Safa, wanita dari keluarga sederhana, memberikan makanan pada seorang pria yang dia anggap pengemis – ternyata adalah Riki, CEO perusahaan besar. Terharu dengan kebaikan Safa, Riki menyembunyikan statusnya, mereka jatuh cinta dan menikah.
Ketika Safa bekerja di kantor Riki, dia bertemu "Raka" – teknisi yang ternyata adalah Riki yang berpura-pura. Setelah menemukan kebenaran, Safa merasa kecewa, tapi Riki membuktikan cintanya tulus dengan memperkenalkannya pada keluarga aslinya. Mereka akhirnya memperpublikasikan pernikahan mereka dan hidup bahagia dengan cinta yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RIKI MENGETAHUI SAFA AKAN INTERVIEW DI KANTORNYA, MERENCANA IDENTITAS "RAKA"
Setelah Safa tertidur nyenyak karena capek setelah hari penuh persiapan, Riki masih terjaga dan duduk di ruang tamu dengan wajah yang penuh perhitungan.
Dia tahu bahwa Innovate Solusi adalah perusahaan yang dia dirikan dan pimpin sebagai CEO. Jika Safa diterima dan mulai bekerja di sana, dia akan segera mengetahui identitas sebenarnya dari suaminya – hal yang Riki ingin hindari karena takut Safa merasa tertipu atau hanya mencintainya karena kekayaan dan statusnya.
"Apa yang harus kulakukan?" bisik Riki sambil menggaruk kepalanya. Dia ingin Safa mencintainya karena siapa dia sebagai pribadi, bukan apa yang dia miliki.
Setelah berpikir lama, sebuah ide muncul di benaknya – dia akan berpura-pura menjadi seorang teknisi kantor dengan nama samaran agar bisa tetap dekat dengan Safa tanpa mengungkap identitasnya sebagai CEO.
Riki segera menghubungi Pak Budi, teman bisnisnya yang sudah mengenalnya sejak lama dan selalu bisa dipercaya. "Pak Budi, saya perlu bantuanmu darurat," ucap Riki saat telepon terhubung di tengah malam. "Saya punya masalah yang cukup rumit terkait dengan perusahaan dan keluarga saya."
Setelah menjelaskan situasinya dengan rinci, Pak Budi langsung mengerti dan tanpa ragu bersedia membantu. "Jadi Anda ingin berpura-pura jadi teknisi kantor di perusahaan sendiri ya Pak Riki? Ini bisa dilakukan, tapi kita harus merencanakannya dengan sangat matang agar tidak ada satu kesalahan pun yang membuat Bu Safa curiga."
"Betul sekali Pak Budi," jawab Riki dengan serius. "Saya ingin Safa bisa bekerja dengan nyaman dan berkembang sesuai kemampuannya sendiri, tanpa merasa ada tekanan karena hubungan dengan saya sebagai pemilik perusahaan."
Mereka segera merencanakan langkah demi langkah yang harus dilakukan:
Membuat identitas palsu
Nama samaran yang dipilih adalah "Raka Wijaya". Pak Budi akan menangani pembuatan dokumen pendukung seperti kartu identitas, surat keterangan kerja sebelumnya dari perusahaan fiktif, dan semua yang dibutuhkan agar identitas tersebut tampak sah dan tidak mencurigakan.
Persiapan kompetensi teknis
Riki perlu belajar cara bekerja sebagai teknisi kantor biasa – mulai dari memperbaiki printer dan komputer, menangani masalah jaringan dasar, hingga merawat peralatan kantor lainnya. Dia juga akan mempelajari kosakata dan cara berbicara yang biasa digunakan oleh teknisi agar tidak terlihat mencolok.
Pengaturan jadwal kerja
Riki akan datang ke kantor lebih awal untuk mengganti pakaian menjadi seragam teknisi dan mulai bekerja sebagai "Raka" sebelum Safa tiba. Saat jam pulang tiba, dia akan pergi lebih dulu untuk berganti pakaian kembali dan menunggu Safa di luar gedung seperti biasa.
Instruksi untuk seluruh karyawan
Semua manajemen perusahaan akan diberitahu untuk tidak menyebutkan identitas aslinya di depan Safa. Seluruh karyawan harus diperintahkan untuk memperlakukan "Raka" sebagai teknisi biasa dan tidak memberikan perlakuan khusus apa pun.
"Kita juga perlu menyediakan ruang ganti khusus di lantai bawah gedung Pak," tambah Pak Budi. "Tempat yang tidak banyak orang tahu, di mana Anda bisa berganti pakaian dan menyimpan barang-barang pribadi tanpa diketahui oleh siapapun."
Riki mengangguk dengan puas. "Itu sangat penting Pak Budi. Selain itu, saya juga perlu belajar semua tugas teknisi kantor dengan cepat. Bisa Anda cari orang yang bisa mengajari saya sebelum hari interview Safa?"
"Tentu saja Pak. Saya akan minta Bima – teknisi terbaik kita yang sudah bekerja selama tiga tahun – untuk mengajari Anda semua yang perlu Anda ketahui dalam waktu dua hari ke depan," jawab Pak Budi dengan senyum. "Anda harus belajar dengan sungguh-sungguh ya Pak, karena teknisi kantor yang baik harus bisa menangani berbagai masalah dengan cepat."
Setelah selesai berbicara dengan Pak Budi, Riki merasa sedikit lega. Meskipun rencananya cukup rumit dan penuh risiko, dia merasa itu adalah cara terbaik untuk melindungi cinta yang dia miliki dengan Safa.
Di pagi harinya, Riki bangun pukul 04.00 dan segera pergi ke kantor untuk memulai persiapan pertamanya.
Dia mengenakan pakaian kasual dan datang ke departemen teknis dengan menyamar sebagai calon karyawan baru yang akan magang.
"Saya Raka Wijaya, calon teknisi kantor," ucap Riki dengan suara yang dia coba ubah agar sedikit lebih kasar dari suaranya yang sebenarnya. "Saya ingin belajar tentang pekerjaan teknisi kantor dari yang terbaik di sini."
Kepala Departemen Teknis yang sudah diberitahu tentang rencana ini segera menerima Riki dengan senang hati dan menyuruh Bima untuk mengajarkannya semua yang perlu diketahui.
Riki belajar dengan sangat tekun – mulai dari cara membongkar dan merakit kembali printer yang macet, cara memperbaiki sistem komputer yang bermasalah, hingga cara menangani keluhan dari karyawan dengan sopan.
Meskipun terkadang merasa kesulitan karena belum terbiasa dengan pekerjaan fisik seperti itu, Riki tidak pernah menyerah.
Dia tahu bahwa semua usaha ini akan sebanding dengan kebahagiaan Safa saat dia bisa bekerja dengan nyaman dan meraih impiannya.
"Saya harus bisa melakukan ini untuk Safa," bisik Riki sambil fokus memperbaiki sebuah komputer yang mengalami masalah sistem operasi.