setelah berhasil membalas dendam, Tang Yan merasakan kelegaan di hatinya yang membuat kepribadian nya berubah riang dan sedikit konyol.
perjalanan Tang Yan kali ini akan dimulai dari dunia Cyber-kultivasi.
bagaimana ceritanya..? tunggu dan nantikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
manusia kaleng
Di dalam kabin mobil yang melesat dengan kecepatan luar biasa, menembus lapisan awan kelabu yang selalu menjulang di atas langit Neo-Ark, Luna Lin menatap benih hitam yang masih terpegang erat di telapak tangannya. Permukaan benih itu mengkilap seperti batu giok yang telah dipoles dengan cermat, dan kini mulai bergetar dengan irama yang teratur. Seolah sedang merespon getaran alam semesta yang selama ini terhalang oleh gedung-gedung tinggi dan medan elektromagnetik kota. Cahaya samar berwarna ungu muncul dari celah-celah kecil di permukaan benih, memantul pada kaca mobil dengan pola yang menyerupai peta bintang kuno.
"Tuan... benih ini... Mengapa rasanya seperti sedang menangis," ucap Luna dengan bingung namun penuh kekaguman, matanya tidak bisa lepas dari objek ajaib di tangannya. Ia bisa merasakan getaran hangat yang mengalir dari benih itu, seolah sebuah nyawa kecil sedang merindukan cahaya matahari dan tanah yang subur.
Tang Yan yang tadinya masih menyaksikan kejadian di belakang mobil dengan tatapan yang ringan dan tenang, menyaksikan bagaimana kapal-kapal pengawas Cyber-Core berkeliling seperti serangga besar yang sedang mencari mangsa. Ketika ia mendengar panggilan Luna, seketika segera menghentikan ekspresi riangnya. Dia menoleh perlahan, jari-jari yang tadinya bermain-main dengan ujung rambut Xiao Bai yang sedang beristirahat di kursi belakang, kini berhenti bergerak. Pandangannya menyelimuti benih itu dengan kedalaman yang tak sesuai dengan sosok muda yang tampak di tubuhnya, seolah-olah melihat melampaui bentuk fisiknya menembus esensi yang tersembunyi di dalamnya, sebuah keberadaan yang telah ada jauh sebelum kehancuran alam semesta hingga kini setelah dibangun kembali.
"Tentu saja ia menangis. Mungkin benih ini telah terkurung dalam vakum yang dingin, sehingga terpisah dari nutrisi energi alam yang sesungguhnya dalam waktu yang tak terhitung lamanya," jelas Tang Yan dengan suara yang tenang namun penuh makna, matanya terpancar cahaya keemasan samar yang hanya bisa dilihat dalam jarak dekat.
"Ini bukan sekadar benda atau bahan penelitian. Ini adalah salah satu pilar kehidupan yang menyusun alam semesta Benih Teratai Kekacauan Sembilan Warna yang pernah menjadi sumber kehidupan bagi dunia yang kini hanya tinggal reruntuhan kuno yang tersebar di berbagai penjuru alam semesta. Mereka mencoba mempelajarinya dengan logika mesin yang kaku dan membongkarnya dengan alat-alat presisi untuk menciptakan pasukan abadi yang tak kenal lelah. Aku meragukan pula bahwa pelelangan yang diadakan di Cyber-Core hari ini hanya untuk tujuan penelitian semata, pasti ada sesuatu yang lebih dalam yang mereka cari dari benih ini."
Luna tidak sepenuhnya mengerti setiap kata yang keluar dari mulut Tang Yan, namun ia merasakan bobot kebenaran yang terkandung di dalamnya. Tanpa banyak bicara, dia segera menyerahkan benih itu dengan hati-hati kepada Tang Yan, gerakannya lembut seolah sedang menyampaikan barang berharga yang tidak bisa sedikit pun tergores.
Tang Yan mengambil benih itu dengan tangan yang lembut seperti sedang menyentuh kelopak bunga yang baru mekar. Ia meletakkannya di telapak tangannya yang terbuka, lalu menutupinya sebentar, mengumpulkan energi dalam dirinya hingga sebuah lapisan cahaya keemasan tipis menyelimuti kedua tangannya. Dari dalam dirinya, suara bisikan kata-kata kuno yang ia pelajari dari ingatan alam semesta dari buku kekacauan yang menyatu di jiwanya.
"Nyanyian Kebangkitan Jiwa, aliran energi yang membawa kehidupan dari lautan kekosongan..."
Seketika, kulit luar benih hitam itu mulai retak perlahan seperti kulit telur yang akan menetas, lalu sebuah tunas kecil yang memiliki semua warna pelangi perlahan muncul dari dalam cangkang benih yang seperti batu giok. Setiap helai daun muda di tunas itu memancarkan warna yang berbeda.
