Kwee Lan, seorang Sinseh Wanita yang kehilangan chi akibat sakit keras menemukan seorang pemuda pingsan di bukit Peng San.
Karena Sumpah Sinseh, ia wajib menolong pemuda itu. Walaupun resikonya dicap bo-li-mo(amoral), ia takkan mundur. Tapi, warga sudah nyaris membakarnya atas tuduhan berzinah.
-----------
Sebagian besar nama dan istilah menggunakan Dialek Hokkien, sebagian Mandarin. Untuk membangkitkan kembali era Silat Kho Ping Hoo dalam sentuhan Abad 21.
AI digunakan untuk asistensi bahasa dan budaya akibat penulis mengalami penghapusan budaya besar-besaran dan kehilangan cukup banyak warisan budaya walaupun dalam hati dan keseharian masih menerangkan nilai-nilainya.
---The Bwee Lan (Anggrek Indah dari Marga The), penulis--
nb. Bwee bisa bermakna indah, cantik (wanita), atau tampan (pria).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kami Mau Sinseh Wanita!
Malam itu, dua ekor merpati terbang dari puncak Bukit Pheng San membawa pesan darurat yang bakal mengubah nasib Kwee Lan selamanya.
Satu dari Tai Tiong Kun Kim ke utara, satu dari Jenderal Choa ke timur. Pesannya sama, isinya gaspol: "Jenderal Go hidup, tapi robek-robek. Kirim orang ke rumahnya untuk info. Dia udah dijahit sama Sinseh legendaris.
Sinseh Wanita sakti dari Gunung Pheng San. Ada Kong-teik-nya.
Jangan lama-lama. Bawa yang perempuan-perempuan mau periksa: Ibu, Adik, Bibi, Ama, siapa aja yang sakit. Buruan! Gas!!!"
Mereka terlalu bahagia, asal tulis pesan. Sampai tidak peduli batasan fisik seorang Sinseh dalam menangani pasien.
Serbuan Karavan
Pagi harinya, Kwee Lan bahkan belum sempat cuci muka ketika suara gemuruh terdengar dari bawah bukit. Bukan gemuruh perang, tapi gemuruh roda-roda karavan mewah yang kontras banget sama desa Bang Kah Chng.
Ah Niu yang baru mau antar nasi bungkus sampai berhenti ngupil. "Woi, Lan-A... lo liat itu? Ada pasar malem pindah ke gunung?"
Kwee Lan melongo. Tiga kereta kuda, dua gerobak sapi, dan rombongan sekitar 20 wanita turun dengan mata berbinar. Ada yang muda, ada yang sudah keriput, bahkan ada Kasim Law yang ikut nempel karena merasa jiwanya lebih cocok ikut rombongan ibu-ibu.
"ITU DIA! SINSEH WANITA!" teriak seorang Nyonya paruh baya sambil lari dan meluk Kwee Lan kencang-kencang. "Lan-A! Lo JENG-AN (tenang)! Lo betulan ada! Gua denger gosip dari istana, langsung gua seret semua keluarga ke sini!"
Kwee Lan sesak napas. Dia menatap tiga jenderalnya dengan tatapan maut. "Lo semua mau bunuh gue? Haiyaaa! Maksimal gue dulu cuma 15 orang, itu pun pake chi. Sekarang gue cuma modal tangan kosong! Kiam-pau!"
Tiga jenderal itu cuma bisa lirik-lirikan. Mereka nggak tahu kalau sinseh punya batas kuota.
Ah Niu yang lihat situasi langsung mau kabur. "Gue... gue cabut dulu ya, Lan." "Bantu catet! Duitnya gua bagi dua bagian buat gue, satu bagian buat lu!" teriak Kwee Lan. Ah Niu berhenti. Balik badan. "Oke, gas. Duit halal nggak boleh ditolak."
Klinik Darurat dan Trauma Masa Lalu
Halaman rumah Kwee Lan berubah jadi rumah sakit lapangan. Lau Cu—yang baru sadar dari pingsan kelimanya—dipaksa jadi resepsionis. "Nama? Umur? Sakitnya apa? Giam-giam-lai (antre yang rapi)!" teriak Ah Niu sambil sibuk nyatet.
Di dalam, Kwee Lan gemetar. Dia duduk di depan peralatan medisnya. Go Beng Liong masuk pelan-pelan bawa teh Puer hangat. "Sio Moi, minum dulu. Biar tenang."
Kwee Lan menatap teh itu, lalu menatap Beng Liong tajam. "Lo liat di luar? 20 wanita. Semua naruh nyawa di tangan gue. Gue gak punya chi, kebun gue ludes. Kalau gue salah resep, mereka mati."
Suara Kwee Lan bergetar. Dia teringat empat tahun lalu, saat dia salah resep dan seorang pasien keguguran. Meski semua orang bilang itu karena janinnya lemah, Kwee Lan tahu: dia salah perhitungan. Trauma itu datang lagi.
Beng Liong diam. Dia nggak bisa bantu medis, dia sekarang cuma jenderal yang jago bunuh orang. Betul, dia adalah Sinseh Militer langka, yang menguasai strategi perang juga. Tapi tubuhnya saat ini tidak bisa melayani pasien. Bahkan, melayani diri sendiri untuk keperluan rutin saja sampai dibantu wanita.
