NovelToon NovelToon
PENYESALAN DI UJUNG TALAK

PENYESALAN DI UJUNG TALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:22.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Karena keinginan Laras, Rangga melepas semua beban yang selama ini menghimpit dadanya. Satu kata talak sudah cukup untuk mengakhiri pengabdian tulus yang selama ini diinjak-injak.
Namun, dunia seolah berputar. Saat Rangga mulai menata hidup yang baru, Laras yang dulu menghancurkannya kini bersimpuh di kakinya. Memohon satu kesempatan yang sudah mustahil untuk diberikan.
"Jangan mengejar apa yang sudah kau buang, karena hatiku bukan tempat untuk pulang bagi pengkhianat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIPU MUSLIHAT

Serpihan kaca kristal berkilauan di atas dasbor, beberapa di antaranya tertancap di pipi Rangga, mengucurkan darah segar yang hangat. Rangga tak bergeming. Matanya yang merah menatap nanar ke arah moncong knalpot motor-motor yang mengepungnya. Deru mesin mereka terdengar seperti geraman anjing kelaparan di tengah sunyinya fajar Bandung yang berkabut.

Salah satu pengendara motor, yang mengenakan jaket kulit dengan logo kalajengking di atas telapak tangannya, mendekat. Ia meludah ke arah lubang kaca yang pecah. "Bos bilang, ini peringatan terakhir. Bandung bukan tempat sampah dari Jakarta kayak kamu!"

Rangga menarik napas panjang. Bau amis darah bercampur aroma bensin yang menguap dari mesin mobilnya yang panas membuat perutnya mual. Tapi, di balik rasa sakit fisiknya, ada amarah yang mendidih amarah pria yang sudah kehilangan segalanya dalam semalam.

"Sampaikan sama Anwar dan ayahnya..." Rangga berbisik, suaranya parau namun tajam seperti sembilu. "Kalau mereka mau main api, jangan nangis kalau nanti sekeluarga kebakar."

Tanpa aba-aba, Rangga menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobilnya meraung, menabrak salah satu motor di depannya hingga terjungkal. Ia memutar setir dengan kasar, melesat menembus kepungan itu. Ia tidak pergi ke gudang. Tapi kembali ke rumah sakit.

RS Medika Bandung, 08.15 WIB.

Koridor rumah sakit sudah mulai ramai oleh pembesuk dan perawat yang berlalu-lalang. Bau karbol yang menusuk hidung tak mampu menenangkan debar jantung Rangga. Ia berjalan dengan langkah lebar, pakaiannya yang berlumuran darah dan wajahnya yang penuh luka sayatan kaca membuat orang-orang menepi dengan wajah ngeri.

Di depan pintu ruang rawat Syakira, ia melihat sosok yang sangat ia kenal. Anwar. Pria itu berdiri di sana, mengenakan kemeja rapi yang sangat kontras dengan penampilan Rangga. Anwar sedang berbicara dengan beberapa perawat dan keluarga pasien lain dengan nada yang dibuat-buat sedih, seolah-olah dialah orang paling terpukul atas keguguran Syakira.

"Iya, kasihan sekali Syakira. Suaminya malah pergi entah ke mana saat dia pendarahan semalaam. Memang benar kata orang, darah kuli itu nggak akan pernah bisa jadi darah ningrat..." Anwar berujar pelan, namun cukup keras untuk didengar orang di sekitarnya.

Darah Rangga mendidih. Monolog di kepalanya berteriak kencang: Bajingan ini... dia yang merusak rumah tanggaku, dia yang menghasut bapak, dan sekarang dia mau mencuri penderitaan Syakira?

Rangga tidak berteriak. Ia berlari kecil, gerakannya secepat macan yang menerkam mangsa.

Brak!

Rangga menghantamkan tubuh Anwar ke dinding lorong yang dingin. Tangannya yang kasar langsung mencengkeram kerah kemeja mahal Anwar, mengangkatnya hingga kaki Anwar sedikit berjinjit.

