NovelToon NovelToon
Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Status: tamat
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Pengasuh / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.

Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.

Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.

Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Tawaran Bu Lita

Bu Rika tidak banyak bertanya. Ia tahu tatapan Bu Lita barusan bukan sekadar ingin tahu. Itu tatapan seorang nenek yang cemas pada cucunya.

Ia segera menyebutkan nomor yang begitu ia hafal di luar kepala. Angka demi angka mengalir lancar, seolah sudah tercetak di ingatannya sejak lama.

Bu Lita mengangguk. “Tolong ambilkan ponsel Ibu di kamar.”

“Iya, Bu.”

Bu Rika bergegas ke lorong, meninggalkan ruang tengah yang masih dipenuhi ketegangan tipis.

Krisna kini mengangkat Ezio lagi setelah baju bersih terpasang. Ia menempelkan pipinya ke kening anaknya.

Masih terasa panas.

Ia menghela napas pendek.

Lena berdiri sedikit lebih dekat. “Pak, kalau perlu saya buatkan air hangat lagi.”

“Nanti saja,” jawab Krisna singkat.

Bu Lita memperhatikan anaknya itu lama. Ada sesuatu yang keras di wajah Krisna—antara lelah dan gengsi yang belum luruh.

Tak lama kemudian Bu Rika kembali, menyerahkan ponsel pada Bu Lita. “Ini, Bu.”

“Terima kasih.”

Tangan Bu Lita sedikit bergetar saat membuka layar. Ia jarang menelepon orang tanpa alasan jelas. Tapi kali ini alasannya sangat jelas.

Bukan untuk Krisna.

Bukan untuk membuktikan siapa yang benar.

Tapi untuk cucunya.

Ia menekan nomor yang baru saja disebutkan Bu Rika.

Nada sambung terdengar.

Satu kali.

Dua kali.

Tidak diangkat.

Di tempat lain, Raisa sedang mengayuh sepedanya menyusuri jalan yang sedikit menanjak. Rambut panjangnya yang dikuncir tinggi bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya. Angin yang melawan membuatnya tidak mendengar ponsel di dalam tas kecilnya bergetar.

Panggilan pertama terlewat.

Di ruang tamu, Bu Lita menatap layar ponselnya. Tangisan Ezio kembali terdengar pelan. Krisna kini berjalan mondar-mandir kecil, mencoba menenangkan.

Lena mengikutinya dengan pandangan, sesekali menyentuh punggung Ezio seolah ingin ikut ambil peran.

Bu Lita menekan panggilan lagi.

Nada sambung kembali terdengar.

Kali ini lebih lama.

Tetap tidak diangkat.

Ia menatap Krisna sekilas.

Anaknya itu tidak tahu apa yang sedang ia lakukan. Dan mungkin, jika tahu, akan melarang.

Tapi kali ini ia tidak peduli. Panggilan ketiga ia tekan tanpa ragu.

Raisa akhirnya memperlambat kayuhan ketika melihat warung kecil di pinggir jalan. Tenggorokannya terasa kering. Sejak tadi ia berputar dari satu tempat ke tempat lain.

Ia menghentikan sepeda di depan warung sederhana dengan papan kayu dan payung besar di depannya.

“Bu, es kelapa satu ya,” katanya pada pemilik warung.

Ia baru saja hendak duduk di bangku panjang ketika merasakan getaran di dalam tas kecilnya.

Raisa mengernyit.

Jarang ada yang menelepon siang begini.

Ia merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel. Layar menunjukkan tiga panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak ia simpan.

Ia ragu sepersekian detik.

Lalu panggilan masuk lagi.

Nomor yang sama.

Ia mengangkatnya.

“Assalamualaikum,” ucapnya.

Di seberang, suara yang sangat ia kenal terdengar jelas.

“Assalamualaikum, Raisa, ini Bu Lita.”

Raisa spontan berdiri. “Oh Bu Lita, waalaikumsalam. Tumben Bu telepon saya, ada apa ya?”

Nada suaranya sopan, tapi ada degup kecil di dadanya.

