Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Malam itu, setelah Relia tertidur pulas karena kelelahan emosional, Ariel masuk ke kamar dengan langkah sangat pelan.
Ia melihat laptop yang masih terbuka di atas meja kecil samping tempat tidur.
Ariel berniat mematikan laptop itu agar Relia bisa beristirahat tanpa gangguan cahaya layar. Namun, saat tangannya menyentuh trackpad, matanya terpaku pada barisan kalimat yang tertera di sana.
"Ikat Pinggang yang Putus"
Ariel mulai membaca novel yang dibuat oleh istrinya tadi siang.
Paragraf demi paragraf ia baca sampai napasnya semakin berat.
Sebagai psikiater, ia tahu detail trauma Relia, tapi membaca pikiran istrinya yang dituangkan dalam bentuk prosa yang begitu jujur dan menyakitkan, membuat jantung Ariel terasa diremas.
Setiap diksi yang dipilih Relia menggambarkan keputusasaan yang luar biasa, namun terselip semangat perlawanan yang mulai tumbuh.
"Kamu luar biasa, Relia..." bisik Ariel pelan.
Sebuah ide muncul di benaknya, Ariel tahu kalau salah satu cara tercepat untuk membangun kembali rasa percaya diri korban pelecehan adalah dengan memberikan mereka "suara" dan dukungan dari dunia luar.
Ia ingin Relia tahu bahwa dia tidak sendirian, dan bahwa ribuan orang akan berdiri di pihaknya.
Dengan hati-hati, Ariel menyalin tulisan itu. Dan membuka sebuah aplikasi platform menulis novel populer yang sedang naik daun.
Tanpa menggunakan nama asli sang istri, ia justru menggunakan nama pena "The Silent Survivor".
Setelah itu Ariel memposting bab pertama tersebut.
Ia hanya memberikan deskripsi tulisan singkat di halaman pembuka.
Berdasarkan kisah nyata dan tentang sebuah keheningan yang akhirnya pecah.
Ariel kemudian menutup laptopnya dan ikut berbaring di samping Relia, memeluknya dengan sangat hati-hati agar tidak menyentuh luka di punggungnya.
Ia lekas memejamkan matanya dan berbaring di tempat tidur yang sama dengan Relia.
Tengah malam Ariel terbangun karena ponselnya terus bergetar.
Ia meraih ponsel itu dan tertegun melihat notifikasi yang membanjir dari aplikasi menulis tersebut.
Baru dua jam diposting, tulisan Relia sudah menjadi trending.
@DuniaBercerita 'Ya Tuhan, aku membaca ini sambil gemetar. Bagaimana bisa ada manusia sejahat itu? Tolong lanjutkan, Penulis! Kami mendukungmu!'
@LukaYangSembuh 'Aku pernah di posisi ini. Membaca paragraf tentang kain penyumpal itu membuatku menangis histeris. Kamu kuat, Sayang! Jangan berhenti menulis!'
@KeadilanUntukSemua 'Siapa pun pria di balik cerita ini, dia harus membusuk di penjara. Tulisan ini sangat emosional. Visualisasinya sangat nyata, sakitnya sampai ke sini.'
@JusticeSeeker 'Apakah ini kisah nyata? Jika ya, tolong beri tahu kami bagaimana cara membantu korban!'
Ariel tersenyum puas, karena ada lebih dari lima ribu komentar dan puluhan ribu pembaca dalam waktu singkat.
Orang-orang memberikan dukungan moral yang luar biasa.
Tulisan Relia bukan hanya sekadar cerita, tapi menjadi gerakan solidaritas.
Ariel tidak kembali tidur karena sekarang jam dua pagi.
Ia ingin melihat apakah Relia akan bangun dan menyumpal mulutnya lagi.
Ariel duduk di kursi dekat ranjang, matanya tidak lepas dari jam digital di ponselnya yang menunjukkan pukul dua pagi.
Angka itu menyala merah dalam kegelapan kamar, seperti alarm yang memicu adrenalin di nadinya.
Ia menatap Relia yang masih terlelap, namun tubuh istrinya itu mulai menunjukkan tanda-tanda kegelisahan.
Tangan Relia mulai meraba-raba sprei, jemarinya mencengkeram kain dengan kuat.
Napasnya mulai memburu, pendek-pendek, dan keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"Mmm... jangan... gelap..." igau Relia.
Ariel tidak menunggu sampai Relia benar-benar terjaga dalam histeria.
Ia segera berpindah duduk di tepi ranjang, lalu dengan sangat lembut meraih kedua tangan Relia dan menggenggamnya, mengunci jemari itu agar tidak meraba-raba mencari kain untuk menyumpal mulutnya sendiri.
"Relia, bangun, Sayang. Lihat aku," bisik Ariel dengan suara bariton yang sangat tenang.
Relia langsung tersentak saat mendengar suara suaminya.
Matanya membelalak liar, menatap sekeliling dengan penuh ketakutan.
Saat matanya menangkap siluet seorang pria di depannya, ia langsung menarik tangannya dengan kasar dan meringkuk di sudut kepala ranjang.
"Mas.... Mas Markus? Ampun, Mas! Aku sudah diam! Aku tidak akan bicara!" jeritnya lirih dengan suara yang nyaris hilang karena cekatan tenggorokan.