"Apa yang kamu bilang tadi, hah?!" Rangga mendesis di depan wajah Anwar. Bau keringat, darah, dan asap arang dari baju Rangga langsung menyerang penciuman Anwar.

"R-Rangga? Kamu... kamu mau apa? Lepaskan!" Anwar berakting panik, tapi matanya melirik ke arah kerumunan orang yang mulai berkumpul. Ia melihat Pak Mansyur yang baru saja keluar dari kantin di ujung koridor.

"Kamu yang kirim orang ke perbatasan, kan? Kamu yang kirim orang untuk mencelakaiku kan?! Jawab, Bajingan!" Rangga mengguncang tubuh Anwar. Emosinya yang tertahan sejak di Lembang meledak di sini. Ia ingin menghancurkan wajah licin itu.

Anwar melihat Pak Mansyur mulai berlari ke arah mereka. Inilah momen yang ia tunggu. Anwar tidak melawan. Ia justru melemaskan tubuhnya, membuat dirinya tampak seperti korban yang tak berdaya.

"Rangga, istigfar... aku cuma mau menjenguk Syakira. Aku khawatir sama dia. Tolong, jangan kasar begini di rumah sakit..." Anwar merintih, suaranya sengaja dikeraskan. "Aku tahu kamu stres karena bisnismu bermasalah, tapi jangan lampiaskan ke aku!"

"Mati kamu, Anwar!" Rangga mengangkat kepalan tangannya, siap menghujamkan tinju ke rahang Anwar.

"RANGGA! BERHENTI!"

Suara gelegar Pak Mansyur menghentikan gerakan Rangga hanya beberapa senti dari wajah Anwar. Rangga menoleh, napasnya memburu.

"Bapak, dia ini... dia yang bikin semua ini kacau, Pak! Dia fitnah saya!" Rangga mencoba menjelaskan, tapi suaranya yang penuh emosi justru terdengar mengancam.

"Sudah ku bilang jangan temui Syakira". Pak Mansyur mendekat, wajahnya merah padam. Ia menarik tangan Rangga dari kerah baju Anwar dengan paksa. "Kamu belum cukup bikin anak saya celaka semalam? Sekarang kamu mau bikin keributan di depan kamarnya yang baru tenang!

"Tapi Pak, Anwar itu—"

"Anw" Pak Mansyur membentak. "Lihat dirimu, Rangga! Berdarah-darah, berantakan... kamu lebih mirip preman pasar daripada seorang suami! Pergi kamu dari sini!"

Anwar membenahi kemejanya yang kusut, berpura-pura meringis kesakitan sambil memegangi lehernya. "Nggak apa-apa, Pak Mansyur. Saya maklum, Rangga mungkin lagi nggak stabil. Saya nggak akan menuntut..."

Rangga tertawa getir. Tawa yang terdengar sangat menyakitkan. Ia melihat betapa rapinya permainan Anwar. Tanpa bukti kuat soal penghadangan truk dan pesan singkat tadi, Rangga hanyalah seorang pelaku kekerasan di mata hukum dan masyarakat.

Di dalam kamar 304.

Syakira meringkuk di atas ranjang. Tubuhnya terasa seringan kapas, namun hatinya seberat timah. Setiap kali ia mencoba menarik napas, rasa sakit di bagian bawah perutnya menusuk-nusuk seperti ribuan jarum. Tapi, rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan rasa kosong di rahimnya. Kosong. Hilang.

Ia mendengar keributan di luar. Suara bentakan Rangga yang sangat ia kenali. Syakira memejamkan mata, air matanya jatuh membasahi bantal yang sudah lembap. Setiap teriakan Rangga di luar sana terasa seperti guncangan yang kembali merobek luka operasinya.

Mas... kenapa harus teriak-teriak lagi? Belum cukupkah darah yang tumpah semalam? batin Syakira meratapi nasibnya.

Tangannya yang dipasang infus gemetar hebat. Ia merasa mual. Bau rumah sakit yang steril malah membuatnya merasa tercekik. Ia ingin Rangga masuk, memeluknya, dan mengatakan bahwa ini semua hanya mimpi buruk. Tapi yang ia dengar justru kebencian.

