𝘛𝘳𝘢𝘨𝘦𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝙈𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙂𝙡𝙤𝙧𝙮—𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘞𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘦𝘭𝘪𝘵𝘦 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘸𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.
𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘯𝘥𝘰𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶— 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
왕신 ー 15
...왕신...
...ー...
𝓗𝓪𝓹𝓹𝔂 𝓻𝓮𝓪𝓭𝓲𝓷𝓰!
Takeda menatap tajam ke kesemua arah, tangannya memang terangkat, tapi perlahan turun untuk mengambil sesuatu dari balik punggungnya.
Sebuah soft gun.
Saat kepungan polisi yang dikomandoi Park Junwon kian mendekat, pria Jepang itu justru melakukan hal yang lebih keren dibandingkan kata berani. Dia menembaki polisi sambil bergerak mundur. Meski serampangan dan tidak tepat bidik, cukup membuat mereka perlu berlindung.
Kelakuannya memancing keberanian anak-anak buah Gibaek untuk melakukan hal serupa. Mereka yang dipersenjatai perkakas tajam, ricuh melakukan perlawanan keras untuk menghindarkan diri dari terjebak dalam jeruji untuk waktu yang lama.
Di tengah kericuhan antara polisi dan anak buah Gibaek, Takeda Origaru mengambil kesempatan emas.
Sebuah speedboat dihampiri lalu dinaikinya. Dalam sesaat melaju pergi.
"TANGKAP DIA!" Beberapa prajurit polisi mengejar dengan kendaraan sama. Terjadi baku tembak di tengah lautan. Jumlah pengejar yang tak hanya tiga, dan peluru yang akan habis, Takeda Origaru ....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Pendarahannya sudah berhenti. Kami sudah memberi obat. Nyonya Yoo harus istirahat secara total. Tuan bisa menemuinya tanpa menganggu.”
“Baik ... Dokter, terima kasih.” Suara Sol Gibaek kaku dan lemah.
Son Hadam tidak berani mengangkat wajah saat tatapan Gibaek menegurnya. Setelahnya tanpa berkata, pria itu masuk ke ruang perawatan di mana Ana terbaring setelah mengalami pendarahan hebat.
“Gibaek.” Ana dalam keadaan sadar, selain suara lemah, wajah pucatnya menyiratkan ketidaksiapan menghadapi keberadaan lelaki itu.
Langkah terseret kaku membawa Gibaek mendekat, berakhir di samping brangkar Ana. Tatapan mereka bertemu dengan makna saling bersilang arah. Ana yang sedih dan malu dengan kenyataan yang baru dia suguhkan, sedang Gibaek menggulung ketidakpercayaan juga kecewa yang tidak tahu sebesar apa.
“Ana ... siapa ...? Katakan siapa lelaki itu, Ana?!” Dia marah. Berat dan gemetar suara yang keluar dari mulutnya. Runtuh harapan dan dunianya, harapan tentang membangun kembali cinta yang bertahun lalu teredam karena mainan takdir.
Ana dinyatakan keguguran setelah terpeleset jatuh ketika menuruni tangga di kediamannya. Son Hadam menghubunginya meminta tolong.
Tidak ada yang tahu jika Ana sedang mengandung, bahkan Ana sendiri.
“Maaf ... maafkankan aku ... Gibaek,” suaranya sesak. Bulir air mata terjatuh, Ana dipenuhi rasa bersalah.
“Kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa tidak jujur bahwa kau sudah menikah?!”
“Gibaek tolong, jangan salahkan Ana! Ana dijebak oleh lelaki miskin tak tahu malu itu! Ana hanya korban!” Son Hadam melontar pembelaannya. “Tolong kau percaya pada Ana. Mereka hanya menikah kontrak dan tak lama lagi akan berakhir!”
“Ibu!” Ana menegur dengan kelemahannya. Dia juga marah pada ibunya kenapa harus Gibaek yang dihubungi.
“Apa Nyonya bilang? Menikah kontrak?” Gibaek mempertanyakan.
Son Hadam mengangguk. “Iya. Ana dan si miskin itu hanya menikah kontrak. Semua terjadi karena penipu ituーChoi Gung-min, dia meninggalkan Ana saat pernikahan sudah dipersiapkan dengan matang. Jadi Ana terpaksa menikah kontrak dengan lelaki miskin untuk menutupi rasa malu kami.”
Undangan terlanjur disebar, begitu tambahannya.
Tapi pernyataan itu sepertinya tidak membantu, mata Gibaek justru semakin memerah tajam. Dari Son Hadam kemudian menatap Ana. “Jika itu pernikahan kontrak hanya untuk menutupi rasa malu kalian ... kenapa kau sampai harus hamil, huh?!”
Ana menggeleng sambil menangis. Tidak tahu harus menjelaskan dengan cara yang bagaimana.
“Jelaskan padaku, Ana! Jelー”
“Karena kontrak itu telah dihapus!”
Tuntutan Gibaek terpotongーdari suara seorang pria, adalah jawaban dari pertanyaannya.
Dia menoleh ke belakang dengan cara kaku, dan mendapati seseorang berdiri di ambang pintu.
Saat di pikiran sudah terencana untuk memukul, wajah itu justru membuatnya lebih dari terkejut.
“Wang ... Shin!”
“Ya, aku!” tegas Shin. “Dan aku adalah suami Ana, ayah dari anak yang baru saja menyerah dalam kandungannya!” ujarnya tak ragu. Terdorong kakinya untuk mendekat. “Kami sudah sepakat untuk membangun keluarga utuh dan menghapus kontrak yang dibuat Ana.”
