Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.
Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.
Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.
Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!
"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"
Jam update:07:00-12:00-20:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Retakan Pertama di Rumah Sinta
Kehidupan baru Rangga di rumah Sinta dimulai dengan sangat manis—setidaknya di permukaan.
Bagi Sinta, kehadiran Rangga adalah sebuah proyek "amal" yang membanggakan. Setiap pagi, sebelum berangkat ke kantor firma arsitek (tempat yang sama dengan Senja), Sinta dengan penuh semangat menyiapkan sarapan. Ia merasa jauh lebih baik daripada Senja karena ia tidak membiarkan Rangga kelaparan.
Tapi, baru memasuki minggu kedua, suasana "Manis" itu mulai menunjukkan retakan kecil yang diabaikan Sinta dengan segenap kekuatannya.
Pagi itu, Sinta baru saja keluar dari kamar mandi dan menemukan Rangga masih mendengkur di sofa ruang tengah. Di atas meja kopi jati kesayangan Sinta, berserakan bungkus rokok, sisa kopi yang tumpah sedikit, dan abu rokok yang jatuh ke karpet bulu.
"Mas... Mas Rangga," panggil Sinta pelan sambil menepuk bahu pria itu.
Rangga mengerang, menutup matanya dengan bantal. "Apa sih, Sin? Masih pagi juga. Aku baru tidur jam empat tadi."
Sinta melihat sekeliling dengan dahi berkerut. "Mas semalam keluar lagi? Aku pikir Mas di rumah latihan pakai alat DJ yang aku sewakan itu."
Rangga duduk dengan malas, rambutnya yang acak-acakan membuatnya terlihat sangat tidak rapi. "Aku harus cari koneksi, Sin. Tadi malam ada teman yang ajak ketemu di bar. Katanya ada lowongan main tetap. Tapi ya namanya di bar, aku harus traktir mereka minum sedikit biar urusannya lancar."
Sinta terdiam. Traktir? Pakai uang siapa? Sinta tahu persis uang di dompet Rangga saat ia jemput kemarin hanya tinggal dua ribu perak—pemberian Senja yang menghina itu. Berarti, uang yang dipakai Rangga adalah uang "uang pegangan" yang Sinta berikan secara cuma-cuma minggu lalu.
"Mas... tapi itu kan uang buat Mas makan sehari-hari kalau aku lagi di kantor," ucap Sinta lembut, berusaha tidak terdengar seperti menuduh.
Rangga langsung memasang wajah sedih—jurus andalannya. Ia menunduk, meremas tangannya sendiri. "Oh, jadi kamu mulai hitung-hitungan juga sama aku, Sin? Kamu sama saja ya kayak Senja? Kamu menganggap bantuan kamu ini sebagai utang yang harus dilaporkan setiap rupiahnya?"
Nah, ini dia serangan mental senjata Rangga. Dan Sinta, yang sangat takut dibilang "jahat seperti Senja", langsung panik.
"Eh, nggak gitu, Mas! Maksud aku bukan gitu. Aku cuma khawatir Mas kecapekan kalau sering keluar malam. Jangan disamain sama Senja dong, aku tulus kok bantu Mas," Sinta langsung duduk di samping Rangga, mengusap punggungnya dengan rasa bersalah yang tidak perlu.
Rangga tersenyum tipis di balik tunduk nya. "Maafin aku, Sin. Aku cuma sensitif. Aku merasa rendah banget sejak kejadian sama Senja. Aku cuma ingin cepat sukses supaya bisa balas kebaikan kamu. Kamu satu-satunya orang yang percaya sama aku."
Sinta merasa hatinya menghangat. Ia merasa menjadi "penyelamat". "Tuh kan," pikir Sinta dalam hati, "Rangga itu sebenarnya baik, dia cuma butuh dimengerti, bukan ditekan terus kayak yang dilakukan Senja."
...----------------...
Di kantor, suasana terasa sangat dingin bagi Sinta. Mbak Sari bahkan tidak mau menatapnya saat mereka berpapasan di ruang pantry. Tapi, Sinta tetap berjalan dengan dagu terangkat. Ia merasa sedang berada di posisi moral yang lebih tinggi.
"Sinta, bisa bicara sebentar?" panggil Mbak Sari, akhirnya kehilangan kesabaran.
Sinta berhenti, melipat tangan di dada. "Mau nasehatin aku lagi, Mbak? Mau bilang kalau aku salah nampung Rangga?"
