Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.
Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:
"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."
Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Terjebak di Lift
"Itu lift kargo! Dia lari ke sana!"
Zoya berteriak sambil menunjuk pintu besi besar di ujung lorong basement yang baru saja tertutup. Lampu indikator di atasnya menyala merah, menunjukkan panah bergerak naik.
"Sialan! Dia mau kabur lewat akses logistik!" Kalandra mengumpat, kakinya berlari kencang menyusuri lorong yang licin. Tanpa pikir panjang, dia menekan tombol panggil di lift sebelahnya—lift servis yang biasanya dipakai petugas kebersihan.
Ting.
Pintu lift servis terbuka. Kosong.
"Masuk, Zoya! Cepat! Kita potong jalannya di lantai satu!" perintah Kalandra sambil menarik tangan istrinya.
Mereka berdua melompat masuk ke dalam kotak besi sempit yang berbau karbol dan sampah basah itu. Kalandra menekan tombol angka '1' berkali-kali dengan tidak sabar, seolah memukul tombol itu bisa membuat lift bergerak lebih cepat.
Pintu lift menutup perlahan dengan bunyi grek yang menyakitkan telinga. Mesin tua itu bergetar, lalu mulai merambat naik membawa mereka meninggalkan basement yang dingin.
"Dia pasti punya akses override," gumam Zoya, matanya menatap angka indikator yang berganti lambat. "Kalau dia bisa meretas penthouse kita, meretas sistem lift rumah sakit tua ini cuma butuh waktu lima detik buat dia."
"Tenang saja. Aku sudah perintahkan Raka kepung semua pintu kelu..."
DUAR!
Suara ledakan kecil terdengar dari atas poros lift, diikuti sentakan keras yang membuat tubuh mereka terhuyung dan menabrak dinding logam.
Ckiiiiiit...
Lift berhenti mendadak. Bukan berhenti yang halus, tapi berhenti kasar seolah kabelnya ditarik paksa. Lampu neon di langit-langit lift berkedip dua kali, lalu mati total.
Gelap gulita.
Hanya lampu darurat berwarna merah suram yang menyala di sudut, menciptakan bayangan menyeramkan di wajah mereka. Kipas ventilasi di atas mati. Suara dengungan mesin hilang.
Hening.
Beberapa saat kemudian.
"Mas?" panggil Zoya pelan. "Mas nggak apa-apa?"
Tidak ada jawaban. Hanya suara napas yang berat dan cepat. Hah... hah... hah...
Zoya menyalakan senter ponselnya, mengarahkannya ke wajah suaminya.
Dia terkejut.
Kalandra, Komandan Reskrim yang tadi begitu gagah mendobrak pintu dengan pistol, kini bersandar lemas di dinding lift. Wajahnya pucat pasi, keringat sebesar biji jagung membanjiri dahinya. Tangannya mencengkram kerah kemejanya sendiri seolah ingin merobeknya.
"Panas..." desis Kalandra, suaranya tercekik. "Sempit... temboknya... temboknya gerak..."
Zoya langsung paham. Claustrophobia. Ketakutan irasional pada ruang sempit tertutup. Dia tidak tahu suaminya punya fobia ini.
"Mas, lihat aku," Zoya mendekat, menyimpan ponselnya di saku, lalu menangkup wajah Kalandra dengan kedua tangannya yang dingin. "Dindingnya nggak gerak. Ini cuma lift macet. Kita aman."
"Nggak... nggak bisa napas..." Kalandra menggeleng panik, matanya liar menatap sekeliling kotak besi itu. Oksigen di ruangan itu memang menipis karena ventilasi mati, tapi bagi penderita fobia, rasanya seperti dicekik setan. "Buka pintunya, Zoya! Buka!"
Kalandra hendak memukul pintu baja itu dengan tangan kosong.
"Jangan! Mas bisa patah tulang!" Zoya menahan tangan kekar itu sekuat tenaga. Dia mendorong tubuh Kalandra kembali ke dinding.
"Mas Kalandra! Dengar aku!" bentak Zoya tegas, mode dokter-nya aktif. "Detak jantungmu tachycardia, di atas 140 bpm. Kalau Mas panik, Mas bakal pingsan karena hiperventilasi. Oksigen di otak Mas bakal drop."
"Sesak..." Kalandra merosot, lututnya lemas. Dia terduduk di lantai lift yang kotor. Rasa takut itu melumpuhkan logika polisinya.
