NovelToon NovelToon
Ixevons

Ixevons

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Action
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: Riahe

"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEPULANGAN DAN RAHASIA KECIL

Hutan semakin gelap seiring dengan bertambahnya jumlah mahluk bayangan itu. Mereka muncul dari celah-celah pohon seolah-olah kegelapan itu sendiri yang melahirkan mereka. Riezky mulai merasakan napasnya memburu; bukan karena lelah, tapi karena kejengkelan yang memuncak.

"Nggak habis-habis!" geram Riezky. Ia mengepalkan tangannya, membiarkan energi listrik dan apinya beradu di dalam nadinya hingga lengannya berpijar terang. "Andre, ke balik batu itu, sekarang!"

Andre, yang sudah mengenal insting Riezky sejak kecil, tidak banyak tanya. Ia melakukan gerakan salto ke belakang sebuah bongkahan batu besar peninggalan zaman kuno yang tertanam di tanah.

Riezky menarik napas dalam, memusatkan seluruh tekanan energinya ke satu titik di antara kedua telapak tangannya. "Enyah kalian!"

BOOM!

Sebuah ledakan shockwave murni dilepaskan. Gelombang kejut berwarna biru keputihan terpancar kuat, menyapu dedaunan, mematahkan ranting, dan yang paling utama: membuat mahluk-mahluk bayangan itu pudar seketika seperti debu yang tertiup badai. Hutan kembali sunyi, hanya menyisakan kepulan asap tipis dari tanah yang menghitam.

Hutan kembali sunyi untuk sejenak, namun tiba-tiba dari balik sisa-sisa ledakan, hanya menyisakan satu mahluk yang masih bertahan. Mahluk itu menerjang nekat ke arah Riezky. Namun, belum sempat mahluk itu menyentuh kulitnya, Riezky bergerak lebih cepat. Dengan gerakan refleks yang kasar, ia menggenggam leher mahluk itu dengan tangan kanannya.

"Siapa kalian?!" tanya Riezky dengan nada bicara yang sedikit marah, menatap tajam ke arah mata merah yang redup itu.

Mahluk itu tidak menjawab dengan jelas, ia hanya mengeluarkan suara serak yang hampir tidak terdengar.

"Malako...."

Belum sempat kata-kata itu terucap dengan lengkap, mahluk itu hancur dan menghilang layaknya asap di dalam genggaman Riezky.

Riezky berdiri mematung, menatap tangannya yang kini hanya menggenggam udara kosong.

"Malako?" tanya Riezky terheran-heran pada dirinya sendiri. Nama itu terasa asing namun memberikan kesan yang sangat berat di telinganya.

"Mungkin maksudnya Malika," ucap Andre santai sambil menepuk bahu Riezky. Ia berjalan dengan langkah gontai dan wajah kelelahan menuju arah jalan pulang, mencoba mencairkan suasana tegang setelah pertarungan tadi.

Riezky hanya mendengus pelan, meski pikirannya masih terngiang-ngiang bisikan serak mahluk tadi. Ia mengikuti Andre keluar dari rimbunnya hutan, kembali menuju rumahnya yang kini berdiri kokoh di pinggir pantai.

Sesampainya di sana, Harry terlihat masih asyik tengkurap tidur di atas pasir, ekornya sesekali bergerak mengusir lalat. Di saat yang sama, Ibu Lyra baru saja melangkah mendekat dari arah jalan kota dengan tas belanjaan yang cukup penuh di kedua tangannya.

"Loh... Andre?" ucap Lyra terperanjat. Matanya membulat melihat sosok pemuda tinggi dengan zirah hitam itu adalah teman masa kecil anaknya yang kini sudah tumbuh dewasa.

Namun, pandangan Lyra segera beralih tajam ke arah Riezky. Ia melihat pakaian anaknya yang kotor dan wajahnya yang terlihat habis melakukan kontak fisik yang berat.

"Loh, kalian berantem?" tanya Lyra dengan nada khawatir, matanya bergantian menatap Riezky dan Andre.

"Ah, nggak Bu, tadi ada—"

Belum sempat Riezky menyelesaikan kalimatnya, Andre langsung memotong dengan cepat. "Tadi ada beruang madu, gapapa kok Tante. Aku pulang dulu ya, ada pekerjaan di rumah," ucap Andre sambil buru-buru menaiki Harry agar tidak ditanya lebih lanjut. Harry pun terbangun dan segera mengepakkan sayapnya, membawa Andre menjauh dari halaman rumah Riezky.

