya."
Adrian mencengkeram dagu Ghea, memaksanya menatap mata gelapnya. "Kau milikku. Bahkan pikiranmu, bahkan mimpimu... adalah milikku. Paham?!"
Ghea hanya bisa mengerang kecil sebelum akhirnya jatuh pingsan kembali karena tekanan emosional dan demam yang mencapai puncaknya.
Melihat Ghea tak berdaya, Adrian perlahan mulai tenang. Amarahnya surut, berganti dengan rasa sesal yang aneh. Ia mengusap pipi Ghea yang basah oleh air mata dengan ibu jarinya yang masih gemetar.
"Maafkan aku, Sayang," bisik Adrian, suaranya kembali lembut seperti tidak terjadi apa-apa. "Aku hanya tidak ingin kehilanganmu lagi. Jangan pernah membuatku marah seperti ini. Aku benci menjadi monster di depanmu."
Adrian bangkit, mengabaikan kekacauan di lantai—pecahan kaca, bulu bantal, dan barang-barang yang hancur. Ia berjalan keluar kamar dan mengunci pintu dengan sangat pelan.
Di dalam kamar yang hancur itu, Ghea terbaring diam. Namun, di balik kelopak matanya yang tertutup, pikirannya yang demam mulai memproses satu hal: Adrian baru saja merobek bantal yang salah.
Kunci titanium itu masih aman terselip di bantal utama yang kini didekap erat oleh Ghea dalam tidurnya. Tindakan posesif Adrian justru menyadarkan Ghea bahwa pria ini sangat tidak stabil. Dan orang yang tidak stabil adalah orang yang paling mudah membuat kesalahan.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....