Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.
Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.
Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.
Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Tak Terduga
Satya terkejut melihat perempuan yang berdiri di depan pintu. Dia adalah salah satu perawat yang terkenal judes, suka memarahi pasien yang susah ditangani. Melihat kehadirannya, Satya langsung menenggak semua obat yang disiapkan Miranda untuknya sampai hampir membuatnya tersedak.
Miranda kaget lalu tersenyum melihat perubahan sikap Satya yang tiba-tiba dan dia mengerti alasannya. Satya ternyata takut dengan perawat yang satu itu. Rio diam-diam menertawakannya, tapi berusaha menahannya.
“Tidak ada, masalah, Sus,” jawab Miranda.
“Baguslah, kalau ada pasien yang bikin susah keluarganya panggil saja aku, aku siap memukul pantatnya sampai dia mau nurut.” Lalu perawat itu pergi menghilang dibalik pintu.
Mendengar ucapannya saja Satya sudah ngeri, apa lagi membayangkan wanita itu benar-benar memukul dirinya, Satya sampai merinding.
“Ha ha ha ha ...!” Rio tak bisa menahan tawanya melihat raut wajah Satya yang panik melihat perawat itu. “Ternyata preman yang dulu ditakuti di sekolah takut juga sama perawat, lihatlah mukanya sampai pucat seperti itu ha ha ha ...!’”
Buck!
Satu bantal melayang ke arah Rio, tapi tak membuat anak muda itu berhenti tertawa. Satya sampai ingin beranjak bangun dan menghajarnya kalau saja Miranda tidak mencegahnya.
“Mah, setelah aku keluar dari rumah sakit apa kalian langsung pulang ke rumah?” tanya Satya.
“Tidak, kebetulan ayah ada beberapa urusan bisnis di sini. Ingin mencoba menjalin kerja sama, dan juga mencari keberadaan Hanin.”
“Kalian masih mengharapkannya, sudah lima tahun berlalu, tapi dia tak pernah memberikan kabar apa lagi pulang, aku rasa dia sudah melupakan kita, jadi kalian jangan terlalu berharap.”
“Selama di sini kau juga ke mana saja. Kamu bilang mau membawa Hanin pulang, nyatanya sampai sekarang kamu cuma bohongi mama,” tanggapan Miranda.
“Sebenarnya ...,” Satya menghentikan kalimatnya. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi pasti membuat mereka sedih. “Aku masih terlalu sibuk kuliah, jadi tidak ada waktu mencarinya. Sekarang sedang melamar pekerjaan di beberapa perusahaan.”
“Kamu bekerja? Sebaiknya persiapkan saja dirimu melanjutkan di perusahaan papa, ujar Elvan.
“Aku masih muda ingin mencari pengalaman baru sesuai dengan keahlianku, Pa,” tolak Satya. Elvan tak bisa memaksanya, apa yang dikatakan Satya memang benar.
“Sudahlah, yang penting sembuh dulu baru pikirkan pekerjaan,” kata Miranda.
••
Sore itu Hanin pulang kuliah langsung datang ke rumah sakit tanpa memberi kabar pada siapa pun termasuk Daniyal. Saat tiba di ruangan ternyata ruangan tempat ayahnya dirawat sudah kosong. Dia bertanya pada petugas kebersihan yang tengah merapikan ruangan kembali.
“Maaf, Mas, pasien yang berada di sini di mana, ya?” tanya Hanin.
“Sudah pulang, Nona,” jawab petugas.
“Sudah pulang?” Hanin tertegun dia masih tidak percaya ayahnya sudah pulang. Padahal sebelumnya ayahnya bersikeras memilih dirawat di rumah sakit.
‘Kenapa tidak ada yang memberitahuku?’ batinnya kesal. Hanin langsung menghubungi Amaan, dia pasti yang membawa ayahnya pulang. Namun, Panggilan itu tak diangkat. Hanin lantas beralih menghubungi Daniyal. Tersambung.
“Ayah pulang Kakak tidak memberitahuku?” Hanin berbicara di telepon sambil berjalan meninggalkan ruangan.
“Ini permintaannya, Nona, dia bilang sudah terlalu lama meninggalkan rumah,” jawab Daniyal.
“Tapi jika bertemu dengan wanita itu tidak baik untuk ayah.” Hanin masih berjalan di koridor dengan wajah agak kesal. “Ya sudah, tolong jaga ayah, aku tidak mau dia kenapa-kenapa.” Hanin mendengus kesal, mematikan teleponnya lalu memasukkan ponsel ke dalam tasnya.
Hanin berhenti sejenak saat merasa dia salah arah, seharusnya dia jalan ke kanan, tapi dia memilih ke ke kiri. Hanin dengan cepat berbalik arah, tak menyadari di belakangnya ada pasien duduk di atas kursi roda. Kaki Hanin terantuk kursi roda dan hampir menimpa pasien itu, untung seseorang dengan cepat menarik tubuhnya, dalam sekejap dirinya sudah berada dalam pelukan seseorang itu.
Hanin berpikir dirinya sedang bermimpi. Matanya yang sudah bulat membulat sempurna begitu menyadari sosok pria itu.
“Kakak?”
“Hani?”
Suara mereka bersamaan.
Waktu seakan berhenti, detak jantung sama-sama berdegup begitu cepat, kedua mata saling memandang tak percaya. Setelah lima tahun tak bertemu ternyata mereka dipertemukan di tempat itu. Banyak perubahan yang terjadi. Hanin bisa melihat Satya bertambah dewasa.
Hanin buru-buru menarik diri menjauhi Satya saat sadar apa yang pernah Satya lakukan terakhir padanya.
“Maaf, aku sedang buru-buru,” ucap Hanin dan buru-buru pergi.
