NovelToon NovelToon
Batas Jarak Dan Baktimu

Batas Jarak Dan Baktimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:268
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
​Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langit yang Kelabu

​Deru mesin pesawat Boeing 777 yang membawa Nina kembali menuju Amsterdam terdengar seperti rintihan panjang yang tak kunjung usai. Di ketinggian tiga puluh ribu kaki, di atas hamparan awan yang tak terlihat karena pekatnya malam, Nina duduk mematung di kursi dekat jendela. Wajahnya yang pucat terpantul di kaca pesawat, tampak seperti bayangan yang asing bagi dirinya sendiri.

​Tangannya tak pernah lepas dari liontin sepatu balet perak yang masih melingkar di lehernya. Cincin pemberian Arya memang sudah ia kembalikan di atas pelaminan tadi, namun liontin ini... liontin ini adalah bagian dari masa kecilnya, bagian dari memori sebelum kasta dan pangkat merusak segalanya. Ia menggenggamnya begitu erat hingga pinggiran perak itu membekas di telapak tangannya.

​Di sampingnya, Maya dan Sari duduk dengan kecemasan yang menggantung. Mereka sudah bersama Nina sejak dari pemakaman Ibu Fatimah di Yogyakarta, mengawal sahabat mereka menembus kemacetan Jakarta, hingga menyaksikan adegan memilukan di gedung pernikahan itu. Mereka melihat bagaimana Nina berdiri tegak seperti karang saat Arya menangis, namun mereka tahu, di dalam sana, karang itu sudah hancur menjadi pasir.

​"Nin... minum dulu ya? Dari tadi kamu belum menelan apa pun," bisik Maya lembut sambil menyodorkan segelas air mineral.

​Nina tidak menjawab. Matanya tetap terpaku pada kegelapan di luar jendela.

​Sari mencoba menawarkan roti lapis yang diberikan pramugari beberapa saat lalu. "Makan sedikit, Nin. Perjalanan kita masih belasan jam. Kamu harus kuat buat pertunjukan di Amsterdam nanti."

​Nina perlahan menoleh. Ia menatap Sari dan Maya bergantian dengan pandangan yang kosong, namun penuh rasa terima kasih yang tak terucapkan. Ia menerima gelas air itu, meminumnya seteguk hanya untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering seperti padang pasir.

​"Aku nggak apa-apa," suara Nina terdengar sangat tipis, hampir hilang tertelan suara mesin pesawat. "Terima kasih sudah menemaniku."

​Maya dan Sari kembali terdiam. Mereka tahu, dalam kondisi seperti ini, kata-kata motivasi atau penghiburan hanyalah suara bising yang tak berguna. Nina sedang berada di dasar palung kesedihannya sendiri, dan satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan adalah memastikan Nina tidak merasa sendirian secara fisik.

​Nina kembali memejamkan mata. Di balik kelopak matanya, bayangan wajah ibunya yang tersenyum di saat terakhir berseliweran dengan bayangan Arya yang menangis di pelaminan. Ia merasa seperti sedang menari di atas duri; setiap langkah adalah luka, setiap gerakan adalah perih. Namun, tarian ini harus tetap selesai.

​***

​Sementara itu, di Jakarta, kemegahan pesta di gedung mewah itu mulai memudar. Bunga-bunga melati yang tadi wangi semerbak kini mulai layu, dan karpet merah yang tadi dipijak ribuan tamu kini kotor oleh sisa-sisa perayaan. Keluarga besar Sudrajat telah kembali ke rumah dinas Menteng dengan suasana hati yang jauh dari kata bahagia.

​Kemenangan Ibu Lastri terasa hambar. Meskipun ia berhasil menyuntingkan Maura di samping putranya, pemandangan Arya yang menangis tersedu-sedu di depan umum tadi menjadi aib terselubung yang terus dibicarakan oleh para kerabat. Papi Sudrajat langsung masuk ke ruang kerjanya tanpa bicara satu kata pun, sementara Aurel dan Arista segera berpamitan pulang dengan wajah muram.

​Arya dan Maura, sesuai rencana, akan menginap di kamar pengantin yang sudah disiapkan di lantai dua rumah tersebut sebelum nantinya pindah ke asrama militer tempat Arya bertugas. Kamar itu telah didekorasi dengan sangat cantik. Kelopak mawar merah ditaburkan di atas ranjang king size, cahaya lampu temaram menciptakan suasana romantis, dan aroma terapi beraroma sandalwood memenuhi ruangan.

​Begitu pintu kamar tertutup, keheningan yang menyesakkan langsung menyergap. Arya meletakkan baret dan jas upacara (PDU)-nya di kursi kayu dengan gerakan kasar. Ia tidak menatap Maura sedikit pun.

