NovelToon NovelToon
Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Status: tamat
Genre:Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.

Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Balik Jubah Sutra

Malam semakin larut. Paviliun Sanctuary kembali diselimuti kesunyian setelah badai jamuan makan malam tadi. Namun, di tengah kegelapan taman ek, sebuah bayangan bergerak perlahan. Duchess Eleonore, ibu Eisérre, tidak bisa memejamkan matanya. Hatinya terus berbisik bahwa ada sesuatu yang tidak asing dari gadis berwajah bayi itu.

Eleonore menyelinap melalui pintu samping paviliun yang ia tahu tidak pernah dikunci rapat. Ia berjalan menuju balkon lantai dua, tempat Geneviève sedang duduk termenung menatap bulan, masih mengenakan gaun hijau zamrudnya.

"Sangat sulit untuk tidur setelah makan malam yang penuh dengan 'duri', bukan?" Suara lembut Eleonore memecah kesunyian.

Geneviève tersentak dan segera berdiri untuk melakukan penghormatan. "Nyonya... maaf, saya tidak menyadari kehadiran Anda."

Eleonore tersenyum tulus—senyum hangat yang sangat berbeda dari Madame Valois. Ia mendekat dan menyentuh tangan Geneviève. "Panggil aku Bibi, jika kita sedang berdua. Aku datang bukan sebagai Duchess, tapi sebagai seorang ibu yang penasaran."

Eleonore menatap wajah Geneviève lekat-lekat di bawah sinar bulan. Semakin ia melihatnya, semakin dadanya bergemuruh. Ingatannya melayang pada pesta dansa kerajaan lima tahun lalu, saat ia melihat seorang gadis muda di samping Raja Henri.

"Ève..." Eleonore berbisik, matanya mulai berkaca-kaca. "Kau tahu, caramu membalas nenek tadi... caramu memegang cangkir... itu bukan sekadar pendidikan. Itu adalah darah. Darah bangsawan yang sangat tinggi."

Geneviève mengerutkan kening. "Apa maksud Anda, Bibi?"

"Wajahmu," Eleonore menyentuh pipi Geneviève dengan gemetar. "Wajahmu seperti bukan orang asing. Tapi, kenapa kau di sini? Mengapa Eisérre menyembunyikanmu?"

Geneviève membeku. "Oh ya? Jenderal Eisérre menyuruhku untuk sedikit bersabar dalam menunggu informasi mengenai diriku bibi, jadi mohon izinnya."

Eleonore tertegun. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Bagiamana bisa Putranya seorang jenderal besar tidak menyampaikan berita besar yang sedang terjadi diluar sana. Apakah Eisérre, sedang membohongi gadis ini. "Eisérre bilang begitu? Tapi menurut informasi yang bibi dengar, Putri Mahkota sedang hilang dan seluruh kerajaan sedang gempar, Ève. Tuan Henri, dan bahkan Raja Alaric tengah sibuk memerintahkan pasukannya untuk mencari Putri Mahkota."

Mendengar nama-nama itu, kepala Geneviève tiba-tiba berdenyut hebat. Potongan-potongan memori seperti kilatan cahaya putih menghantam otaknya. Henri... Alaric...

"Aakh!" Geneviève memegang kepalanya, tubuhnya limbuh.

"Ève!" Eleonore menangkap tubuh mungil itu. "Kau kenapa?" Ucapnya bingung.

"Apa yang ibu sedang lakukan?"

Suara dingin itu datang dari kegelapan koridor. Eisérre berdiri di sana, matanya yang sebiru danau malam kini tampak gelap dan berbahaya. Ia melangkah maju, langsung menarik Geneviève dari pelukan ibunya dan mendekapnya posesif ke dadanya.

"Eisérre! Apa yang kau lakukan?" Eleonore bertanya dengan suara gemetar. "Gadis ini pasti dia adalah Putri Mahkota! Kau melakukan kejahatan besar dengan menyembunyikannya dari Raja!"

Eisérre tidak melepaskan dekapannya pada Geneviève yang masih meringis kesakitan karena memorinya mulai terbuka sedikit demi sedikit. "Saya tidak peduli siapa dia bagi kerajaan, Ibu. Bagiku, dia hanyalah Ève. Gadis yang kutemukan di ambang maut saat semua orang membiarkannya mati."

"Tapi keluarganya mencarinya. Kalau sampai Ève adalah putri mahkota, raja akan melepaskan gelarmu bukan hanya itu, dia akan memenggal kepala mu!"

"Keluarga yang membiarkannya pergi ke medan perang sendirian tidak pantas memilikinya kembali," balas Eisérre dengan nada kejam. Ia menunduk, mencium puncak kepala Geneviève di depan ibunya sendiri. "Jangan ikut campur, Ibu. Pergilah kembali ke kediaman utama sebelum Nenek curiga. Dan jangan pernah katakan pada siapa pun apa yang Anda lihat malam ini, atau saya akan memastikan Anda tidak akan pernah bisa melihat paviliun ini lagi."

Eleonore menatap putranya dengan rasa ngeri. Ia menyadari bahwa putranya yang dulu kaku seperti robot kini telah berubah menjadi pria yang terobsesi.

Geneviève perlahan mendongak, matanya yang sayu menatap Eisérre. "Jenderal, apakah itu benar? Apakah aku seorang Putri?"

Eisérre menatap mata cokelat itu, hatinya bergejolak, namun egonya menang. Ia mengusap dahi Geneviève dengan lembut. "Jangan dengarkan siapa pun. Kau adalah Lady-ku. Itu saja yang perlu kau ingat."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!