Pintu kamar terbuka sedikit. Syakira melihat ayahnya masuk dengan wajah lesu, diikuti oleh Anwar yang menunduk sopan.

"Syakira, Nak... kamu yang sabar ya," bisik Pak Mansyur sambil mengelus kening putrinya.

"Mas Rangga... mana, Pak?" suara Syakira nyaris tak terdengar, tenggorokannya terasa seperti disumpal kerikil.

Pak Mansyur menghela napas panjang, wajahnya mengeras. "Dia sudah pergi. Bapak yang suruh dia pergi. Dia cuma bikin keributan di luar, malah mau memukul Anwar."

Syakira menoleh ke arah jendela yang tertutup gorden. Pikirannya melayang pada pesan singkat tadi pagi: Lihatlah siapa yang benar-benar menjagamu. Apakah benar Rangga lebih peduli pada masa lalunya daripada bayi mereka? Luka di hati Syakira semakin menganga, terinfeksi oleh keraguan yang ditanamkan dengan rapi oleh orang-orang di sekitarnya.

Parkiran RS, 09.00 WIB.

Rangga duduk bersandar di ban mobilnya yang pecah. Ia menatap telapak tangannya yang gemetar. Ia punya banyak uang, punya banyak cabang angkringan, tapi saat ini, ia merasa lebih miskin daripada saat ia terusir dari Jakarta dulu.

Tiba-tiba, Anwar berjalan mendekat ke arah parkiran. Tidak ada lagi wajah memelas. Yang ada hanyalah seringai kemenangan.

"Pukulanmu lumayan, Rangga. Tapi sayang, otakmu nggak sekuat ototmu," bisik Anwar sambil berdiri di samping Rangga. "Bapak Mansyur sudah benci sama kamu. Syakira? Dia sudah hancur. Sebentar lagi, dia akan sadar kalau pria sepertimu itu cuma bawa sial."

Rangga berdiri perlahan, matanya menatap tajam ke manik mata Anwar. "Kamu pikir ini sudah selesai?"

Anwar tertawa kecil, suara tawanya terdengar meremehkan. "Memang sudah selesai. Pasokan bumbumu di perbatasan sudah aku 'urus'. Cabang-cabangmu akan tutup hari ini terutama di Jakarta karena nggak ada bahan baku. Syakira akan segera mengurus perceraian. Dan kamu? Kamu akan balik jadi tukang ojek di Jakarta."

Anwar merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah benda yang membuat jantung Rangga berhenti berdetak. Itu adalah jepit rambut bunga milik Syakira yang jatuh saat pendarahan semalam.

"Jepit ini bagus. Mungkin akan aku simpan sebagai kenang-kenangan saat Syakira resmi jadi milikku nanti," ujar Anwar santai.

Rangga ingin menerjang lagi, tapi ia melihat dua orang satpam rumah sakit sedang memperhatikan mereka dari kejauhan atas perintah Pak Mansyur. Anwar tahu itu. Ia sengaja memancing Rangga agar berbuat kasar lagi di depan saksi.

Rangga mengepalkan tangan hingga kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Ia berbisik pelan, "Ingat kata-kataku, Anwar. Aku mungkin jatuh hari ini. Tapi saat aku bangun nanti, aku akan pastikan kamu nggak punya tempat untuk sembunyi di kota ini."

Anwar hanya melambai santai sambil masuk ke dalam mobil mewahnya. Rangga ditinggalkan sendirian di tengah parkiran yang mulai panas. Ia merogoh ponselnya yang retak, menghubungi Galih.

"Lih... kumpulkan semua anak-anak. Tutup semua cabang di Jakarta hari ini. Kita pindah operasi ke gudang di Cimahi. Matanya menatap gedung rumah sakit di lantai tiga.

Rangga masuk ke mobilnya, mengabaikan kaca yang hancur. Ia memacu mobilnya keluar, debu parkiran mengepul di belakangnya. Ia tidak tahu bahwa di saat yang sama, di dalam kamar rawat, Syakira sedang mengalami pendarahan susulan karena stres yang tak tertahankan mendengarkan pertengkaran di luar tadi.