Satya masih tenggelam dalam lamunannya, dia nyaris tak mengenali Hanin kalau saja tak bertemu sedekat barusan. Hanin yang dewasa dan memiliki kecantikan yang tidak berubah.
Seseorang menepuk bahunya mengejutkan Satya.
“Kalau cuma dilamunkan maka kamu akan kehilangan dia lagi, Satya,” ujar laki-laki di sampingnya.
“Maksudmu, siapa?” Satya bertanya seperti orang linglung.
Rio memutar bola matanya sembari menghembus nafas kasar.
“Hani, siapa lagi. Barusan kau sudah menemukannya, tapi kau biarkan dia pergi begitu saja.”
“Apa tadi itu bukan mimpi, aku pikir kejadian barusan cuma khayalanku saja.”
“Kau mau kejar dia atau kita pulang sekarang.”
“Ke arah mana dia pergi?”
“Aku rasa turun.”
Seketika Satya berlari di sepanjang koridor rumah sakit lalu berjalan menuruni tangga. Baru turun satu lantai dia sudah kelelahan. Satya kini memutuskan menggunakan lift.
Pucuk di cinta, ternyata Satya masuk lift di mana Hanin berada, hanya saja Satya tak menyadarinya karena Satya sedang berjongkok mengatur nafasnya yang berat. Sepertinya kesehatannya belum pulih maksimal. Dia masih mudah lelah. Jika seperti itu, maka bertemu dengan Hanin percuma saja, dia tidak akan bisa menjaga Hanin jika kenapa-kenapa.
Hanin masih menyembunyikan diri di belakang orang lain. Namun, satu persatu orang-orang itu keluar dari lift di lantai berikutnya, akhirnya menyisakan dirinya dan Satya.
‘Kenapa jadi cuma berdua?’ batin Hanin cemas, melihat kanan kiri sudah tidak ada orang lain selain dirinya dan Satya. Hanin tiba-tiba khawatir kalau Satya kembali memaksanya seperti saat di Vila.
Setelah menegakkan tubuhnya kembali, Satya menoleh ke belakang dirinya perlahan. Dia merasa masih ada orang di belakangnya. Begitu menyadari orang itu adalah Hanin, Satya malah menjatuhkan dirinya di pojok ruang itu yang masih bergerak ke arah turun.
Melihat kelakuan Satya, Hanin merasa ada yang aneh dengan Satya. Dia tidak tahu apa, tapi Satya tak pernah terlihat begitu lemah.
“Kenapa kamu lari dariku, Hani, bukannya menyapaku?” tanya Satya, wajahnya masih sedikit pucat.
“Aku, tidak bermaksud begitu. Aku hanya belum siap bertemu denganmu.”
Satya tersenyum smirk. Mendengar Hanin memanggil dirinya tanpa embel-embel kakak rasanya aneh. Hanin seperti orang asing. Mungkin dia sudah tidak menganggap dirinya sebagai kakaknya lagi.
“Aku tahu, aku cuma mantan kakakmu, dan sekarang kau sudah menganggapku seperti orang lain.”
“Bukan seperti itu, Kak.”
Satya berusaha bangun dengan berpegangan pada dinding lift. Baru saja dia mengangkat tubuhnya, tiba-tiba dia merasakan benturan yang cukup keras, membuat Hanin berteriak histeris. Tak lama kemudian lift berhenti.
“Apa ini, Kak?” kembali Hanin bertanya dengan wajah cemas.
“Mungkin...,” Satya menduga, tapi melihat wajah Hanin yang cemas, Satya memutuskan tidak memberitahunya. Dia tahu saat itu lift mungkin mati dan berhenti sebelum tiba di lantai satu. “Kamu tidak usah takut, di sini ada kakak.” Satya berusaha menenangkan.
Hanin tak mengerti apa maksud ucapan Satya, dia mencoba memikirkan maksudnya. Hanin akhirnya memahaminya.
“Apa lift ini rusak?” tanya Hanin tegang. Satya mengedipkan matanya perlahan. Hanin langsung panik dan gelisah. Dia mondar-mandir di ruangan itu.
“Berhenti mondar-mandir, Hani, itu akan membuang energimu percuma.” Tak ada yang bisa dilakukannya Satya kembali duduk.
Sikap santai Satya membuat Hanin mengira dia tidak mau melakukan apa pun, dan menuduhnya menggunakan kesempatan itu untuk bisa bersama dengannya.
“Kalau kita diam saja kita tidak bisa keluar dari sini, lakukan sesuatu!” Hanin berbicara pada Satya.
“Tidak ada yang bisa dilakukan, kita tunggu saja pertolongan datang dan duduklah dengan tenang!” pinta Satya.
“Aku tidak mau, bagaimana kalau kau melakukan sesuatu padaku?”
Satya mengangkat sudut bibirnya, ternyata itu yang sedang dicemaskan Hanin, karena takut dirinya melakukan sesuatu padanya.
“Apa kau punya minum?” tanya Satya tiba-tiba.
Hanin mengangguk, “Ada,” jawabnya.
“Berikan padaku!”
Hanin terlalu banyak berpikir di setiap sikap Satya, bahkan hanya diminta air minum saja dia berpikir lama.
“Aku hanya minta minum kau menatapku curiga seperti itu. Sudahlah, lupakan saja!” Satya berubah kesal.
Hanin melangkah mendekat dan mengulurkan botol minum yang diambilnya dari dalam tasnya, dia masih berdiri dengan menjaga jarak.
Melihat botol di hadapannya Satya langsung menariknya, tak disangka Hanin masih menahan botol itu di tangannya sehingga membuat tubuh Hanin tertarik ke arah Satya jatuh menimpanya.