​"Mas... kamu mau mandi duluan?" tanya Maura pelan. Suaranya terdengar ragu, sangat berbeda dengan Maura yang biasanya penuh percaya diri sebagai seorang dokter.

​Arya tidak menjawab. Ia berjalan menuju balkon kamar, membuka pintu kaca lebar-lebar seolah-olah ruangan itu kekurangan oksigen. Ia menyulut rokok, menatap langit Jakarta yang kotor oleh polusi. Pikirannya terbang ke bandara, membayangkan Nina yang mungkin sedang berada di udara, meninggalkannya menuju benua yang jauh.

​Maura menghela napas. Ia memutuskan untuk memberikan ruang bagi suaminya. Ia mengambil perlengkapan mandinya dan masuk ke kamar mandi. Di bawah kucuran air hangat, Maura mencoba menenangkan dirinya. Ia adalah wanita cerdas, ia tahu Arya mencintai Nina. Namun, ia juga percaya pada baktinya, pada pilihannya untuk merawat Ibu Lastri. Ia yakin, seiring berjalannya waktu, Arya akan luluh.

​*

​Di balkon, tangan Arya gemetar. Ia meraba ponsel di sakunya. Dengan jari-jari yang kaku, ia mulai mengetik pesan untuk Nina.

​Nin, Kakak minta maaf. Kakak pengecut. Kakak tidak berguna. Tolong jawab telepon Kakak sekali saja. Kakak ingin tahu kamu di mana.

​Satu menit. Dua menit. Tidak ada tanda-tanda pesan itu dibaca. Arya tahu Nina mungkin sudah mematikan ponselnya di pesawat, atau mungkin Nina sudah memblokir nomornya. Ia mengirim lagi pesan berikutnya.

Kenapa kamu baru bilang soal Ibu? Nin, Kakak sangat mencintaimu. Pernikahan ini... ini bukan keinginan Kakak.

​Arya menatap layar ponselnya hingga matanya perih. Tidak ada balasan. Hanya ada kesunyian malam Jakarta yang seolah menertawakan ketidakberdayaannya sebagai seorang perwira yang mampu memimpin pasukan, namun gagal mempertahankan wanita yang ia cintai.

​Ia teringat bisikan Nina di atas pelaminan tadi. "Ibu meninggal kemarin pagi, Kak... terima kasih sudah pernah menjadi pelindung yang baik." Kalimat itu lebih tajam daripada sangkur mana pun. Nina kehilangan ibunya sendirian, menguburkannya sendirian, sementara ia sedang sibuk dipasangi janur kuning di Jakarta.

​Rasa muak muncul dari dalam dirinya. Muak pada pangkatnya, muak pada keluarganya, dan terutama muak pada dirinya sendiri.

*

​Pintu kamar mandi terbuka. Maura keluar dengan penampilan yang sangat berbeda. Ia telah melepaskan riasan pengantinnya yang berat. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai basah, memberikan kesan segar sekaligus menggoda. Di balik bathrobe sutranya, ia mengenakan lingerie hitam berbahan brokat yang sangat seksi—sebuah persiapan yang disarankan oleh Ibu Lastri agar "malam pertama" mereka berkesan.

​Maura mendekati meja rias, menyemprotkan sedikit parfum di titik-titik nadinya. Ia melihat Arya masih berdiri di balkon, memunggungi ruangan.

​"Mas... udara di luar dingin. Masuklah, nanti kamu sakit," ucap Maura dengan nada yang dibuat semanis mungkin.

​Arya mematikan rokoknya. Ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam kamar. Ia menatap Maura sekilas, namun pandangannya bukan pandangan seorang suami yang memuja kecantikan istrinya. Pandangan itu dingin, datar, dan penuh jarak.

​Maura memberanikan diri. Ia mendekati Arya, tangannya perlahan menyentuh lengan seragam Arya yang masih menempel di tubuhnya. "Mas, kita sudah sah. Apapun yang terjadi di gedung tadi, lupakanlah sebentar. Mari kita mulai lembaran baru..."

​Maura mencoba merapatkan tubuhnya, tangannya mulai bergerak untuk membuka kancing kemeja Arya. Namun, dengan gerakan yang cepat dan tegas, Arya menangkap pergelangan tangan Maura dan melepaskannya.

​"Cukup, Maura," kata Arya. Suaranya rendah namun penuh penekanan yang membuat Maura terhenyak.

​"Mas...?"

​Arya menatap Maura lurus-lurus. "Kamu ingin aku jujur, kan? Pernikahan ini terjadi hanya karena satu hal: Mami. Mami yang menginginkannya, Mami yang merencanakannya, dan Mami yang memaksakannya."

​"Tapi kita sudah menikah, Mas. Aku istrimu..."

