NovelToon NovelToon
Istri Yang Mereka Remehkan

Istri Yang Mereka Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.

Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.

Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kos terakhir

Mall itu dipenuhi lampu-lampu terang dan musik lembut yang mengalun di setiap sudut butik mewah. Deretan etalase menampilkan gaun-gaun mahal, tas branded, dan perhiasan berkilau.

Ares melangkah di samping Maya yang menggenggam lengannya manja.

"Mas, kok tiba-tiba ngajak aku ke sini?" tanya Maya dengan senyum malu-malu, matanya berbinar melihat sekeliling.

Ares tersenyum tipis. "Kamu akhir-akhir ini kelihatan capek. Anggap saja ini hadiah kecil dari aku."

Maya berhenti di depan butik fashion ternama. Gaun-gaun elegan tergantung rapi di balik kaca.

"Mas serius?" suaranya terdengar tak percaya tapi penuh harap.

"Masuk saja. Pilih apa pun yang kamu mau," jawab Ares tenang.

Maya nyaris melompat kegirangan. Ia langsung masuk, menyentuh kain-kain mahal dengan mata berbinar.

"Mas, yang ini cantik banget," katanya sambil mengangkat sebuah gaun pastel dengan detail renda halus.

Ares mengangguk tanpa banyak komentar. "Ambil."

Tak berhenti di satu toko, mereka berpindah dari butik ke butik lain. Tas belanjaan Maya semakin banyak, sementara wajahnya semakin berseri-seri.

"Mas... nanti kebanyakan nggak sih?" tanya Maya pura-pura sungkan.

Ares terkekeh kecil. "Selama kamu senang, Mas nggak masalah."

Maya menggenggam tangan Ares lebih erat, menempelkan kepalanya ke bahu pria itu. "Mas baik banget sama aku."

Ares tersenyum puas menatap Maya yang tampak begitu bahagia. Baginya, pengeluaran hari ini sama sekali bukan masalah—sebentar lagi, seluruh aset Elina akan berpindah di tangannya. Jika itu harga yang harus dibayar untuk menenangkan Maya dan menjaga semuanya tetap berjalan sesuai rencananya, ia tak akan ragu sedikit pun.

"Sayang, kamu mau apa lagi?" tanya Ares dengan lembut sambil menggenggam tangan Maya.

Maya berpikir sejenak, lalu menatap sekeliling mall yang ramai. "Makan aja deh, Mas. Anak kita lapar," ucapnya sambil mengelus perut ratanya.

"Baiklah, sayang." Ares pun mengajak Maya menuju restoran Jepang favorit Maya. Begitu sampai, Maya langsung memesan berbagai menu tanpa ragu, seolah hari itu adalah perayaan kecil bagi mereka.

Di sela-sela makan, Ares mencondongkan tubuhnya. "Sayang, aku ada kabar bahagia."

"Kabar bahagia apa Mas?" tanya Maya, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.

"Sebentar lagi semua aset milik Elina akan beralih padaku. Mas sudah menyewa orang untuk mengalihkannya," jawab Ares mantap.

Mata Maya langsung berbinar. "Serius, Mas?"

"Serius dong, sayang," ucap Ares tanpa ragu.

Maya meletakkan sumpitnya pelan, matanya tak lepas dari wajah Ares yang tampak begitu yakin. "Mas, kalau itu benar-benar terjadi," ucapnya lirih, suaranya bergetar menahan antusias. "Hidup kita bakal jauh lebih tenang, kan?"

Ares tersenyum tipis, lalu meraih tangan Maya di atas meja. "Mas gak akan biarkan kamu dan anak kita kekurangan. Semua ini Mas lakukan demi masa depan kita."

Maya tersenyum lebar. Dalam benaknya, rumah mewah, perjalanan keluar negeri, dan kehidupan tanpa rasa takut mulai berkelebat.

"Terus Elina gimana Mas?" tanya ragu.

"Nanti Elina Mas ceraikan dan kita hidup berdua," jawab Ares, membuat Maya tersenyum penuh kebanggaan.

