Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.
Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.
Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.
Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Tawaran Bu Lita
Bu Rika tidak banyak bertanya. Ia tahu tatapan Bu Lita barusan bukan sekadar ingin tahu. Itu tatapan seorang nenek yang cemas pada cucunya.
Ia segera menyebutkan nomor yang begitu ia hafal di luar kepala. Angka demi angka mengalir lancar, seolah sudah tercetak di ingatannya sejak lama.
Bu Lita mengangguk. “Tolong ambilkan ponsel Ibu di kamar.”
“Iya, Bu.”
Bu Rika bergegas ke lorong, meninggalkan ruang tengah yang masih dipenuhi ketegangan tipis.
Krisna kini mengangkat Ezio lagi setelah baju bersih terpasang. Ia menempelkan pipinya ke kening anaknya.
Masih terasa panas.
Ia menghela napas pendek.
Lena berdiri sedikit lebih dekat. “Pak, kalau perlu saya buatkan air hangat lagi.”
“Nanti saja,” jawab Krisna singkat.
Bu Lita memperhatikan anaknya itu lama. Ada sesuatu yang keras di wajah Krisna—antara lelah dan gengsi yang belum luruh.
Tak lama kemudian Bu Rika kembali, menyerahkan ponsel pada Bu Lita. “Ini, Bu.”
“Terima kasih.”
Tangan Bu Lita sedikit bergetar saat membuka layar. Ia jarang menelepon orang tanpa alasan jelas. Tapi kali ini alasannya sangat jelas.
Bukan untuk Krisna.
Bukan untuk membuktikan siapa yang benar.
Tapi untuk cucunya.
Ia menekan nomor yang baru saja disebutkan Bu Rika.
Nada sambung terdengar.
Satu kali.
Dua kali.
Tidak diangkat.
Di tempat lain, Raisa sedang mengayuh sepedanya menyusuri jalan yang sedikit menanjak. Rambut panjangnya yang dikuncir tinggi bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya. Angin yang melawan membuatnya tidak mendengar ponsel di dalam tas kecilnya bergetar.
Panggilan pertama terlewat.
Di ruang tamu, Bu Lita menatap layar ponselnya. Tangisan Ezio kembali terdengar pelan. Krisna kini berjalan mondar-mandir kecil, mencoba menenangkan.
Lena mengikutinya dengan pandangan, sesekali menyentuh punggung Ezio seolah ingin ikut ambil peran.
Bu Lita menekan panggilan lagi.
Nada sambung kembali terdengar.
Kali ini lebih lama.
Tetap tidak diangkat.
Ia menatap Krisna sekilas.
Anaknya itu tidak tahu apa yang sedang ia lakukan. Dan mungkin, jika tahu, akan melarang.
Tapi kali ini ia tidak peduli. Panggilan ketiga ia tekan tanpa ragu.
Raisa akhirnya memperlambat kayuhan ketika melihat warung kecil di pinggir jalan. Tenggorokannya terasa kering. Sejak tadi ia berputar dari satu tempat ke tempat lain.
Ia menghentikan sepeda di depan warung sederhana dengan papan kayu dan payung besar di depannya.
“Bu, es kelapa satu ya,” katanya pada pemilik warung.
Ia baru saja hendak duduk di bangku panjang ketika merasakan getaran di dalam tas kecilnya.
Raisa mengernyit.
Jarang ada yang menelepon siang begini.
Ia merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel. Layar menunjukkan tiga panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak ia simpan.
Ia ragu sepersekian detik.
Lalu panggilan masuk lagi.
Nomor yang sama.
Ia mengangkatnya.
“Assalamualaikum,” ucapnya.
Di seberang, suara yang sangat ia kenal terdengar jelas.
“Assalamualaikum, Raisa, ini Bu Lita.”
Raisa spontan berdiri. “Oh Bu Lita, waalaikumsalam. Tumben Bu telepon saya, ada apa ya?”
Nada suaranya sopan, tapi ada degup kecil di dadanya.
Ada apa?
“Ibu ada perlu sama kamu,” kata Bu Lita tanpa basa-basi panjang. “Kamu lagi cari kerjaan, kan?”
Raisa menelan ludah. “Iya, Bu.”
Angin siang menyentuh wajahnya. Ia melangkah menjauh sedikit dari warung agar tidak terlalu berisik.
“Kalau begitu datang ke rumah Ibu sekarang. Ibu ada pekerjaan buat kamu.”
Kalimat itu membuat waktu seolah berhenti sepersekian detik.
Sudut bibir Raisa mengembang perlahan. Harapan yang tadi ia tekan agar tidak terlalu tinggi kini melonjak begitu saja.
“Benaran, Bu? Ada lowongan pekerjaan?”
“Iya, ada,” jawab Bu Lita mantap. “Dan kamu bekerja siang ini juga. Ibu tunggu ya.”
Nada suara itu tidak memberi ruang untuk banyak tanya.
Raisa menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang hampir melebar terlalu lebar. “Siap, Bu Lita.”
“Cepat datang ya.”
“Iya, Bu.”
Panggilan terputus.
Raisa masih memandangi layar ponselnya beberapa detik. Jantungnya berdetak cepat.
Pekerjaan.
Hari ini juga.
Ia tidak tahu pekerjaan apa. Tidak tahu detailnya. Tapi satu hal jelas—ia dipanggil.
Ia tersenyum tanpa sadar.
“Mbak, es kelapanya,” panggil ibu warung.
Raisa tersentak.
“Oh, iya, Bu … maaf.”
Ia menatap gelas besar berisi es kelapa muda yang baru saja disajikan. Tadi ia merasa sangat haus.
Sekarang? Haus itu seperti hilang, tergantikan rasa lain.
“Bu, maaf ya, saya nggak jadi,” katanya buru-buru sambil tersenyum canggung. “Lain kali saja.”
“Lho, sudah dibuatkan, Mbak.”
Raisa cepat-cepat mengambil uang dari saku celana bahannya. “Ini buat esnya, Bu. Maaf saya harus pergi sekarang.”
Ia bahkan tidak menunggu kembalian.Dengan gerakan cepat ia kembali ke sepedanya, menaikinya hampir tanpa jeda. Rambut kuncirnya kembali bergoyang saat ia mulai mengayuh.
Kali ini lebih cepat. Lebih ringan. Ia lupa pada lelah di betisnya.
Lupa pada penolakan-penolakan yang ia dapat pagi tadi.
Lupa bahwa beberapa menit lalu ia hampir menyerah.
Yang ada di kepalanya hanya satu: Bu Lita menelepon. Ada pekerjaan untuknya. Dan ia diminta datang sekarang juga.
Angin menerpa wajahnya lebih kencang saat ia menambah kecepatan kayuhan. Jalanan desa yang tadi terasa panjang kini seperti memendek.
Ia tidak tahu apa yang menunggunya di sana.
Ia tidak tahu bahwa di rumah besar itu, seorang bayi kecil terbaring demam.
Ia tidak tahu bahwa keputusan Bu Lita barusan bisa memicu badai kecil dalam rumah tangga yang belum sepenuhnya stabil.
Yang ia tahu hanya satu: Kesempatan jarang datang dua kali. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkannya lewat.
Bersambung ... ✍️
kepo sm bibir lena, kira² meledaknya sprti ap y ???
mommy bab selanjutnya ditnggu 💪💪💪💪💪😊