"Aku cuma mau jadi beban keluarga CEO, kenapa malah dikasih beban nyawa Mafia?!"
Velin mengira transmigrasi ke tubuh istri pengganti dalam drama CEO klise adalah tiket liburannya dari dunia korporat. Tugasnya mudah: diabaikan suami, dihina pelakor, lalu mati konyol.
Tapi Velin menolak alur! Saat ia sedang asyik berendam mawar untuk merayakan kebebasannya, plafon kamar mandinya jebol.
Bukannya suami yang datang minta maaf, justru seorang pria asing bersimbah darah jatuh tepat di hadapannya. Kieran Marva D’Arcy—Ketua Mafia kejam yang seharusnya tidak ada dalam naskah ini.
Satu pria ingin membuangnya, satu pria lagi mengancam akan menembaknya.
Saat alur drama sudah "Salah Server", apakah Velin akan tetap mengikuti naskah, atau justru menulis takdir baru bersama sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Strategi Cerai dan Serangan Balik
Adriano sudah membungkuk, tangannya baru saja hendak menyentuh ujung sprei ranjang untuk menyingkap apa yang ada di bawah sana, ketika sebuah teriakan menggelegar menghentikan gerakannya.
"CUKUP, ADRIANO!"
Velin menggebrak meja riasnya hingga botol-botol parfum mahal bergetar. Adriano tersentak, ia berdiri tegak dan menatap istrinya dengan kening berkerut.
"Kau berani membentakku?" tanya Adriano tak percaya.
"Iya! Kenapa?!" Velin melangkah maju dengan mata yang sengaja dibuat berkaca-kaca—hasil latihan dari menonton ribuan episode drama di kantor dulu. "Kau masuk ke kamarku, menuduhku yang bukan-bukan, membawa wanita ini masuk ke kamarku... dan sekarang kau mau memeriksa kolong tempat tidurku seolah aku ini kriminal dan menyembunyikan selingkuhan?"
Velin merebut kemeja hitam robek milik Kieran dari tangan Adriano dan melemparkannya ke lantai.
"Kau tanya itu kemeja siapa? Itu kemeja yang aku robek-robek kemarin sambil menangis karena kau lebih milih makan siang sama Mirabella daripada ingat hari ulang tahunku! Aku melampiaskan kemarahanku pada benda mati karena aku tidak sanggup memarahimu! Dan sekarang kau malah menuduhku selingkuh?"
Mirabella yang berdiri di pintu sedikit terperanjat. "Aveline, tapi suara pria tadi—"
"DIAM KAU, MIRABELLA!" potong Velin tajam. "Ini urusan rumah tanggaku! Kau hanya tamu yang tidak tahu diri!"
Velin kembali menatap Adriano dengan tatapan penuh luka yang dibuat-buat. "Kau mencurigai ada pria di sini? Bagus. Silakan cari! Tapi setelah kau tidak menemukan apa-apa, aku ingin kita selesai."
Adriano terpaku. "Apa maksudmu?"
"Ceraikan aku!" seru Velin lantang. "Aku sudah muak! Kau tidak mencintaiku, kau mengabaikanku, dan sekarang kau menghinaku dengan tuduhan murahan ini. Aku tidak butuh hartamu jika setiap hari aku harus makan hati karena kecurigaanmu. Ceraikan aku secepatnya, Adriano!"
Di bawah kolong tempat tidur, Kieran yang sedang menggenggam pisau lipatnya tertegun. "Wanita ini... dia berakting demi melindungiku, atau dia memang sudah gila?" batin Kieran. Ada rasa kagum yang aneh menyelinap di hatinya melihat cara Velin membalikkan keadaan.
Adriano terdiam seribu bahasa. Kata "cerai" yang biasanya ia harapkan keluar dari mulutnya sendiri, kini terdengar sangat menyakitkan saat diucapkan oleh Velin dengan nada sebenci itu. Ada ego yang terluka di dada sang CEO.
"Kau meminta cerai... hanya karena pemeriksaan ini?" suara Adriano merendah, ada nada cemburu dan tidak terima di sana.
"Bukan karena pemeriksaan ini, tapi karena kau memang tidak pernah menganggapku ada!" Velin menunjuk pintu. "Sekarang keluar! Bawa wanita pembuat puding itu pergi dari kamarku! Aku mau istirahat sebelum pengacaraku datang membawa surat cerai!"
Mirabella yang merasa suasana memanas segera menarik lengan Adriano. "Adriano, ayo pergi. Dia hanya sedang emosi. Jangan dengarkan dia."
Adriano menatap Velin lama, mencoba mencari kebohongan di mata istrinya. Namun, yang ia lihat hanya kobaran kemarahan (yang sebenarnya adalah rasa panik yang disamarkan). Akhirnya, dengan rahang mengeras, Adriano berbalik dan melangkah keluar, menyeret Mirabella bersamanya.
BRAKK!
Pintu kamar tertutup keras. Velin langsung luruh ke lantai, memegangi dadanya yang berdegup kencang seperti habis lari maraton.
"Gila... jantungku hampir copot," bisik Velin lemas.
Kepala Kieran muncul dari bawah sprei, ia merangkak keluar dengan kemeja pink pastelnya yang mulai sedikit kusut. Pria itu menatap Velin yang masih terduduk di lantai dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kau memintanya bercerai demi aku?" tanya Kieran pelan.
Velin menoleh, lalu mendengus. "Jangan kepedean, Tuan Seratus Miliar. Aku minta cerai supaya hidupku tenang dan dapet pesangon. Tapi ya... akting tadi lumayan kan? Seratus miliarku masih aman, kan?"
Kieran tidak menjawab. Ia hanya menatap Velin, lalu perlahan sebuah tawa rendah keluar dari bibirnya. "Aveline... kau benar-benar tidak terduga. Untuk pertama kalinya, aku merasa senang terjebak di dunia konyol ini."
...****************...
Keesokan harinya...
Adriano tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan kata-kata Velin. Sementara itu, asisten Kieran, Jaxon, sudah mulai mendekati koordinat kediaman Mally dengan helikopter siluman.
terimakasih 🙏🙏🙏