Pasien Pertama: Luka 20 Tahun
"Sakitnya: Gak bisa tidur 20 tahun," baca Ah Niu. "Suruh masuk," kata Kwee Lan lesu.
Ibu Kim masuk. Wajahnya ningrat, tapi matanya sayu sekali. Kwee Lan cek nadi pakai teknik pernapasan Bu Ki Sut. Hasilnya normal. Fisiknya sehat, tapi jiwanya layu.
"Ibu," kata Kwee Lan pelan. "Ada masalah apa 20 tahun lalu?" Ibu Kim menunduk. "Suami gua... meninggal. Waktu Kim masih kecil. Sejak itu, lampu kamar gak pernah gua matiin. Gua takut."
Kwee Lan tidak kasih obat pahit. Dia cuma duduk di samping wanita tua itu dan bilang: "Cerita aja, Bu. Gua dengerin."
Satu jam. Ibu Kim menangis sampai sesak. Pasien di luar sudah mulai lau-sau (berisik) dan ngedumel, tapi mereka takut kalau nenek ringkih itu kenapa-napa di dalam.
Begitu Ibu Kim keluar, wajahnya cerah. "Mama? Sembuh?" tanya Kim bingung. "Iya, manjur banget. Cuma disuruh makan manisan kiamboy sama ngobrol," kata ibunya tenang. Kim menatap Kwee Lan dengan rasa hormat yang baru.
Maraton Medis sampai Pagi
Pasien demi pasien masuk:
Istri Choa: Bayi sungsang. Resep: Jurus senam hamil (Halaman 1 jika dapat dan biasa menggunakan chi dan halaman 2 gerakan fisik ala Bu Ki Sut untuk orang awam).
Adik Ipar Choa: Cacingan. Resep: Biji labu dan wajib cuci tangan.
Bibi Kim: Encok kronis. Resep: Jahe merah dan kompres hangat.
Sepupu Go: Batuk-batuk. Ternyata alergi debu kapas. Resep: Ganti kasur bulu angsa dan dilarang makan tikus mentah.
Pukul dua pagi, Kwee Lan tumbang. Dia pingsan karena kelelahan mental. Tiga jenderal itu panik.
"Sio Moi! Bangun!" Beng Liong bingung mau ngapain. Wanita-wanita pasien yang masih nunggu malah ganti ngerawat Kwee Lan. Mereka kasih makan, pijatin, dan curhat lagi.
Pagi harinya, Ah Niu datang lagi. "Woi, Lan-A. Lo gila ya? Sinseh laki-laki paling hebat aja cuma sanggup 8 pasien sehari. Lo hajar 20!"
"Gue butuh duit buat beli bibit," gumam Kwee Lan lemas sambil minum teh. Dia menatap tiga jenderalnya. "Sekarang kalian tanggung jawab! Jaga antrean. Ada yang berantem satu aja, kalian semua gue usir! Gue masih punya stok buah Mindi (beracun) buat kalian!"
Jendral Go benar-benar kaget mendengar Ah Niu. Dia tidak pernah mengobati di klinik sipil. Tapi memang benar. Saat pelatihan sinseh dulu dia tahu prinsip ini. Tapi, dia dulu menolong 30 prajurit sekaligus. Jadi, ia merasa itu alasan saja, dan insiden kemarin karena Kwee Lan lagi gak enak badan. “Tapi dia wanita… Kian Pau!”, denyut hatinya menudingnya.
Jendral Kim dan Choa menyesal asal tulis pesan. “Kita nge - hai orang yang nolong kita….”, bisik Jendral Kim. “Kok jadi orang bo-li-mo kita?”, balas Jendral Choa.
Tiga jenderal itu menelan ludah serempak. Jakun naik turun. Mereka yang biasanya ngatur ribuan pasukan, sekarang gemetar disuruh ngatur antrean ibu-ibu. Demi hutang nyawa mereka dan tindakan lancang yang terlanjur mereka lakukan.
"Lo tahu, Lan-A," kata Ah Niu sambil nyerahin amplop hasil kerja kemarin. "Lo emang sering salah resep dulu. Tapi lo sinseh yang paling dikit bunuh pasien. Soalnya lo teliti karena lo takut. Ketakutan lo itu yang nyelamatin mereka."
Kwee Lan diam. Terharu. Tapi pas liat Ah Niu mau ngupil lagi, dia langsung teriak: "HEH! Jangan ngupil di sini! Kotor!"
Tiba-tiba, seorang gadis lari ke tenda. "SINSEH! Ibuku mau melahirkan! Bayinya udah mau keluar!"
Kwee Lan melihat ke langit yang mulai terang. Hari baru, "Thien (Tuhan)... hari ini 12 pasien lagi, plus satu lahiran. Kuatkan tangan gue," bisiknya pasrah.
Wah, gimana nasib Kwee Lan pas nanganin lahiran sambil kondisi badan remek gitu? Lanjut ke Bab 7? 🔥🐉
[Bersambung]