Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pelukan di Tengah Badai dan Sekutu dari Masa Lalu
Bab 9: Pelukan di Tengah Badai dan Sekutu dari Masa Lalu
Hujan badai seolah ingin menenggelamkan Jakarta malam itu, sama seperti Arini yang merasa tenggelam dalam lautan pengkhianatan. Ia berjalan tanpa arah, kaki indahnya lecet karena sepatu hak tinggi yang ia lemparkan ke selokan beberapa blok yang lalu. Gaun merah marunnya kini melekat dingin di tubuhnya, tampak seperti luka yang menganga di bawah lampu jalan yang remang.
Dunia telah membuangnya. Ayahnya mengusirnya, dan suaminya—pria yang sempat ia pikir adalah pelabuhan terakhirnya—telah menginjak-injak harga dirinya demi digit angka di akun bank Swiss.
Sebuah mobil SUV hitam berhenti mendadak di sampingnya, mencipratkan air genangan ke tubuh Arini. Arini bahkan tidak menoleh; ia terlalu lelah untuk marah. Pintu mobil terbuka, dan seorang pria dengan jaket kulit hitam berlari keluar, menerobos hujan untuk meraih bahunya.
"Arini?! Demi Tuhan, apa yang terjadi padamu?"
Arini mendongak, matanya yang sembap berusaha fokus. Melalui tirai hujan, ia mengenali wajah itu. Rahang yang tegas, mata yang selalu menatapnya dengan kelembutan yang dulu ia anggap membosankan. Bima. Mantan kekasihnya saat kuliah, pria yang ia tinggalkan demi kemapanan yang dijanjikan Reihan.
"Bima..." suara Arini hampir hilang, tertelan gemuruh guntur.
Tanpa banyak bicara, Bima mengangkat tubuh Arini yang menggigil dan membawanya masuk ke dalam mobil. Kehangatan heater mobil menyambutnya, namun dingin di hati Arini tetap tidak bergeming.
Bima membawa Arini ke apartemen pribadinya, sebuah tempat yang jauh dari kemewahan dingin rumah Reihan. Apartemen ini terasa hangat, penuh dengan buku dan aroma kayu cendana.
"Mandilah. Pakai kemejaku di atas ranjang," ucap Bima lembut, memberikan handuk kering. Matanya masih menyimpan sisa-sisa cinta yang belum padam meski bertahun-tahun telah lewat.
Setelah mandi dengan air panas yang tidak mampu menghentikan getaran di tubuhnya, Arini keluar hanya dengan mengenakan kemeja putih Bima yang kedodoran. Ia menemukan Bima sedang menuangkan dua gelas wiski di ruang tengah.
"Aku tahu apa yang terjadi di perjamuan ayahmu," Bima memulai, suaranya rendah. "Aku sekarang bekerja sebagai investigator independen untuk kasus pencucian uang. Aku sudah lama mengawasi Reihan dan ayahmu, Arini. Aku tahu mereka berdua adalah monster."
Arini menyesap wiskinya, merasakan sensasi terbakar di tenggorokannya. "Kenapa kau membantuku, Bima? Aku meninggalkanmu karena aku tergiur oleh dunia mereka."
Bima meletakkan gelasnya, berjalan mendekat hingga ia berdiri tepat di depan Arini. "Karena aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Dan karena aku benci melihat wanita sehebat kau dihancurkan oleh pria-pria yang hanya memuja harta."
Bima menyentuh wajah Arini dengan ibu jarinya, menghapus sisa air mata yang masih ada. Sentuhan itu berbeda dengan Reihan. Tidak ada tuntutan, tidak ada kekasaran. Hanya ada ketulusan yang membuat pertahanan Arini runtuh.
"Bantu aku, Bima," bisik Arini, suaranya parau. "Bantu aku menghancurkan mereka. Aku ingin mereka merasakan apa itu kehilangan segalanya."
"Aku akan memberimu segalanya yang kau butuhkan untuk membalas dendam," jawab Bima, tatapannya mendalam ke dalam mata Arini. "Tapi malam ini, biarkan aku menjagamu. Biarkan aku mengingatkanmu bahwa kau masih hidup."
Ketegangan di antara mereka berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih panas. Arini menarik kerah baju Bima, mencari kehangatan yang telah lama hilang darinya. Di tengah keputusasaan dan api balas dendam yang membara, Arini membutuhkan sesuatu untuk membuatnya merasa nyata.
Bima mengangkat Arini, membawanya ke dalam kamar yang hanya diterangi lampu kota dari balik jendela besar. Di atas sprei katun yang lembut, semua rasa sakit Arini seolah mencair. Bima menciumnya dengan rasa lapar yang tertahan selama bertahun-tahun—ciuman yang penuh dengan janji perlindungan dan gairah yang jujur.
Gairah itu meledak di tengah sunyinya apartemen. Setiap sentuhan Bima terasa seperti obat bagi luka-luka yang ditinggalkan Reihan. Jika Reihan memperlakukannya seperti properti, Bima memperlakukannya seperti permata yang hilang. Arini membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan panas itu, menggunakan tubuh Bima sebagai pelarian dari kenyataan pahit yang menantinya di luar sana.
Malam itu, di bawah rembulan yang tertutup awan, Arini tidak hanya menemukan sekutu. Ia menemukan kembali kekuatannya di tempat yang paling tidak terduga—di pelukan pria yang pernah ia khianati.
Saat fajar mulai menyingsing, Arini terbangun di pelukan Bima. Ia menatap langit-langit kamar dengan mata yang kini berkilat penuh tekad. Ia menoleh ke arah Bima yang masih tertidur, lalu ke arah tasnya di mana ponsel lama ayah Reihan berada.
"Reihan, Ayah, Bianca..." Arini berbisik pelan, sebuah senyum predator tersungging di bibirnya. "Malam ini adalah malam terakhir kalian bisa tidur dengan nyenyak."
Ia kini memiliki akses ke data Bima, dukungan emosional yang kuat, dan rahasia yang tersimpan di ponsel lama itu. Aliansi ini akan menjadi mimpi buruk bagi siapa pun yang pernah meremehkan seorang Arini.