Merah seperti bara api, biru seperti laut dalam, hijau seperti hutan yang lebat, kuning seperti matahari pagi, ungu seperti bintang malam, jingga seperti senja, hijau muda seperti embun pagi, biru muda seperti langit cerah, dan putih seperti salju bersih. Cahaya warna-warni menerobos atap kaca mobil hingga membentuk pilar cahaya yang menjulang tinggi menembus langit malam kota Neo-Ark, menerangi langit malam dengan keindahan yang luar biasa.
Cahaya itu membelah lapisan awan polusi yang selama ini selalu menjerat langit Neo-Ark, awan yang terbentuk dari emisi mesin dan partikel-partikel logam halus, hingga akhirnya mengungkapkan langit luas dan hamparan bintang yang sebenarnya.
Bintang-bintang itu bersinar jelas dan terang seperti mutiara yang tergeletak di kain malam yang dalam, beberapa di antaranya bahkan membentuk pola yang dikenal sebagai lintasan kultivator kuno. Di bawah mereka, suara teriakan kagum, tangisan emosional, dan teriakan takjub mulai terdengar dari berbagai penjuru kota, dari pemukiman di Sektor Bawah hingga gedung-gedung tinggi di Sektor Atas. Semua orang menyaksikan fenomena langit yang tak pernah terjadi dalam sejarah Neo-Ark.
"Indah sekali..." bisik Luna dengan lembut, air mata mengalir diam-diam di pipinya, menyaksikan pemandangan keajaiban yang selama ini hanya ada dalam dongeng dan imajinasi masa kecilnya, dongeng tentang dunia yang masih memiliki hubungan dengan alam semesta sebelum teknologi mengambil alih segalanya. Di sebelahnya, Chu Ziyi yang biasanya menjaga ekspresi dingin dan tidak terpengaruh, kini juga menatap ke atas dengan mata yang sedikit melebar, tangan kanannya secara tidak sadar menginjak lantai mobil dengan kuat hingga meninggalkan bekas cakar putih pada baja yang tebal.
Namun, kedamaian yang singkat itu segera terganggu oleh bayangan raksasa yang muncul perlahan dari balik awan yang baru saja terbuka. Itu adalah...
"Batas Langit" benteng udara utama Cyber-Core yang ukurannya hampir sebesar sebuah kota, dengan meriam-meriam raksasa yang tersebar di setiap sudutnya seperti duri pada tubuh binatang buas. Struktur benteng itu terbuat dari logam putih mengkilap yang memantulkan cahaya bintang, dengan berbagai jenis antena dan panel energi yang berkedip-kedip dengan warna-warni cahaya elektronik. Di atas benteng itu, berdiri seorang pria mengenakan zirah emas yang mengkilap, setiap bagian zirahnya dihiasi dengan pola-pola sirkuit yang menyala dengan cahaya biru muda. Aura yang terpancar darinya mirip dengan energi spiritual yang dikenal kultivator, namun terasa sangat dingin dan haus kekuatan, seperti energi yang telah dicuri dan dipaksa untuk bekerja sesuai keinginan pembuatnya.
Saat mereka menatap pria besi itu, dia juga melihat kearah mereka dengan seringai kejam di matanya. "Alien... akhirnya kita bisa bertemu langsung," suara pria itu terdengar seperti guntur yang mengguncang seluruh langit, membawa getaran yang membuat udara bergetar dengan gelombang kejut yang membuat mobil mereka bergoyang hebat hingga hampir terbalik. Kaca-kaca mobil mulai bergetar dengan keras, beberapa bagian bahkan sudah mulai retak karena tekanan suara yang luar biasa itu. "Kamu yang telah mencuri harta milik Cyber-Core yang seharusnya digunakan untuk kemajuan peradaban kita! Kalian pantas mati!"
Tang Yan menyipitkan matanya dengan cermat, mengamati setiap gerakan dan gelombang energi yang datang dari pria itu. Dia juga merasakan aura yang tidak asing dari arah pria itu, aura yang mirip dengan akar roh yang menjadi dasar kultivasi, namun juga terasa aneh. Rasanya seperti dibuat dengan cara buatan melalui modifikasi genetika dan implantasi mesin di dalam tubuh.
"Chu Ziyi, lihat orang itu dengan baik," ucap Tang Yan dengan suara yang tetap tenang meskipun suara lawannya mengguncang langit. "Dia bukan manusia biasa seperti manusia lain di kota ini. Dia memiliki sesuatu yang mirip dengan akar roh, tapi dibuat dengan cara yang menyalahi hukum alam dengan menggabungkan jiwa dan mesin, hingga keduanya tak bisa lagi dipisahkan. Mereka telah menyalahgunakan tekhnologi untuk memodifikasi tubuh fisik mereka hanya untuk kekuasaan sementara. Sungguh menyedihkan!"