dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Hina
Hari-hari di sekolah bagaikan pedang bermata dua bagi Laras. Di satu sisi, sekolah adalah satu-satunya tempat di mana dia berharap bisa mendapatkan ilmu untuk mengubah nasibnya. Tapi di sisi lain, sekolah adalah neraka kecil di mana rasa sakit fisik dan hati terus menerus dia dapatkan—terlebih karena dia sadar, otak nya memang tidak secerdas anak-anak yang lain.
Laras tahu dirinya bodoh. Pelajaran yang mudah dipahami teman-temannya dalam sekali dengar, berbanding terbalik dengan nya yang harus dia ulangi berkali-kali, bahkan sampai berhari-hari, baru bisa dia mengerti sedikit saja. Tapi Laras tidak menyerah. Dia adalah murid yang paling rajin di kelas. Jika yang lain sudah pulang, Laras masih duduk di bangku mencoba memahami buku tulisnya yang lusuh. Jika yang lain tidur, Laras masih mengulang pelajaran di bawah sinar lampu tembolok yang remang di kamarnya. Namun, sekeras apa pun dia berusaha, kemampuannya tetap tertinggal jauh di belakang.
Suatu pagi, pengumuman lomba cerdas cermat tingkat kecamatan terpampang di papan tulis. Kelas menjadi riuh rendah. Teman-teman berebut mendaftar, berharap bisa mewakili sekolah dan membawa pulang piala. Laras juga diam-diam bermimpi. Andai aku bisa ikut lomba, andai aku bisa membanggakan diri, andai aku bisa mendapatkan hadiah uang batinnya berharap. Dia berniat mengangkat tangannya, meski hatinya berdebar kencang.
Namun, sebelum sempat dia bergerak, Rina dan gengnya sudah menoleh padanya dengan senyum mengejek.
"Heh, Laras, mau ikut lomba juga? Jangan mimpi deh," celetuk Rina sambil menyenggol meja Laras hingga buku-bukunya berantakan. "Lomba itu buat orang pintar, bukan buat anak yang berhitung aja masih pake jari kayak kamu. Kasihan nanti sekolah kita malah jadi bahan tertawaan kalau ngirim kamu buat lomba."
"Iya tuh," sahut temannya. "Rajin sih rajin, tapi ya gitu deh, otaknya agak lemot. Lagian lihat tuh badanmu, kurus kering kayak tunggul kayu. Kalau lomba lari atau apa gitu juga nggak bakal kuat, apalagi lomba otak. Mending diam aja di pojok sana, jangan bikin malu."
Laras menunduk, menyembunyikan tangannya yang gemetar di balik meja. Menahan tangis yang hampir pecah. Harapannya yang kecil hancur bahkan sebelum dia sempat menyuarakannya. Mereka benar. Dia bodoh. Dia lemah. Dia tidak pantas ikut apa pun. Dia hanya pantas diam di pojokan.
Namun, rasa sakit dari teman-temannya ternyata tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang akan dia terima dari guru yang seharusnya membimbingnya.
Siang itu, di kelas Matematika. Pak Herman, guru yang dikenal galak dan pilih kasih, sedang membagikan hasil ulangan harian. Namun saat sampai di meja Laras, Pak Herman menghela napas panjang dengan wajah masam. Dia melemparkan kertas ulangan Laras ke atas meja dengan kasar. Angka merah besar tertera di sana: 40.
"Laras," panggil Pak Herman dengan nada dingin yang menusuk. "Aku benar-benar tidak habis pikir. Sudah berapa kali aku jelaskan materi ini? Kamu itu anaknya rajin, aku akui. Aku sering melihatmu belajar sampai sore. Tapi untuk apa semua kerajinan itu kalau hasilnya tetap begini? Otakmu itu keras kepala atau memang sudah tidak bisa diajar?"
Seluruh kelas menjadi hening. Laras menundukkan kepalanya, keningnya berkerut menahan perih. "Maaf, Pak... saya sudah berusaha... saya baca ulang berkali-kali, tapi saya memang masih belum paham..." jawabnya pelan, suaranya bergetar.
"Berusaha? Alasan!" bentak Pak Herman. Dia menepuk meja dengan keras, membuat Laras tersentak kaget. "Kalau kamu memang berusaha, kenapa nilainya tetap di bawah rata-rata terus? Lihat teman-temanmu, mereka bisa dapat nilai 90, bahkan 100 dengan mudah. Kamu? Sudah capek-capek belajar, hasilnya tetap sama! Apa gunanya kamu belajar jika masih saja bodoh selama ini?"