"Sin, aku nggak akan nasehatin orang yang sudah buta," suara Sari terdengar sangat tenang tapi juga pedas. "Aku cuma mau tanya, kamu sudah cek pengeluaran kamu minggu ini? Tadi pagi aku lihat Rangga di mall, dia beli sepatu bermerek pakai kartu yang warnanya mirip kartu kreditmu. Apa kamu sekarang jadi bank berjalan buat laki-laki yang sudah terbukti jadi parasit di rumah sahabatmu sendiri?"
Sinta terperanjat, tapi ia langsung memasang tameng pertahanan. "Itu untuk investasi, Mbak! Rangga itu DJ, penampilannya harus dijaga supaya orang mau kontrak dia. Mbak Sari sama Senja itu sama saja, cuma bisa lihat sisi materi. Kalian nggak lihat kalau Rangga itu lagi berusaha bangkit dari depresi!"
"Depresi? Dia kelihatan bahagia banget tadi sambil ketawa-tawa sama pelayan toko yang cantik," Sari mendengus.
"Oke, silakan saja, Sin. Tapi ingat ya, Senja itu Arsitek hebat saja bisa habis hartanya sama Rangga. Kamu yang gajinya cuma separuh Senja, mau bertahan sampai kapan? Jangan sampai nanti kamu nangis-nangis di bahu kita, karena pintu maaf Senja sudah tertutup rapat."
"Aku nggak akan nangis! Aku akan buktiin kalau kalian salah!" Sinta berbalik dan pergi dengan hentakan kaki yang keras.
Malam harinya di rumah, Sinta mulai merasakan kegelisahan itu lagi. Saat ia memeriksa tas kerjanya, ia menyadari uang tunai di dompetnya berkurang lima ratus ribu rupiah. Sinta ingat betul uang itu ada di sana semalam.
Ia menatap Rangga yang sedang asyik bermain game di ponsel mahal (yang cicilannya masih ditanggung Senja, tapi ponselnya dibawa Rangga).
"Mas... Mas lihat uang di dompetku nggak? Aku kayaknya kehilangan lima ratus ribu," tanya Sinta hati-hati.
Rangga tidak mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. "Oh, itu... tadi ada kurir datang antar perlengkapan studio yang dipesan online. Katanya harus bayar tunai. Ya sudah aku ambil saja di dompetmu, kan darurat. Nanti aku ganti kalau sudah gajian dari main di kafe."
Sinta tertegun. "Ambil saja di dompetmu?" Kalimat itu terdengar sangat tidak sopan bagi Sinta yang sangat menjaga privasi. Tapi lagi-lagi, egonya berbisik: "Sinta, kamu harus sabar. Orang yang lagi merintis memang kadang khilaf. Jangan sampai kamu jadi kasar kayak Senja."
"Lain kali bilang dulu ya, Mas. Aku jadi bingung nyarinya," ucap Sinta akhirnya, menelan kekesalannya bulat-bulat.
"Iya, iya. Bawel banget sih. Kayak Senja lama-lama," gumam Rangga pelan, tapi cukup keras untuk didengar Sinta.
Hati Sinta mencelos. Dibandingkan dengan Senja adalah penghinaan terbesar baginya sekarang. Ia merasa sangat sakit hati, tapi anehnya, ia justru semakin terobsesi untuk membuktikan bahwa dia lebih baik dari Senja. Ia malah semakin memanjakan Rangga agar Rangga tidak lagi menyebut nama Senja.
Sinta tidak sadar, ia sedang menggali lubang kuburnya sendiri. Ia melihat tanda-tanda itu: kebohongan kecil, pengambilan uang tanpa izin, sifat malas, dan nada bicara yang mulai merendahkan. Tapi Sinta memilih untuk menutup matanya rapat-rapat dengan kain bernama "kesempatan kedua".
Sinta sedang memasak makan malam yang enak untuk Rangga, sementara Rangga di sofa sedang mengirim pesan singkat kepada selingkuhannya yang lama.
"Tenang sayang, aku sudah dapat 'penginapan' baru yang lebih nyaman. Temanku yang ini lebih bodoh dari Senja. Dia gampang banget dikibulin pakai kata-kata manis. Sabar ya, nanti kalau uangnya sudah terkumpul lagi, aku jemput kamu."
Sinta tersenyum melihat Rangga yang tampak sibuk dengan ponselnya. "Dia pasti lagi cari link kerjaan," pikir Sinta bangga.
Sungguh, keras kepalanya Senja adalah sebuah kekuatan, tapi keras kepalanya Sinta adalah sebuah kebodohan yang akan ia bayar sangat mahal di kemudian hari.
ksh pelajaran aja buat rangga
dh stadium akut😭
saking bucinnya ke mas dj dj
wkwk doni mulutnya minta disambelin🤣
wwk jdi gembel lg kamu😆
kasian senja😭