Gibaek tidak sedang menikmati keterkejutan, dia sedang mencerna keadaan.
Di antara kejutan hari ini: Ana yang telah menipunya, sudah menikah dan baru saja keguguran, lebih mengejutkannya pria sialan itu adalah Wang Shinーseseorang yang beberapa waktu belakangan sangat membuatnya terkagum hingga menyerahkan kepercayaan besar.
“Jaga bicaramu! Kau tidak pantas untuk putriku! Kau tidak layak jadi menantuku! Kau hanya sialan yang sebaiknya enyah!” Son Hadam cepat mengambil peran, memaki dengan kekuatan penuh.
GREBB!
Tangan tua yang akan menampar disergap Shin dan dicekalnya. Tatapannya dingin dan haus, sedikit membuat Son Hadam tersurut nyali.
"Nyonya benar! Seharusnya aku sadar diri dan pergi sedari lama,” tukasnya. “Andai aku tahu dari awal, bahwa standar menantu Nyonya adalah seorang mafia juga bandar narkoba seperti Sol Gibaek, aku pasti sudah menjauh karena aku terlalu miskin dan tidak mampu. Aku tidak ada kualifikasi, jugaー! .... Aku terlalu baik. Benar?” Dia merendah dan menyombong di saat sama.
“Shin!" Ana menggeleng-geleng, beruraian air matanya.
Tangan Son Hadam dilepaskan Shin, lalu menoleh Ana yang meminta perhatiannya. “Aku tidak menyesal dengan pernikahan kita, Ana. Aku hanya menyesali ... karena itu dirimu.”
Ana yang tidak punya pendirian, itu poinnya.
“Apa maksudmu dengan mafia dan bandar narkoba?!" Son Hadam menuntut penjelasan setelah mencerna sekian saat, tidak peduli gejolak batin anak-anak muda di sekitarnya.
Tapi Shin tidak berniat untuk menjawab.
“Keparat!” Gibaek tidak tahan dan menggeram. “Kau benar-benar ingin mati di tanganku, huh?!”
GREB!
Pukulan Gibaek pupus di bungkusan telapak tangan Shin.
“SIALAAAN!!”
“Sol Gibaek!” Shin menahan sekuat tenaga saat satu tangan Gibaek yang lain akan melepas pukulan susulan. “Dengarkan aku ... semua temanmu sedang menunggu, jadi diam dan pasrah saja agar kalian tetap bersama.”
"Apa katamu?! Kenapa bawa-bawa teman-temanku, Sialan?!”
Belum Shin menjawab, dua orang polisi merangsek masuk. Mengejutkan saat dengan cepat keduanya menyergap Sol Gibaek, mengambil alih dari tangan Shin lalu memborgolnya.
“Lepaskan aku, Jahanam!!” Lemah mental, turut lemah fisik Sol Gibaek, polisi dengan mudah membekuknya tanpa mendapat berontak yang merepotkan.
“Ana! Apa yang terjadi? Kenapa Gibaek ...?” Son Hadam kelabakan, beringsut ke dekat Ana karena takut. Ana tidak menjawab selain tangis yang semakin pecah.
"Wang Shin keparaaaat! Pengkhianaaat ...!!!”
Teriakan Gibaek menggema di sepanjang lorong rumah sakit, diseret paksa atas nama penangkapan oleh aparat hukum.
Tidak lama setelah hening, Park Junwon masuk ke dalam ruangan. “Maaf atas kejadian ini, Nyonya Son, Ana. Kami menyesal sudah mengganggu,” ucapnya menyesalkan.
“Ada apa ini, Junwon?! Apa benar yang dikatakan Shin jika dia ....”
“Sol Gibaek adalah ketua mafia, bandar sekaligus pengedar obat-obatan terlarang, Nyonya Son. Dia adalah target utama penangkapan kami, dari jauh sebelum hari ini,” jelas Park Junwon.
“Tidak mungkin!” Son Hadam membekap mulutnya, tidak percaya.
Ana memalingkan wajah ke tempat kosong, menyembunyikan tangis dan menahannya sebisa mungkin.
Shin tahu itu, tapi tetap diam di tempat sama.
“Maaf, Ana. Aku turut berduka atas kepergian anak kalian. Semoga Tuhan mengganti dengan kebahagiaan lain.” Kepala polisi sekaligus teman Ana itu bela sungkawa. "Dan Shin ... terima kasih banyak atas kerjasama juga kerja kerasmu. Kau luar biasa. Kami akan berikan hadiah yang dijanjikan, jadi datanglah ke kantor segera.” Pundak Shin ditepuknya dengan senyuman bangga.
“Senang bisa membantu tugas kalian," tanggap Shin. “Segera setelah Ana membaik, aku akan datang menemuimu.”
“Keputusan tepat!” Park Junwon setuju. “Kalau begitu aku permisi. Jaga diri kalian.”
Selepas Park Junwon berlalu, Shin tidak langsung menyapa Ana, tapi memanggil dokter lebih dulu untuk memeriksa istrinya itu. Masalahnya Ana kembali menangis dan kondisinya melemah lagi.
“Sebaiknya biarkan istri Anda beristirahat. Saat sadar, berilah penghiburan. Sebaiknya jangan membahas hal-hal yang bisa membuatnya kembali bersedih.”
“Baik, Dokter.”
Son Hadam sudah tidak bisa berkata-kata. Diam menatap Ana yang tidur terpejam setelah diberi obat.
“Dia mungkin akan membenciku setelah ini. Tolong jaga dia baik-baik ... Nyonya Son.” ーShin.