Zoya ikut berlutut di hadapannya. Dia tidak mengejek, tidak juga terlihat kasihan. Dia bertindak taktis. Zoya meraih tangan kanan Kalandra, menempelkannya tepat di dada kiri Zoya sendiri.
"Rasakan ini," perintah Zoya lembut namun otoriter. "Rasakan detak jantungku. Normal, kan?"
Kalandra merasakan detak jantung istrinya di balik kemeja tipis itu. Teratur. Tenang. Dug... dug... dug...
"Sekarang ikuti napasku. Tarik..." Zoya menarik napas panjang, mendemonstrasikan dengan bunyi yang jelas. "Tahan... Buang..."
Kalandra mencoba mengikuti, meski dadanya masih terasa sakit. Dia menatap mata Zoya yang diterangi lampu merah temaram. Di sana, di mata istrinya yang biasanya dingin, dia melihat jangkar. Zoya adalah satu-satunya hal nyata di tengah teror pikirannya.
"Lagi. Tarik napas... satu, dua, tiga... buang," pandu Zoya sabar. Tangannya beralih memijat tengkuk Kalandra, menekan titik saraf vagus untuk menurunkan detak jantung.
Perlahan, napas Kalandra mulai teratur. Keringat masih bercucuran, tapi tatapan liarnya mulai fokus kembali ke wajah cantik di depannya.
"Maaf..." bisik Kalandra parau, merasa malu setengah mati. "Aku... aku nggak tahu kenapa..."
"Fobia itu bukan kelemahan, Mas. Itu respon biologis," potong Zoya cepat. Dia mengeluarkan sapu tangan dari saku trench coat-nya, lalu dengan telaten menyeka keringat di dahi suaminya. "Masih pusing?"
Kalandra menggeleng lemah. Dia menatap Zoya lekat-lekat. Jarak wajah mereka hanya sejengkal. Di situasi hidup mati ini, di dalam kotak besi yang sempit, Kalandra justru merasakan kedekatan yang aneh dengan wanita yang dijodohkan dengannya ini.
"Zoya..."
"Hm?"
"Makasih."
Zoya tersenyum tipis. Sangat tipis. "Nanti bayar pakai cheesecake lagi."
Tiba-tiba, terdengar bunyi ding nyaring dari speaker lift.
Lampu indikator menyala kembali. Mesin bergemuruh hidup. Lift itu tidak naik ke lantai satu seperti tujuan mereka. Lift itu justru turun kembali ke basement.
"Mas, berdiri," bisik Zoya, insting waspadanya menyala lagi. "Lift-nya dikendalikan dari luar. Kita ditarik balik ke bawah."
Kalandra memaksakan diri berdiri meski kakinya masih gemetar. Dia mencabut pistolnya lagi, mengarahkan laras ke pintu lift yang mulai terbuka perlahan.
"Siapapun di luar sana, angkat tangan!" teriak Kalandra serak.
Pintu lift terbuka lebar.
Cahaya lampu lorong basement yang suram menyambut mereka. Tidak ada polisi. Tidak ada Raka.
Yang ada hanyalah seorang pria bertubuh kurus tinggi, mengenakan jas lab putih yang penuh bercak darah. Wajahnya tampan tapi tirus, dengan senyum ramah yang tidak mencapai matanya.
Itu Dr. Hanggara.
Dia berdiri santai di depan pintu lift, seolah sedang menyambut tamu hotel. Di tangan kanannya, dia memegang sebuah suntikan besar berisi cairan bening.
"Halo, Komandan. Halo, Dokter Zoya," sapa Hanggara lembut, suaranya bergema di lorong sepi. "Maaf lift-nya agak kasar tadi. Saya cuma mau memastikan kalian tidak melewatkan pesta penyambutan saya."
Kalandra mau menekan pelatuk, tapi tangannya masih tremor sisa serangan panik tadi.
"Jangan bergerak atau saya tembak!" ancam Kalandra.
Hanggara tertawa kecil. Dia mengangkat suntikan itu setinggi mata.
"Silakan tembak, Komandan. Tapi kalau jari Anda bergetar sedikit saja dan meleset..." Hanggara menunjuk tabung gas besar di sampingnya yang sudah dipasangi pemicu. "Satu tembakan nyasar ke tabung Oksigen cair ini, kita semua meledak jadi kembang api. Pilihan ada di tangan Anda."