Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.
Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.
Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.
Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Belas
Lampu-lampu kristal di ruang makan utama rumah Arka menyala hangat malam itu. Cahaya kekuningannya memantul di permukaan meja kayu panjang yang mengilap, menciptakan suasana tenang.
Makan malam jarang menjadi momen yang berarti di rumah ini. Biasanya sunyi. Denting sendok dan garpu, lalu selesai. Arka makan seperlunya, Revan sering kali lebih banyak diam jika tidak ditemani Alana, dan para pelayan bekerja dalam kesenyapan profesional.
Namun malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Sepertinya kesunyian tak lagi hadir.
Revan duduk di kursinya, kakinya yang pendek tak sampai menyentuh lantai. Ia mengayun-ayunkan kaki sambil menyuap nasi dengan lahap. Alana duduk di sampingnya, berusaha setenang mungkin, meski sejak pagi dadanya terasa tak nyaman. Bayangan pria tua di balik pagar itu terus muncul di benaknya, datang dan pergi seperti bayang-bayang yang tak mau pergi.
Arka duduk di seberang mereka. Posturnya tegap, wajahnya tenang seperti biasa. Tapi sorot matanya sesekali mengamati, bukan hanya makanan di piringnya, melainkan gerak-gerik kecil Alana. Cara gadis itu terlalu sering melirik ke arah pintu. Cara tangannya sesekali mengepal lalu mengendur.
Instingnya yang terasah selama bertahun-tahun di dunia gelap tak pernah salah.
“Malam ini makanannya enak,” ucap Revan tiba-tiba, memecah keheningan. “Telurnya beda.”
Bi Marni yang berdiri tak jauh langsung tersenyum bangga. “Iya, Den. Telurnya telur kampung.”
Arka mengangguk kecil. “Habiskan.”
“Iya, Om.”
Beberapa menit berlalu. Hingga tiba-tiba, Revan menoleh ke arah Arka, matanya membulat seperti baru ingat sesuatu yang penting.
“Om,” panggil Revan.
“Hm?”
“Tadi pagi waktu main di taman … Mbak Alana takut.”
Sendok Alana berhenti di udara. Jantungnya seperti mau berhenti berdetak. Bi Marni yang sedang menuang air pun membeku sesaat, lalu buru-buru menunduk, berpura-pura sibuk.
Arka menatap Revan. Tenang dan dalam. “Takut kenapa?”
Revan mengernyit. “Aku nggak tahu. Mbak Alana tiba-tiba pucat. Terus ngajak aku masuk. Katanya ada semut.”
Alana menelan ludah. Tangannya gemetar halus di bawah meja.
Arka mengalihkan pandangan ke Alana. Tatapannya tidak tajam, tapi cukup membuat siapa pun merasa sedang ditelanjangi.
“Benarkah?” tanya Arka.
Alana tersenyum kecil. Terlalu kecil. “Iya, Tuan. Tadi matahari mulai panas, saya pikir ....”
“Masih pagi,” sela Revan cepat. “Belum panas, Om. Aku belum capek.”
Ruangan kembali sunyi. Arka menyandarkan punggungnya sedikit. Tangannya terlipat di atas meja. “Alana.” Nada suaranya datar. Tapi ada tekanan di sana.
“Kenapa kamu takut?” tanya Arka.
Alana membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Otaknya berputar cepat mencari alasan yang aman. Yang tidak akan membuka pintu masa lalu. Yang tidak akan menyeret siapa pun.
“Saya … saya cuma khawatir Revan kepanasan,” ucap Alana.
Revan menggeleng keras. “Mbak bohong.”
Alana memejamkan mata. Arka tidak langsung bereaksi. Ia menatap Revan, lalu kembali ke Alana. Kali ini sorot matanya berubah. Lebih dingin. Lebih dalam.
“Aku tidak suka dibohongi,” ucap Arka pelan.
Satu kalimat itu terasa seperti palu yang menghantam dada Alana. Bi Marni mundur perlahan, menarik pelayan lain menjauh. Mereka tahu, percakapan ini bukan untuk didengar.
“Sekali lagi aku tanya,” lanjut Arka. “Ada apa, Alana.”
Alana menggigit bibirnya. Dadanya naik turun. Seluruh tubuhnya tegang. Ia merasa seperti berdiri di ujung jurang, melompat atau jatuh.
Perlahan, ia berdiri dari kursinya. “Tuan … boleh bicara empat mata?” pintanya lirih.
Arka menatapnya beberapa detik. Lalu mengangguk. “Revan, habiskan makanmu. Setelah itu ke kamar.”
“Iya, Om.”
Arka bangkit. “Ke ruang kerja.”
Alana mengikuti di belakangnya, langkahnya terasa berat seperti diseret beban tak kasatmata. Pintu ruang kerja tertutup. Sunyi. Hanya lampu meja yang menyala, menerangi wajah Arka yang kini kembali menjadi sosok yang ditakuti banyak orang.