Ada apa?

“Ibu ada perlu sama kamu,” kata Bu Lita tanpa basa-basi panjang. “Kamu lagi cari kerjaan, kan?”

Raisa menelan ludah. “Iya, Bu.”

Angin siang menyentuh wajahnya. Ia melangkah menjauh sedikit dari warung agar tidak terlalu berisik.

“Kalau begitu datang ke rumah Ibu sekarang. Ibu ada pekerjaan buat kamu.”

Kalimat itu membuat waktu seolah berhenti sepersekian detik.

Sudut bibir Raisa mengembang perlahan. Harapan yang tadi ia tekan agar tidak terlalu tinggi kini melonjak begitu saja.

“Benaran, Bu? Ada lowongan pekerjaan?”

“Iya, ada,” jawab Bu Lita mantap. “Dan kamu bekerja siang ini juga. Ibu tunggu ya.”

Nada suara itu tidak memberi ruang untuk banyak tanya.

Raisa menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang hampir melebar terlalu lebar. “Siap, Bu Lita.”

“Cepat datang ya.”

“Iya, Bu.”

Panggilan terputus.

Raisa masih memandangi layar ponselnya beberapa detik. Jantungnya berdetak cepat.

Pekerjaan.

Hari ini juga.

Ia tidak tahu pekerjaan apa. Tidak tahu detailnya. Tapi satu hal jelas—ia dipanggil.

Ia tersenyum tanpa sadar.

“Mbak, es kelapanya,” panggil ibu warung.

Raisa tersentak.

“Oh, iya, Bu … maaf.”

Ia menatap gelas besar berisi es kelapa muda yang baru saja disajikan. Tadi ia merasa sangat haus.

Sekarang? Haus itu seperti hilang, tergantikan rasa lain.

“Bu, maaf ya, saya nggak jadi,” katanya buru-buru sambil tersenyum canggung. “Lain kali saja.”

“Lho, sudah dibuatkan, Mbak.”

Raisa cepat-cepat mengambil uang dari saku celana bahannya. “Ini buat esnya, Bu. Maaf saya harus pergi sekarang.”

Ia bahkan tidak menunggu kembalian.Dengan gerakan cepat ia kembali ke sepedanya, menaikinya hampir tanpa jeda. Rambut kuncirnya kembali bergoyang saat ia mulai mengayuh.

Kali ini lebih cepat. Lebih ringan. Ia lupa pada lelah di betisnya.

Lupa pada penolakan-penolakan yang ia dapat pagi tadi.

Lupa bahwa beberapa menit lalu ia hampir menyerah.

Yang ada di kepalanya hanya satu: Bu Lita menelepon. Ada pekerjaan untuknya. Dan ia diminta datang sekarang juga.

Angin menerpa wajahnya lebih kencang saat ia menambah kecepatan kayuhan. Jalanan desa yang tadi terasa panjang kini seperti memendek.

Ia tidak tahu apa yang menunggunya di sana.

Ia tidak tahu bahwa di rumah besar itu, seorang bayi kecil terbaring demam.

Ia tidak tahu bahwa keputusan Bu Lita barusan bisa memicu badai kecil dalam rumah tangga yang belum sepenuhnya stabil.

Yang ia tahu hanya satu: Kesempatan jarang datang dua kali. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkannya lewat.