"Aku gak sabar banget hari itu tiba, Mas. Aku sudah malas bersikap baik pada Elina," jawab Maya jujur.

"Sayang, sebentar lagi. Semua sudah diproses."

Maya mengangguk penuh antusias. Ia sudah tak sabar menyingkirkan Elina yang sejak dulu selalu mendapatkan apa pun yang diinginkannya.

Setelah berbelanja puas dan menyelesaikan makan, Ares mengantar pulang Maya ke kontrakannya karena ia tak bisa lama-lama—masih harus ke kantor.

Di dalam mobil, sebelum turun, Maya menatap Ares penuh kasih.

"Sayang, hati-hati ya."

"Iya, sayang," balas Ares.

Maya pun keluar dari mobil, tak lupa mencium pipi Ares. Ia melambaikan tangan sampai mobil Ares benar-benar meninggalkan area kontrakannya, sementara di wajahnya terpatri senyum puas penuh harap.

Begitu mobil Ares menghilang di tikungan, Maya melangkah masuk ke area kontrakan dengan perasaan ringan. Ia masih tersenyum sendiri, membayangkan hidup mewah yang sebentar lagi akan ia miliki.

Namun senyum itu langsung memudar saat ia melihat sosok Bu Ros berdiri di depan pintu kamar kosnya, kedua tangan bersedekap, wajahnya merah padam.

“Maya!” bentak Bu Ros tanpa basa-basi.

Maya terkejut. “Iya, Bu… kenapa?”

Bu Ros melangkah mendekat, suaranya meninggi.

“Kamu pikir saya ini bodoh, hah? Kamu bilang laki-laki yang sering datang itu pacar kamu, tapi barusan saya dapat laporan dari tetangga… itu suami orang, dan sering nginep di kamar kamu tanpa izin saya!”

Maya langsung memasang wajah defensif.

“Bu, itu urusan pribadi saya. Saya bayar kos tepat waktu, kan?”

“Ini bukan soal bayar tepat waktu!” potong Bu Ros keras. “Ini rumah saya, ada aturannya. Kamu bawa laki-laki beristri ke sini, nginep berhari-hari, tanpa izin pula. Kamu mau bikin rusak nama baik kos saya?!”

Maya menghela napas kasar.

“Bu, jangan lebay. Saya gak ngerugiin siapa-siapa.”

Bu Ros tertawa sinis.

“Gak ngerugiin? Kamu bikin tetangga ngomel, bikin penghuni lain gak nyaman. Mulai hari ini, saya minta kamu angkat kaki dari sini!”

Mata Maya membelalak.

“Usir saya? Bu Ros bercanda, kan?”

“Tidak ada bercanda!” seru Bu Ros. “Saya kasih waktu sampai sore ini. Ambil barang kamu, keluar dari kos saya!”

Wajah Maya langsung memerah.

“Bu Ros tega banget! Saya hamil, Bu! Masa Ibu tega ngusir orang hamil?”

Bu Ros terdiam sesaat, tapi rautnya tetap keras.

“Hamil atau tidak, kamu sudah melanggar aturan. Saya gak mau rumah saya jadi tempat selingkuh!”

Maya mengepalkan tangan.

“Jadi Ibu percaya gosip tetangga lebih dari saya?”

“Saya percaya mata saya sendiri!” balas Bu Ros tajam. “Saya sering lihat mobil mewah itu parkir sampai pagi. Jangan anggap saya ini tidak tahu apa-apa.”

Maya mendengus marah. "Baik! Kalau Ibu memang mau usir saya, silahkan. Tapi ingat, suatu hari nanti Ibu bakal menyesal sudah memperlakukan saya seperti ini."

Bu Ros menunjuk pintu kamarnya. "Saya tunggu sampai sore. Kalau kamu belum keluar juga, saya sendiri yang akan kunci kamar ini."

Maya menatap Bu Ros dengan mata penuh kebencian, lalu berbalik kasar dan membanting pintu kamarnya.