"Relia, ini aku. Ariel. Suamimu," Ariel tetap diam di tempatnya, tidak mengejar agar Relia tidak merasa terpojok.
"Lihat sekelilingmu, sayang. Ini bukan kamar itu. Ini rumah kita di perbukitan. Tidak ada Markus di sini."
Relia menatap wajah Ariel dengan napasnya masih tersengal-sengal.
Ia melihat ke arah pintu yang tertutup rapat, lalu beralih ke tangan Ariel yang kosong.
Perlahan, kesadarannya kembali. Kehangatan kamar dan aroma terapi lavender di ruangan itu mulai mengusir bayangan gelap pukul dua pagi.
"A-Ariel?" bisik Relia.
"Iya, ini aku." Ariel mendekat, menarik Relia ke dalam pelukannya.
"Kamu hebat. Kamu tidak mencari kain itu lagi. Kamu melewati menit pertama dengan memanggil namaku, bukan melakukan ritual itu."
Relia menangis di dada Ariel. "Aku sangat takut, rasanya dia berdiri di sana, memegang kain hitam itu."
"Dia tidak akan pernah bisa masuk ke sini lagi, Relia. Dan ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu," Ariel meraih laptop di meja samping.
"Ada sesuatu yang mungkin akan membuatmu sadar bahwa kamu tidak sendirian menghadapi monster itu."
Ariel membuka aplikasi menulis semalam dan menunjukkan kolom komentar yang terus mengalir deras.
"Apa ini?" tanya Relia bingung, melihat ribuan angka dan nama asing di layar.
"Ini adalah orang-orang yang membaca tulisanmu siang tadi. Aku mempostingnya dengan nama pena The Silent Survivor. Lihat ini, Relia..." Ariel membacakan salah satu komentar teratas.
"Jangan menyerah, Kak Penulis. Kamu bukan sampah, kamu adalah pahlawan bagi kami yang masih bungkam. Teruslah menulis, biar dunia tahu kejahatan mereka!"
Relia tertegun. Matanya menelusuri komentar demi komentar.
Ada yang mendo'kan dirinya, ada yang bercerita tentang pengalaman serupa, dan ada yang mengutuk perbuatan Markus—meski mereka hanya mengenalnya sebagai "tokoh antagonis" dalam cerita.
"Mereka tidak jijik padaku?" tanya Relia dengan suara bergetar.
"Jijik? Tidak, Relia. Mereka marah pada pelakunya, dan mereka kagum padamu. Kamu memberi mereka kekuatan untuk bicara. Dunia luar sedang menunggumu sembuh melalui tulisan ini." jawab Ariel.
Untuk pertama kalinya di pukul dua pagi, Relia tidak merasa sesak.
Ia merasakan sebuah kekuatan baru dimana ia tidak lagi merasa gila atau kotor, karena ribuan orang asing di luar sana memvalidasi rasa sakitnya sebagai sebuah kebenaran yang harus diperjuangkan.
"Mas, aku ingin menulis lagi," ucap Relia tiba-tiba.
"Aku ingin menulis bab di mana aku akhirnya berani menatap matanya dan berkata bahwa dia tidak punya kuasa lagi atas jiwaku."
"Tuliskan, Sayang. Tuliskan semuanya." ucap Ariel.
Ariel tidak memindahkan posisinya sedikit pun, ia membiarkan bahu kanannya menjadi sandaran bagi kepala Relia, sementara tangannya yang bebas merangkul pinggang sang istri dengan protektif.
Ia menatap layar laptop yang masih menyala, di mana kursor masih berkedip di akhir kalimat yang baru saja diketik oleh Relia.
Menatap Mata Sang Iblis
Selama ini, aku percaya bahwa kekuatannya terletak pada ikat pinggang dan kain hitam itu. Namun, aku salah. Kekuatannya terletak pada keheninganku.
Semakin aku diam, semakin besar monster itu tumbuh dalam bayanganku.
Tapi malam ini, di dalam kepalaku, aku tidak lagi menunduk.
Aku membayangkan berdiri di hadapannya, tanpa gemetar, tanpa air mata.
Aku ingin berkata padanya bahwa kulitku mungkin bisa kau sakiti, tapi jiwaku bukan lagi milikmu untuk kau injak.
Aku bukan lagi korban yang bersembunyi di balik sprei.
Aku adalah api yang akan membakar seluruh kebohonganmu.
Ariel tersenyum membaca tulisan istrinya yang luar biasa.
Ia bisa merasakan napas Relia yang mulai teratur dan tenang di bahunya.
Rasa hangat menjalar di hatinya; ini adalah kemajuan terbesar.
Jam menunjukkan pukul tiga kurang seperempat, dimana jam biasanya menjadi medan perang, kini berubah menjadi ruang kreativitas dan kedamaian.
Ariel perlahan menutup layar laptop dengan tangan kirinya agar cahaya layarnya tidak mengusik tidur Relia.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia mengangkat tubuh mungil istrinya dan membaringkannya kembali ke atas bantal yang empuk.
"Tidurlah, Penulis Kecilku," bisik Ariel lembut.
Ia menyelimuti Relia hingga sebatas dada dan setelah itu ia juga ikut tidur.
mudah"an relia selamat