Pak Herman melirik ke arah pengumuman lomba yang masih menempel di papan tulis, lalu kembali menatap Laras dengan tatapan meremehkan.
"Tadi pagi aku dengar kamu bermimpi ikut lomba cerdas cermat? Jangan bikin ngakak saja, Laras. Sekolah ini butuh murid yang bisa menang, bukan murid yang cuma bisa datang dan bikin nilai rata-rata kelas turun. Kamu itu bodoh, fisikmu juga lemah, tidak ada satu pun kelebihan yang bisa dibanggakan dari dirimu. Kamu pikir dengan kerajinan mu saja kamu bisa menggantikan kecerdasan? Tidak! Di dunia ini, yang dihargai itu yang pintar dan yang kuat, bukan yang rajin tapi tidak berguna sepertimu!"
Tawa renyah dan bisikan-bisikan sinis mulai terdengar di seluruh kelas. "Iya bener kata Pak Guru," "Rajin tapi nggak ada bakat sama saja bohong," "Mending berhenti sekolah aja, ngabisin waktu."
Laras merasa wajahnya panas membara, seolah-olah dia sedang ditelanjangi di depan umum. Air matanya ingin jatuh, tapi dia menahannya sekuat tenaga. Dia tahu dia bodoh. Dia tahu dia lemah. Tapi mendengarnya diucapkan dengan begitu kasar oleh gurunya sendiri, di depan semua orang, dan menyangkal semua usaha kerasnya... rasanya lebih sakit daripada pukulan apa pun.
"Pak... saya benar-benar sudah berusaha..." bisik Laras, matanya memandang Pak Herman dengan penuh harap, berharap gurunya itu sedikit saja memahami usahanya.
Tapi Pak Herman hanya mendengus jijik. "Berusaha apanya hasilnya saja masih begini. Dengar baik-baik, Laras. Kau itu beban. Beban bagi kelas, beban bagi sekolah. Tidak ada lomba yang mau menerima murid sepertimu. Lebih baik kau pulang dan cari kerja yang tidak perlu pakai otak, daripada membuang-buang waktumu dan waktuku di sini!"
Dengan kasar, Pak Herman menyambar kertas ulangan Laras, meremasnya hingga hancur menjadi bola kertas, lalu melemparnya ke lantai tepat di depan kakinya.
Laras membungkuk, mengambil bola kertas itu dengan tangan yang gemetar hebat. Setiap kata yang keluar dari mulut Pak Herman bagaikan palu yang memukul kepalanya, menghancurkan sisa-sisa kepercayaan dirinya. Beban... bodoh... tidak berguna... tidak ada lomba yang mau menerimaku... Kata-kata itu berputar di kepalanya, bersahutan dengan cacian ayahnya dan makian Bude.
Tanpa berkata apa-apa, Laras berjalan keluar dari kelas itu. Dia berjalan dengan kepala tertunduk, melewati lorong sekolah yang panjang, merasakan tatapan semua orang seolah sedang menertawakan usahanya yang sia-sia. Di luar kelas, di bawah terik matahari, Laras akhirnya berhenti. Dia memeluk bola kertas ulangan yang hancur itu di dadanya, dan air matanya jatuh juga. Ternyata, menjadi rajin saja tidak cukup. Ternyata, menjadi bodoh dan lemah adalah dosa yang tidak bisa dimaafkan, bahkan oleh orang yang seharusnya mengajarinya untuk tidak menyerah.
Namun justru menyepelekan dan merendahkan nya, menganggap nya sampah yang menjijikan.
Di tambah saat istirahat tiba, murid murid mulai berlarian menuju kantin untuk membeli jajan ataupun minuman. Aku hanya bisa melihatnya saja. Lengkaplah sudah penderitaan ini..
Jangan ditanya lagi soal jajan..
Aku bisa menginjakkan kaki di sekolahan ini saja sudah sebuah keberuntungan untuk ku.
Apa aku tidak merasa iri?.
Jelas saja iri, siapa yang tidak ingin bisa hidup enak seperti mereka, bisa beli jajan tanpa harus bekerja. Menginginkan apa saja tinggal meminta.
Tapi aku sadar tidak bisa seperti mereka..
Aku pun mencari karsen (cery Jawa😂) entahlah di tempat kalian namanya apa. Alasannya agar saat teman-temanku makan aku juga bisa makan dan untuk minum aku bawa minuman dari rumah.