Bersambung ... ✍️

1
Tamirah
Ya... namanya aja gadis desa dan dari keluarga yg sangat sederhana, untuk kata kata spt yg diucapkan dokter duda ya bukan gak nyambung tapi Raisa' beranggapan gak mungkilah seorang dokter kota anaknya Pak Kades ada hati sama dirinya yg hanya anak seorang pembantu.Makanya ia selalu bersikap bar bar agar tidak diremehkan.
Tamirah
Ha. ha. ....mulai cemburu.. Krisna...! Gak memberikan kesempatan pada Raisa dan Fahri untuk bersama dgn alasan ibu Lita butuh bantuan alias Raisa dibawa pulang lagi kerumah Bu Lita...modus.
Tamirah
Dengan bergabungnya dua wanita ular untuk menyingkir Raisa maka Krisna akan semakin melindungi Raisa demi kenyamanan anaknya.Hanya Raisa lah yg bisa mengatasi anak sang dokter..itu tdk diragukan lagi.
Tamirah
Kuakui Thor novel mu emang keren habis, pingin baca karya mu yg lain.👍👍👍👍
Tamirah
Wik ....wik..sang janda mulai mengatur strategi untuk memfinah Raisa agar dialah yg jadi pengasuh nya, apa lagi diberi wkt 1 bulan untuk bersaing dgn Raisa tentu banyak rencana jahatnya untuk menjebak Raisa .. lanjut Thor.
Tamirah
Wajar kalau Lena gak terima Raisa jadi pengasuh Ezio,janda itu sangat membutuhkan pekerjaan utk kelangsungan hidup bersama anaknya nya,yg gak ituu karena punya misi untuk mendekati dokter obsesinya berharap dijadikan ibu sambung Enzo, mimpi' kali.... mbak Lena . ....!
Tamirah
Makan ituu gengsi gak peka banget kalau anaknya sdh nyaman dgn Raisa.
Seorang bayi sangat lah peka terhadap orang yg tulus menyayangi nya,begitu ia dijauhkan otomatis tubuhnya merespon yg akhir nya bayi jadi rewel....!
Tamirah
Ternyata Lena gak selugu yg kita duga ia punya tujuan lain, selain dia bekerja sebagai pengasuh Ia juga punya niat untuk mendekati dr Krisna wik wik janda gatal....perlu waspada pada hey..hey Dokter Krisna.Tentu para readers lebih senang Krisna berjodoh dgn anak pembantu dibandingkan dgn janda gatal....!!!!!
Tamirah
Gak usah fikir fikir lagi langsung aja gantikan ibumu bekerja lagi dirumah pak dokter kan lumayan di gaji buat tabungan. sebagai anak pembantu mendapatkan uang dgn hasil keringat sendiri itu sangatlah berarti.
Tamirah
Modus Krisna untuk menjadikan Raisa jadi pengasuh anaknya dgn alasan kaca mobil yg retak 😄😄😄
Tamirah
Suka banget dgn visualnya. ... keren...!!
Tamirah
Mungkinkah Raisa akan bekerja di Klinik Krisna, karena klinik perlu tenaga admin utk proses data pasien.
Tamirah
Sudah biasa laki laki kaya meremehkan orang yg ekonomi nya dibawah standar alias miskin, walau pun tidak semua laki laki punya sikap spt itu.Toh bisa di tebak walau nnt banyak drama antara sang Dokter desa dgn anak pembantu Ahir nya yg bucin ya sang dokter itu sendiri.
Tamirah
Visual dari alur cerita nya keren, awal dari perkenalan yg gak sengaja' tapi akan berlanjut menjadi drama yg mengasyikkan... lanjut Thor.
Maria Ulfah
Syafakillah mama ghina ..dan keluarga
Maria Ulfah
gemezz sin😁😁😁
Pujierde
gak mungkin dok klo lena ngajak makan siang bukan belain lena ya dok tapi lena juga sadar diri dok gak mungkin lgsg ngajakin makan siang
Pujierde
terlalu berani raisa padahal ada bu lita, pak wijaya jadi jangab salahin lena juga klo dia marah karena belum apa" sudah ngajak perang klo memang raisa orang yang masa bodo tentu gak akan nyidir" lena semua orang tau kok klo lena berlebihan dandanannya
Pujierde
jadi seorang ayah itu harus punya hati plus logika bukan hanya punya gengsi jadi tau mana yang tulus dan mana yang gak tulus heran seorang dokter kok hati dan logika gak jalan
Pujierde
iya emang cocoknya namanya dokter oneng bukan dokter krisna 😄😄 laki" gak punya hati yang dia punya tuh gengsi klo dia punya hati harus bisa liat bagaimana anaknya lebih nyaman sama raisa dacal doktel oon klo kata bodel mah 😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!