“Duduk,” perintah Arka dengan singkat.
Alana duduk di kursi di seberang meja. Tangannya bertaut di pangkuan. Kuku-kukunya menekan kulit.
“Sekarang bicara,” ucap Arka. “Tanpa alasan palsu.”
Alana menarik napas panjang. Satu. Dua. Tiga. “ Saya melihat seseorang di luar pagar,” katanya akhirnya. “Seseorang yang … selama ini saya hindari.”
“Siapa?”
Alana terdiam. Arka menunggu. Ia tidak pernah terburu-buru. Dalam dunia yang ia kenal, orang yang sabar biasanya yang paling berbahaya.
“Saya … sebenarnya,” suara Alana bergetar, “Malam itu … saat hampir tertabrak mobil Tuan .…”
Arka mengangkat alis tipis, menyuruhnya lanjut.
“Saya kabur dari rumah.” Hening sesaat setelah Alana bicara.
“Saya mau dijodohkan,” lanjut Alana, kata-katanya mulai mengalir, seperti bendungan yang jebol. “Orang tuaku terlilit hutang. Ayahku … berhutang banyak. Dan mereka mau menjual saya."
Arka tidak bereaksi. Dia masih mendengar Alana bercerita.
“Dengan pria tua,” suara Alana pecah. “Usianya jauh di atas saya. Namanya Pak Handoko. Dia … dia yang aku lihat tadi pagi.”
Air mata menggenang di matanya, tapi ia menolak jatuh. “Saya lari karena takut. Saya tidak mau hidup seperti itu. Saya tidak mau.”
Arka menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tangannya terlipat di dada. Wajahnya tetap dingin, tapi ada kilat emosi yang melintas cepat di matanya.
“Ayahmu berhutang pada siapa?” tanya Arka.
Alana menggeleng. “Saya tidak tahu detailnya. Saya cuma tahu … saya dijadikan jaminan.”
Arka mengangguk pelan. Alana menatapnya, gugup. “Tuan … saya minta maaf kalau masalah ....”
“Cukup.”
Alana terdiam. Terkejut dengan suara Arka yang cukup keras.
Arka berdiri. Melangkah ke jendela besar ruang kerjanya. Malam di luar terlihat tenang, lampu-lampu kota berkilau jauh di sana. Dari luar, tak ada yang tahu bahwa di balik dinding rumah ini, keputusan-keputusan besar sedang diambil.
“Orang itu,” ucap Arka tanpa menoleh, “Berani mendekati rumahku.”
Alana terkejut. “Tuan?”
“Aku sudah tahu,” lanjut Arka tenang. “Sejak lama.”
Alana membelalak. “Tahu … apa?”
“Kaburmu. Hutang ayahmu. Dan pria tua itu.”
Darah Alana terasa dingin. “Kalau Tuan sudah tahu … kenapa ....”
“Karena itu bukan urusanku,” potong Arka. “Sampai hari ini.”
Ia menoleh. Tatapannya menusuk. “Tapi begitu dia muncul di dekat Revan, itu berubah.”
Alana menahan napas. Suara Arka terlalu dingin dan tegas.
“Mulai sekarang,” ucap Arka pelan tapi penuh kuasa, “Semua biar aku yang urus.”
Alana terdiam. Kata-kata itu terdengar sederhana. Tapi dari pria seperti Arka, itu berarti sesuatu yang besar. Sesuatu yang berbahaya. Sesuatu yang tak bisa ditarik kembali.
“Tuan … saya tidak mau merepotkan,” ucap Alana lemah.
Arka melangkah mendekat. “Kau sudah berada di rumah ini. Itu artinya kau di bawah perlindunganku.”
Ia berhenti tepat di depannya. “Dan milikku tidak boleh disentuh.”
Alana menunduk. Jantungnya berdegup keras. Untuk pertama kalinya sejak lama, rasa takut di dadanya bercampur dengan sesuatu yang lain. Rasa aman.
“Aku akan mengurus hutang itu,” lanjut Arka. “Dan orang bernama Handoko itu.”
“Bagaimana caranya?” tanya Alana lirih.
Bibir Arka melengkung tipis. Bukan senyum. Lebih seperti bayangan senyum.
“Dengan caraku.”
Alana menggigil, tapi ia tahu, tidak ada jalan kembali. Dia juga tak mau kembali ke rumahnya.
Di luar, di balik gerbang besi tinggi rumah Arka, dua mobil hitam berhenti tanpa suara. Seorang pria turun, berbicara singkat di ponsel.
“Target terkonfirmasi,” katanya. “Boss sudah bergerak.”
Di lantai atas, Arka menatap malam dengan mata gelap. Masa lalu Alana telah menyentuh wilayahnya. Dan siapa pun yang berani menyeret masalah ke dalam dunia Arka, akan menyesal telah dilahirkan.
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