Lyra tidak sepenuhnya percaya, namun ia segera mendekati Riezky. "Kamu gapapa, nak?" tanya Lyra lembut sambil mengusap pipi Riezky yang sedikit lecet terkena gesekan aura bayangan tadi.

"Gapapa, Bu," ucap Riezky singkat. Ia tersenyum tipis untuk menenangkan ibunya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah yang hangat, meninggalkan debu hutan dan misteri nama "Malako" di belakang pintu.

Malam di Aethelgard terasa lebih dingin dari biasanya. Riezky duduk di tepi ranjang, pikirannya masih berkelana memikirkan bisikan makhluk bayangan di hutan tadi. Kata 'Malako' terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak.

Pandangannya kemudian jatuh ke sudut ruangan. Di atas sebuah peti kayu kecil, tergeletak selembar kain yang sudah pudar warnanya namun tetap memiliki tekstur yang unik. Itulah kain yang membungkusnya saat Ibu Lyra menemukannya di pinggir pantai belasan tahun lalu.

Riezky meraih kain itu, merasakannya di antara jemari tangannya yang kasar karena bekas luka pertarungan. "Pasti ada asal-usulnya," ucapnya dengan nada serius yang jarang ia tunjukkan.

Meskipun hari sudah sangat larut, rasa penasaran yang membuncah membuat Riezky tidak bisa memejamkan mata. Ia bergegas keluar rumah, menyusuri jalanan kota yang mulai sepi menuju sebuah bangunan kayu kecil di sudut pasar. Di sana tinggal Nenek Daisy, satu-satunya orang di Aethelgard yang bisa membedakan jenis benang hanya dengan mencium aromanya.

Tok! Tok! Tok!

Riezky masuk saat melihat lampu minyak masih menyala di dalam. Daisy sedang duduk di balik mesin jahit tuanya, kacamatanya melorot sampai ke ujung hidung.

"Nek, apa kau tau dimana asal-usul kain ini?" tanya Riezky tanpa basa-basi.

Daisy menghentikan injakan kakinya pada mesin jahit. Ia memutar kursinya yang berderit, lalu mengambil kain yang disodorkan Riezky. Tangan keriputnya meraba permukaan kain itu dengan sangat hati-hati, seolah-olah sedang menyentuh barang pecah belah yang sangat mahal.

"Hmm... sutra ini... terasa sangat mewah. Aku bahkan tidak tahu apa aku boleh memegangnya. Kau dapat dari mana, Riezky?" tanya Daisy dengan mata yang membelalak kagum.

Riezky bersandar pada etalase kaca yang berisi gulungan benang. "Itu adalah kain yang Ibu temukan bersamaku pas masih bayi. Kau juga tahu kan aku bukan anak kandungnya," jawab Riezky pelan.

Daisy menghela napas, ia menggelengkan kepalanya perlahan sembari mengembalikan kain itu ke tangan Riezky. "Aku tidak tahu informasi pasti tentang kain ini, tapi aku yakin ini berasal dari bangsawan yang punya derajat sangat tinggi. Tenunannya terlalu sempurna untuk dibuat oleh manusia biasa."

Harapan Riezky sedikit merosot, namun Daisy melanjutkan, "Temuilah Valerius. Dia tahu siapa yang akan tahu asal-usul kain ini. Dia punya koneksi yang lebih luas di luar kota ini daripada nenek tua sepertiku."

Daisy kembali menghadap mesin jahitnya, menandakan sesi tanya jawab telah berakhir. Riezky keluar dari toko kain dengan perasaan campur aduk. Ia menghentakkan kakinya ke tanah pelabuhan yang lembap karena embun malam.

"Itu masalahnya... di mana Paman Valerius?" gerutu Riezky pada diri sendiri. Paman yang satu itu memang seperti angin—datang tiba-tiba, pergi tanpa kabar. "Ah ya sudah, emang takdirnya harus tidur sekarang."

Riezky berjalan gontai ke arah rumah, tidak menyadari bahwa pencariannya terhadap selembar kain ini akan membawanya menyeberangi samudra menuju negeri di mana matahari terbit lebih awal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!