Di dalam kamar, ia menyandarkan punggung ke pintu, napasnya memburu. Tangannya gemetar, bukan karena takut—melainkan karena amarah.

"Kurang ajar..." gumamnya.

"Sebentar lagi aku akan tinggal di rumah mewah, dan mereka semua akan lihat... siapa sebenarnya aku."

Maya menelepon Ares. Tak sampai dua dering, panggilan itu langsung terangkat.

"Mas, aku diusir dari kos," ucap Maya tanpa basa-basi. "Ibu kos aku tahu kamu sering nginap di sini."

"Apa?" Ares terdiam sejenak, jelas terkejut. "Kamu masih di kos?"

"Iya, Mas. Bu Ros cuma kasih waktu sampai sore," jawab Maya dengan suara tertahan.

"Aku meeting dulu, baru jemput kamu."

"Iya, Mas. Aku tunggu."

Setelah sambungan terputus, Maya mulai membereskan barang-barangnya yang tak seberapa. Tangannya bergerak cepat, memasukkan pakaian dan barang pribadi ke dalam koper kecil. Tak lama kemudian, dengan hanya membawa satu koper, ia keluar dari kamar kos itu.

Tatapan para tetangga kos langsung mengarah padanya, sebagian sinis, sebagian berbisik-bisik. Namun Maya tidak peduli. Dalam pikirannya hanya ada satu hal—sebentar lagi Ares akan merebut aset Elina, dan saat itu ia bisa meminta apa saja yang ia mau.

Maya menunggu Ares di halte dekat kosnya. Katanya, sebentar lagi Ares akan menjemputnya. Beberapa saat kemudian, mobil Ares berhenti di depannya. Ares turun dari mobil lalu mengambil koper Maya dan memasukkannya ke bagasi tanpa banyak bicara.

"Bu Ros keterlaluan, Mas," ucap Maya akhirnya begitu ia duduk di dalam mobil, suaranya bergetar. "Aku dipermalukan di depan semua orang. Mereka lihat aku kayak sampah.”

Ares menyalakan mesin. “Mas sudah bilang, kamu harus lebih hati-hati. Sekarang semua orang tahu.”

“Hati-hati gimana lagi?” potong Maya kesal. “Aku ini hamil, Mas! Tapi mereka tetap usir aku. Seolah aku ini perempuan murahan!”

Ares terdiam, jemarinya mengetuk setir dengan gelisah. Ia tidak menatap Maya, matanya lurus ke jalan yang mulai padat.

“Pokoknya aku mau Mas belikan aku rumah!”

1
tia
lanjut Thor
Nona Jmn: Sabar yah🫶🥰
total 1 replies
Ma Em
Sudah ga sabar nunggu kehancuran Ares dan keluarganya , Elina cepat tendang para benalu yg nempel dirumah mu .
Nona Jmn: Sabar
total 1 replies
Ma Em
Duh sdh ga sabar Ares dan keluarganya diusir dari perusahaan juga rumah Elina
tia
cepat singkirkan benalu
Nona Jmn: Sabar😭😁
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
keterlaluan area
Nona Jmn: Sabar😁
total 1 replies
kaylla salsabella
pasti si maya
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kaylla salsabella
anak buah dewa
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣 res Ares
kaylla salsabella
ayah belum tahu klu Ares selingkuh
kaylla salsabella
nah khawatir kan kamu res 🤣🤣
kaylla salsabella
lanjut thor
Nona Jmn: Besok ya kakak🥰 jangan lupa vote🙏😭🫶🫡
total 1 replies
@Mita🥰
😍😍😍
Nona Jmn
Besok ya kakak🥰
tia
lanjut Thor
kaylla salsabella
ooo ku kira Elina udah yatim piatu 🤭🤭
Ma Em
Semoga Elina selamat dari para benalu yg mau menguasai semua harta kekayaan nya , jgn sampai si mokondo Ares juga keluarganya yg benalu berhasil menguasai semua harta Elina .
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
yes ada yang baru
Nona Jmn: Jangan lupa mampir dan vote ya🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!