​"Secara hukum dan agama, ya. Kamu adalah istriku. Aku akan menunaikan kewajibanku untuk memberimu nafkah, menjaga nama baikmu, dan memastikan kamu tidak kekurangan apa pun sebagai istri seorang Kapten," Arya berhenti sejenak, wajahnya mengeras. "Tapi jangan harap aku bisa memberikan hatiku. Hatiku tidak ada di sini. Hatiku ikut terbang ke Belanda bersama wanita yang tadi sore kamu lihat."

​Wajah Maura memucat. "Kamu jahat, Mas. Kamu menghina aku di malam pertama kita?"

​"Aku tidak menghinamu. Aku hanya menyatakan realita agar kamu tidak memiliki ekspektasi yang salah," sahut Arya dingin. "Mami ingin aku menikahimu, dan aku sudah melakukannya. Kewajibanku pada Mami sudah lunas sampai di sini. Tapi aku tidak memiliki kewajiban untuk menidurimu atau pura-pura mencintaimu."

​Arya mengambil bantal dan selimut cadangan dari dalam lemari. Ia berjalan menuju sofa panjang yang terletak di sudut kamar, jauh dari ranjang pengantin yang penuh kelopak mawar itu.

​"Tidurlah di ranjang itu. Itu hakmu. Aku akan tidur di sini," ucap Arya tanpa menoleh lagi.

​"Mas! Kamu keterlaluan! Apa yang akan Mami bilang kalau tahu kita tidur terpisah?" Maura mulai terisak. Harga dirinya sebagai wanita dan seorang dokter merasa diinjak-injak.

​"Mami tidak perlu tahu. Dan kalaupun tahu, aku tidak peduli lagi. Mami sudah mendapatkan pesta yang dia inginkan, sekarang biarkan aku mendapatkan sisa ketenanganku sendiri," jawab Arya sambil merebahkan tubuhnya di sofa, masih dengan pakaian lengkapnya.

​Malam itu, di kamar pengantin yang seharusnya penuh kehangatan, hanya terdengar suara isak tangis Maura yang tertahan di balik bantal. Sementara itu, Arya hanya menatap langit-langit kamar, membayangkan Nina yang mungkin sedang menangis di kursi pesawat yang sempit.

​Di Atas Langit Hindia

​Pesawat terus melaju membelah malam. Nina terbangun dari tidur singkatnya yang penuh mimpi buruk. Ia merasakan sakit yang luar biasa di dadanya, sebuah sesak yang tak bisa dijelaskan oleh istilah medis mana pun.

​Ia meraba lehernya, memastikan liontin itu masih ada di sana. Perlahan, ia membuka matanya dan melihat ke arah jendela. Di kejauhan, fajar mulai menyingsing, memberikan garis cahaya keunguan di cakrawala.

​Nina tahu, saat kaki mereka mendarat di Schiphol nanti, dunianya tidak akan pernah sama lagi. Ia tidak lagi memiliki pelindung di Jakarta. Ia tidak lagi memiliki tempat pulang di Yogyakarta.

​"Bu... Nina akan kuat," bisiknya ke arah jendela. "Nina akan menari sampai rasa sakit ini tidak lagi terasa."

​Maya yang menyadari Nina sudah bangun, mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Nina. "Kita hampir sampai, Nin. Amsterdam sudah menunggu kita."

​Nina mengangguk. Ia menghapus air mata terakhirnya. Ia melepaskan genggamannya pada liontin itu, membiarkannya menggantung bebas di dadanya. Ia tidak akan membuangnya, namun ia juga tidak akan lagi bergantung padanya.

​Pagi itu, di dua belahan dunia yang berbeda, dua jiwa sedang mengalami kehampaan yang sama. Yang satu berada di ketinggian ribuan kaki menuju masa depan yang gemilang namun sunyi, dan yang satu lagi berada di dalam kemewahan Menteng yang terasa seperti penjara bawah tanah.

​Garis takdir mereka kini benar-benar telah menjadi dua garis sejajar yang tak akan pernah bersinggungan lagi dalam waktu dekat. Namun, di antara dinginnya sofa di Menteng dan dinginnya kursi pesawat menuju Belanda, sebuah benih ketabahan mulai tumbuh di hati Nina. Ia bukan lagi sekadar penari asrama bintara yang malang; ia adalah Aura Shenina, seorang wanita yang telah kehilangan segalanya namun berhasil mempertahankan martabatnya. Dan bagi Nina, itu sudah lebih dari cukup untuk memulai langkah pertamanya di benua biru.

1
falea sezi
kapok. jd cowok. kok. lemah ibumu. cm akting
falea sezi
ma emak nya aja kalah laki plin. plan pengecut makan itu karir
Erlina Candra
kereen karyanya Thor..semakin penasaran
Boa: Terima kasih banyak kak, semoga suka ya 🙏☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!