"Dokter! Suster! Anak saya pendarahan lagi!" teriakan Pak Mansyur menggema di koridor.

1
Vq S
nyesel muji tadi katanya udah bijak padahal masih dablek
Tinta Emas: kadang sisi jelek seorang pria selalu ada...
total 1 replies
Vq S
Dia mulai bijak
Tinta Emas: mudah-mudahan
total 1 replies
awesome moment
smg arka tdk merasa dipinggirkan
Tinta Emas: ya seperti yang saya harapkan juga begitu.
total 1 replies
awesome moment
g bkl.an dpt klo.msh mode mendewakan uang
awesome moment
untg msh punya kesempatan. gunakan
Tinta Emas: betul itu bang
total 1 replies
Masha 235
ck..ck...nyesel sambel
Tinta Emas: oh begitu..!
total 3 replies
awesome moment
mmg hnya ibu a.k.a istri ug multi tasking.
Tinta Emas: paket komplit
total 1 replies
Sri Khayatun
aku suka ceritanya ...sangat sopan..tetap semangat thor🙏😍😍
Tinta Emas: terima kasih ka
total 1 replies
awesome moment
rangga, stop dgn pengulangan kesalahan. udh bolak balik dpt kesempatan lho. jgn smp abis kesempatannya
Tinta Emas: kadang pria selalu terbawa emosi
total 1 replies
awesome moment
pengaco sll siap sedia
Tinta Emas: itulah problema kehidupan
total 1 replies
awesome moment
andai d persahabatan seloyal tu. mgk...pelukan teletubbies msh bisa dirasakan.
Tinta Emas: benar abangku
total 1 replies
awesome moment
haikal?,
Tinta Emas: benar, muncul dia
total 1 replies
awesome moment
😭😭😭
Nancy Nurwezia
cobalah bermain cantik juga rangga.. jangan emosi yang dikedepankan melulu.. cari cara buktikan bahwa anwar dan pak haji itu licik..
Tinta Emas: betul nona
total 1 replies
awesome moment
saatnya menghilang. biarkan waktu yg bicara..bawa rinjani. mulai smuanya dri awal. minta bantun penulis cerita. biar chapter ikan terbangnya jgn panjang2. 😄😄😄terlihat bgts bhw emosi bisa merubah smuanya.
Tinta Emas: Harusnya yang benar itu dari BAB 29.SISA ABU DAN RETAKNYA PUALAM BAB 30.DI AMBANG MAUT DAN PENEBUSAN BERDARAH. 31.KEHILANGAN YANG MENYAKITKAN 32.TIPU MUSLIHAT, 33.LUKA TAK BERNANAH, 34.GEROBAK MASA LALU, 35.SURAT DARI SYAKIRA 36.USAHA MENEMBUS PINTU
total 2 replies
Meliandriyani Sumardi
salam kenal kak
Tinta Emas: salam
total 1 replies
awesome moment
org yg bisa bertahan di titik terendah, dia sll punya cara utk ttp hidup. bahkan di alam paling liar 1x pun.
Tinta Emas: Dia tau harus bagaimana
total 1 replies
awesome moment
10 tahun? menyembunyikan? hirang kayah mmg kdg buta tuli
Tinta Emas: bisa begitu ya
total 1 replies
Anonymous
langsung emosi.. padahal datar aja dulu kasih tempat buat duduk kasih minum lalu dengerin baru setelah dengar dengan ekspresi seakan berfikir kemudian tersenyum merekah "lalu apa hubungannya dengan saya?"
Tinta Emas: ya juga bang hehe
total 1 replies
Anonymous
harusnya Rangga gak usah terlalu blak blakang sama orang asing .. cukup disimpan rapat rapat cerita keluarga nya orang lain gak usah tau
Anonymous: maksudnya kan itu Syakira orang lain gitu Thor, kalau tiba tiba cerita kayak gitu pangdangan nya kayak memang tersakiti tapi pengen membuat orang simpati gitu
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!